
Subuh pun datang, Suara azan yang bersahutan dari segala penjuru membangunkan penghuni kamar.yanh sedang berpelukan di bawah selimut.
Kamila membuka matanya pelan untuk menyesuaikan pencahayaan di dalam ruangan kamar itu. Cukup lama ia dalam keadaan seperti itu. Ia hanya melihat sekeliling seraya mengumpulkan nyawanya. Suasana kamar yang berbeda dari biasanya membuatnya berpikir dimana saat ini ia berada.
"Kak, bangun," panggilnya pada pria yang sedang memeluknya posesif. Tubuhnya yang polos dan beraroma minyak gosok membuatnya sadar kalau ia saat ini sedang berada di rumah orangtuanya.
Luky menggeliat pelan kemudian membuka matanya. Ia memandang istrinya yang juga sedang memandangnya.
"Selamat pagi sayangku, gimana perasaan kamu udah baikan belum?" Kamila tersenyum.
"Iya Kak. Maafkan Aku ya, karena merepotkan dirimu."
"Merepotkan bagaimana? Aku yang harusnya minta maaf karena membuat kamu tersiksa seperti itu. Seharusnya kan kita memesan yang kamu inginkan itu lewati ekspedisi atau paket pengiriman cepat sayang jadi kan gak perlu seperti kemarin." Luky menjelaskan dengan wajah khawatir dan sangat menyesal.
"Ih, kak. Aku udah sehat kok. Lagipula kan Aku senang karena bisa pulang kampung. Jadi semuanya aku nikmati." Kamila tersenyum kemudian mencium pipi suaminya.
"Aku mau mandi dulu Kak baru kita sholat. Tubuhku lengket karena minyak gosok, hehehe," kekeh Kamila seraya bangun.
"Kamu bisa sendiri 'kan?"
"Ah iya Kak. Memangnya kamu mau mandiin Aku?" Kamila memandang suaminya dengan tatapan menggoda.
"Hem boleh juga. Aku rasa kita memang perlu melakukannya sayang." Luky tersenyum penuh makna. Melihat istrinya sekarang yang tidak memakai apapun di depan matanya sudah membuat si Junior menggeliat.
"Nanti sholat subuhnya kesiangan lagi Kak. Udah ya Aku mandi duluan aja," ujar Kamila dengan tatapan curiga. Luky tersenyum. Ia membenarkan kata-kata istrinya. Kalau mereka mengikuti hasrat di pagi hari itu bisa-bisa mereka akan ketinggalan Subuh.
Kamila pun berlari ke kamar mandi dan menguncinya. Ia khawatir dengan kebiasaan suaminya selama ini yang suka nyelonong ke kamar mandi saat ia sedang mandi.
Perempuan itu akan berterima kasih pada ibunya yang telah menyiapkan kamar yang bagus dan juga ada kamar mandi didalamnya meskipun tidak sama dengan miliknya di kota.
Kamila keluar dari kamar mandi setelah berwudhu' untuk sholat subuh. Suaminya pun mengikutinya dan mereka melaksanakan sholat subuh di dalam kamar itu.
"Gimana Kak, mau jalan-jalan pagi gak keliling kampung?" tanya Kamila sesaat setelah ia membuka mukena yang ia gunakan. Luky tersenyum kemudian berdiri dari sajadahnya.
__ADS_1
"Aku mau jalan-jalan ke kayangan aja Mil sama kamu," jawab Luky seraya mengajak istrinya itu untuk bangun dari posisinya.
"Cuaca masih sangat dingin sayang, pengennya yang hangat-hangat," bisik Luky dengan tangan sudah memeluk tubuh sang istri.
Kamila tersenyum senang. Ia juga sebenarnya hanya berbasa-basi ingin mengajak suaminya untuk jalan-jalan pagi melihat pemandangan pagi di kampungnya. Yang sebenarnya ia masih ingin berada di bawah selimut bersama dengan suaminya.
"Aku juga Kak," balas perempuan cantik itu dengan tangan mulai bergerak kearah wajah tampan suaminya. Jari-jarinya bergerak cukup menggoda pada bagian pipi kemudian ke arah bibir sang suami.
"Kak, Aku sangat mencintaimu," ujar Kamila dengan tatapan lurus kedalam mata suaminya.
"Aku tahu Mila sayang. Dan Aku juga merasakan hal yang sama." Luky tersenyum kemudian meraih jari-jari istrinya yang sedang berada di sekitar bibirnya. Ia mencium jari-jari lentik itu dengan hasrat yang mulai terbakar.
"Mil, kenapa kamu selalu saja bikin aku gila sayang?' bisik Luky saat memulai inti sentuhan pada tubuh istrinya. Semakin hari ia rasakan Kamila bertambah lezat saja.
"Kak, plis..." Kamila memohon dengan sangat karena suaminya hanya berada di depan pintu dan mempermainkan dirinya.
"Memohonlah Mil, Aku suka kalau kamu memohon sayangku," ujar Luky seraya terus memandang wajah istrinya yang nampak sudah sangat tersiksa dalam kenikmatan yang ia berikan.
Kamila akhirnya bangun dan meraih si junior dengan wajah tak sabar di puncak hasrat. Menit berikutnya Luky lah yang ia buat merintih-rintih tertahan.
Pagi itu mereka berdua hanya bisa menahan untuk tidak mengeluarkan suara karena baru menyadari kalau mereka sedang berada di rumah orang tua mertua yang kamarnya tak kedap suara.
Perjalanan ke kayangan pagi itu ternyata cukup lama mereka lakukan. Sampai mereka harus segera menghentikannya dengan sangat terpaksa karena sebuah ketukan panjang di pintu kamar mereka.
"Kak, udah. Ibu sudah manggil-manggil itu," bisik Kamila diantara hentakan- hentakan suaminya dibawah sana. Luky tidak perduli. Ia sedang berada dipuncak sekarang. Ia belum juga sampai.
"Nanggung sayang," balas Luky berusaha untuk mengabaikan ketukan pintu itu.
"Aaaaakh,". Menit berikutnya, Luky baru bisa melepaskan dirinya setelah tujuan akhir sudah tercapai.
"Makasih sayang, rasanya sangat luar biasa Mil, kamu kuat banget mencengkram ku," bisik luky kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.
"Aku lihat ibu dulu Kak," ujar Kamila seraya keluar dari selimut itu. Ia segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari rasa lengket yang cukup mengganggu geraknya. Mandi kilat ia lakukan kemudian keluar dari kamar itu.
__ADS_1
"Selamat pagi semuanya?" Kamila memasuki dapur pagi itu dengan wajah bahagianya. Pagi-pagi melakukan hal yang menyenangkan membuatnya bersemangat memulai hari. Mak Siti, Vony Dona dan ibunya menyambutnya dengan senyum diwajah mereka.
"Gimana udah sehat sayang? Maaf ya Ibu tadi mengganggumu dengan suamimu di kamar karena ibu khawatir."
"Khawatir kenapa Bu?" tanya Kamila penasaran. Cahaya tersenyum kemudian menjawab.
"Kamu sejak semalam gak enak badan lho, trus gak bangun makan malam. Ibu takut kamu kenapa-kenapa karena pagi-pagi ibu dengar kamu merintih-rintih gitu. Kirain kamu masih sakit Mil," ujar Cahaya seraya meminta putrinya itu untuk duduk. Kamila merasakan pipinya menghangat karena malu.
Ya Allah, apakah semua orang mendengar suara-suara mereka berdua?
"Memangnya ibu dengar apa lagi?" tanyanya takut-takut. Ia memandang semua orang yang ada di dalam dapur itu dengan senyum meringis. Cahaya tersenyum begitu pula dua orang lainnya.
"Sebenarnya bukan ibu yang mendengar suaramu sayang tapi Vony. Dia sangat khawatir karena keadaan kamu semalam kan bagaimana, Iyyakan Von?"
"Jadi?" Kamila memandang Vony dengan tatapan tanya. Vony Dona mengangguk pelan dengan senyum diwajahnya.
"Mak Siti bagaimana?" tanya Kamila dengan wajah semakin memanas. Perempuan tua itu tersenyum kemudian menjawab, "Jangan tanya saya Nyonya. Pendengaran saya meragukan, hehehe," kekeh Mak Siti.
Kamila langsung menarik tangan Vony Dona kearah kamar yang ada di sekitar dapur. Ia tahu semua orang sedang mempermainkannya sekarang. Dan ia ingin jawaban yang jelas dari asisten suaminya atau ia akan malu dan mati penasaran.
"Von, katakan padaku apa yang sudah kamu dengar?!"
"Aku cuma dengar sekilas Bu. Gak jelas gitu. Aku kan jadi khawatir makanya Aku panggil tante Cahaya."
"Oh gitu?" Kamila merasa sangat lega. Itu artinya gadis itu tidak mendengar semuanya.
"Emangnya ibu diapain sama Pak Presdir, sampai segitunya?" tanya Vony dengan senyum samar diwajahnya.
"Hah? Vony?!"
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading ya gaess π