
"Ya Allah, kenapa bisa jadi seperti ini Bu Sugi?" Cahaya menatap wajah besannya dengan perasaan yang sangat sedih. Rasanya kabar buruk ini bagaikan petir disiang hari setelah cuaca yang sangat cerah.
Perempuan paruh baya itu tidak menyangka kalau ternyata putrinya sudah berpisah dengan Luky Firmaji selama beberapa bulan ini.
"Maafkan putra kami Bu Caya. Luky ternyata tidak mampu membahagiakan Kamila meskipun sudah dua tahun perjalanan pernikahan mereka berdua. Dan hal Itu yang juga sangat kami sesalkan."
Sugiarti menundukkan kepalanya semakin dalam dengan air mata yang tidak bisa ia bendung. Cahaya sendiri tak bisa lagi berkata-kata. Status janda yang disandang putrinya benar-benar membuatnya sangat sedih.
"Hubungan keluarga kita tidak akan putus meskipun mereka sudah berpisah Bu Caya," ucap Sugiarti setelah berhasil menguasai perasaan sedihnya. Ia pun menyentuh tangan sahabatnya itu kemudian meraihnya dalam genggaman.
"Kamila adalah putri kami setelah Luky. Kalau jodoh mereka berdua sebagai suami istri hanya sampai disini saja, kita harus menerimanya karena itu adalah ketetapan dari Tuhan untuk kita semua."
"Akan tetapi jodoh mereka sebagai saudara atau kakak beradik tidak boleh kita putuskan," lanjut perempuan paruh baya itu dengan hati yang sudah ikhlas dan lapang. Setiap malam ia selalu berdoa agar hubungan Luky dan Kamila bisa terjalin lagi tapi kenyataannya tak ada jalan untuk mereka berdua.
Selama beberapa bulan ini ia berusaha menyadari satu hal kalau ia terlalu egois karena terlalu menyayangi Kamila dan berharap akan mendapatkan keturunan dari rahim perempuan muda itu.
"Kita akan tetap jadi saudara Bu Caya. Tak ada yang berubah. Rumah ini adalah rumahmu juga karena Kamila akan tetap menjadi putri kami."
Cahaya mengangguk setuju. Ia juga mulai menyadari satu hal. Ia sudah pernah memaksakan kehendaknya pada Kamila dua tahun yang lalu hanya karena alasan materi dan balas budi. Jadi sekarang ia tidak akan lagi menghalangi putrinya itu untuk memutuskan yang terbaik untuk kebahagiaannya sendiri.
"Papanya Luky sebenarnya belum tahu hal ini. Jadi sebaiknya kita sembunyikan saja darinya. Saya takut penyakit jantungnya akan kambuh kalau ia tahu apa yang sebenarnya terjadi Bu Caya."
"Ah iya saya sangat mengerti Bu Sugi. Kita tidak perlu memberitahunya tentang hal ini. Cukup ini menjadi rahasia kita bertiga dengan Kamila.
"Rahasia apa yang tidak boleh saya tahu Sugi?"
"Apa ada yang kalian sembunyikan dari saya hah?" Sugiarti dan Cahaya tersentak kaget dengan kemunculan Rohan Firmaji yang tiba-tiba saja muncul di hadapan mereka berdua. Dua perempuan paruh baya itu saling berpandangan.
"Apakah ada yang ingin kalian katakan?" tanya Rohan lagi dengan wajah yang mulai tampak pucat dengan bulir keringat yang keluar dari dahinya.
"Papa, kami hanya membicarakan urusan perempuan, para pria tidak perlu tahu," ujar Sugiarti dengan perasaan yang mulai tidak enak. Ia tahu kalau suaminya sudah mendengar sesuatu yang sangat buruk bagi kesehatan jantung pria itu.
__ADS_1
Bugh
"Papa!" Sugiarti berteriak keras saat melihat suaminya jatuh tak sadarkan diri di depan matanya.
"Papa Bangun!" Perempuan paruh baya itu berteriak lagi karena pria yang sudah menikahinya puluhan tahun itu tidak merespon teriakannya. Cahaya segera memanggil suaminya sendiri untuk membantu mengangkat mantan besannya itu ke atas mobil untuk dibawa ke Rumah Sakit.
πΊ
Luky Firmaji melangkahkan kakinya yang panjang-panjang bagaikan berlari ke arah ruang ICU. Panggilan darurat dari Mamanya membuatnya mau tak mau harus pulang ke negaranya sendiri.
"Mama, bagaimana keadaan Papa?" tanyanya saat ia sudah sampai di depan ruangan ICU itu. Sugiarti langsung memeluk putra semata wayangnya itu dengan tangis pecah.
"Papamu belum sadar juga Ky. Tolong katakan sesuatu padanya nak. Berjanjilah untuk mengikuti apa saja keinginannya."
"Tenanglah Ma, Aku akan melakukan apapun untuk Papa," ujar pria tampan itu seraya mengelus lembut punggung perempuan yang telah melahirkannya itu.
"Mama sangat takut nak. Ini adalah serangan yang ke-dua hiks," tangis Sugiarti sesenggukan.
"Insyaallah Papa akan sembuh dan panjang umur Ma. Tolong jangan menangis." Pria itu pun melepaskan pelukan Mamanya kemudian menghapus air mata perempuan itu.
Langkahnya ia arahkan kepada dua orang pasangan suami istri itu dengan senyum diwajahnya.
"Ibu, Ayah, maaf saya tidak melihat kalian." Pria itu meraih tangan mereka berdua dan menyalaminya secara bergantian.
"Apa Ibu dan Ayah sudah lama disini?" tanyanya lagi karena dua orang yang sangat dihormatinya itu hanya diam saja. Tampak sekali kalau mereka berdua sepertinya sedang sangat marah padanya.
"Kami sudah lama di sini," jawab Kamila dengan tatapan tajam ke arahnya. Tatapan seorang perempuan yang belum juga kering luka dan sedihnya.
Deg
Luky Firmaji menarik nafasnya yang terasa sangat berat. Dadanya terasa sangat sesak. Tatapan dua pasang mata indah dengan air mata yang menggenang dan siap tumpah itu rasanya membuat dirinya seakan ditusuk ribuan anak panah.
__ADS_1
"Maaf. Papa menungguku di dalam." Luky Firmaji melipat tangannya di depan wajahnya kemudian segera mengalihkan pandangannya ke arah pintu ICU. Langkahnya ia arahkan ke arah tempat itu dengan cepat.
Sungguh Ia tak sanggup berada di sana dengan pandangan penghakiman dari semua orang. Ia tahu kalau ia sudah banyak menyakiti semua orang terutama Kamila Regina Putri.
Setelah menggunakan pakaian khusus untuk pengunjung pasien, ia pun memasuki ruangan yang sangat dingin itu dengan perasaan yang sangat sedih.
"Papa," panggilnya pada pria paruh baya yang sedang terbaring tak sadarkan diri itu.
"Aku datang Pa. Bangunlah dan pukul Aku." Pria itu meraih tangan papanya yang terbebas dari alat-alat kesehatan penunjang kehidupannya.
"Aku putramu yang tidak berguna 'kan?"
"Kenapa kamu tidak lenyapkan saja diriku sejak kecil saat tahu Aku mempunyai kelainan Pa?"
"Ayo bangun! kasihan Mama karena harus menanggung semua ini."
"Bangunlah dan biarkan Aku yang terbaring di tempat ini Pa. Aku yang akan menggantikan mu."
"Kalian sudah banyak menderita karena Aku. Jadi kumohon bangunlah dan balas Aku yang tidak berguna ini." Pria itu terus berbicara untuk mengeluarkan rasa sesal di dalam hatinya. Ia menundukkan wajahnya dengan dada sesak dan nyeri.
Plak
Luky Firmaji merasakan pipinya sedikit nyeri karena sebuah tamparan keras seorang Rohan Firmaji yang sedang menatapnya tajam.
"Itu yang kamu mau anak brengsek!"
"Pap...Papa..."
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading π