Janda Tak Bolong

Janda Tak Bolong
Bab 14 Butuh Belaian


__ADS_3

Kamila membuka pintu ruangan itu dengan perasaan yang kembali mengharu biru. Ia langsung mendatangi kedua orangtuanya.yanh sedang duduk di dalam ruangan itu. Ia menyalami dan memeluknya dengan penuh kerinduan.


"Bagaimana kabarmu Ibu, Ayah?" tanyanya dengan tangan kembali menyusut airmatanya.


"Alhamdulillah, kami berdua sehat nak. Kamu gimana? Kok nangis sih?" Cahaya yang menjawab langsung meraih beberapa lembar tissue untuk ia berikan pada putrinya.


"Alhamdulilah sehat Bu. Aku sangat senang dengan kedatangan kalian sampai tak kuat menahan air mata seperti ini." Kamila berkata seraya berusaha untuk tersenyum. Cairan bening masih saja terus memaksa keluar dari pelupuk matanya.


"Maafkan Kamila Ibu, Ayah, karena udah beberapa bulan ini tidak pulang kampung dan menemui kalian."


"Ah tidak masalah. Kami sangat mengerti kok. Kamu dan suamimu kan banyak pekerjaan." Cahaya memeluk putrinya itu dengan penuh kasih sayang sampai Kamila sekali lagi meledakkan tangisnya. Pelukan seperti ini yang sangat ia harapkan untuk menenangkan perasaannya yang sedang tidak baik-baik saja.


"Terimakasih banyak Ibu Ayah atas pengertianmu."


"Ibu tadi ke rumahmu tapi kata Mak Siti kamu sudah berangkat bekerja jadi akhirnya kami menyusul kamu ke sini."


"Bagaimana kabar suamimu nak? Bukankah kalian bekerja di tempat yang sama? Dimana dia Mil?" Kali ini Untung, sang Ayah yang ikut nimbrung dalam pembicaraan kedua perempuan yang sangat dekat dengannya itu.


Kamila menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Ia berharap apa yang akan dikatakannya ini tidak akan membuat dua orang yang sangat disayanginya itu tidak akan kaget.


Tok


Tok


Ketiga orang itu mengarahkan pandangannya ke arah pintu yang sedang diketuk dari luar ruangan itu.


"Mohon maafkan saya Bu, seorang investor dari luar negeri sudah tiba dan sedang menunggu di ruangan kerja Ibu." Amanda tiba-tiba saja menyela pembicaraan mereka hingga Kamila tidak jadi menjawab pertanyaan dari kedua orangtuanya.


"Ibu, bapak, duduk aja di sini, Aku sedang ada pekerjaan. Jadi aku tinggal dulu ya, maafkan Aku." Kamila segera melepaskan pelukan ibunya kemudian berdiri dari duduknya. Ia juga merapikan penampilannya dan bersiap untuk keluar dari ruangan itu.


"Mil, kamu nampak sangat cantik sayang dengan penampilan barumu itu." Cahaya memandang takjub dengan perubahan yang terjadi pada putrinya itu.

__ADS_1


"Apakah ada kabar baik sayang? Biasanya kalau seorang istri tampak sangat cantik seperti ini, perasaannya pasti sangat senang. Kami harap kamu sudah mulai hamil juga," ujar Cahaya dengan tatapan tak lepas dari wajah putrinya.


"Ah Ibu bisa saja. Aku memang cantik kok dari dulu. Memangnya ibu tidak menyadarinya ya hehehe," Kamila terkekeh kemudian mencium pipi perempuan yang telah melahirkannya itu.


"Semoga suamimu juga selalu menyadari ini Mil agar hubungan kalian lebih erat lagi," lanjut Cahaya dengan senyum diwajahnya.


Kamila langsung tersenyum kecut. Kalau ia ingat Luky Firmaji sang suami maka perasaan kesal, marah lah yang selalu muncul dari dalam hatinya.


"Sudah, sudah, kamu menghalangi saja putrimu untuk bekerja. Lanjutkan saja pekerjaanmu Mil. Kami juga tidak bisa berlama-lama di sini." Untung segera menyela pembicaraan dua perempuan itu yang tidak ada habisnya membicarakan ini dan itu padahal seorang tamu sedang menunggu Kamila.


"Ah Ayah. Ini karena Ibu masih sangat rindu pada putriku ini."


"Sudah Mil, jangan ladeni ibumu. Segera temui tamu itu karena kami juga ingin berkunjung ke Rumah besan."


Deg


Perasaan Kamila semakin berubah kacau. Ia tersenyum kemudian berpamitan pada ayah dan Ibunya. Dan mengenai statusnya yang pastinya akan diketahui oleh kedua orangtuanya cepat atau lambat ia serahkan semuanya pada Tuhan saja.


"Iya Ibu."


"Okey deh makasih ya Manda," ujarnya dengan senyum diwajahnya. Perempuan cantik itu pun membuka pintu ruangan kerjanya. Ia mendapati seorang pria tampan dengan balutan jas mahal ditubuhnya sedang tersenyum padanya.


"Selamat siang Bu Kamila Regina Putri," sapa pria itu seraya mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan manager cantik itu.


"Selamat siang, maaf ini Bapak Aqram Pratama?" Kamila membalas jabatan tangan pria itu dengan alis terangkat.


Ia sedang berusaha mengenali pria dihadapannya ini dengan baik. Pasalnya Presiden Direktur lah yang seharusnya menemui investor ini dan bukannya dirinya.


"Ingatan Bu Kamila ternyata masih sangat bagus.


Saya Aqram teman SMP mu dulu Mil," ujar pria itu tanpa mau melepaskan tangan perempuan cantik itu. Kamila langsung tersenyum kemudian menarik tangannya.

__ADS_1


"Ah, ya Aqram Pratama. Maaf ingatanku sebenarnya tidak sebagus yang bapak Aqram pikirkan, hehehe," kekeh Kamila seraya menutup mulutnya untuk tidak tertawa lebar. Ia sebenarnya hanya menebak-nebak saja tetapi ternyata benar.


"Saya juga adalah kenalan Pak Luky Firmaji di Luar negeri dan ia yang mengarahkan saya untuk berinvestasi di Perusahaan ini."


"Ah ya kalau begitu silahkan duduk Pak Aqram kita akan membicarakan tentang pekerjaan." Kamila mempersilahkan tamunya itu untuk kembali duduk di kursinya sedangkan dirinya akan mempelajarinya beberapa berkas MOU dengan pria itu.


"Santai saja Mil. Saya sebenarnya belum ingin membahas tentang pekerjaan. Saya baru tiba di negara ini. Dan kurasa kamu bisa menemani saya untuk makan siang."


"Eh? maksud anda apa Pak Aqram?" tanya Kamila dengan wajah berubah serius. Layar laptop yang ia hadapi kini ia tinggalkan dan menatap lurus pada pria yang sedang duduk di hadapannya.


"Kamila, kamu tahu kenapa saya mau berinvestasi di Perusahaan ini?" Aqram Pratama balas menatap wajah Kamila dengan tatapan lain dari yang lain. Kamila tidak menjawab tetapi segera mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia merasa aneh dengan tatapan pria yang mengaku sebagai temannya waktu di SMP itu.


"Karena saya ingin bertemu kamu. Saya sudah lama menantikan hal ini Mil."


"Apa yang anda katakan Pak Aqram. Saya bersedia menemui anda karena urusan pekerjaan. Jadi kalau bukan karena itu silahkan anda keluar dari ruangan ini!"


"Kamila, saya tahu siapa Luky Firmaji. Sejak saya tahu kalau kamu adalah istrinya, saya sudah yakin kalau kamu akan menderita. Ia tidak akan mungkin bisa membahagiakanmu."


"Apa urusannya dengan anda Pak Aqram. Itu adalah urusan pribadi saya jadi anda tidak perlu membahasnya di sini." Kamila berdiri dari duduknya. Ia berharap dengan reaksinya yang seperti itu bisa membuat pria itu sadar diri dan meninggalkan ruangan kerjanya


"Mil, saya bisa memberikan apa yang tidak diberikan oleh suamimu." Aqram Pratama pun berdiri dari duduknya dan segera meraih tangan perempuan cantik yang sudah lama ingin ia peristrikan itu.


"Anda tidak sopan Pak Aqram!" sentak perempuan itu berusaha melepaskan tangannya dari pegangan tangan pria itu. Tapi ternyata Aqram tidak juga mau melepaskannya. Ia menggenggamnya dengan sangat erat dan bahkan berani mengelusnya.


"Kamu membutuhkan belaian Mil, saya sangat tahu itu. Saya tahu betul bagaimana suamimu jadi kamu tidak usah segan padaku, Okey?"


🌺🌺🌺


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2