
Tak mengambil waktu yang lama, Rohan, Luky, dan Andri langsung bergegas menuju ke mobil. Setelah mendapatkan pesan berupa beberapa foto Kamila, mereka menjadi sangat yakin kalau yang mengirim pesan itu adalah benar-benar orang yang sedang mereka cari.
"Bismillah, hati-hati!" Sugiarti melambaikan tangannya ke arah mobil yang membawa anak dan suaminya menuju tempat dimana Kamila diculik. Perempuan itu berharap mereka semua diberikan kemudahan untuk mendapatkan Kamila kembali.
"Kita masuk Nya, ini sudah sangat larut. Udara juga sudah sangat dingin." Vony mengajak Sugiarti untuk masuk ke dalam rumah.
"Ah iya Von. Kamu temani saya di kamar ya," ujar perempuan paruh baya itu sembari melangkahkan kakinya kedalam rumah. Vony Dona tersenyum mengiyakan. Ia memang sengaja datang ke rumah itu untuk menemani perempuan paruh baya itu.
"Semoga mereka semua selamat ya Von."
"Iya Nyonya, aamiin insyaallah." Mereka berdua pun memasuki Kamar untuk beristirahat.
Sementara itu, di rumah tempat Kamila di culik, Aqram setuju untuk tidak menyentuh Kamila sampai perempuan hamil itu melahirkan.
"Kalau begitu tidurlah Mil, ini sudah sangat larut." Aqram pun bangun dari posisinya. Ia juga harus tidur diluar sesuai perjanjian mereka beberapa saat yang lalu.
"Hum, terimakasih banyak Aqram. Keluarlah karena Aku harus mengunci pintunya. Kamu sangat tidak bisa dipercaya." Aqram Pratama tertawa renyah. Kalau ia mau, ia bisa saja memaksa tapi ia ingin mengambil hati perempuan itu agar ia tidak was-was.
Ya, hati kecilnya mengatakan kalau perubahan yang terjadi pada Kamila sungguh mencurigakan. Meskipun begitu ia berusaha untuk tidak peduli. Kamila mau atau tidak menerimanya bukanlah hal yang sangat penting.
Cukup ia memiliki tubuh perempuan itu maka ia sudah sangat senang dan puas. Akan tetapi kalau ia juga bisa mendapatkan hati Kamila maka itu akan lebih baik lagi.
Kamila pun menutup pintu kamar itu dan segera membersihkan dirinya. Ia merasa sangat jijik disentuh oleh pria kurang ajar itu tetapi ia tidak punya pilihan lain.
Ia benar-benar takut kalau Aqram akan mengeluarkan taringnya kalau ia ditolak. Sedangkan ia sedang hamil dan tak punya kekuatan untuk melawan.
__ADS_1
Kamila membaringkan tubuhnya di ranjang dan berharap semua akan baik-baik saja besok pagi. Ia pun menyebut nama Allah sebelum jatuh tertidur. Sedangkan Belinda tersenyum senang saat melihat putranya yang baru keluar dari kamar Kamila dengan wajah berseri-seri bahagia.
"Ibu, kamu membuatku kaget. Ibu belum tidur?" Aqram memandang wajah ibunya yang nampak tidak mengantuk samasekali.
"Ibu tidak bisa tidur. Mungkin karena terlalu bahagia atau apa. Kamu bagaimana? kenapa kamu tidak tidur bersama Mila?"
"Kamila tidak mengizinkan aku tidur bersamanya ibu. Katanya nanti setelah melahirkan barulah kita bisa bersama dan melakukan yang selama ini aku inginkan." Belinda tersenyum.
"Tentu saja Aqram. Mana mungkin kamu bisa bercampur dengannya disaat kondisinya yang seperti itu. Kamu harus bersabar nak."
"Iya ibu. Aku sudah bersabar selama puluhan tahun. jadi menunggu satu bulan lagi tidaklah sulit buatku ibu." Aqram menjawab dengan senyum cerah diwajahnya.
"Tidurlah. Ibu akan mengecek semua penjaga di luar rumah."
"Di luar dingin. Kenapa Ibu tidak tidur saja." Aqram memanggil ibunya agar tidak perlu berkeliling. Penanda waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB. Akan sangat riskan jika perempuan tua itu berada di luar rumah dalam cuaca yang sangat dingin menusuk tulang seperti sekarang ini. Desa itu baru saja diguyur hujan deras sampai sore jadi keadaan di luar semakin terasa dingin.
"Tidak apa, tidurlah. Ibu cuma tidak bisa tidur karena gelisah."
"Kenapa ibu gelisah?" Aqram bertanya dengan tatapan lurus kedalam mata tua ibunya. Belinda tidak menjawab. Ia hanya menyentuh lengan sang putra.
Ia tidak mungkin menjawab kalau ia merasa bahwa lokasi persembunyian mereka saat ini sudah diketahui. Beberapa orang kepercayaannya baru saja menghubunginya kalau orang-orang Rohan Firmaji sedang mengeledah kota.
"Tidurlah Aqram. Istirahatlah karena mungkin akan ada hal besar yang akan terjadi besok pagi."
"Apa yang kamu bicarakan ibu?"
__ADS_1
"Ah sudahlah. Ibu sudah mengatakan kalau kamu harus istirahat. Besok pagi-pagi sekali kita akan meninggalkan tempat ini."
"Ibu, kamu semakin membuatku curiga padamu."
"Tidurlah. Kamu perlu menyimpan tenagamu Aqram. Mereka mungkin akan datang untuk mencari Kamila."
"Biar pun mereka datang. Tak akan Aku serahkan Kamila. ia adalah milikku ibu."
"Ya sudahlah kalau begitu, jagalah istrimu itu." Belinda tak mau lagi membalas perkataan putranya. Ia langsung berjalan ke arah halaman dengan tangan merapatkan jaket tebal yang sedang dipakainya itu kedalam tubuhnya.
Aqram hanya memandang perempuan itu dari jauh. Ia pun masuk kedalam rumah dengan perasaan yang tiba-tiba ikut gelisah.
Aku tidak akan menyerahkan Kamila ku. Perempuan cantik itu harus mengandung anakku juga.
Sementara itu, beberapa mobil sedang menuju tempat itu. Mereka adalah satu mobil yang sedang berisi 3 pria dari keluarga Firmaji dan satu mobil dari kepolisian, serta yang lainnya adalah dari orang-orang kepercayaan Rohan Firmaji.
Mereka tak merasakan kantuk samasekali. Mereka harus sampai di tempat itu sebelum pagi agar tidak menggangu ketentraman Desa itu.
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading ya gaess π€π
__ADS_1