
"Habis ketemu siapa Pak Andri?!" tanya komandan Ferdy Datau. "Kayak senang banget." Andri Husain tersenyum tipis kemudian menjawab dengan posisi siap seperti biasa.
"Teman lama Dan!"
"Pasti kenangannya nyentuh banget ya? sampai wajahmu tampak senang seperti itu," goda sang komandan dengan senyum diwajahnya. Ia sangat suka pada Andri Husain yang mempunyai dedikasi yang sangat tinggi pada pekerjaan.
"Siap iya komandan!"
"Hahahaha, awas cinta lama bersemi kembali Pak Andri!"
"Siap Komandan!"
Mereka berdua pun melanjutkan perjalanan ke sebuah tempat di daerah itu. Tadinya mereka singgah di Pusat Perbelanjaan karena ada yang ingin mereka beli dan kemudian berpisah gara-gara Andri Husain melihat Kamila Regina Putri, mantan kekasihnya beberapa tahun yang lalu.
Perasaan yang sama juga dialami oleh Kamila Regina Putri yang masih berada di dalam Cafetaria di dalam Mall atau Pusat Perbelanjaan itu. Bibirnya tak berhenti tersenyum sejak bertemu dengan Andri Husain sang mantan.
"Bu, mau diminum gak sih minumannya, diaduk-aduk saja sejak tadi," tegur Vony Dona pada sang manager. Sudah hampir satu jam mereka berada di sana tetapi minuman dan makanan hanya menjadi penonton saja karena ia hanya melamun dan tersenyum-senyum sendiri.
"Ah iya Maaf ya hehehehe," kekeh Kamila kemudian segera meminum minumannya itu. Vony Dona semakin curiga dengan perubahan ekspresi pada istri dari Presiden Direktur ibu itu.
"Kita balik ke kantor yuk Von. Kayaknya kita udah lama di tempat ini deh," ujar Kamila seraya berdiri dari duduknya. Ia pun melirik sekilas penanda waktu yang melingkar cantik di tangannya.
"Apa sudah tidak ada lagi toko yang mau kita datangi Bu? mumpung kita masih di sini," tanya asisten kepercayaan Presiden Direktur itu.
"Kayaknya gak ada lagi deh. Tadinya kesini kan kita cuma mau window shopping gitu, tapi ternyata ada yang menarik ya akhirnya Aku beli deh," ujar Kamila tersenyum.
"Lah kamu sendiri? Gak minat beli apa gitu? Pilih aja apa yang kamu mau mumpung Aku lagi senang ini, hehehe," kekeh Kamila lagi seraya memandang wajah gadis cantik dihadapannya.
"Aku yang bayar semuanya," lanjut Kamila dengan wajah kembali serius.
"Duh Ibu, lagi senang karena bertemu mantan ya?" Vony Dona balas memandang wajah Kamila dengan perasaan khawatir. Ia sudah dipercaya oleh Luky Firmaji untuk mengawasi urusan Perusahaan selama pria itu tidak datang bekerja. Dan mengawasi Kamila adalah salah satu tugasnya juga.
__ADS_1
Kamila hanya tersenyum kemudian menyentuh ujung rambutnya dengan wajah sedikit gugup. Akan tetapi ia mencoba meyakinkan dirinya kalau ia tidak salah jika mengharapkan Andri Husain kembali padanya karena statusnya sekarang sudah sendiri atau janda.
"Ah kamu Von, tahu aja sih. Gimana nih tetap mau ditraktir gak?" Kamila berusaha mengalihkan pembicaraan agar gadis itu tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini.
"Ya tetap lah Bu. Sapa juga yang gak mau ditraktir dan bebas milih apa saja," jawab Vony Dona dengan cepat. Ia bukannya ingin memanfaatkan manager cantik itu akan tetapi jika ada yang mau memberi dengan suka rela apa salahnya diterima.
"Baiklah. Karena Ibu memaksa. Kita kembali ke Toko yang tadi ya Bu, maaf. Ada barang yang Aku lihat menarik tadi."
"Ah iya, bagus dong. Aku juga masih mau cari underwear yang lebih seksih gitu, hehehe," ujar Kamila terkekeh sangat bahagia. Saat ini ia semakin bersemangat mencari hal-hal yang berbau seperti itu untuk menyenangkan dirinya sendiri.
Rasanya ia ingin berfantasi dengan benda-benda seperti itu untuk memanjakan dirinya yang selama ini tak pernah ia pikirkan samasekali. Dua tahun menikah dengan seorang Luky Firmaji, ia sama sekali pasif karena suaminya juga seperti itu. Akan tetapi saat ini ia harus mulai menikmati hidup dengan membahagiakan diri sendiri.
Mereka berdua pun segera kembali ke Toko yang mereka kunjungi sebelumnya. Kamila kaget karena Vony Dona yang nampak tomboi itu ternyata juga sibuk memilih underwear yang lumayan terbuka dan hanya mampu menutupi area-area yang sangat tersembunyi saja.
"Kamu suka pakai yang seperti ini Von?" tanya Kamila dengan wajah penasarannya. Gadis itu tersenyum kemudian menjawab," Iya Bu. Berasa cantik aja kalo Aku pakai kayak gini."
"Oh gitu ya, emang sih berasa cantik dan menarik itu rasanya bikin kita bahagia ya, Aku setuju dengan kata-katamu." Kamila mengangkat kedua jempolnya dengan perkataan asisten mantan suaminya itu.
"Iya, kamu benar lagi Von. Jadi semangat nih untuk bahagiain diri sendiri."
"Emangnya Pak Luky gak pernah bahagiain Ibu ya?" Vony Dona bertanya dengan hati-hati takutnya perempuan cantik dihadapannya itu tersinggung.
"Gak kok. Pak Presiden Direktur itu sangat baik. Semuanya ia berikan padaku," jawab Kamila dengan senyum meringis, tapi satu hal yang juga sangat ingin rasakan tidak pernah ia berikan Von. Lanjutnya dalam hati.
"Kalo gitu balas dong Bu."
"Maksudnya?"
"Ibu udah pernah gak kasih apa yang selama ini Pak Presdir kasih?"
"Untuk apa? orangnya tidak mau kok."
__ADS_1
"Pasti mau lah Bu. Terkadang perempuan itu harus gercep memikirkan hal-hal penting yang mungkin tidak terpikirkan oleh suaminya." Vony Dona menjelaskan layaknya seorang yang sangat berpengalaman dalam berkeluarga.
"Ah, kamu ya. Kayak udah pernah nikah aja sih."
"Saya kan sering baca buku atau sejenis itu Bu. Supaya saya sudah khatam pas mau nikah. Jadi kan tinggal prakteknya aja hehehe," kekeh Vony Dona yang langsung mendapat pukulan pelan pada lengannya oleh Kamila.
"Katanya sih suami juga butuh perhatian gitu Bu. Meskipun ia sudah sangat dominan dalam keluarga, ia juga ingin perempuan sekali-kali sebagai inisiator dalam hubungan yang satu itu."
"Ih kamu kayak udah menguasai banget urusan keluarga. Udah cocok nikah nih kayaknya."
"Iya sih Bu. Udah pengen banget tapi belum ada jodoh. Eh, tapi beneran lho Bu yang saya katakan tadi. Coba deh ibu yang agresif supaya hubungan ibu sama bapak gak dingin kayak es baru gitu."
Deg
Kamila langsung merasa tertohok akan kata-kata gadis dihadapannya. Ia akui kalau ia samasekali tidak pernah mempunyai usaha dalam hubungannya selama ini dengan suaminya.
Ia pikir semua laki-laki akan tertarik pada yang namanya perempuan meskipun ia menjadi batu sekalipun, tetapi ternyata itu tidak berlaku pada suaminya. Dan kini ia baru menyadarinya saat semuanya sudah hancur dan tidak mungkin lagi untuk disatukan kembali.
"Bu, maafkan saya kalau sudah terlalu banyak bicara," ujar Vony Dona merasa tidak nyaman karena Kamila langsung terdiam dengan kata-katanya.
"Ah tidak apa Von. Makasih ya, akan Aku praktekkan nanti."
Pada siapa?
Hanya Tuhan yang tahu.
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading π