
"Turunlah nak Mila." Belinda membuka pintu mobil dan meminta perempuan cantik berhijab itu untuk turin. Ia menunjukan wajah malaikatnya meskipun perempuan hamil itu sangat marah padanya.
Kamila pun turun dari mobil itu karena tidak punya pilihan lain. Ia sedang hamil besar dan tidak punya kekuatan untuk melawan. Ia ingin tahu apa sebenarnya maksud perempuan tua itu membawanya secara paksa seperti itu.
"Hati-hati." Belinda mengarahkan tangannya untuk membantu Kamila berjalan memasuki rumahnya tapi dengan kasar perempuan itu menepisnya.
"Tidak perlu. Saya bisa sendiri!" sentaknya dengan wajah yang semakin kesal.
"Tidak baik marah-marah nak kalau sedang hamil seperti ini. Anakmu nanti lahir menjadi pemarah." Belinda menyeringai. Ia benar-benar pintar sekali berakting.
"Anda itu seorang ibu. Tapi kenapa begitu tega melakukan ini padaku?" tanya Kamila dengan perasaan yang sangat marah.
"Sabarlah nak. Kamu akan aman di sini. Saya bisa menjadi Ibumu dan juga sekaligus mertua yang akan menyayangimu."
"Apa? Tidak. Bawa saya kembali ke rumahku. Ada keluargaku yang lengkap di sana. Suami dan mertua yang sangat menyayangiku." Kamila menatap wajah perempuan tua itu dengan tatapan tajam.
Belinda tidak perduli. Ia terus melangkahkan kakinya masuk ke dalam beranda rumahnya. Ia berdiri di depan pintu sembari menunggu kedatangan Kamila yang berjalan cukup lambat.
"Masuklah dulu. Kamu akan lihat rumah saya lebih nyaman dan indah dibandingkan dengan rumahmu." Belinda membuka pintu dan meminta Kamila untuk masuk. Untuk kesekian kalinya Kamila menurut. Rumah itu jauh dari pemukiman warga yang lainnya. Berada di luar dalam kondisinya yang seperti itu rasanya bukanlah pilihan yang bijak.
"Mila sayang. Akhirnya kamu datang juga. Aku sudah lama merindukan mu." Aqram Pratama menyambut kedatangannya dengan senyum lebar diwajahnya. Kamila tersentak kaget.
Oh, jadi pria brengsek ni yang menjadi dalang masalah ini.
Dengan cepat, ia tersenyum. Marah dan kesal saat ini tak ada gunanya. Ia akan mengikuti apa maunya Aqram dan juga perempuan yang bernama Linda itu.
"Oh rupanya pak Aqram yang sedang mengundang Aku datang ke rumah yang sangat indah dan nyaman ini." Kamila menjawab sambutan pria itu dengan wajah dibuat sangat santai.
"Iya Mil. Maaf ya, karena ibuku mungkin membawamu dengan paksa." Aqram mengarahkan tangannya agar perempuan cantik itu duduk.
"Oh tidak. Hanya paksaan sedikit. Tapi andaikan Ibu Linda mengatakan kalau ini permintaan kamu, ya mungkin Aku akan datang dengan suka rela." Kamila menjawab dengan wajah dibuat gembira. Meskipun ia tahu diri kalau ia sedang berbohong. Aqram tersenyum senang. Kamila akhirnya bisa juga lunak padanya, begitu pikirnya.
__ADS_1
"Aku sangat senang mendengarnya Mil. Apa kamu tahu kalau Aku sangat menginginkanmu dalam hidupku?" Kamila menganggukkan kepalanya pelan. Ia lantas menjawab, "Iya Pak Aqram. Aku sangat tahu itu. Tapi kamu tahu kan keadaanku saat ini, Aku adalah seorang istri yang sedang mengandung anak dari suamiku."
"Tak apa Mil, Aku terima kamu apa adanya. Aku akan menunggu sampai bayimu lahir." Aqram Pratama semakin senang. Ia merasa mendapatkan harapan baru untuk mendapatkan Kamila.
Belinda tersenyum melihat kebahagiaan putranya. Ia pun segera pergi dari sana dan membiarkan dua orang itu berdua saja. Ia yakin sekali kalau saat ini keluarga Firmaji sedang sangat marah karena kehilangan menantu kesayangannya. Dan ia akan menikmatinya.
πΊ
Rohan Firmaji bersama dengan Luky sedang berada di depan sebuah warung bubur ayam. Warung yang merupakan tempat terakhir yang didatangi oleh Kamila sebelum diculik. Mereka sedang meminta rekaman CCTV yang dimiliki oleh warung itu.
"Belinda?!" Rohan Firmaji mengernyit bingung dan tidak percaya. Ia begitu kaget melihat perempuan yang melakukan penculikan itu adalah Belinda, rekan bisnisnya selama beberapa tahun terakhir.
"Papa kenal dengan perempuan itu?" tanya Luky dengan tatapan tajam pada layar monitor dihadapannya.
"Iya, dia adalah teman Papa. Dia tidak mungkin menculik Kamila. Kecuali kalau mereka mempunyai urusan yang kita tidak tahu."
"Pa, dia menculik istriku. Lalu kenapa Papa nampak santai seperti itu?" Luky mulai kesal dengan sikap Papanya yang nampak tenang-tenang saja.
"Coba kamu perhatikan rekaman itu. Kamila tampak santai saja mengikuti Belinda. Ia tidak tampak sedang diculik Luky. Siapa tahu mereka sedang ada urusan pribadi yang kita tidak tahu."
"Kita tunggu sampai 24 jam. Kalau istrimu tidak dibawa pulang berarti itu benar merupakan penculikan."
"Papa, Mak Siti jelas sekali mengatakan kalau Kamila dibawa pergi dengan meninggalkannya sendiri di tempat ini. Itu artinya apa? Perempuan itu sengaja melakukan ini agar ia bisa membawa Kamila tanpa Mak Siti." Luky memaparkan pendapatnya dengan tatapan lurus ke wajah sang Papa. Ia sungguh sangat kesal pada semua orang. Bahkan aparat kepolisian pun menyuruhnya menunggu sampai 24 jam kalau Kamila tidak kembali maka kasus tersebut baru diproses.
"Baiklah, saya akan menghubungi Belinda. Apa sebenarnya maunya perempuan itu."
Tuuut
Tuuut
Rohan Firmaji menatap layar handphonenya dengan wajah yang mulai ikut kesal. Nomor Belinda yang sudah ia save selama ini ternyata sudah tidak aktif.
__ADS_1
"Bagaimana Pa?"
"Sudah tidak aktif."
"Kamila sedang hamil Pa. Kita harus segera meminta perempuan itu untuk mengembalikan istriku."
"Ah iya. Kalau begitu kita datangi saja Rumahnya. Saya pernah ke rumahnya waktu itu. Mungkin Kamila dibawa ke rumahnya. Ayok." Rohan pun meninggalkan warung bubur ayam itu setelah mengambil salinan dari rekaman CCTV itu sebagai bukti jika nanti diperlukan.
Rohan pun mendatangi rumah Belinda yang ia tahu berada di tengah kota. Sekitar 15 menitan mereka berkendara dan tiba di sebuah rumah besar dan juga mewah.
"Ini rumahnya Pa?" tanya Luky dengan perasaan yang tiba-tiba sangat khawatir.
"Iya. Kenapa?"
"Ini kan Rumahnya Aqram Pratama Pa."
"Aqram Pratama? Ya itu dia putra satu-satunya Belinda dari Pratama." Luky tersentak kaget. Ia yakin semua masalah ini ada hubungannya dengan Aqram. Ini pasti bukan sesuatu yang kebetulan belaka.
"Apakah Ibu Belinda ada di dalam?" tanya Rohan Firmaji pada seorang security yang berjaga di depan pintu gerbang Rumah besar itu.
"Maaf Tuan. Sudah dua hari ini Bu Belinda tidak pernah datang ke rumah ini."
"Apakah kamu tahu dimana Bu Belinda tinggal selain di rumah ini?"
"Mohon maaf Tuan. Saya tidak tahu. Saya adalah petugas baru di rumah ini."
"Ah iya terima kasih banyak." Rohan pun kembali ke atas mobilnya dengan wajah yang tampak berpikir.
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading π