
Sebelum mereka semua berangkat ke Rumah Andri Husain, Kamila ingin membuktikan kecurigaannya pada kondisi tubuhnya. Ia segera mengambil beberapa alat untuk mengetes kehamilan yang sudah dibelikan oleh Vony Dona.
Perempuan itu berdoa dengan benar sebelum membuka matanya. Dan sebuah senyum lebar pun muncul di bibirnya saat melihat garis dua pada alat itu. Ia keluar dari kamar mandi kemudian memeluk Luky dengan perasaan yang sangat senang.
"Kak, Aku hamil anakmu. Alhamdulillah. Allohu Akbar." Luky tak kalah bahagianya. Pria itu langsung mengucapkan kalimat syukur yang sama dan menciumi seluruh permukaan wajah sang istri.
"Aku sangat bahagia sayang. Terimakasih banyak sudah mau menerima benihku di dalam kandunganmu." Luky berlutut dan mencium perut Kamila yang masih sangat rata.
"Kita akan ke dokter Kak supaya lebih akurat dan terpercaya dengan pemeriksaan dan cek laboratorium," ujar Kamila seraya mengelus lembut kepala suaminya yang masih setia berada didepan perutnya.
Luky terus menciumi perut istrinya seraya mengeluarkan air mata bahagia. Ia sangat bersyukur karena Allah memberinya kesempatan untuk mempunyai keturunan setelah banyaknya dosa yang sudah ia kerjakan selama ini.
"Kak, kamu menangis?" tanya Kamila dengan suara pelan. Ia merasakan kalau suaminya sedang terisak-isak.
"Tidak sayang. Aku hanya terharu dan sangat bahagia. Kita harus bersedekah pada orang yang kita temui hari ini sayangku. Mereka semua harus bahagia seperti kebahagiaan kita Mil." Pria itu pun berdiri seraya menghapus airmatanya.
"Iya kak. Ayo cepetan kita ke rumah Kak Andri. Aku sudah tidak sabar memakan jambu itu dan melihat Kak Andri memanjat pohonnya." Kamila berucap kemudian mengambil tasnya.
Semua uang cash yang ada di dalamnya akan ia sedekahkan. Mereka berdua pun keluar dari kamar itu dan menemui semua orang yang sudah menunggu dengan harap-harap cemas.
"Bismilah Ibu, terima ini ya," ucap Kamila dengan senyum lebar diwajahnya. Orang pertama yang ia berikan uang atau sedekah adalah ibunya sendiri. Yaitu orang yang paling terdekat dengannya.
"Ini untuk apa Mil?" tanya Cahaya dengan wajah penasarannya.
__ADS_1
"Sedekah Ibu. Untuk rasa bahagia dan syukur yang kami rasakan."
"Apakah hasilnya positif sayang?" tanya Cahaya dengan mata berkaca-kaca.
"Alhamdulillah iya Ibu. Aku mengandung dan akan segera memberimu cucu."
"Masya Alloh. Semoga kamu sehat, begitu pun dengan janin mu sayang," ucap sang ibu seraya meraih Kamila kedalam pelukannya.
"Aamiin. Terimakasih banyak ibu." Kamila membalas seraya melepaskan pelukan ibunya. selanjutnya ia memberikan sedekah pada ayahnya, kemudian Mak Siti, Vony Dona dan juga Andri Husain.
"Mohon maaf. Jangan lihat jumlahnya ya, karena kita akan berbagi pada siapa saja yang kita temui di sepanjang jalan menuju rumah Kak Andri."
"Ya gak apa-apa Bu. Kami gak dikasih pun udah bahagia sekali," ujar Vony Dona dengan senyum diwajahnya.
"Baiklah, kita berangkat sekarang ya Kak," ujar Kamila dengan maksud meminta pendapat dari suaminya. Luky tersenyum kemudian menjawab "Iya."
"Eh kamu Kamila 'kan?" tanya seorang perempuan yang ia temui dijalan. Kamila langsung menyerahkan sebuah amplop putih pada perempuan itu sebelum menjawab pertanyaannya.
"Eh ini apa?" tanya perempuan itu dengan wajah bingung. Ia mengangkat tinggi-tinggi amplop itu di depan cahaya matahari seolah-olah ingin menebak isinya.
"Iya, kamu Desi 'kan? Teman SMA dulu?" Kamila tersenyum kemudian balik bertanya.
"Itu sedekah," lanjutnya untuk menjawab pertanyaan perempuan itu.
__ADS_1
"Iya Aku Desi. Oh jadi ini sedekah ya? Oh iya Aku dengar kalau kamu sudah sangat kaya ya sekarang. Rumah ibumu saja kayak istana gitu. Tapi Kok sedekahnya cuma sedikit?"
"Maaf ya. Kami sedang ingin mencari jambu kristal. Jadi kami sedang tidak bisa berlama-lama disini." Luky Firmaji segera menyela pembicaraan dua perempuan itu. Ia tahu kalau perempuan yang mengaku sebagai teman SMA istrinya itu bukanlah teman yang baik.
"Oh iyaa Maaf ya Mas, suaminya Mila Ya?" Desi memperhatikan pria dihadapannya dengan senyum menggoda. Ia sepertinya sangat tertarik dengan suami Kamila itu.
"Maaf ya Des.Kami sedang buru-buru," Andri Husain ikut menimpali. Ia sangat tahu bagaimana Desi. Seorang perempuan yang tidak pernah senang melihat kebahagiaan orang lain.
"Eh, Mas Andri juga ada disini. Enak banget si Mila. Bisa mendapatkan dua pria tampan dan mapan. Kasih aku tipsnya dong Mil."
"Maaf ya." Luky sudah tidak sabar. Ia segera meraih tangan istrinya dan melanjutkan perjalanannya.
Ia tidak ingin perasaan istrinya terganggu dengan kata-kata yang sangat tidak bertanggung jawab dari orang seperti Desi. Mereka semua segera meninggalkan Desi yang mencibir kesal.
"Uh sombong! Mentang-mentang cantik dan kaya. Tapi eh sedekahnya cuma bisa beli gincu!" Gadis itu berteriak keras dengan perasaan cemburu dihatinya.
"Jangan dipikirkan Bu." Vony Dona ikutan bersuara setelah jadi penonton saja.
"Gak kok, mana mau aku pikirkan orang seperti itu. Lebih baik aku membayangkan makan Jambu kristal sembari memandang pacarmu manjat pohon jambu yang tingginya tidak seberapa hahahaha," jawab Kamila dengan tawa renyahnya. Mereka semua ikut tertawa kecuali Andri Husain tentunya. Ia merasa kalau ia saat ini sedang dikerjai oleh mantan kekasihnya. Tapi tak apa demi perempuan ngidam akan ia lakukan.
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading π