
"Kakek, apa-apaan ini?!"
Kepulangan Helena disambut tangis oleh Tuan Valentino, pria tua itu memeluk cucunya dengan erat sambil menangis sesegukan, membuat Helena kebingungan setengah Mati.
"Kakek, sebenarnya kau ini kenapa?" bingung Helena.
"Huhuhu... Cucuku, yang malang. Kakek Tahu betul Bagaimana perasaanmu, pasti kau sangat sakit hati atas sikap dan perbuatan, Bram. B*jingan itu telah mengkhianatimu, kan?! Tenang cucuku, kau tidak perlu merasa sedih ataupun kecewa, karena pria di dunia ini bukan hanya dia saja. Lagipula ada, Kakek. Yang selalu ada untukmu." Ujar Tuan Valentino sambil mengeratkan pelukannya.
Helena menghilang nafas panjang. "Jadi, Kakek, menyewa seseorang untuk mengawasiku?!"
Tuan Valentino melepaskan pelukannya, Seraya menggelengkan kepala. "Bukan mengawasimu, lebih tepatnya menjagamu dari jauh. Karena Kakek tahu, saat ini akan tiba, jadi Kakek berjaga-jaga. Ketika kau mengalami patah hati karena ulah kekasihmu itu, Kakek setelah siap." Ujar Tuan Valentino membela diri.
Helena mendengus untuk kesekian kalinya. Ada saja alasan konyol kakeknya ketika dia telah tertangkap basah, tetapi Helena sangat berterima kasih. Karena dia tahu, apa yang dilakukan oleh Kakeknya, semata-mata karena dia peduli padanya.
"Kakek, tidak perlu berlebihan seperti ini, karena aku baik-baik saja. Lagipula cucumu ini adalah wanita yang kuat, tangguh dan tidak cengeng. Jadi untuk apa Kakek harus bersikap berlebihan seperti ini,"
Kakek Valentino melepaskan pelukannya dan menatap Helena dengan serius. "Jadi kau tidak patah hati, apalagi sedih karena kelakuan, Bram?" tanya Kakek Valentino memastikan.
Helena menggelengkan kepala. "Untuk apa kakek?! Tidak ada gunanya bersedih, apalagi menangisi seseorang yang sudah mengkhianati kita. Masa depan masih panjang, dan pria di dunia ini bukan hanya dia saja, jadi untuk apa aku terlalu memikirkannya. Hanya orang bodoh yang menangis karena cinta!!" ujar Helena.
"Itu benar sekali, Kakek sangat mendukungnya. Memang tidak perlu menangisi pria seperti itu. Lebih baik mencari pengganti yang lebih segalanya dari b*jingan itu!! Lalu Bagaimana hubunganmu dengan, Tuan Muda Nero? Dan beri tahu Kakek, bagaimana kalian berdua bisa saling mengenal?! Kakek, sangat penasaran." ucap kakek Valentino begitu bersemangat.
Helena menautkan alisnya dan menatap Kakek Valentino dengan pernyataannya. "Maksud Kakek apa? Aku dan Tuan Muda Nero? Kami tidak memiliki hubungan apa-apa, lalu dari mana Kakek bisa tahu jika aku dan dia saling mengenal?" Helena menatap kakeknya dengan penasaran.
"Hehehe... Itu tidak penting, yang terpenting adalah hubungan kalian berdua. Dan Kakek akan menjadi orang pertama, yang memberikan Restu pada kalian berdua, jika kalian benar-benar memiliki hubungan spesial." ujar Kakek Valentino.
__ADS_1
Helena menggelengkan kepala untuk kedua kalinya. "Kakek, tidak jelas sama sekali. Aku dan dia tidak memiliki hubungan apa-apa, aku dan Tuan Muda Nero baru saja saling mengenal, jadi kami tidak memiliki hubungan apa-apa. Untuk itu jangan bertanya yang tidak-tidak, apalagi berpikir yang aneh-aneh!! Sudahlah, aku ke kamar dulu." Ucap helena dan pergi begitu saja.
Helena terus saja menggerutu tidak jelas, bagaimana bisa kakeknya membahas tentang hubungannya dengan Rey, sementara ia dan pria itu tidak memiliki hubungan apa-apa. Mereka berdua memang saling mengenal, namun hubungan yang terjalin diantara mereka tak lebih dari sekedar teman. Dan itu pun tidak akrab sama sekali.
.
.
Delon meneguk kembali minumannya. Saat ini pria itu sedang berada di sebuah klub malam, yang cukup terkenal di kota Seoul.
Delon hanya sendirian, tak ada yang menemani dirinya, selain minuman beralkohol yang dia pesan dari seorang Bartender yang berdiri di depannya.
Pertemuan singkatnya dengan Helena, tak bisa dia enyahkan dari pikirannya. Delon selalu terbayang-bayang oleh wajah cantiknya. Wajah Helena bak pinang di belah dua dengan Nuwa, tetapi rasanya sangat mustahil melihat perempuan itu yang masih sangat cantik dan awet muda.
Kebingungan tak hanya dirasakan oleh Delon setelah bertemu Helena, yang wajahnya bak pinang dibelah dua dengan Nuwa. Tetapi pada Rey dan juga Frans.
"Delon, apa yang sedang kau pikirkan? Papa perhatikan dari tadi kau terus melamun, apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tanya Tuan Jackson penasaran.
Delon mengangkat kepalanya, dan membalas tatapan lelaki tua di depannya itu. Kemudian Delon menggelengkan kepala. "Tidak ada
Dan aku tidak sedang memikirkan apapun kok, Pa. Jadi Papa Jangan berpikir yang tidak-tidak," ucapnya.
"Ya, sudah kalau begitu. Papa, keluar dulu." Ucap Tuan Jackson dan dibalas anggukan oleh Delon.
Selepas kepergian ayahnya, di kamar itu hanya menyisakan Delon sendirian. Pria itu beranjak, dan berjalan ke arah balkon. Langit malam ini terlihat sangat indah, dengan hiasan jutaan manik-manik langit, dan Permata malam. Malam ini langit benar-benar bersahabat.
__ADS_1
Angin dingin yang berhembus, singgah sejenak di kulit putihnya yang mulai dipenuhi keriput. Delon menghela nafas, apakah dirinya bisa seperti Rey yang tidak bisa menua dan mati. Tetapi rasanya itu sangat mustahil.
Dan jika hubungan mereka terjalin dengan baik, mungkin Delon bisa meminta bantuan darinya, tetapi sayangnya hubungan mereka tidak sebaik itu. Jadi mustahil jika Rey mau membuatnya tetap awet muda.
.
.
Tatapan mata setajam elang itu tak pernah teralihkan dari sang malam. Helai-helai surai sewarna perak miliknya terlihat melayang, seolah terbang di tiup oleh angin malam. Pria itu berdiri diam dalam remangnya temaram sang malam, sesekali irisnya tertutup oleh kelopaknya, menyembunyikan mutiara berbeda warna di sana.
Tubuhnya terlihat indah dalam balutan celana panjang dan singlet putih yang terlihat dari kemeja kelabunya yang sedikit tersingkap, karena tak terkancing dengan sempurna menampilkan pundak putihnya.
"Tuan Muda,"
Kelopak mata yang sebelumnya tertutup, kini perlahan-lahan terbuka kembali. Memperlihatkan sepasang iris mata berbeda warna. Kemudian pria itu yang tak lain dan tak bukan adalah Rey menoleh, dan mendapati Frans berjalan menghampirinya.
"Anda, memanggil saya?" ucap orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Frans.
"Atur pertemuanku dengan, Dylan Valentino. Aku berencana untuk melamar reinkarnasi Nuwa, dan mempersuntingnya dengan cepat. Dia berada cukup dekat denganku, tetapi aku merasa sangat jauh. Untuk itu aku ingin mengikat dia di sisiku, aku berencana menikahinya dalam waktu dekat!!" Ujar Rey.
Frans mengangguk paham. "Baik, Tuan Muda, saya mengerti. Secepatnya, akan saya atur pertemuan Anda dengan, Tuan Valentino. Kalau begitu saya permisi dulu." Dia membungkuk sebelum beranjak dari hadapan Rey.
.
.
__ADS_1
Bersambung.