
"Astagfirullah, ini sudah siang," ujar Kamila setelah berhasil mengumpulkan nyawanya. Ia pun membuka selimutnya kemudian melompat dari tempat tidurnya.
Jam weker di atas nakas samping tempat tidurnya sudah menunjukkan pukul 05.45. Ia langsung berlari ke arah kamar mandi untuk mengambil air wudhu' dan segera melaksanakan sholat dua rakaat.
"Subuh kesiangan lagi, Huffft. Semoga rejeki hari ini tidak dipatok ayam," gumamnya seraya membuka mukena yang ia gunakan.
Tangannya pun kemudian melipat mukenanya setelah berdoa agar hari ini ia bisa melalui hari dengan sangat baik dan semua urusannya berjalan dengan lancar.
Kamila menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya kemudian melangkah ke arah tempat tidurnya. Sebuah tempat pribadi yang semakin terasa dingin saja sejak berpisah dengan Luky Firmaji.
Ia pun membersihkan dan merapikannya dengan harapan akan ada sosok pria yang akan menemaninya di tempat itu sampai akhir hayatnya. Sehidup semati bahagia dunia dan akhirat.
"Rupanya lelah setelah jalan seharian bersama Vony masih terasa," ujarnya seraya meregangkan otot-ototnya sampai merasa lebih nyaman.
"Hoamm..." Perempuan itu menguap karena merasa matanya masih sangat mengantuk. Ia pun meraih handphonenya dan menghidupkan benda pipih itu seraya berusaha membuka matanya dengan lebar. Bangun kesiangan seperti ini ternyata masih juga membuatnya mengantuk.
"Gini nih kalau kurang olahraga. Bawaannya cepat lelah dan badan terasa berat, Hem," ujarnya pelan dengan niat akan ikut mendaftar di sebuah gym mulai hari ini.
Tring
Tring
Bunyi notifikasi dari handphone ditangannya bersahut-sahutan dan berebut untuk dibaca. Rasa kantuknya pun seketika langsung hilang.
Beberapa pesan pribadi maupun dari grup-grup chat ia buka dan baca. Kebanyakan dari mereka membahas tentang hasil meeting yang ia pimpin kemarin. Semua pesan itu adalah pesan sejak kemarin sampai tadi malam yang ia tidak buka karena lelah dan ngantuk.
Tring
Satu lagi notifikasi masuk saat ia ingin menutup aplikasi berbalas pesan itu tanpa ingin membalasnya.
"Nomor baru," ujarnya pelan kemudian membuka satu itu yang langsung membuat dadanya berdebar tak karuan.
__ADS_1
Entah kenapa hariku begitu terasa indah pagi ini. Apakah karena ini adalah awal yang baik untuk hubungan kita Mil?
Sinar matahari pagi ini pun begitu cerah, seakan ikut merestui begitu indahnya rasa yang Aku rasakan untukmu Mil.
Hey, Aku terlalu gede rasa mungkin. Aku kira bukan karena ltu. Tapi Aku yakin ini karena rasa bahagia yang kamu bagi untuk alam ini Mil.
Tetaplah bahagia
@A
Selamat pagi π
"Ya Allah, siapa sih? Gak bilang-bilang lagi siapa namanya. Inisialnya A, apakah mungkin Kak Andri?" tanya Kamila pada dirinya sendiri.
Rasa senangnya sungguh tidak bisa ia sembunyikan. Hingga senyum pun tak bisa lepas dari wajahnya. Dadanya jangan ditanya. Debarannya seakan ingin meledak dan menghancurkan tubuhnya.
Jempolnya pun dengan lincah menari di atas keyboard handphonenya untuk membalas pesan dari nomor yang tidak dikenalnya itu.
Lama ia menunggu dengan tak sabar tapi sepertinya nomor misterius itu tidak lagi aktif. Pesan yang ia kirim hanya centang satu.
"Baiklah, siapa pun kamu, Aku yakin kamu orang baik dan mau melihat Aku bahagia," ujarnya pelan kemudian segera keluar dari kamarnya untuk sarapan. Ia yakin Mak Siti pasti sudah menyiapkan sarapan yang enak buatnya.
"Selamat pagi Nyonya," sapa Mak Siti dengan tangan mengatur menu sarapan di atas meja.
"Selamat pagi Mak," jawab Kamila seraya mengendus aroma harum dari arah meja makan yang langsung membuat perutnya meronta minta diisi.
"Terimakasih banyak Mak karena udah ikhlas menyiapkan ini semua untuk Aku," lanjut perempuan cantik itu seraya memeluk tubuh tua Mak Siti.
"Ini kan tugas saya Nyonya, jadi tidak perlu berterima kasih seperti itu."
"Ih, Mak ini gimana sih? Aku termasuk orang yang tidak tahu bersyukur dong kalo kayak gitu. Bagaimana pun juga Mak itu sudah Aku anggap sebagai penggantinya ibu di kampung. Jadi sebenarnya Mak tidak harus menjadikan ini sebagai tugas yang wajib Mak lakukan."
__ADS_1
"Nyonya ini ngomong apa sih? Saya ini pekerja di rumah ini. Semua pekerjaan memang harus Mak kerjakan. Dan Mak digaji untuk itu," jelas Mak Siti dengan perasaan tak nyaman.
"Ya udah Mak, jangan bicara pekerjaan dulu. Ayok kita makan karena Aku sudah sangat lapar. Semalam tidak makan sebelum tidur."
"Saya belum lapar Nya. Makan saja terlebih dahulu. Nyonya kan mau berangkat kerja."
"Mak, apa susahnya sih makan dulu. Sini deh, Mak gak kasihan sama Aku yang selalu makan sendiri?" Kamila benar-benar memaksa supaya perempuan paruh baya itu mengikut keinginannya. Mak Siti pun mengalah.
Akhirnya ia ikut duduk dan makan bersama dengan majikannya itu. Mereka mengobrol tentang banyak hal. Kamila banyak bercerita tentang ibu dan Ayahnya di kampung yang belum tahu statusnya sekarang yang sudah menjadi janda.
Setelah mereka makan bersama. Kamila kembali ke kamarnya untuk mandi dan berangkat bekerja. Hari hatinya sangat senang. Dan ia ingin membagi kesenangannya ini pada orang lain.
πΊ
"Wah, Ibu kelihatan lebih segar dan juga lebih muda," ujar salah seorang karyawan saat Kamila menginjakkan kakinya di Perusahaan itu.
"Tambah cantik. Aura bahagianya itu keluar banget," tambah yang lain ikut memuji.
"Kalian kalau memuji bikin Aku terbang padahal tak punya sayap," jawab Kamila dengan tawa kecilnya.
"Dan Ibu kalau bercanda suka lucu." timpal karyawan lainnya dan berhasil membuat semua orang yang sedang menunggu lift terbuka itu pada tertawa. Kamila dan para karyawan dibawahnya memang sangat akrab dan tidak menjaga jarak samasekali hingga banyak yang menyukainya.
"Ibu Kamila, bisa kita bicara?" Langkah Kamila yang ingin memasuki kotak besi itu langsung terhenti. Ia membalikkan badannya dan memandang pria itu dengan wajah yang nampak sangat kaget.
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
Eh, eh, siapakah dia???
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading π