
Kamila merasakan tubuhnya membeku saat bertemu dengan seseorang dari masa lalunya di dalam lift yang akan membawanya ke basemen. Tangannya terkepal di kedua sisi kiri dan kanannya menahan emosi yang sangat menggangu perasaannya.
Ia ingat kalau pria jadi-jadian itu masuk dari lantai 4 gedung perusahaan ini. Dan itu artinya ia baru saja menemui Luky Firmaji sang Presiden Direktur.
Oh Tuhan, jadi mereka berdua masih berhubungan? Pria brengsek yang ingin menghamili aku itu ternyata belum juga sembuh?
Lalu apa maksudnya tadi?
"Hai Ibu Kamila," sapa pria itu dengan seringai diwajahnya yang cantik. Kamila langsung merasakan perutnya kembali bergolak. Ia sangat jijik dengan pria yang sok keren yang ada dihadapannya itu.
"Aku masih berbaik hati padamu sayang, tawaran Aku masih berlaku," ujar Andy seraya menggeser posisinya agar lebih dekat dengan perempuan cantik dan juga sangat kaya itu.
"Berhenti disitu atau aku akan berteriak!" ancam Kamila dengan jari telunjuk ia arahkan ke depan wajah Andy sang pria jadi-jadian.
"Hahaha. Kamu itu cantik, kaya, tapi bodoh! mana ada orang yang mendengarmu jika kita berada di dalam lift ini." Andy tertawa terbahak-bahak dengan sangat menyebalkan. Suaranya pun bergema di dalam kotak besi berukuran 1,5 meter persegi itu.
Kamila tidak kehabisan akal. Ia langsung melangkahkan kakinya ke arah depan dan menekan tombol lantai terdekat agar ia bisa keluar dari tempat itu.
Tring
"Aaw lepaskan Aku brengsek!" Kamila memberontak karena tangannya tiba-tiba ditarik lagi kedalam oleh pria itu saat pintu lift terbuka dilantai 3.
Vony Dona yang kebetulan berada di lantai 3 saat kejadian itu terjadi langsung melompat masuk ke dalam lift itu sebelum pintunya terbuka.
Bugh
Satu pukulan telak langsung mendarat pada wajah pria jadi-jadian itu. Andy langsung melepaskan tangan Kamila dan bersiap membalas Vony Dona.
"Aaargh!" Andy berteriak keras karena daerah intinya langsung terkena tendangan dari heels Kamila.
"Rasakan!" ujar perempuan itu kemudian melakukan tos dengan Vony Dona. Pria itu meringis kesakitan. Ia memenangi selangkangannya sembari membungkukkan badannya di dalam lantai itu.
"Dasar brengsek kalian!" umpatnya dengan suara tertahan. Kamila dan Vony hanya saling melempar senyum kemudian meninggalkan lift itu saat pintunya terbuka di lantai 2.
Meskipun mereka tidak ingin turun dilantai itu tetapi mereka tentu saja tidak mau lagi berada satu tempat dengan seorang pria menjijikan seperti itu.
"Ibu kenal dengan pria itu?" tanya Vony saat mereka berdua mencari tempat duduk santai di lantai 2 gedung perusahaan itu.
__ADS_1
Mereka berdua baru saja mengalami kejadian yang sangat tidak mengenakkan dan cukup menguras emosi. Hingga untuk melanjutkan hal yang akan dilakukan rasanya masih sangat shock.
"Pria itu sudah sering mengganggu Ibu. Apa perlu saya laporkan pada Pak Presdir?"
"Tidak. Tidak perlu Von. Aku bukanlah siapa-siapa dibanding pria itu."
"Hah? Maksud Ibu? Pak Presdir mengenal pria itu?" Kamila menganggukkan kepalanya dengan wajah berubah sedih.
Pria itu adalah orang ketiga dalam hubungan keluarga kami Von, ujarnya dalam hati.
"Pak Presdir adalah suami Ibu, saya kira semua suami akan sangat marah jika melihat istrinya itu dilecehkan oleh seseorang. Apalagi itu adalah seorang pria."
"Dia bukan suamiku lagi Von," ujar Kamila dengan perasaan yang kembali terasa sakit. Meskipun ia ingin menyembunyikannya tetapi suatu saat statusnya pasti akan ketahuan juga. Apalagi pria jadi-jadian itu kembali datang mengusik mereka berdua.
Ia sekarang pasrah. Tngkah mantan suaminya selama beberapa hari ini yang menunjukkan sebuah perubahan yang berarti ternyata adalah sebuah kamuflase belaka.
Luky Firmaji adalah seorang gay dan akan selamanya seperti itu. Tanpa sadar airmatanya merebak kembali dan bahkan mulai membobol pertahanan dirinya. Ia menangis di depan Vony Dona.
"Jangan menangis Bu." Asisten pribadi Luky Firmaji itu segera mengambil tissue dari dalam tasnya. Ia memberikannya pada Kamila.
"Mohon maaf, tapi kalau ingin menangis dengan bebas, bagaimana kalau saya antar ibu ke Toilet atau ke tempat lainnya yang lebih sepi."
"Kenapa Aku tidak boleh menangis disini Von?"
"Karena Ibu adalah salah satu pimpinan di Perusahaan ini. Ibu harus selalu tampak cantik, berwibawa, dan juga kuat agar karyawan menghormati Ibu."
"Aku manusia biasa. Aku juga ingin menangis kalau sedang bersedih."
"Kalau begitu saya antar Ibu pulang. Saya akan menemani Ibu menangis."
"Vony!" Kamila berteriak keras kemudian kembali menangis.
"Bu, Bahu saya sebenarnya bisa saya pinjamkan untuk bersandar tapi saya takut pada Pak Presdir. Bahunya kan lebih lebar dan juga kuat."
"Vony!"
"Iya Bu siap!"
__ADS_1
"Dia bukan lagi suamiku jadi aku tidak butuh bahunya maupun yang lainnya. Mengerti kamu?!"
"Tapi Pak Presdir sangat membutuhkan ibu, gimana dong?"
"Vony!"
"Siap iya Bu!"
Kamila tidak mau lagi mendengarkan ocehan asisten pribadi Luky Firmaji itu. Ia langsung menuju lift dan menekan angka 1. Ia ingin pulang ke Rumah mantan mertuanya. Ia ingin melaporkan apa yang sedang terjadi padanya saat ini.
Tring
Pintu lift terbuka dan menampilkan sosok Luky Firmaji di dalam kotak itu sendirian. Ia juga pasti ingin pulang sekarang karena memang sudah waktunya untuk pulang.
Kamila berdiri saja di depan pintu lift itu tanpa berniat untuk masuk. Ia sedang sangat kesal dan marah pada pria itu. Otaknya berputar dengan sangat cepat membayangkan pria jadi-jadian itu telah melakukan apa dengan mantan suaminya itu sebelum bertemu dengannya. Perasaan jijik kembali muncul dan bergolak dari dalam perutnya.
Luky Firmaji menunggu dengan tangan menekan tombol berhenti pada lift itu. Ia ingin sekali agar Kamila ikut masuk bersamanya.
"Bu, masuklah. Saya tidak bisa membayangkan kalau kotak besi ini akan berasap jika anda tidak masuk bersama Pak Presdir." Vony Dona berbisik pelan di belakangnya seraya mendorong tubuhnya ke dalam kotak besi itu.
Tring
Pintu lift pun tertutup dan mulai berjalan. Dua orang mantan suami istri itu tidak ada yang saling bertegur sapa. Semuanya diam hingga lift kembali berhenti dan terbuka pada lantai 2.
Beberapa karyawan yang sudah lama menunggu dan ingin masuk terpaksa mengurungkan niatnya karena ekspresi dingin yang ditunjukkan oleh Presiden Direktur itu benar-benar menakutkan.
Kamila sendiri hanya bisa tersenyum ramah pada semua karyawan itu. Perempuan cantik itu merasakan hawa panas begitu terasa dalam kotak besi itu.
Tring
Lantai tujuan mereka berdua pun akhirnya sampai. Dua orang itu keluar dan sama berjalan kearah mobil mereka yang sudah terparkir cantik di depan pintu. Kamila naik ke mobilnya dan melajukan kendaraannya ke rumah kediaman Rohan Firmaji sedangkan Luky sendiri mengarahkan kendaraannya berlawanan arah dengan mantan istrinya.
Ia sedang ingin menemui seseorang secara khusus dan pribadi. Mereka berdua sudah mengatur janji di sebuah tempat.
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading ya π