Istri Supranatural Tuan Muda Lumpuh

Istri Supranatural Tuan Muda Lumpuh
Flashback


__ADS_3

"DELON, JANGAN!!"


Monica berteriak histeris melihat Delon mengambil dus itu dari tangannya, dan hendak meminumnya.


Buru-buru Monica menyentak jus tersebut dari tangan putranya. Dan membuat jus tersebut tumpah seketika.


Mana mungkin Monica membiarkan Delon meminum jus yang telah tercampur racun. Karena Jus itu Monica siapkan untuk Nuwa. Tujuannya adalah menghabisi gadis itu, karena jika Nuwa masih tetap hidup dan bersama Rey, maka keinginannya untuk menguasai seluruh harta kekayaan milik keluarga Nero akan sia-sia saja.


"Mama apa-apaan kau ini?! Kenapa kau malah menumpahkan jusnya dan berteriak seperti orang kesetanan?! Padahal aku ingin meminumnya!!" bentar Delon emosi.


Monica pun segera meminta maaf dan memberi penjelasan. "Maaf, Delon. Tapi Jus itu Mama siapkan untuk, Viona. Dan Jus itu sangat spesial, jadi mana mungkin Mama membiarkan orang lain meminumnya. Dan karena dirimu, Viona malah tidak jadi meminumnya." Tutur Monica.


Delon bisa tertipu, tetapi tidak dengan Rey dan Nenek Nero. Mereka berdua sama-sama tahu ada racun di dalam Jus itu, dan tujuan Monica memberikan Jus itu pada Nuwa adalah untuk membunuhnya. Bagus dia sangat cerdik.


"Terima kasih atas kebaikanmu, Bibi. Tapi kau tidak perlu repot-repot membuatkan jus untukku, karena aku tidak menyukai jus sama sekali." Ucap Nuwa tersenyum.


Kedua mata Monica membelalak sempurna, entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja tubuhnya menegang. Kedua matanya memancarkan rasa takut yang berlebihan. Apa yang sebenarnya Nuwa lakukan padanya, sampai-sampai membuat Monica ketakutan seperti itu.


Nuwa mendekati Monica lalu berbisik di telinganya. Lagi-lagi kedua matanya membulat sempurna, membuat Rey maupun Nenek Nero penasaran dibuatnya. Mereka sangat penasaran, sebenarnya apa yang Nuwa katakan pada Monica.


Sang Dewi meletakkan ujung jarinya di kening wanita itu. "Ahhh," dan membuat Monica berteriak histeris lalu menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Sebuah cahaya merah keluar dari dalam mulutnya, lalu menghilang begitu saja.


"Viona!!" bukan hanya Monica saja yang tak sadarkan diri, tetapi Nuwa juga. Beruntung Rey bisa menangkap tubuhnya sebelum jatuh menghantam lantai. Gadis itu tak sadarkan diri di pelukannya. "Nek, aku akan membawanya ke kamar."


"Baiklah, disini biar Nenek yang mengurusnya."


.


.


Rey menatap Nuwa yang sedang tak sadarkan diri dengan pandangan sendu. Kemudian dia meraih tangan gadis itu lalu menggenggam lembut jari-jari lentiknya. Rey menutup mata kirinya, mencoba mengingat kembali awal pertemuannya dengan Nuwa dimasa lalu.


Flashback:


"Kau sudah sadar?" Sebuah suara dengan nada lembut namun terdengar datar, memaksa pemuda itu untuk menoleh hingga mata mereka saling bertemu.


Tak sedikit pun Xiao Yan meloloskan pandangannya pada sosok jelita yang kini berdiri di hadapannya. Tubuhnya terpaku, Yan tidak berkedip sedikit pun. Jika boleh jujur, dia adalah gadis tercantik yang pernah dia temui dalam hidupnya.

__ADS_1


Kulit seputih dan sehalus porselen. Dengan hidung kecil nan mancung, serta sepasang mutiara berwarna ungu jernih yang secantik bunga kristal yang baru saja mekar, dengan juntaian bulu lentik yang terlihat ketika dia mengedipkan matanya. Sungguh betapa dia begitu sempurna. Dan cadar tipis yang menutupi sebagain wajahnya tidak bisa menyembunyikan kecantikannya.


Yan menggeleng dan segera menepis semua perasaan yang tiba-tiba memenuhi hatinya. Bukan itu tujuannya datang ke negeri ini. Ia datang untuk mendapatkan dua pusaka suci bukan untuk mengagumi kecantikan sang Dewi.


"Dimana ini?" Sekali lagi Yan bertanya tanpa melepaskan kontak mata diantara mereka berdua.


"Kau berada di negeri para, Dewa-Dewi. Pagi ini aku menemukanmu tergeletak tak sadarkan diri di sungai putih. Karna aku tidak tau dimana kau tinggal, maka aku memutuskan untuk membawamu ke negeri ini." Ujarnya menjelaskan.


Xiao Yan terdiam untuk beberapa saat. Jika saat ini dirinya berada di negeri para Dewa-Dewi, itu artinya rencana awalnya berhasil. Seperti yang dia harapkan.


"Jika aku boleh tau, memangnya apa yang terjadi padamu?" Tanya gadis itu penasaran.


Yan pun menceritakan apa yang dialaminya pada Sang Dewi, tentu dengan cerita palsu yang dia karang sendiri. Karna tidak mungkin Yan mengatakan yang sebenarnya tentang siapa dirinya, dan tujuannya datang ke negeri ini. Bisa-bisa dia malah ditangkap dan dibunuh dengan brutal.


"Begitulah ceritanya, awalnya aku menang dan dapat mengatasi mereka semua. Tapi kemudian salah satu dari mereka melapor pada tuannya, tak lama berselang dia kembali dengan seorang pemuda yang ternyata adalah pangeran bungsu negeri kegelapan. Aku dihajar habis-habisan,kemudian tubuhku di lempar ke sungai." Ujarnya panjang lebar.


"A-Apa kau bilang? Pangeran negeri kegelapan?" Kaget Sang Dewi, Xiao Yan mengangguk.


Pemuda itu beranjak dan berjalan menuju jendela tempat gadis itu berdiri tadi, dan di ikuti gadis itu yang kemudian berdiri di sampingnya.


Xiao Yan menghela napas. "Mereka adalah mahluk yang sangat kuat dan berbahaya. Jadi aku sarankan agar kau jangan sampai berurusan dengan mereka. Apalagi pangeran bungsu bernama, Xiao Yan. Dia sangat kejam dan tidak memiliki hati, jika kau tidak percaya akulah buktinya." Tutur pemuda di sampingnya.


"Aku belum mengetahui namamu? Aku Nuwa, putri di negeri ini?" Nuwa itulah nama gadis itu. Dia baru saja memperkenalkan dirinya pada pemuda di sampingnya, yang tak lain dan tak bukan adalah Xiao Yan.


"Xi, itu namaku. Kau bisa memanggilku, Xi." Xiao Yan memperkenalkan dirinya dengan identitas palsu, akarnya marahnya tidak sampai terbongkar.


Kemudian Nuwa mengangguk. Dan untuk sesaat, kebersamaan mereka hanya di isi keheningan. Tidak ada perbincangan lagi di antara mereka berdua, setelah perbincangan singkat itu. Keduanya sama-sama diam dalam kebisuan, dan hanya detak jantung serta suara binatang malam yang memecah dalam heningnya suasana malam.


Xiao Yan menoleh dan menatap sisi wajah gadis di sampingnya, dingin namun memiliki pesona yang sangat kuat dan tidak dapat ia pungkiri bila Nuwa adalah gadis tercantik yang perna ia lihat dalam hidupnya.


Nuwa memutar lehernya membuat mata mereka berdua kembali bertemu. "Sebaiknya kau istirahat agar kondisimu segera pulih." Ucapnya dan berlalu begitu saja. Meninggalkan Yan sendiri dalam ruangan itu.


Dan selanjutnya yang terlihat oleh iris mata Xiao Yan hanyalah punggung Nuwa yang berjalan kian menjauh, sampai akhirnya sosoknya menghilang di balik pintu. Xiao Yan tersenyum miring.


Ini sungguh di luar dugaannya, dia sungguh tidak menyangka jika kedatangannya di Lianera malah mempertemukan dirinya dengan Sang Dewi.


Flashback End:

__ADS_1


Xiao Yan, Itulah nama Rey yang sebenarnya. Dia merupakan putra bungsu dari Penguasa Kegelapan. Saat itu Rey yang ditugaskan untuk mendapatkan pedang Yetien dan Red Altamond, sengaja menyamar menjadi rakyat jelata hanya untuk bisa masuk ke negeri para Dewa.


Dan siapa yang menduga jika kedatangannya ke sana pada saat itu, justru menjadi awal dari semua tragedi yang terjadi. Ia yang telah jatuh cinta pada Dewi penolongnya, menjadi mati-matian berusaha untuk mendapatkannya. Meskipun dia sendiri tahu, jika Iblis dan Malaikat tidak pernah bisa bersama.


"Uhh," lengkuhan yang keluar dari sela-sela bibir Nuwa mengalihkan perhatiannya. Gadis itu rupanya telah sadar. Nuwa berusaha untuk duduk, salah satu tangannya mencengkram kepalanya yang serasa ingin pecah. "Uhh, sial!! Kepalaku pusing sekali,"


Dan tubuh itu terhubung ke belakang, karena pelukan Rey yang tiba-tiba. Membuat tubuh Nuwa menegang seketika. "Aku lega baik-baik saja. Terus terang aku merasa takut, karena kau tiba-tiba saja pingsan." Ucap laki-laki itu setengah berbisik.


Nuwa mendorong pelan tubuh Rey dan memaksa pria itu untuk melepaskan pelukannya. "Terima kasih telah mengkhawatirkanku, tapi aku baik-baik saja." Ucapnya meyakinkan.


Dan obrolan mereka terinterupsi oleh kedatangan Nenek Nero. " "ini sudah waktunya sarapan, sebaiknya turun sekarang, kita sarapan sama-sama." Ucap Nenek Nero seraya menghampiri mereka berdua.


"Vio, ada hal penting yang ingin Nenek bicarakan denganmu. Setelah sarapan, temui Nenek. Dan kau, Rey. Sebaiknya tidak menguping, kau harus pergi ke kantor. Kau sudah membiarkan pekerjaanmu terbengkalai selama beberapa hari!!"


Rey mendengus kasar. "Bukanlah masih ada, Frans. Jika dia bisa mengatasinya, lalu kenapa aku harus turun tangan?! Aku rasa dia saja cukup!!"


Dengan gemas Nenek Nero menjitak kepala cucunya. "Dasar kau ini!! Dimana tanggung jawabmu sebagai CEO?! Jika kau memang tidak sanggup, sebaiknya katakan saja dengan jujur. Biar nenek menunjuk orang lain untuk menggantikanmu!!"


"Silakan saja, tapi aku pastikan orang itu hanya tinggal nama keesokkan harinya!!" ucap Rey menimpali.


Melihat sorot mata Rey, membuat Nenek Nero merinding sendiri. Dia tidak tahu takdir gila apa yang ia jalani saat ini, sampai-sampai harus memiliki cucu reinkarnasi dari seorang Pangeran Iblis yang dikenal kejam dan bengis dimasa lalu.


"Kau menyeramkan!!" Ucap Nenek Nero dan berlalu begitu saja.


Rey mendengus berat. Terkadang neneknya itu seperti bocah. Bukan, tetapi tingkah mereka berdualah yang terkadang sama-sama seperti bocah. Sama-sama egois, keras kepala, dan tidak ada yang mau mengalah. Begitulah sifat mereka berdua.


Namun bukan berarti mereka berdua tak saling menyayangi. Jika ditanya Apakah Rey menyayangi neneknya? Maka jawabannya adalah iya, karena Nenek Nero-lah yang telah merawat dan membesarkannya.


"Kau bisa jalan sendiri?" pandangan Rey bergulir pada Nuwa dan menatap gadis itu penuh tanya.


Nuwa menganggukkan kepala. "Ya," dan menjawab singkat. Keduanya kemudian berjalan beriringan meninggalkan kamar dan menuju meja makan.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2