
Kamila dengan telaten membuka pakaian suaminya kemudian menyampirkan nya di sebuah gantungan yang terdapat dalam ruangan kamarnya. Setelah itu ia duduk di depan suaminya. Perhatianmya teralihkan pada Mak Siti yang sedang membawa minuman dingin ke dalam kamar itu.
"Terimakasih banyak Mak," ujarnya seraya melempar senyum pada perempuan tua itu.
"Sama-sama Nyonya. Kalau masih ada yang dibutuhkan saya siap ambilkan Nya," balas Mak Siti seraya memeluk nampan yang baru saja ia gunakan tadi membawa minuman.
"Tidak ada lagi Mak."
"Ah iya, saya akan keluar kalau begitu."
"Iya Mak." Kamila memandang punggung perempuan tua itu yang sedang berjalan meninggalkan kamar itu.
"Mas, lihat Aku." Kamila kembali mengarahkan perhatiannya pada pria tampan yang sejak tadi pagi nampak sangat sensitif itu. Ia membingkai wajah suaminya dengan telapak tangannya dan mengarahkannya pada wajahnya.
"Kamu marah padaku Kak?" tanya Kamila setelah mata mereka bertemu dan saling memandang.
"Tidak Mil. Aku tidak punya alasan untuk marah padamu." Luky akhirnya membuka mulutnya dan bersuara.
"Lalu kenapa Kakak mendiamkan Aku?" tanya Kamila seraya menarik ujung bibirnya untuk tersenyum.
"Aku sangat jengkel pada diriku sayang. Bukan padamu. Aku merasa sebagai orang yang tidak pantas untuk mendampingi mu."
"Kak? Kita sudah menikah selama lebih dari tiga tahun. Kita sama-sama mempunyai kekurangan. Bukan kamu saja yang pernah melakukan dosa. Aku juga Mas."
"Tapi dosa dan kesalahanku ini sangat memalukan. Sampai kapanpun ia akan mengikuti aku. Apalagi orang-orang yang pernah tahu rahasia masa laluku. Mereka akan selalu mengingatkan ini Mil."
"Kak, Belajarlah melihat kedepan. Tidakkah Aku dan calon anak mu ini menjadi penyemangatmu? Lupakan yang sudah terjadi."
"Mil, Aku ingin melupakan dan mengubur nya dalam-dalam tapi orang-orang dari masa laluku selalu saja hadir untuk membuat pikiran Aku kacau." Luky menunduk. Ia tidak tahu harus mengatakan bagaimana perasaannya saat ini. Kalau orang bilang ia lebay, maka mereka itu sangat benar. Ia memang sangat sensitif dengan keadaannya yang seperti ini.
"Apakah Aqram termasuk dalam masa lalu mu yang buruk kak?" tanya Kamila dengan hati-hati. Luky mengangguk. Ia langsung memeluk Kamila dan menangis.
__ADS_1
"Apa hubunganmu dengannya sama dengan Andy kak?" Kamila bertanya lagi dengan tangan mengelus punggung suaminya.
"Tidak sayang. Tapi ia yang tahu semua apa yang pernah Aku alami selama ini. Ia yang selama ini membuatku semakin berkubang dalam kesalahan yang sangat menyiksaku ini." Luky melepaskan pelukannya pada isterinya kemudian menatap perempuan cantik itu.
"Maksud Kakak apa?" tanya Kamila dengan wajah bingungnya.
"Ia yang memelihara para gay itu untuk mendapatkan keuntungan pribadi." Kamila menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Ia memang banyak tahu tentang Aku dimasa lalu Mil. Lalu bagaimana dengan kehormatan kamu dan bayi kita nantinya jika ia menyebarkan semua aib ku. Kamu akan malu dan tak akan sanggup untuk mengangkat wajahmu di depan semua orang sayang."
"Percayalah pada Tuhan kak. Ia yang akan menutup aib kita jika Ia menginginkannya begitu pun sebaliknya."
"Iya sayang. Terkadang Aku lupa kalau Tuhan lah yang seharusnya Aku takuti. Astaghfirullah." Luky meraup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dengan berbicara seperti ini ia jadi merasa lebih baik.
"Minum dulu kak," ujar Kamila seraya mengambil minuman dingin yang dibawa oleh Mak Siti. Luky pun meminumnya hingga habis.
"Terimakasih banyak sayangku. Setidaknya hatiku sekarang lebih plong setelah menceritakan semua ini padamu."
"Ah ya, sekarang perut mu semakin besar sayang. Sudah berapa bulan ya?" tanya Luky saat merasakan perut istrinya itu menyentuh perutnya.
"Alhamdulillah, udah hampir tujuh bulan Kak." Kamila tersenyum seraya mengelus lembut perutnya. Tubuhnya yang tinggi membuat perutnya kadang tidak kentara. Apalagi ia sekarang sudah menggunakan hijab dan juga berpakaian longgar.
"Apakah sudah sering bergerak sayang?" tanya Luky seraya ikut mengelus lembut permukaan perut isterinya itu.
"Iya dong Kak, kuat banget tuh geraknya. Malah tadi di Cafetaria itu kontraksi. Tegang dan sedikit sakit."
"Ya Allah. Terus kamu gak apa-apa sayang?" Luky tampak sangat cemas. Ia menatap istrinya itu dengan wajah khawatir.
"Gak kok kak, katanya biasa sih dialami kalau lagi capek atau tegang. Tapi eh, Aku mau nanya. Tadi itu kok tiba-tiba bisa berada disana sih?" Kamila menatap suaminya itu dengan dahi mengernyit.
"Aku itu ngikutin kalian sebenarnya. Tapi aku larang Vony untuk bilang. Aku sebenarnya mau buat kejutan sama kamu di Cafetaria itu."
__ADS_1
"Dan benar kan, Aku terkejut dengan kedatangan kamu kak."
"Hem, Maafkan aku ya."
"Kamu selalu minta maaf terus padahal tak ada salah."
"Aku pura-pura ngambek tadi itu karena mau ngasih hadiah ulang tahun pernikahan kita Mil. Tapi malah dikacaukan oleh kedatangan Andri dan Aqram."
"Oh, jadi sebenarnya kamu udah lama di Cafetaria itu kak?" Kamila sekali lagi dibuat kaget tak percaya dengan apa yang ia dengar.
Luky tersenyum kemudian mencolek ujung hidung istrinya.
"Ya iyalah. Apa yang bisa kamu lakukan tanpa aku pantau sayangku. Semuanya harus berada dalam genggamanku, terutama yang ini," ujar Luky dengan tangan ia arahkan ke bagian depan istrinya. Ia membuka kancing demi kancing dress itu dengan tatapan lurus kedalam mata Kamila.
Tak menunggu waktu lama, Dua buah benda kenyal dibagian depan isterinya itu terbuka dengan sempurna.
Keduanya masih tampak malu-malu dan mengintip dari balik bra berenda favoritnya. Ya, ia paling suka kalau istrinya memakai warna hitam sebagai penyanggah gunung kembar yang sangat indah itu
"Yang ini kok semakin menantang sih sayang?" tanyanya dengan tatapan berkabut gairah. Kamila tersenyum senang. Ia paling suka melihat suaminya dengan ekspresi seperti itu. Ia jadi merasa menjadi satu-satunya perempuan yang paling cantik di bumi ini.
"Itu karena perbuatan tanganmu kak. Kamu merawatnya dengan sangat baik. Dan ya karena aku juga sedang mengandung anakmu." Luky tersenyum seraya menelan salivanya kasar. Selanjutnya Ia mengarahkan tangannya untuk membuka pengait benda hitam berenda itu yang berada di bagian depan.
Matanya semakin berbinar saat keduanya tak lagi mengintip. Dengan rasa bahagia yang meluap ia pun menyentuhkan bibirnya pada salah satunya sedang yang lainnya ia remass dengan sangat lembut. Kamila merasakan dirinya terbang ke atas awan. Suaminya membawanya ke nirwana tanpa menggunakan sayap.
Menit berikutnya mereka berdua pun terbang semakin tinggi dan tinggi. Untuk sejenak mereka berdua lupa akan masalah yang mereka sisakan di Cafetaria tadi.
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading π