
Luky Firmaji segera meninggalkan Perusahaan karena tidak mendapati istrinya itu ada didalam ruang kerjanya. Ia yakin sekali kalau Kamila sudah melihat berita tentangnya.
Dengan langkah cepat ia memasuki Rumahnya dan mencari Kamila di dalam kamarnya. Akan tetapi ia tidak menemukan perempuan itu di sana. Ia mencoba menelpon tetapi perempuan itu tidak juga menjawab panggilannya.
"Nyonya Kamila tadi pergi dari sini Tuan," ujar Laras yang tiba-tiba saja sudah berada di dalam kamarnya. Asisten Rumah Tangga yang masih muda itu langsung menghampiri Luky yang sedang duduk di bibir ranjangnya.
"Tuan, Aku bisa menggantikan Nyonya muda untuk memberimu kepuasan," lanjut Art itu dengan tangan bergerak ingin menyentuh lengan Luky. Pria itu menatap tajam Asisten Rumah Tangga yang tidak tahu malu itu.
"Singkirkan tanganmu!" geram Luky dengan rahang mengeras. Laras tidak peduli. Ia tetap saja menyentuh lengan pria itu dengan tatapan menggoda. Selama ini ia sudah berhasil menggoda banyak majikan dan ia selalu berhasil.
Luky Firmaji adalah targetnya saat ini, niatnya bukan lagi karena ia ingin uang. Akan tetapi ia sudah sangat jatuh cinta pada pria itu.
"Tuan, Aku bisa memberimu banyak hal yang mungkin tidak diberikan oleh Nyonya muda. Jadi tolong biarkan saja dia pergi dari sini ya?" Luky Firmaji langsung berdiri dari duduknya. Tangannya dengan cepat memberikan satu pelajaran penting untuk perempuan tidak tahu malu itu.
"Aaargh!" Laras berteriak tertahan karena kesakitan. Rambutnya ditarik dengan keras oleh Luky Firmaji.
"Keluar kamu dari rumahku!" Pria itu menarik rambut panjang perempuan itu dan baru ia lepaskan ketika sampai di luar kamarnya. Ia tidak peduli kalau perempuan itu memohon ampun dan berteriak kesakitan.
"Luky, apa yang kamu lakukan nak?" Sugiarti langsung meraih Laras yang terjatuh ke lantai. Ia membantu Asisten Rumah Tangga itu untuk bangun.
"Pecat dia sekarang juga Ma! Aku tidak ingin ia berada di dalam Rumah ini!" Luky menunjuk wajah Laras dengan tatapan tajam..
"Luky, apa salah Laras sayang? dia kan sudah banyak membantu kita." Sugiarti masih juga membela perempuan itu. Ia hanya yakin Luky sedang stres dengan masalah pemberitaan itu hingga Laras yang jadi korban.
__ADS_1
"Sudahlah Ma. Yang penting Aku tidak akan kembali ke rumah ini jika perempuan kurang ajar ini masih tinggal di sini!" tegas Luky kemudian segera meninggalkan tempat itu. Ia harus mencari Kamila di rumahnya sendiri saat ini.
πΊ
"Alhamdulillah, Nyonya akhirnya pulang juga," ujar Mak Siti dengan wajah bahagianya. Beberapa hari tidak bertemu dengan majikannya ini membuatnya merasa rindu juga. Ia sangat kesepian tinggal sendiri di Rumah mewah itu.
Kamila Hanya tersenyum tipis kemudian menyalami Perempuan tua itu. Ia langsung masuk ke kamarnya untuk mengambil semua pakaiannya. Ia ingin pulang kampung dan bertemu dengan kedua orangtuanya. Rasanya ia kembali merasa sangat jijik pada suaminya.
Meskipun ia tampak tak terpengaruh dan membela suaminya di depan semua orang, akan tetapi hatinya ternyata tidak sekuat itu. Potongan video yang menunjukkan bagaimana pria jadi-jadian itu bersama kembali dengan suaminya tak bisa lagi ia maafkan.
Cukup! ia tidak bisa lagi menahan dirinya. Ia akan pergi dari rumah itu. Ia merasa ditipu dan dipermainkan oleh Luky Firmaji yang katanya sudah sembuh itu.
"Nyonya mau pergi lagi?" tanya Mak Siti yang sedang membawakan jus jeruk kesukaan majikannya itu. Perempuan tua itu sedang memperhatikan Kamila sedang memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam sebuah koper besar.
"Iya Mak. Aku lagi rindu banget sama Ibu dan Ayah." jawab Kamila dengan suara tercekat. Sekali lagi ia mengeluarkan suaranya maka dipastikan suara tangis dan airmata lah yang akan keluar.
Kamila menghentikan aktivitasnya memasukkan pakaiannya ke dalam koper besar dihadapannya. Ia menarik nafas panjang. Tangannya menyusut air matanya yang ternyata sudah berhasil keluar tanpa permisi.
"Mak." Kamila membalik tubuhnya dan memeluk perempuan tua itu. Tangisnya pecah. Tak ada lagi yang ingin ia simpan di dalam hatinya. Atau dadanya akan meledak karena sesak.
"Gimana kalau Nyonya istirahat dulu. Gak baik memutuskan sesuatu saat sedang marah. Kita tunggu Tuan muda."
"Mak, hatiku sakit sekali. Aku gak mau bertemu Kak Luky lagi. Aku benci padanya." Kamila mendudukkan tubuhnya di atas ranjang. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Perasaannya sangat hancur saat ini. Rasanya ini lebih menyakitkan daripada saat ia belum menyatakan cinta pada suaminya.
__ADS_1
"Aaaaaah!" Kamila berteriak tertahan seraya memukuli dadanya yang terasa sangat sesak. Setelah itu ia meminum habis jus jeruknya dan merapikan rambut dan pakaiannya.
Mak Siti hanya melihatnya dengan perasaan harap-harap cemas. Ia khawatir kalau majikannya itu benar-benar pergi dari rumah itu.
"Aku pergi Mak. Kalau memang Kak Luky merasa bersalah maka ia akan meminta maaf padaku dan memintaku pada ayah dan ibu. Jaga rumah ya," ujar Kamila dan segera mengangkat koper nya ke atas lantai. Ia pun menarik pegangannya dan berjalan meninggalkan kamar itu.
"Nyonya, saya ikut saja ya, tinggal di rumah besar ini sendirian bikin takut dan seram." Mak Siti menahan langkah majikannya itu dengan mendahului langkahnya sebelum sampai ke pintu utama Rumah itu.
"Hum, baiklah Mak. Aku tunggu di sini. Bawa pakaian Mak secukupnya saja," ujar Kamila dengan perasaan campur aduk. Mak Siti tersenyum senang. Ia langsung menuju kamarnya untuk mengambil beberapa pakaian dan barang berharganya.
Ia tak menyangka akan meninggalkan rumah itu setelah tiga tahun bekerja di sana. Setelah selesai bersiap. Ia pun keluar dari kamarnya dengan perasaan sedih.
"Saya sudah siap Nyonya." Mak Siti berdiri di hadapan Kamila yang tampak masih menangis. Ia pun ikut duduk di samping majikannya itu dan mengelus tangannya.
"Kita pergi setelah Nyonya tenang ya. Perjalanan kita panjang dan lama kalau perasaaan Nyonya tidak baik takutnya kita bisa terhambat di perjalanan," ujar Mak Siti memberi pendapatnya. Kamila tersenyum. Meskipun hatinya sangat sakit tetapi ia merasa masih sangat waras dan sadar untuk mengemudi ke kampung halamannya yang berjarak 5 jam perjalanan.
"Bismillah, Ayo Mak kita berangkat sekarang." Kamila berdiri dari duduknya dan mengajak Asisten Rumah Tangga nya itu untuk meninggalkan tempat itu.
"Mau kemana?" Langkah mereka terhenti karena tiba-tiba saja Luky Firmaji berdiri di depan pintu dan menatap mereka berdua dengan tatapan tajam.
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading π