
"Nuwa!!"
Tubuh Diao Chan terpaku ketika melihat sosok perempuan yang parasnya bak pinang dibelah dua dengan Nuwa.
Kedua mata Diao Chan tampak berkaca-kaca, pandangannya tak lepas sedikitpun dari perempuan itu yang tak lain dan tak bukan adalah Helena.
Frans yang berdiri di sampingnya menoleh, dan mengikuti arah pandang Diao Chan. "Dia telah bereinkarnasi dan terlahir kembali, tetapi sayangnya Nyonya tak mengingat apapun tentang masa lalunya." Jelas Frans seolah-olah mengerti apa yang gadis itu pikirkan oleh Diao Chan.
Sontak perempuan itu menoleh dan menatap Frans dengan pandangan serius. "Jadi Nuwa telah bereinkarnasi?"
Frans menganggukkan kepalanya. "Tapi sayang sekali karena dia telah melupakan masa lalunya. Dia tak hanya tak ingat pada, Tuan Muda. Tetapi dia juga melupakan jati dirinya, siapa dirinya yang sebenarnya. Dan itu yang membuat Tuan Muda merasa sangat sedih," ujar Friends panjang lebar.
Mendengar penuturan Frans membuat Diao Chan terdiam. Memang benar seseorang yang bereinkarnasi pasti akan melupakan masa lalunya, termasuk siapa dirinya. Dan Diao Chan hanya bisa berharap semoga ingatan Nuwa bisa pulih kembali meskipun itu sangatlah mustahil, agar dia bisa mengingat dirinya lagi.
"Meskipun dia tidak mengingat apapun, setidaknya dia telah kembali. Dan penantian panjang, Tuan Muda Nero, akhirnya terbayar lunas."
Frans menganggukkan kepala, menyetujui ucapan Diao Chan. "Ya, itu benar. Setidaknya dia telah kembali. Dan terus terang saja aku benar-benar tidak tega melihat keadaan Tuan Muda yang selalu dihantui rasa bersalah karena tak bisa melindungi cintanya."
Frans dan Diao Chan sama-sama tau bagaimana hancurnya Rey ketika kehilangan cintanya. Mimpi buruk yang harus Rey alami untuk kedua kalinya, dan kali ini mereka berharap semoga tak ada lagi kesedihan dan air mata dalam perjalanan cinta mereka.
.
.
__ADS_1
Dimalam yang gelap dan langit kelam bertabur bintang. Terlihat seorang laki-laki bersurai coklat berdiri di balkon kamarnya dengan pandangan lurus keatas. Dinginnya malam seakan tak mengusiknya sedikit pun, padahal dia hanya memakai celana panjang hitam, cardigan berbahan tipis dan kaos polos sebagai dallamannya.
Laki-laki itu menatap langit dengan pandangan hampa, entah apa yang sedang ia pikirkan. Yang jelas sesuatu yang telah merubah seluruh hidupnya, dan karena terlalu asik dengan dunianya. Sampai-sampai ia tidak menyadari kedatangan seseorang yang kini berdiri disampingnya.
"Bukankah, bintang-bintang itu sangat cantik!!"
Suara lembut nan halus itu mengalihkan perhatiannya. Sontak saja laki-laki itu menoleh dan mendapati dara jelita berparas barbie berdiri disampingnya "Helena," ucap laki-laki itu sedikit datar.
Gadis itu 'Helena' menoleh dan tersenyum tipis "Sepertinya kau sangat suka melihat bintang, apa aku mengganggumu?!" ucap Helena tanpa mengakhiri kontak mata diantara mereka.
"Kenapa kau berkata seperti itu?"
Helena mengangkat bahunya acuh."Tidak, hanya menebak saja." Jawabnya tanpa beban.
Rey tak lantas menjawab pertanyaan gadis itu dan hanya terus menatap matanya. Rey menatap gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan. "Jika aku mengatakan iya, apa kau akan percaya?" ucap Rey sambil menyelami netra Hazel Helena.
Gadis itu menggeleng. "Aku tidak tau," jawabnya dengan nada penuh kebingungan.
"Mau pergi ke suatu tempat yang menurut orang lain mustahil?" tawar Rey.
Helena memiringkan kepalanya dan menatap Rey penuh tanya. "Kemana? Memangnya ada tempat seperti itu?" ucapnya memastikan.
"Tentu saja ada, aku akan membawamu ke sana. Sekarang tutup matamu," pinta Rey. Meskipun ragu dan tak yakin, akhirnya Helena menutup matanya seperti perintah Rey.
__ADS_1
Helena hanya mampu terpaku ketika Rey membawanya kesebuah dunia yang sama sekali tak Ia kenal. Dan tempat dia berpijak saat ini memang terlihat asing tetapi terasa familiar. Helena merasa seperti pernah menginjakkan kakinya di tempat ini, tetapi kapan dia tidak ingat.
Tujuan Rey membawa Helena ke tempat asing ini adalah untuk membuat Helena bisa sedikit mengingat tentang masa lalunya. Meskipun hanya gambaran-gambaran singkat, setidaknya ada harapan baginya untuk bisa menyengat kembali.
"Sebenarnya ini dimana? Dan kenapa kita bisa sampai di tempat seperti ini? Lalu bagaimana caranya kita bisa sampai disini?" Helena memberikan pertanyaan bertubi-tubi pada Rey, dia benar-benar bingung setengah mati.
"Saat ini kita berdua berada di dunia asing yang jauh dari dunia kita berasal. Entah kau mau percaya atau tidak, tetapi kau berasal dari dunia ini."
"Dan kenapa kau selalu merasa kita seperti saling terhubung dan familiar. Itu karena kita adalah suami-istri dimasa lalu. Kau kehilangan nyawa di depan mataku dan aku tidak bisa melindungi mu. Dan itu yang menjadi penyesalanku selama ini." Ujar Rey panjang lebar.
Helena menatap Rey dengan bingung. Dia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dikatakan olehnya. Kata-kata Rey sedikit ambigu dan itu membuat Helena bingung dibuatnya. "Aku benar-benar tidak mengerti."
"Kau memang tidak perlu mengerti, jangan memaksakan diri untuk mengingat apapun jika memang tidak bisa. Aku hanya ingin memberitahumu. Kemarilah,"
Rey meraih tangan Helena lalu menggenggamnya, Iblis tampan itu mengarahkan telapak tangan kanannya pada pohon yang dengan ajaibnya, muncul sebuah cahaya yang sangat menyilaukan. Luh
Rey menarik lembut tangan Helena untuk memasuki pintu cahaya tersebut. Dan ketika membuka matanya, Helena sudah berada ditengah padang ilalang dengan ribuan kunang-kunang yang berterbangan. Mata gadis itu terbelalak, berbinar-binar, karena impiannya untuk melihat kunang-kunang dalam jumlah besar akhirnya menjadi kenyataan.
.
.
Bersambung.
__ADS_1