
"Hum, baiklah. Kalau gitu Aku juga akan keluar juga. Gak enak sendirian di dalam," ujar Kamila dengan perasaan kecewa. Sungguh ia tidak menyangka kalau suaminya jadi gampang bawa perasaan seperti itu. Tapi ia akan berusaha untuk mengerti kondisi pria itu.
Mengingat-ingat masa lalu yang buruk memang sering membuat kita jadi orang yang paling kotor di dunia ini. Dan akhirnya manusia lupa bahwa ada banyak kebaikan juga yang telah Tuhan berikan.
Perempuan cantik itu segera masuk kembali ke ruangannya dan mengambil tasnya. Ia juga ingin mencari tempat untuk bersantai sendiri.
"Saya akan ikut Bu." Vony Dona segera mengambil tasnya juga dan mengikuti kemana langkah manager kesayangan Presiden Direktur di Perusahaan itu.
"Gak perlu Von. Aku juga sedang ingin sendiri." Kamila berusaha menahan langkah asisten pribadi suaminya itu agar tidak mengikutinya.
"Gak apa-apa Bu. Saya akan menemani Ibu. Saya yang akan menyetir untuk Ibu."
"Vony! Aku bisa menyetir sendiri," ujar Kamila masih berusaha menolak tawaran bantuan gadis itu.
"Ibu sedang hamil. Jadi saya tetap akan ikut kemana saja ibu mau pergi." Gadis itu tampaknya sangat gigih dengan usahanya. Ia tetap memaksa meskipun sudah ditolak berkali-kali.
"Hum, baiklah. Kamu memang keras kepala." Kamila mengalah. Ia akhirnya memberikan kunci mobilnya kepada gadis itu.
Mereka berdua pun pergi dari Perusahaan itu dengan tujuan yang tidak jelas.
"Kita udah lama muter-muter keliling kota nih Bu. Apa gak mau singgah minum atau makan gitu?" pancing Vony Dona dengan senyum diwajahnya. Sejak tadi mereka berdua berada di dalam mobil tapi Kamila sedang mogok bicara. Hingga ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
"Ah, iya singgah di depan sana Von. Itu kayaknya toko perlengkapan bayi deh," tunjuk Kamila pada sebuah bangunan yang cukup ramai dengan papan nama bertuliskan Mom And Baby.
"Ah iya Bu. Di sampingnya ada sebuah Cafe and Resto juga. Lumayan bisa minum yang segar-segar hehehehe," kekeh gadis itu seraya membelokkan kendaraannya ke dalam area pertokoan.
Kamila hanya tersenyum. Ia tahu kalau Vony sengaja bercanda untuk membuatnya bicara seperti biasa. Mereka pun turun dan langsung masuk ke dalam Toko itu.
Mata dua perempuan itu begitu terpana melihat isi dari Toko itu. Jiwa keibuan mereka meronta-ronta untuk membeli semua perlengkapan bayi yang sangat imut dan lucu-lucu itu.
"Kita mulai dari mana ya Von?" tanya Kamila dengan tatapan berbinar pada benda-benda yang sangat menarik perhatiannya itu. Ia bingung sendiri. Bagian mana yang akan ia datangi terlebih dahulu.
__ADS_1
Ia ingin ke tempat sepatu-sepatu mungil dan sangat lucu tak jauh dari tempatnya berdiri tapi ia juga ingin menghampiri kumpulan mainan-mainan lucu untuk anak-anak usia 1 tahun ke atas.
"Mulai dari yang terdekat Bu." Vony menunjuk etalase yang berisi kaus kaki dan juga sepatu kecil dan mungil.
"Ah iya, terimakasih ya, kita mulai dari yang terdekat," ucap Kamila menirukan kalimat asistennya itu.
"Ya ampun ini lucu sekali," ujarnya seraya mengarahkan sepatu kecil karakter binatang itu ke wajahnya. Kamila nampak sangat gemas dengan benda-benda mungil itu. Vony Dona hanya bisa menarik nafas panjang menyaksikan istri pimpinannya ini begitu sangat menggemaskan seperti itu. Pantas saja Pak Presiden Direktur begitu sangat mencintainya, begitu pikirnya membatin.
"Ambil semua saja Bu. Lumayan bisa bikin koleksi pribadi di kamar Dede bayinya," ujar gadis itu seraya mendorong sebuah trolley besar ke arah perempuan cantik itu.
"Hum, bener juga ya, tapi kan baby itu cepat besar nanti gak Akan kepake semuanya. Aaaa coba Kak Luky ikut kan bisa kasih pendapat gitu,' ujar Kamila dengan wajah yang tampak berpikir.
"Ha iya deh, kita ambil macam-macam warna aja Von dengan bentuk yang berbeda. Soalnya semuanya bagus-bagus."
"Iya Bu," jawab Vony Dona seraya membantu memasukkan sepatu dan kaus kaki imut itu kedalam trolley yang sudah dipilih oleh Kamila.
"Nah, sudah. Sekarang kita cari pakaian-pakaian yang lucu-lucu Von." Kamila segera melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah
Kamila langsung melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah jejeran etalase yang sangat menarik perhatiannya itu. Vony Dona jadi meringis sendiri melihat ibu hamil itu nampak begitu bahagia sampai lupa kalau sedang hamil.
"Hahaha, aku merasa seperti sedang berburu diskon sampai takut kehabisan seperti itu." Kamila tertawa sendiri dengan sikapnya yang terlalu heboh. Gadis dihadapannya ikut tertawa.
Sebenarnya, ia juga sangat tertarik membeli semua perlengkapan bayi ini tapi boro-boro membeli benda-benda semacam itu untuk bayinya sendiri, menikah saja ia belum.
"Ayok deh, kamu juga ikut pilih untuk calon bayimu kelak," ujar Kamila dengan senyum lebar diwajahnya. Perempuan itu seolah tahu apa yang sedang dipikirkannya.
"Hahaha, yang benar Bu?"
"Iya,"
"Tapi untuk apa sih Bu. Saya kan belum menikah apalagi punya bayi. Uhhh masih sangat jauh."
__ADS_1
"Ish, jangan bicara seperti itu. Aku akan memaksa Kak Andri untuk segera menikahimu."
"Menikah dengan aparat seperti itu prosesnya lama Bu. Bisa sampai berbulan-bulan gitu."
"Ya gak apa-apa. Yang penting udah ada niat, pasti deh akan dipermudah oleh Tuhan."
"Aamiin Bu. Terimakasih banyak atas doa dan dukungannya." Vony Dona tersenyum senang. Melihat Ibu Kamila hamil dan sangat dicintai oleh Presiden Direkturnya, rasanya ia juga ingin merasakan hal yang sama.
"Nah, Ayo jangan bengong saja. Pilih pakaian bayi untuk calon bayimu kelak." Kamila tampak sangat serius dengan ucapannya.
"Iya deh Bu. Kalau dipaksa. Tapi gak boleh banyak-banyak kalau cuma hanya sekedar pancingan saja hehehe."
"Banyak juga gak apa-apa kok. Aku yang bayar semuanya."
Vony Dona hanya tersenyum saja. Ia pikir untuk apa ia mempunyai koleksi pakaian bayi sedangkan calon suaminya saja sudah lama tidak pernah membahas tentang pernikahan dengannya.
Dengan gerakan impulsif, ia langsung meraih Handphonenya dan memotret pakaian bayi yang lucu-lucu itu dan mengirimkannya pada Andri Husain, sang kekasih.
Dua buah kalimat dibawah gambar itu dan berhasil membuatnya merasa lucu sendiri.
Sedang mencari calon Papa. Terlambat sedikit, maka dipastikan akan menyesal.
Tring
Andri Husain menerima pesan itu dengan dahi mengernyit bingung. Ia memandang gambar itu berusaha berpikir keras. Dan akhirnya ia tersenyum saat tahu apa maksud dari kekasihnya mengirimkan pesan itu padanya.
Calon Papa akan bersiap. Siapkan landasan karena akan segera mendarat.
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading π