
Aqram Pratama mengucapkan banyak terimakasih yang tak terhingga pada sang ibu yang telah membawakan Kamila padanya. Ia sampai memeluk dan mencium perempuan tua itu dengan perasaan yang membuncah bahagia.
"Apa kamu senang Aqram?" tanya Belinda dengan wajah yang ikut senang. Ia mengelus lembut kepala putranya itu dengan penuh kasih sayang.
"Tentu saja Ibu. Andai kamu bisa melihat bagaimana isi hatiku saat ini. Maka kamu akan sangat kaget melihat bunga seakan bermekaran di dalamnya Bu." Aqram menjelaskan dengan dada berdebar tak karuan. Bibirnya tak berhenti menyunggingkan senyum.
"Ibu ikut bahagia melihat kamu bahagia nak. Mulai saat ini, Kamila akan menjadi milikmu selamanya. Sedangkan penderitaan bagi keluarga Firmaji telah dimulai." Belinda menepuk bahu sang putra dengan wajah senangnya.
"Iya Bu. Mereka tidak akan merasa bangga lagi dengan kebahagiaan yang selalu mereka tampilkan di depan umum," ujar Aqram menambahkan.
"Ah ya, tapi dimana Kamila sekarang?" Belinda jadi ingin tahu karena bisa-bisanya putranya ini meninggalkan Kamila sendiri.
"Aku yang memintanya untuk beristirahat ibu. Perutnya sudah sangat besar tapi dan dia pasti merasa kelelahan. Dan apa ibu tahu, dia tampak semakin cantik dengan keadaan seperti itu." Mata Aqram langsung berkilat penuh gairah.
"Ah iya. Ibu tak menyangka kalau Kamila memang sangat cantik. Aura kehamilannya semakin terpancar. Kalau begitu temani dia. Ibu akan beristirahat juga."
"Ah iya ibu. Istirahatlah yang tenang. Kamu sudah menunjukkan kalau kamu memang sangat hebat."
"Tentu saja Aqram. Karena inilah pekerjaan ibu sebelum menjadi seorang pengusaha. Ah sudahlah. Temani sekarang istrimu."
Aqram Pratama tersenyum. Ia suka dengan istilah yang diberikan ibunya. Kamila akan ia jadikan sebagai istri mulai saat ini.
Belinda pun naik ketempat tidur nya sedangkan Aqram kembali ke kamarnya.
Dengan pelan, ia membuka pintu kamar itu. Ia melihat Kamila sedang duduk di atas ranjangnya. Nampak di depan matanya kalau perempuan cantik itu sedang bersedih dan menangis. Ia maklum, sekarang ini sudah malam. Ia yakin Kamila merasakan ketidaknyamanan di tempatnya yang baru.
"Mil, ada apa sayang?" tanya Aqram dengan penuh perhatian. Ya, saat ini ia semakin berani pada perempuan cantik itu karena Kamila tidak memberikan penolakan padanya.
Perempuan itu seakan-akan sudah lama ingin bertemu dengannya. Kamila segera menyusut airmatanya. Ia berusaha tersenyum. Ia harus menunjukkan kerjasamanya pada pria psikopat tak tahu malu itu sampai ia mendapatkan handphone Aqram untuk menghubungi suaminya.
"Kenapa kamu menangis? Apa kamu ingat keluargamu?" Hati-hati Aqram bertanya untuk menunjukkan perhatiannya.
__ADS_1
"Aqram, kamu bisa lihat kondisiku sekarang 'kan? Aku hamil dan kadang merasakan mood yang sangat hancur."
"Oh begitu ya?" Aqram mendekat dan ikut duduk di atas ranjang. Ia rasanya ingin memeluk Kamila dan memberinya rasa tenang dan damai.
"Iya Aqram, ini adalah pengaruh hormon kehamilan. Kamu kan calon ayah, jadi kamu harus lebih banyak mengerti tentang hal seperti ini." Kamila tersenyum. ia semakin jago berakting padahal didalam hatinya sangat jijik pada pria yang tidak punya rasa malu ini.
"Ah iya, Aku adalah calon Ayah dari bayimu. Katakan padaku Apa yang harus Aku lakukan untuk membuat perasaanmu kembali baik."
"Apakah kamu ingin melakukan apa saja untukku Aqram?" Kamila memandang wajah pria itu dengan tatapan bertanya.
"Tentu saja. Kamu sudah kuanggap sebagai istriku. Jadi apapun akan Aku lakukan yang penting kamu senang."
Cih, istri. Tak sudi aku.
Kamila mencibir dalam hati dengan bibir ia paksa untuk tersenyum.
"Katakan sayang, apa kamu ingin makan sesuatu?"
"Lalu apa yang kamu inginkan? Apa kamu ingin merasakan pijatan tanganku ini Mil? Kamu akan ketagihan sayang. Aku paling handal dalam hal seperti itu." Aqram tersenyum dengan tatapan mesumnya. Kamila merasa dirinya merinding takut sekaligus jijik. Akan tetapi ia harus bisa mengecoh pikiran pria itu yang telah dipenuhi oleh pikiran-pikiran buruk.
"Tidak Aqram. Aku sedang tidak ingin dipijat. Mungkin lain kali saja. Aku hanya ingin kamu menceritakan padaku kenapa kamu begitu suka padaku."
"Hum, hanya itu?" tanya Aqram seraya tersenyum penuh makna.
"Aku akan bercerita tapi aku ingin menyentuh tanganmu terlebih dahulu. Aku sudah lama menginginkanmu dirimu Kamila."
"Hum, baiklah. Tapi jangan lama-lama ya, aku baru ingin beradaptasi denganmu terlebih dahulu." Kamila setuju. Ia harus mengambil hati dan perhatian pria itu dengan menuruti keinginannya.
"Terimakasih banyak Mil. Dengan seperti ini Aku merasa kita benar-benar adalah sepasang suami istri yang bahagia." Aqram begitu senang dan langsung meraih tangan perempuan cantik itu. Ia menggenggamnya, mengelusnya, dan kemudian menciumnya dengan sangat lembut. Kamila meringis dan sangat jijik, tetapi ia berusaha untuk tersenyum. Ia pun menarik tangannya saat Aqram Pratama merasa sedang berada di dunia lain.
"Mil, Aku mencintaimu sejak kita masih sekolah di tingkat SMP. Perasaan itu ku pendam sendiri karena takut kamu tidak menerimaku. Waktu itu, aku dikenal sebagai putra dari seorang penjahat dan berperilaku buruk di kampung. Aku jadi tidak percaya diri dan takut kamu menolak ku."
__ADS_1
Kamila diam mendengarkan. Ia sungguh tidak pernah ingat dengan pria yang bernama Aqram ini. Mungkin karena siswa terlalu banyak hingga ia tidak bisa menghafal nama dan wajah semua orang.
"Aku membawa perasaan itu sampai sekarang Mil, dan sekarang saat aku melihat kalau kamu sudah diperistri oleh Luky Firmaji, Aku marah. Aku tidak suka. Harusnya kamu itu menjadi milikku sejak dulu." Nampak rasa marah dan cemburu diwajah pria itu. Kamila segera meraih tangan pria itu dan menggenggamnya.
"Kamu tidak perlu marah. Sekarang kan Aku sudah berada di sini, bersamamu."
"Ah iya Mil. Aku harusnya senang bukan? Aku sudah berhasil membalas sakit hatiku pada Luky Firmaji."
"Ya tentu saja. Sekarang Aku sudah mengerti kalau kamu memang sangat mencintaiku."
"Tentu saja Mil. Kamu tahu kenapa kami membawamu jauh ke tempat ini sayangku?" Aqram menatap Kamila kemudian melanjutkan," Supaya kita bersama selamanya tanpa harus diganggu oleh orang lain. Kita bisa berbahagia Mil dengan sebuah keluarga kecil."
"Wow, itu ide yang sangat bagus Aqram. Aku akan menemanimu di sini dengan perasaan yang sangat baik. Tapi ngomong-ngomong. Kita ini berada di mana? Rumah ini tampak sangat jauh dari pemukiman." Kamila mulai menelisik.
"Kita ini ada di daerah Xx, sangat jauh dari kota."
"Oh, pantas saja tidak ada tetangga di sini. Tapi itu bagus karena kita bisa menikmati waktu berdua."
"Ah iya Mil. Setelah kamu melahirkan aku bisa menyentuh kamu secara istimewa bukan?" Kamila menganggukkan kepalanya kemudian menjawab di dalam hati, "Itu maumu keparat!"
"Ah iya, Aku ingin tidur sekarang. Tapi Aku biasanya tak bisa tidur jika tidak bermain games." Kamila menunjukkan kalau ia sedang sangat menginginkan sesuatu.
"Ini, bermainlah sepuas mu. Tapi. boleh kan kalau aku berbaring di sampingmu."
"Oh boleh. Mana Handphone mu."
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading π