
Tak ada suara lain selain helaan nafas dan juga bunyi jam yang berdetak di dalam ruangan itu. Semua penghuni kamar itu sedang dalam keadaan gelisah dan tidak tenang. Luky Firmaji menatap jam dinding di dalam ruangan itu.
Pukul 11.00 WIB. Itu artinya sudah 16 jam Kamila meninggalkan rumah dan tidak ada kabar samasekali. Pria itu mondar-mandir dengan sangat kesal dan gelisah.
"Sial!" Pria itu mengumpat berkali-kali karena orang-orang kepercayaannya belum juga memberikan laporan yang ia inginkan. Dinding ruangan itu ia pukul sampai buku-buku jarinya berdarah.
"Aaaargh! Aqram akan ku bunuh kamu kalau ada hal yang buruk pada Kamila!"
"Luky! Tenang kan dirimu nak. Mereka semua sedang mencari keberadaan Kamila." Sugiarti menyentuh lengan putranya itu dengan perasaan yang sangat khawatir.
"Lihat Ma, sampai sekarang mereka tidak juga memberi kabar. Kamila sedang hamil Ma! Dan Aku sangat khawatir."
"Kami semua khawatir nak. Insyaallah Kamila akan baik-baik saja."
"Mana bisa aku tenang Ma. Aqram itu sangat jahat. Aku tidak tahu kenapa ia melakukan hal ini padaku Ma?!" Sugiarti tidak menjawab. Yang ia tahu suaminya pasti mempunyai jawaban dalam ini.
"Kamu sudah sholat nak?" tanyanya pada putranya yang nampak sangat kusut itu. Luky menggelengkan kepalanya. Ia memang sudah lupa melaksanakan sholat karena seharian berkeliling mencari keberadaan Aqram.
Semua teman yang pernah mengenal pria itu ia datangi untuk memberi tahu dimana pria itu berada. Akan tetapi semuanya nihil. Tak ada yang tahu atau mungkin mereka semua sengaja untuk bungkam.
"Bersihkan dirimu nak kemudian sholat lah. Minta pada Tuhan agar Kamila bisa segera ditemukan tanpa kurang suatu apa." Luky menurut. Ia pun berdiri dari duduknya dan segera melangkahkan kakinya ke kamarnya. Berkali-kali ia beristigfar.
Ia memohon ampun pada Tuhan karena telah lalai melakukan kewajiban dan hanya meminta pertolongan saja.
"Pa, katakan padaku, apakah mungkin ini ada hubungannya dengan dendam masa lalu Pratama pada kita?" pinta Sugiarti pada sang suami. Ia menatap wajah Rohan dengan perasaan yang sangat khawatir.
"Hem, mungkin saja Ma. Tapi permasalahan itu sudah lama selesai. Lagipula itu bukan kesalahan saya seutuhnya. Kami bekerja bersama, maka kerugian pun kita tanggung bersama." Rohan menjelaskan dengan wajah serius. Ia merasa tidak pernah berbuat curang pada keluarga Pratama.
"Lalu kenapa mereka melakukan ini pada kita Pa?"
"Entahlah." Rohan tampak pasrah. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa dengan tubuh yang sangat lelah.
__ADS_1
"Minum dulu Tuan Nyonya." Vony Dona muncul dihadapan mereka bertiga dengan membawa minuman hangat untuk memberikan rasa nyaman disaat begadang seperti ini.
"Makasih banyak Von." Senyum Sugiarti. Ia sangat senang karena ada gadis yang sangat setia dan baik hati seperti Vony Dona.
"Iya Nyonya sama-sama." Gadis itu balas tersenyum. Ia turut bersedih dengan ketiadaan Nyonya muda yang sangat mereka sayangi itu. Dan malam ini ia dan Andri Husain akan menginap di rumah itu.
"Mas minum dulu." Gadis itu duduk disamping kekasihnya seraya menyerahkan cangkir berisi jahe merah hangat yang ia bikin karena permintaan pria itu.
"Makasih Von," ujar Andri kemudian menyeruput minuman beraroma jahe itu dengan sangat nikmat. Ia tidak begitu suka kopi dan lebih menyukai minuman semacam itu.
"Apa kamu belum mendapatkan petunjuk Mas?"
"Teman-teman sudah aku kirimkan gambar dan nomor plat mobil yang membawa Kamila. Mobil itu sepertinya menuju keluar kota yang tidak ada CCTV di sepanjang jalannya."
"Kasihan Bu Kamila mas, ia sedang hamil besar. Aku takutnya malah melahirkan di sana kalau sedang takut dan tertekan begitu."
"Iya Von. Tapi semoga saja ada kabar baik malam ini dari orang-orang kepercayaan Tuan Firmaji."
Sementara itu di dalam kamar, Luky masih duduk di atas sajadahnya memohon kepada sang kuasa agar istrinya selalu dalam lindunganNya.
Luky tersentak. Ia segera berdiri dari sana dan mencari letak Handphonenya. Bunyi notifikasi dari benda pipih miliknya seperti sebuah obat ditengah kegalauan hatinya saat ini.
Semoga itu adalah kabar baik dari orang-orang kepercayaan keluarganya. Ia pun segera membuka pesan itu dan membaca isinya.
Kak, aku bersama Aqram di daerah Xxx jangan menelpon. Aku Share Lock. Love you.
"Kamila sayangku," gumamnya dengan perasaan yang sangat bahagia. Ia langsung berlari ke luar dari kamarnya dan memberitahu semua orang kalau Kamila mengirimkan petunjuk melalui nomor asing.
"Apa kamu yakin itu Kamila nak? Jangan-jangan itu jebakan. Tempat itu sangat jauh dari sini dan juga sudah hampir sampai di kabupaten Xx." Rohan menatap dengan serius pesan pendek itu.
"Coba kamu telepon nak." Sugiarti memberi saran agar tidak gegabah.
__ADS_1
"Katanya tidak boleh menelpon, bagaimana kalau Aqram sedang berada di sampingnya dan mendapati kalau Kamila sedang berusaha mengirim pesan kepada kita." Luky gelisah begitupun semua orang yang ada di dalam ruangan itu. Mereka semua berpikir seraya menunggu pesan berikutnya tapi ternyata tidak lagi.
"Mil, kamu belum ngantuk sayang?" tanya Aqram seraya membangunkan tubuhnya yang sedang berbaring. Pria itu memandang Kamila yang sedang serius memandang layar handphone ditangannya.
Perempuan itu langsung menutup aplikasi pesan itu setelah mengirimkan Foto-fotonya. Selanjutnya ia menghapus riwayat percakapan itu dengan cepat.
Tanpa menjawab pertanyaan pria itu ia pun segeralah melanjutkan permainan game nya lagi agar pria itu tidak curiga.
"Mila, sayang. Kamu tidak menjawab pertanyaanku," ujar Aqram dengan wajah yang nampak kesal karena diabaikan.
"Masih belum mengantuk," jawab Kamila dengan wajah dibuat santai. Padahal jangan ditanya bagaimana debaran dadanya saat ini. Ia sangat tegang dan takut. Ia seperti orang yang sedang kedapatan mencuri. Ia berharap sekali suaminya tidak membalas pesan yang ia kirim.
Aqram Pratama tersenyum kemudian reflek membawa tangannya untuk mengelus lembut perut Kamila yang tampak sangat seksih dimatanya. Kamila tersentak kaget. Ia tidak menyangka kalau pria itu berani menyentuhnya seperti itu.
"Lepaskan tanganmu Aqram!" teriak Kamila dengan tatapan tajam. Ia sangat marah karena pria itu berani melakukan sesuatu yang sangat kurang ajar dan tidak sopan seperti itu.
"Mil, kamu marah? Aku kan suamimu. Aku bebas menyentuhmu sayangku." Aqram tersenyum kemudian melanjutkan lagi perbuatannya. Ia bahkan semakin berani bergerak ketempat lain pada tubuh perempuan hamil itu. Kamila hanya bisa menutup matanya untuk menahan emosi di hatinya.
Perempuan itu tersadar kalau ia sekarang begitu kasar. Ia tak boleh terpancing emosi. Ia harus bisa merayu pria itu sampai pertolongan datang atau nyawanya dan bayinya dalam bahaya.
"Anak ini tak boleh dicampur oleh benihmu Aqram. Biarkan ia lahir terlebih dahulu."
"Hem, Lalu?" Aqram bertanya dengan tatapan mesumnya.
"Lalu kamu bebas melakukan apa saja." Kamila menjawab dengan senyum diwajahnya.
Itu kalau kamu masih hidup!
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading π