Janda Tak Bolong

Janda Tak Bolong
Bab 19 Sebuah Rasa


__ADS_3

Luky Firmaji memandang ke sekeliling ruangan rumah itu dengan senyum diwajahnya. Tak ada yang berubah dari sejak terakhir ia menginjakkan kakinya di rumah itu. Letak barang-barangnya masih berada di tempat yang sama.


"Tuan, mau saya bikinkan minuman?" Suara Mak Siti dari arah belakangnya membuatnya tersentak kaget. Ia pun memandang perempuan paruh baya itu dengan senyum diwajahnya.


"Iya Mak. saya haus."


"Baik." Mak Siti langsung bergegas ke dapur dengan perasaan bahagia. Ia sangat menyayangi Luky Firmaji seperti anaknya sendiri. Sejak pria itu masih sangat kecil ia sudah bekerja di rumah keluarga Rohan Firmaji.


Dan ketika putra semata wayang keluarga Firmaji itu menikah dan mempunyai rumah sendiri. Sugiarti memintanya untuk ikut untuk membantu semua urusan kedua pasangan itu.


"Mak Aku juga mau minum, sekalian ya, hehehe," kekeh Kamila ikut memesan minuman saat melihatnya berjalan ke arah dapur.


"Siap Nyonya."


"Kak, Aku ke kamar ya, anggap rumah sendiri hehehe," kembali Kamila berucap dengan suara terkekeh.


"Iya Mil." Luky hanya tersenyum seraya memandang kepergian mantan istrinya itu dari hadapannya. Ia sendiri melanjutkan melihat-lihat ruangan-ruangan di dalam rumah itu seperti mencari-cari sesuatu.


"Minumnya Tuan." Mak Siti ternyata mengikutinya seraya membawa sebuah nampan berisi jus jeruk kesukaannya dan Kamila.


"Ya ampun Mak. Aku jadi merepotkan nih," ujarnya dengan perasaan tak nyaman. Tangannya segera meraih nampan itu dan meletakkannya di atas meja agar tangan tua Mak Siti tidak kelelahan.


"Merepotkan bagaimana? Ini kan tugas saya Tuan. Minum dulu gih."


"Iya Mak. Terimakasih banyak." Pria itu pun duduk kemudian meraih satu gelas tinggi dan meneguknya dengan rakus. Nampak betul kalau ia memang sangat kehausan.


"Bawa saja minuman Kamila ke kamarnya. Aku ingin ke kebun belakang." Ia pun berdiri dari duduknya dan meninggalkan Mak Siti yang memandangnya dengan perasaan yang sangat bahagia.


"Ah iya Tuan, silahkan. Kebunnya masih sangat terawat kok."


"Iya Mak. Kalau pemilik rumah ini mencari ku bilang saja aku ada di belakang."


"Baik Tuan," jawab perempuan tua itu kemudian membawa nampan yang berisi minuman jus jeruk itu ke kamar Kamila.


Tok


Tok

__ADS_1


"Saya membawa minumannya Nyonya," ujar Mak Siti seraya melangkahkan kakinya ke dalam kamar majikannya itu.


"Lho Kak Luky dimana? Kenapa minumannya dibawa ke kamar ini Mak?" Kamila memandang Mak Siti yang masih memegang nampan itu ditangannya.


"Tuan sudah minum Nya. Ia lagi ke kebun belakang sekarang."


"Oh begitu? pasti lagi rindu sama pohon rambutannya ya, hehehehe," kekeh Kamila dengan wajah yang tampak sangat senang.


Perempuan itu tahu betul kalau setiap punya waktu kosong pria itu selalu mengunjungi kebun belakang. Sampai ia sering bertanya-tanya ada apa di kebun belakang itu.


Mak Siti meletakkan nampan yang ia bawa sejak tadi. Ia menyimpannya di atas meja di dalam kamar itu. Setelah itu Ia pun duduk dan memperhatikan wajah Kamila yang tampak sangat segar dan juga senang.


"Tuan Luky tampak sangat berbeda ya Nya?" ujar Mak Siti dengan senyum diwajahnya. Ia ingin tahu bagaimana perasaan perempuan cantik itu pada mantan suaminya itu. Kamila langsung tersenyum kemudian mengangguk.


"Memangnya Mak juga memperhatikannya ya?"


"Tentu saja Nya. Saya melihat Tuan Luky itu sejak ia masih kecil dan saya sangat tahu bagaimana sifatnya. Akan tetapi sekarang ia tampak berbeda. Apa mungkin ia...?" Mak Siti sengaja tidak melanjutkan kata-katanya dan ingin tahu apakah yang ada dipikirannya sama dengan yang dipikirkan oleh Kamila.


"Mak, aku mau mandi dulu ya. Kita tidak perlu membahas ini. Kalau Kak Luky mau makan dikasih aja ya Mak." Kamila langsung mengalihkan pembicaraan. Ia belum bisa meraba perasaannya saat ini.


"Iya Nyonya." Mak Siti pun keluar dari kamar itu dengan hati yang sangat kecewa. Ia berharap sekali kalau Kamila masih mau menerima lagi Luky sebagai suaminya tetapi sepertinya itu tidak mungkin terjadi. Luka karena dikhianati pasangan memang sangat sulit untuk disembuhkan.


"Mak, kebunnya benar-benar terawat ya, apa Kang Kosim selalu datang membersihkannya?" Luky Firmaji tiba-tiba saja muncul di dalam dapur saat perempuan tua itu sedang menata makanan di atas meja makan.


"Iya Tuan. Kang Kosim juga sangat menyukai kebun itu seperti anaknya sendiri hehehe," kekeh Mak Siti dengan wajah lucu.


"Ah Mak bisa saja. Memangnya anak bisa disamakan dengan kebun?"


"Mak kan hanya menirukan kata-kata Mang Kosim kalau lagi ada di belakang." Mak Siti membela dirinya dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.


"Iya Mak." Luky pun menarik kursi di meja makan itu kemudian mendudukkan tubuhnya.


"Boleh minta makan Mak?" tanya pria itu dengan mata memandang ke semua menu kesukaannya yang sudah siap di atas meja.


"Apakah Tuan harus minta izin di rumah sendiri?"


"Rumah ini bukan lagi milikku Mak. Aku hanya tamu yang mungkin tidak diharapkan oleh yang punya rumah," jawab pria itu dengan wajah yang tiba-tiba tampak murung.

__ADS_1


"Kalau Aku tidak mengharapkan kak Luky datang kesini harusnya pintu tadi ditutup. Iyyakan Mak?" timpal Kamila yang langsung ikut duduk di hadapan pria itu.


"Lagipula rumah ini kan sebenarnya milik Kak Luky. Aku yang cuma numpang di sini."


"Eh kok pada baper sih hehehe," jawab Mak Siti dengan bibir kembali tersenyum. Luky langsung menatap mata Kamila dengan tangan meremas tengkuknya tak nyaman. Kamila sendiri merasakan tatapan mantan suaminya itu menunjukkan sesuatu yang terasa sangat berbeda.


"Wah Mak Siti sekarang lebih gaul lagi ya, sampai tahu juga apa itu baper." Kamila dengan cepat menimpali perkataan Mak Siti untuk mengalihkan perasaannya yang tiba-tiba saja merasa sangat aneh.


"Itu kan karena Mak ini ingin merasakan juga perasaan anak muda seperti Tuan dan Nyonya." Mak Siti segera keluar dari dapur itu untuk memberi waktu dua orang mantan suami istri itu untuk berdua saja.


"Aku sama Mak Siti biasanya makan disini berdua. Kami sudah tidak pernah lagi makan di ruang makan."


"Oh," ucap Luky singkat. Ia tahu kalau Kamila mungkin akan membahas lagi masa lalu yang sangat menyakitkan itu.


"Kak Luky belum makan bukan? Ayok makan dulu. Mak Siti selalu bilang kalau makanan ini kesukaan Kakak."


"Iya. Terimakasih banyak Mil."


Dua orang itu pun makan bersama dengan ekspresi yang kembali sangat canggung. Tak ada yang mereka katakan sampai mereka selesai menikmati hidangan dari Mak Siti.


"Aku pulang Mil," pamit pria itu setelah selesai makan.


"Iya Kak."


Kamila pun kembali ke kamarnya setelah Luky Firmaji berpamitan untuk pulang.


Alhamdulillah


Hatinya sangat senang karena ia tidak lagi merasa dendam dan sakit hati pada pria itu. Akan tetapi kenapa ia sangat gelisah saat mata mereka berdua berada pada titik yang sama.


Apa yang terjadi padaku Tuhan?


🌺🌺🌺


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2