
Vony Dona memandang berkas-berkas persyaratan administrasi untuk pernikahan itu dengan senyum diwajahnya. Hatinya sangat bahagia karena seorang seperti Andri Husain benar-benar serius padanya.
"Kita harus melengkapi persyaratan itu Von. Tapi bagaimana dengan orangtuamu, apa mereka mau menerima Aku yang cuma prajurit berpangkat rendah seperti ini?" Andri Husain menatap kekasihnya dengan wajah serius. Ia sangat tahu kalau penghasilan gadis itu lebih besar dari penghasilannya sendiri. Belum lagi latar belakang keluarga gadis itu yang semua orang tahu dari keluarga terpandang.
"Mas, kamu kan belum mencoba, iyyakan Bu Mila?" Vony berucap seraya memandang wajah Kamila yang sejak tadi diam saja. Ia ingin meminta dukungan dari istri dari pimpinannya di Perusahaan.
"Ah iya. Betul itu Kak. Kamu harus mencoba dulu. Buktikan kalau kamu bisa membahagiakan Vony. Aku kira semua orang tua pasti mengharapkan kebahagiaan dari anak-anaknya," ujar Kamila membenarkan.
"Masalah materi itu urusan belakangan," lanjut perempuan itu dengan tangan terkepal memberi semangat.
"Kalau begitu beritahu orang tuamu Von, malam ini Aku akan ke rumahmu."
"Kamu gak bawa Ibu bersama mu Mas?"
"Ya kan mau bertamu dulu. Kalau aku ditolak kan cuma Aku yang kecewa. Ibu tidak perlu merasakannya."
"Astaghfirullah. Kamu kok mikirnya langsung ditolak sih?" Vony memandang pria dihadapannya itu dengan wajah kesal. Ia sungguh tidak memahami jalan pikiran pria yang sialnya sangat dicintainya.
"Maaf, maaf. Soalnya aku merasa rendah diri. Takut banget ketemu Ayah dan Ibumu."
"Mas, Ibu dan Ayah itu manusia biasa. Kok takut sama sesama manusia sih?"
"Sebenarnya bukan takut Von. Cuma kurang percaya diri."
"Kamu bukan pengganguran Mas, kamu punya pekerjaan tetap yang insyaallah cukup untuk menghidupi aku dan anak kita kelak. Jadi gak kamu gak usah tidak percaya diri ya Mas?" ujar gadis itu seraya meraih tangan kekasihnya dan menggenggamnya.
"Ekhem, udah main pegang-pegangannya?" Kamila berdehem untuk menghentikan drama dua orang dihadapannya ini.
"Yang seharusnya tidak usah dipikirkan malah dipikir terlalu berat seperti itu, kan jadinya lebay," sindirnya seraya menyeruput minuman dingin dihadapannya.
__ADS_1
"Eh iya Bu Mi Maaf. Kami berdua lupa kalau ada Ibu ada di sini, hehehe," ujar Vony dan langsung melepaskan tangan pria yang sedang galau itu.
"Kak, kamu itu Prajurit! Semangat dong! Masa gini aja lebay sih? Gimana mau membela dan mempertahankan tanah air!" Kamila berucap dengan wajah bersungut-sungut kesal.
"Eh bukan begitu ceritanya Mil. Aku ini udah pernah ditinggalkan oleh seseorang demi sesuatu. Jadi sekarang perasaan itu seolah-olah ikut sampai sekarang."
"Huffft, nyindir nih maksudnya?" Kamila mencibir. Ia tahu kalau pria itu sedang membicarakan masa lalu mereka berdua.
"Yah, bukan nyindir sih Mil, tapi Aku menjadikan itu sebagai pengalaman yang sangat berharga buatku," jelas Andri dengan wajah menunduk.
"Iya deh, aku minta maaf dan mengalah." Kamila akhirnya menutup perbedaan pendapat itu dengan segera meminta maaf dan mengakui kalau ia cukup bersalah pada saat itu.
""Maaf ya sayang kami gak bermaksud mengingat kenangan lama." Andri Husain langsung meraih kembali tangan Vony sang kekasih. Ia tidak ingin gadis itu cemburu atau berpikir macam-macam tentang mereka berdua.
Gak apa-apa Mas. Aku santai aja kok." Vony Dona hanya bisa menarik nafas berat. Bukan masalah kedua orang mantan kekasih ini yang ia pikirkan.
Ia hanya berharap bahwa kedua orangtuanya setuju. Ia takut kalau prajurit TNI yang nampak kuat dan sangar di luar ini akan hancur untuk kedua kalinya karena sebuah penolakan.
"Baiklah, Aku pamit. Waktu istirahat sudah selesai dan Aku harus kembali ke Markas sekarang juga." Andri Husain berdiri dari duduknya dan segera pergi meninggalkan Cafetaria itu.
"Ayo Von. Kita balik juga ke Perusahaan. Waktunya kita bertemu dengan Pak Presdir yang sedang sensi, hehehe," ujar Kamila terkekeh. Perempuan itu langsung berdiri dari duduknya. Ia meregangkan otot-ototnya hingga tiba-tiba saja ia merasakan kontraksi pada perutnya.
"Aaawwwww!" Kamila berteriak tertahan seraya menyentuh perutnya yang sedikit mengencang.
"Ada apa Bu? Duduk dulu deh Bu." Vony langsung panik karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
"Gak apa-apa kok Von. Ini udah baikan." Kamila menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya berkali-kali. Ia pun mengelus lembut perutnya itu dengan telapak tangannya.
"Gimana Bu? Udah baikan? Apa saya harus menghubungi Pak Presdir agar bisa datang ketempat ini?" tanya Vony dengan wajah yang masih nampak sangat khawatir. Ia sungguh tidak punya pengalaman dengan ibu hamil. Dan ia tidak bisa melakukan apa-apa.
__ADS_1
"Gak perlu Von. Kak Luky juga mungkin lagi sibuk saat ini. Jadi gak usah diganggu."
"Ya, itu betul sekali Mil. Pak Presiden Direktur memang tidak bisa diganggu saat ini karena ia sedang asyik dengan kekasihnya" Sebuah suara dari arah belakangnya langsung membuat Kamila menolehkan wajahnya.
"Pak Aqram?" ucap perempuan itu dengan perasaan tak enak. Ia yakin pria ini sengaja mengikutinya untuk membuat masalah. Ia pun langsung berdiri dari duduknya karena tidak mau meladeni pria yang tidak tahu malu itu.
"Hey, mau kemana Mil? Duduklah dulu." Pria itu menarik tangan Kamila supaya duduk kembali. Akan tetapi Perempuan itu menyentakkan tangannya.
"Lepaskan aku!"
"Hati-hati dengan tangan anda Pak Aqram!" Vony Dona ikut memberi peringatan pada pria yang sangat tidak sopan itu. Aqram Pratama tidak peduli. Ia malah memaksa menarik tangan Kamila agar mengikutinya keluar dari Cafetaria itu.
"Awwww!" Kamila meringis sakit. Perutnya kembali keram dan kontraksi. Ia meremasnya karena merasakan tegang dan juga sakit.
"Oh, Maaf. Kamu ternyata Hamil Mil?" Aqram menatap tubuh Kamila yang terbungkus pakaian longgar itu dengan tatapan tak suka.
"Apakah ini perbuatan gay itu? Wah hebat juga dia!" Pria itu mengumpat dalam hati. Ia pikir sampai sekarang Kamila belum diapa-apain oleh suaminya.
Bugh
Tiba-tiba saja tubuh Aqram Pratama tersungkur ke lantai Cafetaria itu. Vony Dona memberikannya satu tendangan pada bagian belakangnya. Gadis cantik calon istri prajurit itu sudah sangat tidak sabar dengan kelakuan pria itu di depan matanya.
"Brengsek kamu!"
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading π