
"Kak, pengen jambu." rengek Kamila saat suaminya sudah selesai memeriksa berkas-berkas dari Perusahaan. Sejak tadi perempuan cantik itu merengek meminta buah yang tidak terdapat di kota itu. Padahal ia sudah mencari di laman pencarian tentang keberadaan buah yang diingkari istrinya tapi tidak menemukannya kecuali ada di kota tempat istrinya itu berada.
"Baiklah, kita pulang ke kampungmu sayang. Bersiaplah." Luky Firmaji menarik nafas panjang kemudian segera menyimpan berkas-berkas yang sudah di kerjakannya.
"Hah? yang benar? Ih aku juga rindu banget sama Ibu dan Ayah. Makasih Kak, mmmuah." Kamila melompat kegirangan karena permintaannya di turuti oleh sang suami. Ia pun segera bersiap dan akan membawa Mak Siti dan Vony Dona untuk ikut bersama dengannya.
Untuk kedua kalinya Luky Firmaji akhirnya pulang ke kampung istrinya sore itu juga. Sungguh Ia tidak tahan melihat Kamila uring-uringan terus hanya karena ingin makan jambu kristal. Ia juga sudah mengirim kabar ini kepada Cahaya, sang ibu mertua kalau mereka akan pulang kampung.
Dan karena hari itu adalah akhir pekan, Andri Husain juga harus ikut, begitu keinginan dari Kamila meskipun Luky tampak kurang setuju. Ia tak mau kalau ada perasaan lama yang mungkin akan muncul kembali kalau pria itu dekat-dekat lagi dengan istrinya.
"Kak, jangan tunjukkan wajahmu yang sedang-sedang cemburu," bisik Kamila pada suaminya dengan suara yang sangat rendah. Ia tahu kalau suaminya itu tidak begitu senang kalau Andri Husain ikut dalam perjalanan mereka ke kampung.
"Memangnya kentara sekali ya?" tanyanya seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kamila tersenyum kemudian mencium pipi suaminya itu.
"Tentu saja sayangku. Lagipula kalau kamu cemburu seperti itu bagaimana dengan perasaan Vony Kak? Ia pasti merasakan hal yang sama."
"Ah iya maafkan Aku."
"Nah gitu dong. Lagipula apakah kamu meragukan aku Kak?"
"Tidak sayang. Aku percaya padamu. Hatimu pasti untukku seorang." Luky pun menarik tubuh istrinya agar merapat ke dalam tubuhnya. Pria itu mengelus punggung isterinya sampai tertidur.
Ya, mereka sekarang ini sedang berada di dalam perjalanan ke kampung halaman sang istri. Andri Husain yang menyetir didampingi oleh Vony Dona. Sedangkan Mak Siti duduk di jok paling belakang.
Kurang lebih 5 jam mereka baru sampai karena mereka sering singgah di rest area. Kamila sering sekali merasa pusing dan mual. Hal yang tidak pernah terjadi padanya selama ini.
Tepat jam 10 malam mobil yang mereka kendarai tiba di depan rumah indah dan cukup besar di kampung itu. Kamila sampai tidak mengenali rumahnya sendiri karena hampir setahun baru ia pulang kampung lagi.
__ADS_1
"Alhamdulillah, kalian sudah sampai." Cahaya dan Untung menjemput di depan pintu dengan hati senang tiada terkira.
"Iya Ibu, tapi uwekkk," Kamila menjawab dan langsung memuntahkan kembali isi perutnya. Ia sudah tampak sangat lemas sekali. Tubuhnya bahkan sudah susah untuk digerakkan dengan keringat dingin yang membasahi sekujur tubuhnya.
"Aku akan menggendong Kamila ke dalam Bu. Tolong tunjukkan saja di mana kamarnya." Luky langsung menggendong tubuh istrinya ala bridal style ke dalam rumah itu.
Andri Husain dan Vony Dona serta Mak Siti mengikuti mereka dari belakang. Mereka semua tampak sangat lelah.
"Mila sayang, kamu kok bisa kena mabuk perjalanan gini sih? Biasanya kan tidak pernah sayang." Cahaya membantu membuka pakaian putrinya itu dan membalurkannya minyak gosok ke seluruh tubuh istri dari Luky Firmaji itu. Kamila tidak menjawab. Ia benar-benar tak punya tenaga lagi untuk berkata-kata. Yang ia inginkan hanya tiduran saja.
"Terimakasih banyak Bu," ucap Luky dengan perasaan yang mulai tenang. Pria yang sejak tadi di dalam kamar itu dan melihat sendiri istrinya di rawat dengan sangat baik oleh ibu mertuanya merasa sangat lega.
Sejak dalam perjalanan ia begitu khawatir akan keadaan istrinya yang tidak berhenti muntah sampai ia berpikir untuk kembali lagi ke kota saja. Masalah jambu kristal akan ia pesan dari kotanya meskipun harus membayar ongkos kirim yang sangat mahal.
"Jangan katakan itu nak. Hati seorang ibu tak akan tenang kalau melihat putrinya sedang tidak sehat seperti ini."
"Nah biarkan dia tidur dulu. Nanti saat bangun ia pasti sudah mulai baikan," ujar Cahaya seraya berdiri dari posisinya. Ia masih memandang putrinya sudah tertidur setelah diberikan perawatan istimewa olehnya.
"Semoga saja Bu. Aku sudah ingin sekali punya bayi yang lucu."
"Aamiin. Sekarang kita keluar yuk. Kita makan dulu. Kalian pasti lapar." Cahaya tersenyum. Ia juga berharap agar bisa mendapatkan cucu dari putrinya yang sudah lama menikah.
"Eh nak Andri juga ada disini ya? Dan ini siapa? Mak Siti, maaf baru bisa menyapa." Cahaya menyapa semua tamu yang sedang duduk di ruang tamu di dalam Rumahnya.
"Iya ibu. Saya juga ikut pulang kampung. Kebetulan karena ini akhir pekan." Andri Husain segera berdiri dari duduknya kemudian menyalami perempuan paruh baya itu.
"Kenalkan ini Vony Dona calon istri saya," lanjut pria itu seraya meraih Vony untuk ikut menyalami ibu dari Kamila.
__ADS_1
"Alhamdulillah. Saya sangat senang mendengarnya. Ayok kita makan dulu. Baru kalian beristirahat." Cahaya segera membawa semua tamunya untuk menuju ke dapur.
Ia sudah banyak mempersiapkan makanan untuk orang-orang dari kota itu.
Setelah menikmati makan malam itu, mereka ditunjukkan kamar untuk beristirahat. Luky memasuki kamarnya dan melihat Kamila masih tertidur. Ia tidak akan menggangu. Ia ikut naik ke atas ranjang dan berbaring disamping istrinya.
"Mil, semoga saja kamu kurang sehat ini karena sedang hamil sayang," bisiknya pelan seraya memandang wajah istrinya yang tampak sangat pulas. Ia pun merapikan anak-anak rambut istrinya yang cukup menggangu di depan wajahnya.
Tak lama kemudian pria itu pun tertidur. Rupanya ia juga baru merasakan lelah dari perjalanan panjang ini. Sementara itu Andri Husain ternyata masih mengobrol santai di depan beranda bersama dengan Untung, ayah Kamila.
"Oh, jadi ternyata kamu tugasnya di Kota ya Ndri?" tanya Untung yang baru tahu kalau Andri Husain selama ini ada di kota yang sama dengan putrinya.
"Iya Pak. Alhamdulillah, Tuan Rohan Firmaji yang mengurus supaya saya tidak ditempatkan di daerah terpencil."
"Baguslah kalau begitu."
"Jadi apa rencanamu selanjutnya?"
"Saya juga ingin menikah Pak."
"Itu ide yang bagus."
"Terimakasih banyak Pak. Besok pagi Akan saya bawa pacarku itu bertemu dengan kedua orangtuaku."
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading π