
"Kakek!!"
Tubuh tuan Valentino terhubung ke belakang karena terjangan Helena. Pria tua itu begitu terkejut melihat kedatangan cucunya yang begitu tiba-tiba. Bagaimana tidak, karena sebelumnya Helena tidak memberinya kabar Jika ia mau datang.
"Helen, huaaa.... Cucu Kakek yang cantik, kakek merindukanmu!!" ucap Tuan Valentino sambil memeluk cucunya itu dengan erat.
"Aku juga sangat merindukan kakek," balas Gadis itu dengan lirih, kemudian Helena membalas pelukan kakeknya.
Setelah saling memeluk dengan suasana yang begitu mengharukan. Tuan Valentino segera meminta asistennya untuk memesankan semua makanan favorit Helena dari restoran langganan keluarganya.
Semenjak Helena tinggal bersama Rey, mereka berdua belum bertemu sama sekali. Dan ini pertemuan mereka setelah hampir satu Minggu berpisah. Padahal Rey tidak pernah melarang Helena untuk bertemu dengan kakeknya, hanya saja dia belum sempat untuk mengunjungi pria tua itu.
Tak sampai tiga puluh menit. Semua makanan yang dipesan oleh Tuan Valentino datang juga, sedikitnya ada tujuh menu berbeda yang tersusun di atas meja. Membuat Helena kebingungan dan bertanya-tanya.
"Sebanyak ini Kakek yakin bisa menghabiskannya?" ucap Helena sambil menatap kakeknya dengan penasaran.
"Tentu saja bisa, kan kita makannya berdua bukan Kakek saja!! Sudah jangan banyak tanya, Kakek sudah lapar karena tadi pagi tidak sempat sarapan."
"Tapi aku tidak lapar!! Aku tadi sudah sarapan,"
__ADS_1
Sontak Tuan Valentino menoleh dan menatap Helena dengan kesal. "Lalu kenapa tadi tidak bilang? Tau begitu Kakek tidak akan memesan makanan sebanyak ini!! Aisshh, terus siapa yang akan menghabiskan semua makanan-makanan ini?!"
Helena mengangkat bahunya. "Mana aku tahu. Terserah Kakek mau menghabiskannya bagaimana, dibagi atau mau dihabiskan sendiri itu terserah Kakek, kan Kakek yang memesannya!!" ucap Helena tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Kau ini benar-benar, ya!! Huhuhu, uangku yang berharga jadi terbuang sia-sia!!" ucap Tuan Valentino.
Dia benar-benar menyesal karena telah memesan makanan sebanyak itu, apalagi harga satu porsinya bisa menguras isi kantong. Dan ini ada tujuh dan semua yang paling best seller dan paling mahal.
Helena menghela napas. "Baiklah aku akan membantumu menghabiskan makanan-makanan ini, meskipun sebenarnya aku masih sangat kenyang." ucapnya tak memiliki pilihan.
Sambil menyantap makanan-makanan itu. Mereka berdua saling berbincang dengan hangat, banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang Tuan Valentino layangkan pada Helena. Dia begitu ingin tahu bagaimana sikap Rey padanya, karena Valentino takut jika Rey akan memperlakukan cucunya itu dengan buruk.
"Meskipun di luar Dia terlihat dingin . Asal kakek tahu saja, sebenarnya dia adalah orang yang sangat hangat dan penuh perhatian." ucap Helena sambil menyunggingkan senyum tipis di bibir merah mudanya. "Dan suatu keberuntungan bagiku bisa bertunangan dengan pria seperti itu. Itu membuatku bahagia," ucapnya dengan senyum yang sama.
Tuan Valentino menepuk kepala Helena sambil tersenyum tipis. "Kakek, sudah yakin sejak awal Jika dia yang terbaik untukmu, karena dia berasal dari keluarga terpandang yang memiliki adab dan etika yang baik. Tidak seperti mantan tunanganmu yang Playboy itu, sejak awal kemerdekaan tidak setuju kau berhubungan dengannya!!" ujar Tuan Valentino membandingkan Rey dan Bram.
Helena memeluk kakeknya dari samping sambil tersenyum lebar. "Jika saja aku mendengarkan Kakek dari awal, pasti aku tidak akan mengalami patah hati dan dikhianati!!" ucap Helena sambil menyandarkan kepalanya di bahu tuan Valentino.
"Makanya kalau ada orang tua bicara dengarkan, jangan sak karepmu dewe, itu kata orang Jawa dari salah satu suku di Indonesia."
__ADS_1
Helena melonggarkan pelukannya dan menatap kakeknya penuh tanya. "Kakek, mengerti bahasa Indonesia? Bahkan Kakek bisa bahasa daerahnya, apa kakek pernah datang ke sana? Tapi kapan, dari aku kecil sampai aku sebesar ini setahuku kakek tidak pernah pergi ke sana." Ucap Helena.
"Tentu saja pernah, saat masih muda kakek sering pergi ke sana. Bahkan kakek kecantol oleh gadis Indonesia, mereka cantik-cantik dan sopan. Bukan hanya dengan gadis-gadisnya saja kagak pernah berkenalan, tetapi dengan hantunya juga. Ada hantu yang ngejar-ngejar Kakek, namanya Mbak kunkun. Karena saat masih muda kakekmu ini sangat tampan, dan penuh dengan pesona!!" ujar Tuan Valentino panjang lebar.
"Benarkah?"
"Tentu saja benar, apa kau meragukan
cerita kakek? Begini-begini kakek dulu sangat populer, bahkan saat masih kuliah dulu banyak perempuan yang rela antri hanya untuk mendapatkan hati kakekmu ini. Tapi tetap saja hanya nenekmu yang bisa memenangkan hati, Kakek. Karena dia yang teristimewa, tapi tetap saja Kakek sangat populer!!"
Helena menatap kakeknya dengan mata memicing, dia meragukan ucapan tuan Valentino, memangnya dia sepopuler itu ya? Sampai-sampai hantu pun bisa jatuh cinta padanya. Tetapi jika dilihat-lihat, Tuan Valentino memang lumayan tampan. Dan Helena mengakui hal itu.
"Ya, aku percaya, kok. Tapi bisakah sekarang kakak berhenti bercerita? Aku sudah capek mendengar cerita, Kakek,"
Tuan Valentino menatap cucunya itu dengan kesal. Bisa-bisanya Helena berkata seperti itu, apa dia tidak bisa memujinya sekali saja? Menurutnya Helena sangatlah menyebalkan. Tetapi akhirnya Tuan Valentino berhenti juga, dia tidak bercerita lagi.
Dan selanjutnya mereka menyantap makanannya dengan tenang, tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Helena maupun Tuan Valentino.
.
__ADS_1
.
Bersambung