Istri Supranatural Tuan Muda Lumpuh

Istri Supranatural Tuan Muda Lumpuh
Lukisan


__ADS_3

Rey menatap lukisan besar yang terpasang didinding kamar Helena. Pria tampan itu beranjak dari samping Helena dan menghampiri lukisan itu. Mata hitamnya menatap lukisan itu dengan tatapan tak percaya. Lukisan itu sama persis dengan lukisan yang dimiliki oleh Nuwa, hadiah darinya.


Namun jika diperhatikan ada yang berbeda dengan lukisan itu, dan jika dilihat dengan jeli. Ada lukisan lain dibalik lukisan tersebut, samar terlihat sebuah pohon besar yang menjadi penghubung antara Dunia Iblis dan Dewa-Dewi. Tempat Rey dan Nuwa pertama kali bertemu dimasa lalu. Sebelum Nuwa menghilang karena mengorbankan dirinya demi melindunginya, dan dia bereinkarnasi menjadi manusia.


Lukisan itu semakin memperkuat keyakinan Rey jika Helena benar-benar reinkarnasi dari Nuwa. Jujur saja, Rey sempat merasa ragu apakah Helena benar-benar reinkarnasi dari Nuwa atau bukan, meskipun wajah mereka sama persis tetapi tetap saja ada keraguan di hati Iblis tampan tersebut.


"Apa kau tertarik pada lukisan itu?" tanya Helena mengakhiri keheningan diantara mereka.


"Ya, sedikit."


"Bukankah lukisan itu sangat indah? Dan aku sangat menyukainya. Saat pertama kali bertemu denganmu, aku merasa jika kau itu tidak asing sama sekali. Aku rasa seperti pernah melihatmu sebelumnya, tetapi aku tidak ingat kapan dan di mana kita bertemu. Sampai akhirnya aku menemukan kembali lukisan lamaku ini. Dan aku baru sadar jika kau mirip dengan orang di dalam lukisan ini!!" Ujar Helena panjang lebar.


"Bagaimana kau bisa mendapatkan lukisan ini?" tanya Rey penasaran.


"Ketika aku berlibur ke China, seorang kekek tua tiba-tiba memberikan lukisan ini padaku dan meminta supaya aku menyimpannya. Dia bilang lukisan ini akan berguna untukku, karena memiliki keterikatan dengan masa lalu. Dan aku benar-benar tidak mengerti maksudnya sama sekali." Tutur Helena panjang lebar. "Memangnya kenapa?"


Alih-alih menjawab pertanyaan Helena, Rey menarik bahu gadis itu dan membawanya kedalam pelukannya. Rey menutup rapat-rapat matanya, aroma bunga sakura yang menguar dari tubuh Helena sama persis dengan aroma tubuh Nuwa. Begitu pula dengan harum rambut dan kelembutan kulitnya.


Rey semakin mengeratkan pelukannya, seolah-olah Ia takut jika gadis itu akan lepas dari pelukannya 'Terimakasih karna sudah kembali padaku, Sayang!' lirih Rey membatin. Dan dia menyesali kebodohannya yang sempat meragukan jika Helena adalah Nuwa.


Helena mendorong tubuh Rey hingga pelukan itu terlepas. Dia gugup setengah mati, gadis itu berharap semoga Rey tidak mendengarkan detak jantungnya yang berdegup kencang. Entah mengapa Helena merasa tidak asing dengan pelukan Rey, pelukan itu terasa begitu familiar.


'Ya Tuhan, apa artinya semua ini? Perasaan apa ini Tuhan. Siapa sebenarnya laki-laki ini dan kenapa aku merasa tidak asing dengan pelukannya!'


Ketukan pada pintu dan suara decitan pintu terbuka mengalihkan perhatian dua orang yang ada di dalam ruangan. Keduanya menoleh, terlihat Frans berdiri diambang pintu. Laki-laki itu kemudian membungkuk.


"Nona, Tuan Muda. Sarapan sudah siap, sebaiknya Anda berdua segera turun sebelum makanannya dingin!" ujar Frans yang segera dibalas anggukan oleh Rey.

__ADS_1


"Kami akan segera keluar, kau boleh pergi."


"Baik, Tuan Muda." Kemudian Frans meninggalkan dua orang yang ada dalam kamar dan menutup kembali pintunya


"Ayo turun, sarapan sudah siap." Ucap Rey dan kemudian dibalas anggukan oleh Helena. Kebetulan dia jug sudah lapar.


Kemudian keduanya berjalan beriringan meninggalkan kamar yang sejak satu Minggu lalu di tempati oleh Helena, dan keduanya melenggang keluar menuju meja makan.


.


.


"Delon, hentikan!! Sampai kapan kau akan menjadi orang tidak berguna seperti ini?! Pekerjaanmu hanya mabuk-mabukan saja dan kelayapan tidak jelas?! Apa kau tidak ingin mencari pekerjaan dan menghasilkan banyak uang?"


Delon mengangkat wajahnya dan menatap sekilas pada ayahnya. Lagi-lagi dia mengungkit soal pekerjaan, pekerjaan dan pekerjaan. Delon benar-benar bosan mendengarnya, dia sangat muak dengan kata bekerja. Apa ayahnya itu tidak bisa membiarkannya tenang sebentar saja? Padahal belum genap satu Minggu dia tidak bekerja.


Setelah terusir dari kediaman Nero, kini Delon dan ayahnya hidup dengan serba kekurangan. Untuk makan saja mereka masih harus bekerja keras terlebih dulu, Jackson Nero sekarang sering sakit-sakitan dan tenaganya sudah tak sekuat dulu. Hanya Delon yang bisa menjadi tumpuannya.


"Daripada Papa merepotkan ku terus menerus, lebih baik Papa pergi ke rumah anakmu yang kayak itu dan minta uang yang banyak padanya!! Dia memiliki segala-galanya, harusnya padanya kau bergantung, bukan padaku!!"


Habis sudah kesabaran Delon menghadapi ayahnya. Dia sudah muak dengan ayahnya yang selalu menjadi beban untuknya. Delon tak ingin terbebani lagi, dan satu-satunya cara untuk lepas dari tanggungjawab yang seharusnya tak perlu dia lakukan. Mala Delon memiliki rencana untuk melarikan diri dan meninggalkan ayahnya sendirian.


.


.


Rey dan Helena baru saja menyelesaikan sarapannya. Saat ini Helena sedang berada di kamarnya, begitupun sebaliknya. Rey sedang bersiap-siap di kamarnya untuk segera pergi ke kantor. Ada meeting penting pagi ini yang gak bisa dia wakilkan sama sekali, dan harus dia sendiri yang menghadiri meeting tersebut.

__ADS_1


Setelah memastikan tak ada yang kurang pada penampilannya, Rey melenggang meninggalkan kamarnya dan pergi ke kamar Helena.


Gadis itu bilang dia ingin pergi menemui kakeknya, dan Rey berencana untuk mengantarkannya karena kebetulan mereka memang satu arah.


"Apa kau jadi pergi menemui Kakekmu hari ini?!"


"Omo!!"


Helena terlonjak kaget karena kemunculan Rey yang tiba-tiba. Gadis itu mengusap dadanya sambil menghela nafas panjang.


Hampir saja Helena terkena serangan jantung datang karena ulah Rey, tetapi untungnya Dia tidak memiliki riwayat penyakit jantung. Hingga jantungnya tetap aman.


"Apa aku mengejutkanmu?" Rey bertanya tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Helena menganggukkan kepala. "Ya, jantungku hampir saja copot karena ulahmu!!" jawabnya menimpali.


Rey tersenyum tipis melihat ekspresi gadis itu yang tampak begitu menggemaskan. Apalagi ketika Helena membangunkan bibirnya, benar-benar mirip seperti anak TK karena tidak belikan ice cream oleh orang tuanya.


Dengan gemas Rey menarik ujung hidung mancung Helena.


"Dasar kekanakan!! Daripada kau terus aja mengomentari tidak jelas, sebaiknya kau segera bersiap-siap Aku akan menunggumu di luar." ucap Rey seraya mengusap kepala Helena.


Gadis itu menganggukkan kepala. "Baiklah,"


Kebetulan sekali Helena memang sangat merindukan kakeknya, dan dia sangat berterima kasih pada Rey karena sudah mau mengabulkan keinginan kecilnya. Yakni bertemu dengan kakek Valentino.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2