
"Bukan seperti itu Mil. Kami akui kalau telah salah dalam hal ini tapi tolong beri suamimu kesempatan nak. Cuma kamu yang bisa menolongnya." Sugiarti menjawab pertanyaan menantunya itu seraya menyentuh tangan Kamila.
"Apa yang bisa Aku lakukan Ma, semuanya sudah sangat jelas. Kak Luky tidak tertarik pada yang namanya perempuan. Ia lebih berhasrat pada sejenisnya."
"Apakah kamu pernah memancingnya Mil?"
"Maksud Mama apa? Aku tidak mengerti sama sekali." Kamila menatap wajah ibu mertuanya itu dengan tatapan bingung.
"Apakah kamu pernah tampil terbuka dihadapan suamimu nak?" Kamila terdiam dan mulai memikirkan perkataan ibu mertuanya.
"Maksud Mama adalah kamu memakai pakaian terbuka yang menunjukkan keindahan tubuhmu itu? Atau mungkin kamu tampil sangat, maaf-polos?" Sugiarti menatap mata menantunya yang nampak berpikir.
"Tidak Mama. Aku tidak pernah seperti itu. Pakaian Aku ya sehari-hari adalah daster dan tidak pernah memakai pakaian yang seperti Mama maksud. Memangnya kenapa Ma?"
"Nah itulah masalahnya Mila. Luky kan suamimu nak, kamu bisa melakukan apa saja yang mungkin bisa mengobati kelainan yang ia miliki. Hanya kamu Mila yang bisa melakukannya."
"Tidak Ma. Dua tahun Aku bersamanya dan ia tidak pernah sedikitpun menatapku dengan pandangan cinta. Dan Aku pikir tanpa pakaian terbuka pun Kak Luky akan melihatku kalau ia benar-benar ingin."
"Mil, tolonglah nak." Sugiarti kembali memohon dengan sangat. ia sampai mencium tangan menantunya itu dengan penuh kasih sayang. Baginya Mila adalah menantu yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri.
"Biarkan kami berpisah Ma. Kumohon. Biarkan Aku pergi dari Rumah ini. Aku tidak akan sanggup bersama dengan orang yang lebih memilih berselingkuh dengan seorang pria daripada belajar mencintaiku, hiks," ujar Kamila dengan hati yang mulai sakit kembali.
Jujur, selama dua tahun ini, ia sudah sangat sayang pada suaminya meskipun ia belum pernah dinafkahi secara batin.
Luky adalah pria yang sangat baik dan juga penyayang. Perhatiannya pada apa saja yang ia lakukan selama ini sudah sangat lebih dari cukup tapi dengan melihat sendiri kejadian beberapa jam yang lalu di depan matanya sendiri rasanya perutnya ikut bergolak karena jijik. Ia sungguh tidak bisa menerima yang terjadi.
"Baiklah, kalau itu keputusanmu nak, kami akan meminta Luky untuk membebaskanmu tapi jangan pernah keluar dari rumah ini. karena rumah ini adalah milikmu."
"Mama," Kamila langsung memeluk ibu mertuanya yang sangat baik itu.
__ADS_1
"Kami yang akan membawa Luky pergi darimu. Ia akan tinggal di Rumah kami atau mungkin ia akan kembali ke Luar negeri," putus perempuan paruh baya itu dengan hati yang sangat nyeri. Ia berusaha untuk menerima apapun takdir dari Tuhan. Meskipun ia berharap semesta masih akan memberikan mereka semua kebahagiaan.
"Anggap saja Luky adalah saudaramu sendiri Mil."
"Ah iya Ma, terimakasih banyak."
"Sama-sama sayang. Kamu anak yang baik. Semoga saja kamu mendapatkan jodoh yang baik yang mampu membahagiakanmu dunia akhirat," ujar Sugiarti dengan perasaan yang sangat sedih. Tangannya kemudian menyusut airmatanya sendiri.
"Sekarang temui Papa di luar. Kamu tidak perlu mengatakan hal ini padanya Mil. Mama takut ia tidak akan kuat menerima kenyataan pahit dari putra semata wayangnya."
"Ah iya Ma, terimakasih banyak. Semoga ini yang terbaik untuk kami berdua Ma," balas Kamila dengan perasaan yang tak kalah sedihnya. Andaikan ini hanya kesalahan biasa yang dilakukan suaminya padanya, ia mungkin akan memaafkan, tetapi apa boleh buat, ini terlalu fatal menurutnya.
Dua perempuan beda usia itu saling mengeringkan cairan bening yang baru saja tumpah ruah di pipi mereka kemudian segera keluar dari kamar itu. Rohan Firmaji pasti sudah lama menunggu keduanya di ruang keluarga.
"Saya hampir saja pulang sendiri karena kalian abaikan," gerutu pria paruh baya itu dengan wajah dibuat berpura-pura kesal.
"Ah Papa jangan begitu dong, nanti Mama pulang sama siapa kalau Papa tinggal," jawab Sugiarti seraya duduk disamping suaminya. Ia mengelus lembut tangan suaminya itu seraya berucap, "Wah kami berdua mengobrol lama ya, sampai Papa habiskan dua cangkir kopi, hehehe."
"Duduk sini Mil," panggilnya pada menantu kesayangannya itu. Kamila pun tersenyum kemudian duduk disamping kiri ayah mertuanya.
"Kalian berdua ngobrolin apa sampai mata bengkak seperti itu, Hem?" lanjutnya dengan sebuah pertanyaan yang membuat dua orang perempuan itu tercekat.
Mereka sudah sepakat untuk tidak menceritakan apa yang sudah terjadi pada pria yang menderita penyakit jantung itu.
"Cuma masalah perempuan Pa. Laki-laki tidak boleh tahu, iyyakan Mil?" Sugiarti cepat menjawab seraya menatap wajah menantunya dengan serius.
"Ah iya Pa. Hanya masalah perempuan," ujar Kamila dengan senyum diwajahnya. Ia membenarkan perkataan calon mantan ibu mertuanya.
"Baiklah kalau kalian tidak ingin berbagi. Saya akan ke kebun belakang. Kira-kira pohon rambutannya udah berbuah gak Mil?"
__ADS_1
"Ah Iya Pa. Aku juga tidak tahu. Udah lama gak kebelakang rumah."
"Emangnya suamimu ngelakuin apa saja sampai gak ngasih tahu keadaan kebun belakang?" Kamila meringis. Ia tidak harus berkata apa. Mereka berdua jarang membahas hal-hal remeh seperti itu.
Kamila dan Luky seperti dua orang rekan kerja yang sangat profesional. Mereka berdua duduk bersama hanya untuk membahas tentang perusahaan yang mereka berdua pimpin.
Kamila sebagai managernya sedangkan suaminya sebagai Presiden Direktur. Mereka berdua jarang berangkat bekerja bersama karena begitu banyaknya urusan lain dari seorang Luky Firmaji selain di Perusahaan.
"Ayo Ma, kita lihat kebunnya. Jangan-jangan Luky pun tidak pernah menengok tanaman yang pernah saya tanam lagi," panggil Rogan Firmaji kepada isterinya.
"Mil, Mama ikut Papa ya sayang, kamu istirahat saja. Dan ingat untuk selalu berprasangka baik," ujar Sugiarti dengan kaki mengikuti langkah suaminya ke arah pintu dapur yang mengarah pada kebun belakang Rumah.
"Wah, kebunnya ternyata rapih dan bersih Pa," ujar Sugiarti dengan tatapan takjub pada keadaan sekeliling kebun.
"Iya ya. Sepertinya Mang Udin yang merawat ini semua ya Pa?"
"Pastilah, kan dia tukang kebunnya. Kalau Luky kan tidak mungkin. Tapi ini kok barbel dan samsak ada semua di tempat ini ya Ma? Apa orang itu suka olahraga juga?"
"Ya bisa saja sih Pa, nanti deh kita tanyakan pada Luky atau istrinya. Dan juga gaji Mang Udin itu juga harus dinaikkan."
"Nah itu, rambutannya benar-benar sudah berbuah. Luky dari kecil suka sekali lihat buah rambutan yang masih di atas pohon Ma," ujar Rohan Firmaji dengan senyum bahagia diwajahnya.
"Nanti kita kasih tahu anak itu."
"Iya Pa," jawab Sugiarti dengan perasaan teriris. Sekali lagi ia merasa sedih karena putranya itu akan meninggalkan rumah itu dan isterinya.
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading π