
Setelah meninggalkan Perusahaan selama beberapa bulan bahkan hampir setahun, hari ini Luky Firmaji kembali memimpin tempat usaha warisan keluarganya itu sebagai Presiden Direktur.
Pria itu tampak sangat tampan dan juga menarik dengan setelan jas mahal dan juga kacamata hitam yang bertengger manis di hidungnya yang mancung.
Sifatnya yang sangat disiplin dan juga menghargai waktu tergambar dengan sangat jelas lewat langkah kakinya yang panjang-panjang dan juga cepat. Ia melangkah ke arah ruangan kerjanya dengan wajah serius tanpa senyum samasekali.
Sedangkan Kamila yang kebetulan datang tak jauh berselang sedang melangkahkan kakinya dengan cepat juga ke arah lift yang akan membawanya ke lantai 4.
"Pak Presiden Direktur kok tambah macho gitu ya."
"Iya. Tambah keren dan sangat jantan, hem."
"Kulitnya itu loh, coklat dan eksotis, hemm."
"Ototnya gaess, Aku perhatikan lengan dan tangannya itu kuat banget. Pasti hangat dan nenangin banget tuh kalau meluk."
"Apa jangan-jangan selama menghilang dari dunia kerja malah mengolah tubuhnya sampai kayak gitu ya?"
"Benar banget. Waduh Bu Kamila pasti semakin klepek-klepek nih."
"Pastinya. Udah berapa hari ini kan Bu manager gak ngantor, hihihi."
"Pasti gak bisa bergerak dibuatnya, hehehe."
"Oh otakku kenapa jadi nakal kayak gini sih?"
"Ih pengen jadi partnernya deh One Night Stand gitu gak apa-apa hihihi."
"Hush! Gak pada malu ya punya otak mesum kayak gitu?!"
"Di dengar sama Pak Presdir bisa gawat lho."
"UPS, sorry-sorry."
"Kan cuma bercanda tapi beneran hehehe."
"Ih gak apa-apa kali, itung-itung menyenangkan hati karyawan. Pak Presdir pasti seneng diidolakan sama semua karyawannya."
"Eh beneran lho Aku penasaran sama mereka berdua. Cantik dan ganteng. Serasi banget tapi kok gak romantis ya di depan kita-kita. Suka jauh-jauhan gitu."
__ADS_1
"Eh, gak apa-apa lagi, kalo gak romantis di depan semua orang, yang penting kalau di ranjang bikin ketagihan hihihihi."
Kamila hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar beberapa karyawan yang sedang membicarakannya dengan mantan suaminya itu di depan matanya sendiri.
Ini adalah gibah dan fitnah secara nyata.
Ya, saat ini ia sedang berada di dalam kotak lift yang penuh sesak oleh karyawan hingga mungkin tidak ada yang melihat dan menyadari keberadaannya.
Para karyawan itu dengan sangat bersemangat membicarakan kelebihan yang dimiliki oleh mantan suaminya. Mereka seakan-akan ingin memakan tubuh seorang Luky Firmaji bulat-bulat karena begitu sangat lezat dipandang.
Kalian tidak tahu saja kalau pria itu sebenarnya tidak menginginkan apem kacang yang rasanya pasti lebih lezat daripada pisang batu.
Kamila tersenyum miris. Terkadang penampilan fisik memang sering menipu. Wajah tampan yang didukung oleh tubuh atletis tidak bisa dijadikan ukuran kebahagiaan di dalam kehidupan rumah tangga. Apalagi di atas ranjang sesuai dengan pengalamannya sendiri.
Tring
Lift berbunyi tanda berhenti pada lantai nomor 4.
"Lantai 4. Ada yang mau keluar gak nih?" tanya seorang karyawan yang paling heboh tadi membicarakan tentang Presiden Direktur Perusahaan itu.
"Ekhem!" Kamila berdehem dengan keras agar diberi jalan untuk keluar. Semua karyawan karyawan yang masih tersisa di dalam kotak besi itu merasakan tubuh mereka membeku dengan kaki gemetar takut.
"Oh tidak!!!!!"
Lift itu langsung bergetar hebat karena teriakan semua karyawan yang ada di dalamnya. Sedangkan Kamila langsung melangkahkan kakinya ke arah ruangan Presiden Direktur untuk melaporkan beberapa hal tentang pekerjaan yang ia tangani selama pria itu tidak masuk bekerja.
"Eh, Ibu selamat pagi," sapa Vony Dona dengan senyum cerah diwajahnya. Nampak sekali kalau ia sangat bahagia hari ini.
"Selamat pagi Von. Bisa Aku bertemu dengan Pak Presdir?"
"Oh tentu saja Bu. Anda tidak perlu minta izin untuk itu," jawab sang asisten seraya membukakan pintu untuk manager cantik yang sedang tampil dengan rok pendek merah maroon selutut dipadukan dengan blouse dengan warna senada tetapi agak lembut.
"Terimakasih banyak Von."
"Ah iya Bu sama-sama." Vony Dona tersenyum kemudian meninggalkan ruangan itu dengan satu peringatan penting kalau tidak boleh ada yang menggangu dua orang itu.
"Apapun! kecuali bencana alam!" ujarnya pelan dengan senyum samar dibibirnya.
"Selamat pagi pak Presdir!" sapanya seraya membungkukkan badannya sedikit di depan meja Luky Firmaji.
__ADS_1
"Selamat pagi Bu Mila, silakan duduk." Luky menatap wajah cantik dihadapannya dengan tersenyum tipis. Matanya tak lepas memandang penampilan mantan istrinya itu dengan debaran aneh didadanya.
Kenapa Aku baru menyadari kalau Kamila memang benar-benar cantik seperti kata semua orang ya? Ujarnya membatin.
"Ada yang bisa saya bantu Bu Mil?" tanya Luky dengan sikap profesionalnya seperti biasa jika itu berhubungan dengan pekerjaan. Entah kenapa Kamila berusaha menahan dirinya untuk tidak tertawa mendengar mantan suaminya itu mengatakan Bu Mil. Bibirnya ia lipat kedalam dengan pipi menggembung lucu dan menggemaskan.
"Apa ada yang lucu?" tanya pria itu seraya memeriksa penampilannya. Dasi dan juga jasnya ia periksa. Tak lupa tatanan rambutnya pun ia cek dengan benar.
"Ah tidak. Aku hanya merasa Pak Presdir sangat mengharapkan Aku hamil puffft." Tawa Kamila akhirnya pecah juga.
Sungguh ia benar-benar merasa sangat lucu membayangkan dirinya hamil padahal suaminya sangat tidak berminat dengan kue apem kacangnya. Rupanya ia masih teringat dengan gibahan para karyawan tadi.
"Hamil? ya tentu saja Bu Mil. Aku benar-benar ingin membuatmu hamil," ujar Luky Firmaji dengan wajah serius.
Duarrr
Kamila merasakan tawanya berubah hambar. Ia menatap pria itu dengan wajah tak kalah serius. Tangannya ia lambaikan di depan wajah Luky kemudian menjentikkan jarinya dua kali.
Kamila pun menegakan duduknya dan menatap wajah pria tampan dihadapannya dengan ekspresi serius. Ia tidak ingin lagi bercanda dengan mantan suami yang tidak pernah punya minat menghamilinya itu.
"Baiklah Pak Presdir sudah cukup bercandanya. Aku ingin melaporkan tentang proyek besar yang anda minta kerjakan di daerah X. Alhamdulillah sudah berjalan dengan sangat baik dan lancar." jelas Kamila seraya menunjukkan beberapa berkas penting yang ia bawa di tangannya.
Luky Firmaji hanya bisa menarik nafas panjang dengan perasaan kecewa. Yang ia katakan tadi itu adalah serius dan bukan candaan. Ia sudah berusaha untuk mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkannya tetapi sepertinya Kamila tidak mempercayainya.
"Dan mengenai MOU dengan Pak Aqram Pratama, mohon maaf karena Aku telah membatalkannya tanpa berkoordinasi dengan anda terlebih dahulu."
"Baiklah Pak. Aku kira itu adalah laporan tentang pekerjaan yang telah aku lakukan. Aku permisi karena masih banyak hal yang harus aku kerjakan."
Kamila pun berdiri dari duduknya tanpa mau mendengarkan pendapat atau pun komentar dari sang presiden direktur.
Sungguh hatinya sedang tidak baik-baik saja setelah mendengar candaan receh dari pria tampan tapi tidak normal itu. Ia takut hatinya kembali mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi.
"Kamila!" Luky Firmaji berusaha memanggil perempuan cantik itu saat ia sudah berada di depan pintu. Kamila menghentikan langkahnya sejenak kemudian segera keluar dari sana.
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading π