
Rohan Firmaji membaringkan tubuhnya di samping istrinya. Ia memiringkan badannya dan menghadapi Sugiarti yang juga sedang menghadap nya.
"Kenapa Pa?"
"Saya sangat bahagia sayang, Luky ternyata sudah sembuh dan itulah yang paling kita inginkan."
"Hem, iya. Saya juga bahagia Pa. Dan semoga keluarga mereka sakinah mawadah warahmah."
"Aamiin."
"Luky memang benar Pa, sejak dulu ia tidak pernah mau berpisah dengan Kamila. Tapi saya yang memaksanya. Itu karena saya terlalu shock waktu itu melihat Kamila menyaksikan sendiri apa yang dilakukanya dengan kekasih tak wajarnya itu," jelas Sugiarti.
"Saya terlalu kasihan pada Kamila hingga saya menyuruhnya meninggalkan rumah dan juga Kamila saat itu juga," lanjutnya dengan perasaan yang kembali kesal.
Siapa yang tidak akan marah jika membayangkan kembali peristiwa naas itu. Rasanya andaikan ia bisa memukul dan melukai putranya itu maka itu akan dilakukannya.
"Luky ternyata lebih dewasa dari yang saya pikirkan. Dan dari awal saya sudah yakin kalau ia sebenarnya menyukai istrinya, hanya saja ia mempunyai kekurangan dalam hal yang satu itu," imbuh Rohan seraya menarik nafasnya dalam-dalam.
"Iya Pa. Kita bisa lihat sendiri bagaimana dia yang sangat perhatian pada istrinya itu. Kalau soal nafkah lahir saya rasa Kamila pun bisa merasakannya. Tak pernah putus ia memberikannya pada istrinya itu. Hanya satu saja yang ia tidak mampu ia lakukan dan ternyata itu sangat fatal karena malah membuat masalah baru."
"Hem ya, saya sangat senang karena sepertinya kepergiannya selama ini justru membuatnya jadi sembuh dan ingin mengganti hari-hari yang hilang selama ini dengan istrinya." Rohan melanjutkan perkataan istrinya seraya tersenyum penuh arti.
Pria paruh baya itu sangat yakin kalau sang putra sedang menguji kemampuannya saat ini bersama dengan Kamila.
"Pa,"
"Hem,"
"Kenapa Ma? Apa kamu juga ingin menguji kemampuanku sayang?" Rohan mulai menggerakkan tangannya kearah wajah istrinya yang masih sangat cantik diusianya yang hampir mencapai setengah abad itu.
"Percaya Pa. Kamu masih sangat hebat dan kuat dalam hal itu. Dan yang pastinya sangat bisa membahagiakanku." Sugiarti tersenyum manis. Ia tahu betul arti tatapan dan sentuhan suaminya.
Ia pun meraih tangan besar suaminya itu kemudian mengecupnya lembut. Mereka berdua saling menatap, mengantarkan rasa haru dan bahagia yang mereka rasakan.
Kesembuhan Luky adalah nikmat yang tak terkira yang Tuhan berikan. Rohan pun menarik Sugiarti kedalam pelukannya.
Ia berterima kasih pada istrinya yang selama ini selalu setia menemaninya mendidik Luky sang putra semata wayang. Meskipun dalam perjalanannya anaknya itu pernah melakukan sebuah kesalahan yang sangat fatal.
__ADS_1
Mereka berdua akhirnya merayakan kebahagiaan itu dengan saling memadu kasih. Mengantarkan begitu banyak cinta yang mereka miliki diusia yang sudah tidak muda lagi itu.
Sementara itu kejadian yang sama pun terjadi di sebuah kamar di dalam rumah mewah itu. Suasana yang masih menguarkan aroma percintaan pengantin lama rasa pengantin baru itu kini masih sangat terasa.
Deru nafas lelah masih tampak kedengaran dari dua pasangan yang baru memadu kasih dengan sangat nikmat. Luky tak berhenti mengecup seluruh permukaan wajah istrinya dengan penuh perasaan. Belum lagi ucapan terimakasih tak berhenti ia ucapkan.
"Terimakasih banyak Mil, kamu sangat nikmat sayangku," ucap Luky seraya mengelus lembut kepala istrinya yang sedang bersandar di dada bidangnya.
Pria itu pernah melakukan hal yang seperti ini. Akan tetapi dengan sesama jenis. Dan itu tidaklah ia rasakan nikmat sama sekali. Yang ada adalah rasa yang sangat menjijikkan tetapi entah kenapa masih saja ia berkubang lama dengan hal itu. Mungkinkah karena itu adalah sebuah perbuatan yang dilaknat oleh Tuhan, ia sungguh tidak tahu.
Dan sekarang ketika ia melakukannya dari ciptaan Tuhan yang memang dipasangkan untuknya ia baru menyadari kalau ternyata rasanya sangat luar biasa. Hatinya tenang dan tidak merasa diburu oleh perasaan bersalah setelahnya.
"Kak, Aku boleh tanya sesuatu?" tanya Kamila dengan jari-jari menggambar sebuah lukisan abstrak pada dada bidang suaminya.
"Hem," jawab Luky singkat bagaikan gumaman. Ia terus saja mengelus punggung polos sang istri dengan tangan besarnya.
"Kak,"
"Ada apa sayang? Katakan apa yang ingin kamu tanyakan." Kamila langsung melepaskan dirinya dari rengkuhan pria tampan yang telah memberinya kenikmatan dunia yang sangat luar biasa itu.
"Katakan padaku Kak, bagaimana bisa ini semua yang terjadi." Kamila menatap suaminya itu dengan tatapan serius. Hingga Luky langsung tersenyum melihatnya.
"Kak, bukan itu maksud Aku."
"Lalu apa sayangku. Semua sudah terjadi. Apa kamu masih mau mengulanginya?" Tatap Luky dengan tatapan menggoda. Wajah Kamila langsung berubah warna. Ia jadi sangat malu karena merasa masih ingin mengulangi apa yang baru saja mereka lakukan.
"Kak, Aku serius. Katakan padaku bagaimana bisa kamu sembuh dan berhasrat padaku." Kamila berusaha untuk tidak terpengaruh dengan tatapan merayu suaminya.
Ia benar-benar sangat penasaran dengan perubahan yang terjadi pada seorang Luky Firmaji yang selama bersama dengannya tak sedikitpun berselera padanya.
"Aku berusaha sayang. Aku mendatangi psikolog dan juga guru spiritual. Mereka semua memberikan Aku dorongan untuk sembuh." Luky tersenyum kemudian meraih tangan istrinya itu dan mengecupnya lembut.
"Aku menghindari bergaul dengan pria yang tidak jelas. Aku banyak berolahraga dan menstimulasi otak aku untuk selalu memikirkan yang indah-indah khususnya perempuan yaitu kamu."
"Aku terus memohon ampun pada Tuhan dengan melakukan sholat taubat. Dan Aku minta pada Vony Dona untuk mengirimkan apa saja kegiatanmu padaku. Dari kamu bangun tidur sampai tidur lagi."
"Hah? jadi Kak Luky mengawasi semua yang aku lakukan?" Kamila menatap tajam pria dihadapannya itu dengan wajah tak percaya.
__ADS_1
"Kamu Istriku Kamila. Aku harus menciptakan kemistri yang kuat padamu sayang. Supaya kamu menjadi penyemangatku untuk sembuh."
"Lalu? Sejak kapan kakak merasa sudah sembuh?"
"Sejak Aku memintamu membuka handuk mu dalam video call itu sayang. Juniorku langsung bangun dan sangat menginginkanmu."
"Ya ampun Kak," Kamila langsung memeluk suaminya itu dengan wajah yang sangat bahagia. Ia mengucapkan banyak kalimat syukur atas Rahmat yang Allah limpahkan pada mereka berdua.
"Mil,"
"Hem,"
"Kamu bisa merasakan kalau ia mau lagi sayang?"
"Gak,"
"Mil,"
"Plis."
"Gak Kak, aku lelah. Masih sakit."
"Kamu tega sayang."
"Hahahaha." Kamila langsung tertawa karena suaminya menggelitik perutnya.
"Kakak ampun, iyaaa.."
"Iyaaa apa..."
"Iya itu..."
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading π