Istri Supranatural Tuan Muda Lumpuh

Istri Supranatural Tuan Muda Lumpuh
Pertemuan Rey Dan Chen


__ADS_3

"Tuan Muda,"


Langkah kaki Rey dan Helena terhenti oleh seruan seseorang yang berdiri tepat di hadapan mereka berdua. Helena menatap Rey dengan penasaran dan seolah-olah bertanya apakah kau mengenalnya? Namun melalui bahasa non verbal.


Tiba-tiba Rey menganggukkan kepalanya. Menjawab tatapan Helena. "Chen, dia adalah orangku yang paling setia." Jawabnya.


Wajar jika mereka bertemu dengan seseorang yang berasal dari masa lalu. Itu karena Rey telah membuka portal menuju masa lalu, masa dimana dia berasal. Dengan kekuatan yang Rey miliki tentu saja hal tersebut bukanlah sesuatu yang mustahil.


Chen menghampiri Rey dan menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Tu...Tuan Muda, benarkah ini Anda?" ucap Chen memastikan.


"Hm. Ya, ini aku Chen." jawab Rey membenarkan.


"TUAN MUDA!!" Chen berhambur untuk memeluk Rey. Dia begitu bahagia karena Tuan Mudanya akhirnya kembali. "Tuan Muda, akhirnya kau kembali juga. Aku sangat bahagia, huhuhu."


Rey mendengus. Rasanya dia ingin sekali memukul pantat Chen. Meskipun ratusan bahkan ribuan tahun telah berlalu. Akan tetapi sikap manja dan melankolisnya belum berubah juga.


"Chen, lepaskan. Kau membuat malu saja!!" ucap Rey seraya mendorong Chen menjauh darinya.

__ADS_1


Lalu pandangan Chen bergulir pada Helena. Dan alangkah terkejutnya dia saat melihat gadis yang berdiri disamping Rey. "OMO!! DEWI NUWA!!" serunya dengan lantang. Dari Helena, lalu pandangan Chen bergulir pada Rey. "Tuan Muda, dia.."


"Namanya Helena, dan dia adalah reinkarnasi Nuwa. Sayangnya Helena tak mengingat apapun tentang masa lalunya." Jelas Rey. Dan Chen melihat kesedihan Dimata Rey.


Chen mendekati Helena lalu menggenggam tangannya. "Dewi, kau pasti tidak mengingatku. Dulu kita sangat dekat dan sering bermain bersama. Bahkan kau juga sering sekali meledekku dan menyebutku jelek, saat lapar kau suka mencuri buah-buahan dan bakpao di kuil dewa ketika kita turun ke dunia manusia." Ujar Chen panjang lebar.


Chen dan Nuwa dulu memang sangat dekat. Meskipun sering kali bersikap seperti kucing dan tikus, karena selalu saja ribut. Tetapi sebenarnya mereka berdua saling menyayangi.


"Benarkah, tapi aku tidak mengingatmu sama sekali." Ucap Helena.


"Kau memang tidak perlu mengingat apapun tentangku. Cukup aku saja yang mengingatmu, yang terpenting kau sudah kembali, Dewi. Dan itu membuatku sangat bahagia. Huaaa....Dewi, aku sangat merindukanmu." Teriak Chen.


"Hehehe... Maaf, Dewi. Aku sangat bahagia makanya memelukmu sampai seerat itu." Ucapnya sambil tersenyum.


"Dasar menyebalkan!! Oya, Rey. Apakah disini tidak ada kendaraan yang bisa kita naiki? Aku lelah jika harus berjalan terus-menerus seperti ini. Andaikan saja ada mobil di zamanmu ini, pasti akan lebih menyenangkan." Ujar Helena.


Tampak Chen berfikir. "Mobil? Benda apa itu, Dewi? Apa itu sejenis makanan??" tanya Chen. Dan tampang tampak begitu polos. Alhasil sebuah jitakan mendarat mulus di kepalanya.

__ADS_1


"Ngaco, itu nama kendaraan. di jamanku berasal, mobil adalah sebuah alat transportasi. Dan jika ingin pergi kemana-mana, kami selalu menggunakan mobil sebagai alat transportasi. Sebenarnya masih banyak lagi sih. Ahhh biar lebih mudah menjelaskannya. Jika di zaman ini kalian memakai kuda sebagai alat transportasi, maka di zaman modern orang menggunakan mobil" jelas Helena.


tiba-tiba Helena teringat pada ponselnya, seingatnya ia membawa benda tipis dan canggih tersebut. Namun kenapa tiba-tiba ponselnya malah tidak ada. "Sebenarnya apa yang kau cari??"


Suara dingin terlewat datar itu mengalihkan perhatian Helena. Perempuan itu menoleh pada sumber suara, mata Hazel-nya bersirobok dengan mata merah milik Rey.


"Ponselku, aku yakin saat meninggalkan penginapan tadi aku memegang ponselku. Tapi kenapa sekarang malah tidak ada!" keluhnya frustasi.


Chen memiringkan kepalanya dan menatap Helena penuh tanda tanya. "Ponsel? Memangnya benda apa lagi itu? Apa sejenis makanan atau minuman??"


"Hhaaa!" Helena cengo dengan pertanyaan Chen. Tetapi dia bisa memakluminya karena Chen tidak hidup di jaman mesin yang serba canggih melainkan hidup di zaman batu. "Aku jelaskan juga percuma, karena kau tidak akan mengerti!" sahut Helena menimpali. "Rey, apa kau melihat ponselku?"


"Ini."


"Ponselku." Kemudian Helena mengambil benda tipis itu dari tangan suaminya. "Uh, aku pikir sudah kehilangannya." ia merasa lega.


.

__ADS_1


.


bersambung.


__ADS_2