
"Suka makan bubur ayam juga?" tanya Belinda dengan tatapan lurus kedalam mata bening Kamila. Perempuan cantik itu ternyata sedang menatapnya juga.
"Ah iya Bu. Aku suka. Mak Siti sering membuatnya untukku." Kamila menjawab kemudian membaca bismillah. Ia menyendok makanan lembek yang terbuat dari nasi itu dengan hati-hati. Rasa panas masih sangat terasa dari uap yang masih mengepul keluar dari sana.
"Kamu Kamila 'kan?" tanya Belinda berbasa-basi. Kamila tersenyum dan menjawab, "Iya Bu."
"Wah, sungguh sebuah kebetulan yang sangat menyenangkan. Saya sudah lama ingin bertemu denganmu nak," ujar Belinda dengan ekspresi yang sangat senang.
"Oh ya? Maaf, ibu siapa namanya?"
"Saya Linda. Saya tinggal tidak jauh dari sini."
"Oh,ya? saya sangat senang berkenalan dengan ibu."
"Ah ya sama-sama." Linda tersenyum seraya mendorong mangkuk buburnya yang sudah kosong. Mak Siti memandang perempuan tua yang seumuran dengannya itu.
Kalau orang itu tinggal di sekitar tempat ini, harusnya ia tahu, batinnya. Lama ia memperhatikan perempuan itu dengan wajah curiga.
"Enak ya buburnya?" tanya Belinda dan langsung membuat Mak Siti tersentak kaget.
"Ah iya, enak Bu. Tempat ini kan sudah terkenal dengan bubur ayamnya. Gak heran sih sampai ramai begini." Kamila terus mengunyah sampai semua isi bubur itu habis.
"Kalau tidak keberatan, kamu mau gak ke rumah saya?" Belinda menatap Kamila yang sedang meminum air mineral setelah menghabiskan bubur ayamnya.
"Maaf Bu, saya maksudnya?" tanya Kamila dengan menunjuk hidungnya. Belinda tersenyum.
"Tentu saja. Siapa lagi?" jawab perempuan tua itu dengan wajah yang masih menunjukkan wajah gembiranya.
"Ahahaha, Aku kira Mak Siti. Maaf Bu." Kamila melipat tangannya di depan dadanya meminta maaf atas candaannya. Ia kemudian melanjutkan dengan sebuah kalimat pertanyaan.
"Maaf Bu, untuk apa ya?"
__ADS_1
"Ya, saya sangat senang bertemu denganmu. Dan saya ingin sekali memberi sebuah hadiah yang sangat berharga untuk kamu." Kamila dan Mak Siti saling berpandangan. Kamila tampak berpikir.
"Ayolah, demi orang tua seperti saya."
"Ah iya Bu. Tapi apakah ini tidak terlalu berlebihan? saya bukan orang penting atau orang terkenal. Kenapa ibu ingin sekali bertemu dengan saya?" Kamila bertanya dengan wajah bingungnya.
Selama tinggal di kota besar ini ia tidak pernah bergaul sangat akrab seperti ini dengan orang asing yang baru ditemuinya.
"Saya tahu kamu adalah orang baik. Seorang pengusaha sukses dan dikenal banyak orang. Anak saya sudah lama mengidolakan mu. Dia ingin sekali bertemu dengan mu nak Mila."
"Maaf, Anak? Siapa? Apa Aku mengenalnya Bu?" tanya Kamila masih dengan wajah bingungnya.
"Akan kamu lihat sendiri nanti. Ayolah kita berangkat sekarang, ia sedang sakit." Belinda bangun dari duduknya dan menunggu Kamila untuk mengikutinya. Nampak sekali kalau ia sedang memaksa. Kamila dan Mak Siti sekalian lagi saling berpandangan.
"Mak, kita kesana sebentar ya, gak lama kok." Kamila menyentuh tangan asisten rumah tangganya itu. Ia tahu kalau perempuan tua itu sangat keberatan. Mak Siti akhirnya mengangguk setuju. Ia tentu tidak punya alasan juga untuk menolak.
"Menjenguk orang sakit bisa mendapatkan pahala juga lho Mak," ujar Kamila dengan senyum diwajahnya.
"Duh, Aku lupa bawa handphone. Gak apa-apa deh. Kan kita tidak lama." Kamila menjawab dengan perasaan yang tiba-tiba jadi tak nyaman. Selama ini ia tidak pernah pergi tanpa seizin suaminya.
"Ayo nak Mila, mobilnya udah ada di depan." Belinda menunjuk sebuah kendaraan roda empat yang baru saja berhenti di depan mereka.
"Ah iya Bu. Terima kasih. Mari Mak."
"Iya, Nya, mau ikat tali sepatu dulu."
Kamila pun naik di mobil itu terlebih dahulu. Sedangkan Mak Siti yang kebetulan mengikat tali sepatunya dan belum sempat untuk naik langsung ditinggalkan oleh sang sopir.
"Lho. Mak Siti belum naik lho bang." Tegur Kamila seraya melihat ke belakang dimana perempuan tua itu sedang memburu mobil yang mereka kendarai dengan berteriak-teriak.
"Gak apa-apa. Pasti ia akan pulang ke rumah kamu kan? Ada banyak pekerjaan penting yang harus dikerjakannya di sana." Belinda menjawab dari arah depan.
__ADS_1
"Maksud ibu apa? Aku tidak mengerti. Bang hentikan mobilnya!" Kamila sudah mulai tampak sangat kesal. Ia berdiri dan bermaksud memukuli kepala sopir itu agar berhenti dan mendengarkannya.
"Kamu sedang hamil Kamila sayang. Duduklah dengan tenang, atau kandunganmu akan bermasalah." Belinda berucap dengan ekspresi dinginnya.
"Hentikan mobilnya! Kalian tidak aku kenal!" Kamila berteriak keras meminta mobil itu berhenti. Tapi kenyataannya tidak ada yang mendengarkannya. Mobil itu tetap melaju dengan kecepatan yang tinggi. Mereka meninggalkan kota itu dan semakin jauh. Kamila menangis. Ia sudah tidak punya tenaga untuk berteriak dan memohon.
"Tolong! penculik! Mereka menculik Nyonya Kamila!" Mak Siti masih berteriak keras seraya memburu mobil berplat Xxx itu. Akan tetapi kekuatannya tidak seberapa. Beberapa orang ada yang membantunya dengan ikut memburu mobil penculik itu. Ada yang menelpon polisi. Mereka semua adalah tetangga Luky dan Kamila.
Mak Siti kembali ke depan warung. Ia masih sangat shock dengan apa yang terjadi. Setelah ia berteriak-teriak dan memberitahu semua orang kalau Nyonya mudanya diculik, ia kembali ke rumahnya. Ia ingin memberitahu pada Tuan muda Luky kalau Nyonya Kamila sedang dibawa lari oleh orang asing.
"Naik Mak, saya akan membawa Mak pulang," ujar seorang pemuda yang kebetulan sedang mengendarai motor. Mak Siti pun naik membonceng. Kaki tuanya rasanya sudah tak sanggup ia langkahkan untuk pulang ke rumah.
"Terimakasih banyak nak." Mak Siti turun dari motor itu dan langsung melangkahkan kakinya dengan cepat ke dalam rumah.
"Mak, mana Mila?" Luky yang sudah tampak rapih dan segar habis mandi langsung menyambutnya dengan pertanyaan.
"Nyonya muda diculik Tuan," jawab perempuan tua itu dengan nafas memburu antara emosi dan juga lelah.
"Maksud Mak?" tanya Luky dengan tatapan tajam. Ia belum pernah mendengar ada orang dewasa diculik. Apalagi di tempat yang sangat ramai seperti itu.
"Ini beneran Tuan. Ada perempuan asing yang bernama Belinda. Ia yang membawa Nyonya muda pergi dan meninggalkan saya di depan warung bubur ayam itu." Luky terdiam selama beberapa detik untuk mengerti apa yang sedang diucapkan oleh Asisten Rumah Tangganya itu.
"Brengsek! siapa yang berani melakukan ini!" Luky mengepalkan tangannya marah. Ia langsung meraih Handphonenya untuk menghubungi Papanya. Kunci mobil pun ia ambil dan segera keluar dari rumah itu.
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading ya π
__ADS_1