
"Mohon maaf Bu. Apakah Pak Aqram melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan pada Ibu?" tanya Amanda dengan wajah khawatir. Pesan darurat yang ia dapatkan sangat terlambat ia baca hingga mungkin kejadian yang tidak diinginkan sudah terjadi pada Managernya itu.
"Tidak apa-apa Manda. Orang itu juga sudah pergi kok. Jadi kamu tidak perlu khawatir."
"Ah iya, Bu. Syukurlah kalau memang begitu adanya. Apa ibu membutuhkan sesuatu?"
"Tidak Manda. Aku hanya butuh istirahat. Kamu dan Vony bisa kembali bekerja."
"Baiklah Bu. Kalau begitu kami akan keluar. Akan tetapi kalau Ibu butuh sesuatu silahkan hubungi saja kami."
"Terimakasih banyak ya," ujar Kamila dengan senyum diwajahnya. Dua gadis itu pun bersiap keluar dari ruangan itu tetapi tiba-tiba saja Kamila teringat sesuatu jadi ia menahan salah satu dari mereka berdua.
"Von! Kamu jangan keluar. Ada yang ingin Aku tanyakan padamu." Gadis yang bernama Vony Dona itu pun berbalik kemudian membungkukkan badannya sedikit.
"Saya Bu."
"Iya Von. Kamu duduk dulu gih." Kamila meminta gadis itu untuk duduk karena ia sedang ingin menanyakan sebuah hal penting padanya.
"Terimakasih banyak Bu," ucap gadis asisten itu dengan patuh.
"Kamu ingat gak kalau kemarin itu kita bertemu dengan teman lama saya yang bernama Andri?" tanya Kamila setelah mereka berdua duduk. Vony Dona tersenyum kemudian menjawab.
"Ingat Bu. Andri Husain tentara itu 'kan?" Kamila menganggukkan kepalanya kemudian tersenyum.
"Iya Von."
"Tentu saja saya ingat Bu, kan orangnya tampan, hehehe. Tapi sayangnya gak cocok berteman sama Ibu."
"Ih kenapa? Kok kamu ngomong seperti itu?"
"Eh maafkan saya sebelumnya ya Bu. Tentara itu sering banget tugas di tempat berbahaya. Tak jarang mereka berada di daerah-daerah terpencil gitu seperti di dalam hutan. Dan itu bukan sebentar tapi berbulan-bulan."
"Ih, kamu sengaja menakut-nakuti Aku ya?" Kamila menatap Vony Dona dengan wajah horor. Gadis asisten itu langsung tertawa dibuatnya.
"Ngapain saya nakut-nakutin Ibu. Saya kan cerita yang sebenarnya. Makanya tentara itu cocoknya nikah sama perawat atau dokter. Dan bukannya sama seorang manajer seperti ibu atau asisten kayak saya."
Vony Dona melipat bibirnya berusaha menahan dirinya untuk tidak tertawa. Ia tahu kalau perempuan itu pasti tahu kalau dirinya sedang menggodanya.
"Ih kamu bisa aja Von. Sekarang berikan nomor handphonenya kak Andri. Saya ingin menghubunginya sekarang juga. Nanti dia pikir Aku sombong lagi." Kamila pun menyerahkan handphonenya pada gadis itu untuk menyuruhnya menyimpan nomor mantan pacarnya itu.
"Maafkan saya Bu. Memangnya Ibu belum dihubungi oleh Pak tentara itu? Saya kan sudah memberikan nomor handphonenya ibu padanya." Vony Dona menyerahkan kembali benda pipih itu kepada Kamila.
__ADS_1
"Iyyakah? Kok Kak Andri gak pernah wa atau nelpon ya?" tanya nya pada asisten kepercayaan mantan suaminya itu.
"Mungkin lagi sibuk Bu, atau mungkin sedang berada di luar jangkauan. Gak ada signal gitu hehehe."
"Tapi nanti kalau udah tersambung gitu, jangan macam-macam ya Bu. Saya takut orang itu akan menculik Ibu ke tempatnya bertugas."
"Hahaha, kamu kok mikir kayak gitu sih? suka baca novel online nih. Ngayalnya ketinggian."
"Ya kan bisa saja terjadi Bu."
"Ya itu bisa saja terjadi sih hahahaha. Ya udah lah kalau gitu. Kamu bisa melanjutkan pekerjaanmu."
"Ah iya Bu. Kalau begitu, saya kembali ke ruangan Pak Presdir ya, ada tugas yang harus saya kerjakan."
"Eh, tunggu dulu Von." Langkah Vony kembali terhenti karena panggilan dari manager cantik itu.
"Iya Bu."
"Apakah kamu ada pekerjaan khusus dari Pak Presdir?" tanya Kamila hati-hati. Diam-diam ia jadi penasaran dimanakah pria itu berada saat ini.
"Pekerjaan khusus? Ah biasa aja Bu. Asisten yang seperti saya ya, hanya memastikan semua keinginan pimpinan berjalan dengan semestinya."
"Oh gitu ya? ya sudah deh, kamu silahkan kerjakan tugasmu itu."
Jadi yang kirim pesan itu bukan Kak Andri.
Lalu siapa?
Atau mungkin Kak Andri tapi ia sengaja ngerjain Aku. Ah bisa saja sih.
Aku harus cari tahu.
Tring
Perempuan itu melihat layar handphonenya. Sebuah pesan kembali masuk dari nomor asing itu lagi.
Kebetulan banget
Kamila tersenyum dengan dada berdebar. Ia pun membuka pesan itu dengan perasaan bahagia yang merambat dari dalam hatinya.
Hai Kamila Regina Putri,
__ADS_1
Apakah Aku terlalu GeEr karena merasa kalau kamu sedang memikirkan Aku saat ini?
Aku mungkin tidak bisa mengatakan betapa aku mencintaimu dan betapa istimewanya kamu bagiku, tapi aku dapat mengatakan bahwa duniaku penuh dengan senyuman dan kebahagiaan setiap kali kamu ada di sekitarku.
Aku mencintaimu dengan segenap hati. Hidupku tidak dimulai sampai Kau hadir memberi cinta, membawa bahagia, dan memberikan rasa rindu yang tak pernah ada habisnya.
Kamila membaca pesan itu berulang-ulang dengan dada yang seakan ingin meledak. Ia merasa seperti seorang gadis usia 17 tahun yang baru ditembak oleh seseorang.
"Ya ampun apa ini? Sebegitu keringnya kah hidupku selama ini sampai Aku begitu gembira mendapatkan kata-kata romantis seperti ini?" ujarnya dengan perasaan yang tiba-tiba merasa sedih. Ia merasa menjadi perempuan yang begitu sangat menyedihkan.
Ia pun segera membalas pesan itu dengan mata yang berkaca-kaca. Ada emosi yang sangat ingin ia sampaikan dalam pesan balasan itu.
Hey!
Siapa kamu?
Kamu ingin mempermainkan perasaan Aku ya?
Hentikan ini. Aku tidak suka.
Tunjukkan dirimu kalau kamu berani!
Lima pesan balasan itu ia kirim dan berhasil terkirim dengan tanda centang dua.
Tring
Apakah itu penting bagimu Mil?
Kamila membaca pesan balasan itu dengan perasaan yang semakin gelisah. Ia pun langsung menekan tombol panggil pada nomor asing itu. Ia ingin tahu siapa sebenarnya yang memilki nomor misterius itu.
Tut
Tut
"Sial!"
Kamila melempar handphonenya itu ke atas meja dihadapannya. Sekarang ia semakin yakin kalau ia sedang dipermainkan oleh seseorang yang tidak ia kenal.
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading π