Janda Tak Bolong

Janda Tak Bolong
Bab 41 Jambu Kristal


__ADS_3

"Temani Aku ke rumahnya Pak Luky ya Mas," pinta Vony Dona pada Andri Husain saat mereka bertemu siang itu di sebuah Cafetaria. Tentara muda itu sedang lepas jaga dan sangat ingin makan siang bersama dengan Vony sang kekasih.


"Ada urusan pekerjaan kah?" tanya Andri Husain seraya kemudian menyeruput teh manis di hadapannya.


"Iya Mas, udah beberapa hari ini Pak Presdir tidak masuk bekerja. Dan semua urusan diberikan padaku."


"Gimana dengan Bu Kamila? Apa ia baik-baik saja?" Andri Husain tiba-tiba jadi teringat pada mantan kekasihnya itu. Menurut cerita Vony Dona selama ini Kamila juga ikut menghandle pekerjaan Presiden Direktur itu kalau ia ada urusan di luar Perusahaan.


"Nah justru itu. Karena Bu Kamila malas datang ke Perusahaan jadi Pak Presdir ikutan tidak datang."


"Ih Kok bisa seperti itu? Mana bisa urusan jadi lancar kalau semua pimpinan bersikap seperti itu." Andri Husain tampak mulai serius menanggapi perkataan kekasihnya.


"Mereka berdua memantau pekerjaan dari rumah saja Mas, Work From Home gitu," jelas Vony Dona dengan senyum diwajahnya.


"Eh, sekarang 'kan kita tidak lagi dalam darurat Virus Covid 19 ngapain masih daring atau WFH?" tanya Andri Husain dengan wajah seriusnya.


"Mereka berdua sedang terkena Virus cinta Mas. Jadi gak mau pisah gitu, ah sudahlah kamu kok nanggepinnya serius banget sih" Vony sudah mulai nampak kesal pada pria dihadapannya. Rupanya berpacaran dengan seorang tentara harus ekstra sabar, begitu pikirnya.


"Iya Aku mengerti Von. Maaf kalau aku terlalu serius. Mungkin karena lingkungan pekerjaan Aku yang selalu menuntut keseriusan dan kewaspadaan tingkat tinggi makanya Aku begini."


Pria itu merasakan kalau gadis cantik dihadapannya sering kesal karena ia kadang tidak terlalu peka pada kondisi yang menurutnya terlalu lebay dan dibuat-buat.


"Ah iya Mas, aku mengerti kok." Vony tersenyum. Gadis itu mulai berpikir akan lebih agresif sedikit agar hubungannya tidak terlalu kaku seperti ini.


"Kamu gak bosan sama Aku kan Von?"


Vony Dona kembali tersenyum kemudian menyentuh tangan pria itu.


"Gak lah Mas. Aku cuma ingin kamu sedikit lebih terbuka deh perasaannya ke Aku."

__ADS_1


"Aku udah terbuka kok. Aku sayang sama kamu dan ingin menikahi mu. Apa itu belum cukup?" Sekali lagi Vony Dona menarik ujung bibirnya untuk tetap tersenyum.


"Iya Mas, makasih. Sekarang kita segera ke rumah Pak Presdir ya, ada berkas yang harus diperiksa dan di tandatanganinya."


"Ah iya ayok lah kalau begitu." Andri Husain pun berdiri dari duduknya dan segera ke kasir untuk membayar makanan yang sudah mereka makan.


"Habis ini kita singgah di toko buah ya Mas. Tadi Pak Presdir pesan kalau Bu Kamila pengen banget makan buah jambu." Andri Husain hanya mengangguk. Ia mengikuti semua keinginan dari gadis itu. Kemana saja karena ia sedang tidak bertugas saat ini.


"Gak ada jambu, jadi kita nyarinya di mana?" Vony Dona nampak bingung karena tidak menemukan jambu kristal yang diinginkan oleh Kamila.


"Ambil jambu yang mana saja. Kan cuma bilang jambu gak pake kristal." Pria itu langsung memasukkan semua jenis jambu di toko buah itu kedalam keranjang. Terserah nanti Kamila mau makan yang mana.


"Tapi Mas, maunya jambu kristal."


"Vony, jambu kristal yang biasa dimakan Kamila itu ada di kampung di depan rumah Aku. Di sini itu gak biasa ada jambu kayak gitu." Andri Husain menjelaskan dengan senyum diwajahnya.


"Baiklah Mas, kita ambil yang itu saja," ucap gadis itu kemudian menuju ke kasir. Setelah urusan belanja buah selesai, mereka pun berangkat ke rumah Luky Firmaji.


Kamila sudah lama menunggu karena sejak tadi membayangkan akan memakan buah jambu favoritnya di kampungnya dulu. Perempuan cantik itu bahkan menjemput Vony Dona di depan pintu sebelum asisten pribadi suaminya itu mengetuk pintu.


"Selamat sore Bu, Assalamualaikum." Vony Dona menyapa dengan senyum diwajahnya.


"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh. Masuk Von. Aku udah lama menunggumu." Kamila menjawab dengan tatapan ke arah tangan gadis itu. Ia sepertinya hanya menunggu pesanan jambunya daripada urusan pekerjaan yang akan Vony Dona lakukan.


"Ibu pasti sangat ingin ini 'kan?" tanya gadis itu seraya mengangkat kresek yang ada di tangannya. Kamila tersenyum senang. Ia langsung meraih kresek itu dengan air liur yang hampir menetes.


"Eh duduk dulu Von. Aku panggilkan Pak Presdir. Eh, Kak Andri juga ada di sini?" Kamila mempersilahkan kedua tamunya itu untuk duduk. Matanya tak lepas dari sosok berpakaian tentara di hadapannya.


"Mil, apa kabar?" tanya Andri Husain dengan senyum diwajahnya. Ia menyodorkan tangannya untuk menyalami Kamila tetapi tiba-tiba saja Luky Firmaji muncul dihadapan mereka bertiga. Pria itu dengan cepat membalas salam dari Andri Husain.

__ADS_1


Andri Husain tersenyum. Ia sangat senang melihat Luky Firmaji begitu sangat posesif pada Kamila. Hatinya lapang menyerahkan perempuan yang pernah dicintainya itu dengan seorang pria yang sangat mencintainya.


"Silahkan duduk Pak Andri. Terimakasih karena sudah datang membawa asisten yang sangat setia seperti Vony." Luky Firmaji mempersilahkan tamunya itu untuk duduk.


"Pak, ini berkas yang perlu anda periksa." Vony Dona segera memberikan berkas-berkas penting yang ia bawa untuk diperiksa.


"Kita periksa disini saja Von. Aku takut pacarmu ini melirik istriku." Andri Husain sekali lagi tersenyum. Ia sangat maklum akan kekhawatiran pria itu karena Kamila memang sangat mengkhawatirkan kalau ditinggal sendiri.


"Ekhem," Vony Dona berdehem dengan keras karena merasa sedikit terganggu dengan perkataan pimpinannya itu. Entah kenapa hatinya merasa sangat khawatir. Andri Husain sangat mengerti. Ia segera meraih tangan kekasihnya itu kemudian berucap," Kamu calon istriku Von. Jangan berpikir macam-macam ya."


"Ah kalian ini kenapa sih? Pada ngomong tidak jelas." Kamila menyela pembicaraan mereka semua karena sudah mulai tidak nyaman. Suaminya yang terlalu posesif malah mengeluarkan kalimat yang mengandung kegaduhan.


"Ini kok bukan jambu kristal?" lanjutnya seraya membuka kresek berisi buah-buahan itu.


"Gak ada jambu seperti itu di toko buah Bu."


"Aaaa aku maunya jambu kristal." Kamila merajuk. Ia menyimpan kresek itu dengan bibir cemberut.


"Jambu itu ada di kampung Mil. Kalau kamu mau kita bisa pulang kampung dan cari jambu seperti itu di depan rumah."


"Aku yang akan membawa Kamila pulang pak Andri." Suara Luky begitu tegas di hadapan semua orang. Jelas sekali kalau ia tidak ingin Andri Husain memberikan perhatian pada istrinya.


🌺🌺🌺


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍

__ADS_1


__ADS_2