
Andri Husain memburu seorang pria yang baru lewat di hadapannya. Pria yang ia yakini sebagai seorang pencopet itu sedang berlari dan dikejar oleh seseorang yang berteriak dengan jarak yang masih sangat jauh.
Bugh
Tentara yang berpangkat Prada itu menabrakkan sepeda motornya pada tubuh pria yang tidak mau berhenti dengan peringatannya itu.
"Aaaargh, brengsek!" pria terduga sebagai pencopet itu mengumpat dan segera berdiri. Ia meringis sakit pada lutut dan sikunya yang telah berhasil mencium aspal beton.
"Berikan tas itu!" titah Andri Husain dengan menengadahkan tangannya di depan pria itu.
"Heh siapa kamu?!" tanya sang pencopet dengan wajah marah. Ia tentu tidak Ingin menyerahkan tas yang ia yakini berisi banyak barang-barang berharga didalamnya.
"Aku aparat di tempat ini!" jawab Andri dengan tatapan tajam pada pria itu.
"Aparat?! cih!"
Bugh
"Aaaarg! Sial!' Pria itu kembali mengumpat karena tubuhnya kembali tersungkur di atas jalan aspal beton itu.
Andri Husain tersenyum miring. Ia benar-benar kesal pada pria itu yang berani tidak sopan pada aparat sepertinya.
"Berikan sekarang atau?!" Andri Husain memasukkan tangannya kedalam saku jaketnya berpura-pura sedang mengambil senjata untuk mengancam pria pencopet itu.
"Baiklah, ambil ini dasar aparat sialan!" pria itu melempar sebuah tas milik wanita padanya kemudian berlari pergi dasi tempat itu.
"Dasar kurang ajar! Awas kamu kalau kutemukan kembali beraksi di tempat ini!" Andri Husain balas mengumpat.
"Hhhhh, makasih ya," ujar seorang perempuan yang baru tiba di belakang sang tentara dengan nafas ngos-ngosan.
"Oh, ini tas kamu." Pria itu memberikan tas yang baru diterimanya dari tangan pencopet itu kepada perempuan itu.
"Ah ya Makasih sekali lagi ya," ujar perempuan itu yang tak lain adalah Vony Dona.
"Eh, kamu? bukannya kita pernah bertemu ya?" Andri memandang lurus gadis itu dengan wajah yang nampak sedang berpikir.
"Ah iya Hai. Kak Andri." Vony Dona langsung tersenyum dengan wajah yang berubah gugup.
"Apakah ini sebuah kebetulan atau kamu sedang ingin menemui seseorang Nona?!" Andri Husain menatap gadis itu dengan tatapan tajam.
Sejak dalam perjalanan ketempat itu ia menyusun puzzle-puzzle yang mengarahkan kecurigaannya pada gadis asisten dari Kamila itu.
__ADS_1
"Sedang ingin menemui seseorang." Vony Dona menjawab dengan mantap dan tegas. Saat ini ia sedang ingin mengungkapkan hal yang sebenarnya tentang identitas palsunya.
"Oh jadi kamu si Kamila Kawe?" tanya Andri Husain langsung pada inti permasalahan.
"Anda benar sekali Pak tentara." senyum Vony Dona dengan tatapan lurus pada pria tampan dihadapannya.
"Tapi apa maksudmu hah?!" Andri Husain tampak sangat emosi. Ia rasanya sangat ingin memberikan satu pelajaran penting pada gadis dihadapannya itu.
"Karena anda tidak boleh berhubungan dengan istri Bos saya. Itu sangat tidak dibenarkan Pak." Vony Dona menjawab dengan wajah yang sangat santai.
"Bagi anda pak, menjaga keutuhan NKRI adalah tugas dan tanggung jawab yang harus anda emban bukan? Tapi bagi saya menjaga keutuhan keluarga Pak Luky adalah tanggung jawab yang harus saya lakukan sebagai asisten pribadinya."
"Oh begitu ya? Terus kenapa kamu harus mengakui dirimu sebagai Kamila Nona sok bertanggung jawab?!" geram pria berpangkat Prada itu.
"Ya karena saya mau. Emangnya tidak boleh?"
"Kalau begitu kamu tetap harus jadi sosok manis dan suka menggoda seperti yang ada di dalam chat-chat mu itu."
"Hah? maksudnya?!" Vony Dona menatap pria dihadapannya dengan tatapan tak percaya.
"Iya. Kamu harus tetap membalas pesan-pesan aku dan berikan perhatian padaku seperti yang kamu lakukan selama ini. Tak ada yang berubah. Titik!"
"Hah?"
"Stop! memangnya anda siapa dan aku siapa? petugas dari dinas kesehatan atau dinas sosial?" Vony Dona mencibir.
"Kamu adalah pacarku mulai saat ini."
"Apa?!"
"Kamu tidak dengar? Aku adalah pacarmu Nona sok bertanggung jawab!"
"Gak mau. Aku gak mau jadi pacar tentara!"
"Kalau begitu kamu akan jadi istri tentara!"
"Ish!"
Dua orang itu masih terus berdebat sampai mereka kehausan dan memutuskan untuk mencari sebuah tempat untuk minum.
πΊ
__ADS_1
Sementara itu Kamila juga sedang ingin meminta penjelasan pada Papa dan Mama mertuanya tentang status pernikahannya dengan Luky Firmaji.
"Pa, Ma, Aku ingin membicarakan hal yang sangat penting di dalam kamar Kak Luky," ujarnya pada dua orang tua yang sedang asyik bercengkrama di bawah sinar bulan purnama malam itu.
"Eh, Mil. Pembicaraan penting apa sayang?" tanya Sugiarti seraya melepaskan diri dari pelukan Rohan suaminya. Kedua orang itu langsung menatap Kamila yang nampak gelisah. Sugiarti merasa ada sesuatu yang baru terjadi dengan mantan menantunya itu.
"Kamu tidak apa-apa kan sayang?" tanya perempuan paruh baya itu seraya memeluk bahu Kamila.
"Kak Luky Ma, eh kami, anu." Kamila tiba-tiba berubah gugup dan gelisah. Ia sampai meremas ujung gaunnya karena tidak tahu harus memulai dengan cara apa.
"Ada apa Mil, katakan yang jelas sayang. Kami tidak akan marah. Apa Luky berbuat ulah lagi dan kamu tidak nyaman?"
"Ah iya Ma. Eh tidak."
Sugiarti dan Rohan saling berpandangan karena semakin bingung.
"Kita ke kamarnya Kak Luky saja Ma. Aku ingin kita semua membicarakan ini." Rohan dan Sugiarti tersenyum kemudian mengikuti langkah Kamila memasuki rumah dan menuju ke kamar pribadi Luky sang putra.
Mereka bertiga masuk kedalam kamar itu dan memandang Luky yang sedang duduk di atas ranjang dengan memakai selimut dibagian bawahnya.
"Ma, Pa. maaf karena aku duduk di sini. Silahkan duduk. Dan Kamila, kamu duduk di samping aku sayang."
Sayang?
Rohan dan Sugiarti saling berpandangan dengan senyum samar dibibir mereka berdua.
"Kamila istriku Ma Pa jadi wajar kalau aku panggil sayang bukan?" Luky Firmaji sengaja menjelaskan mengapa ia menggunakan panggilan sayang pada Kamila karena ia yakin kedua orang tuanya itu pasti berpikir macam-macam.
"Mantan!" jawab Papa dan Mamanya bersamaan.
"Kamila adalah istriku dari sejak tiga tahun yang lalu Pa Ma. Demi Allah, Aku tidak pernah mengucapkan kata talak ataupun cerai padanya."
"Tapi nak?!" Sugiarti cepat-cepat menyela perkataan putranya itu.
"Waktu itu Kamila meminta cerai padaku tetapi Aku tidak pernah mengabulkannya. Dan ia juga tidak pernah menggugat ku di pengadilan Agama. Mama yang memaksa ku untuk pergi meninggalkannya. Dan itu berarti hubungan kami masih sah sebagai suami istri."
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading ya π