Janda Tak Bolong

Janda Tak Bolong
Bab 39 Steak Ayam


__ADS_3

Kamila akhirnya keluar juga dari kamarnya setelah mengurung diri selama hampir sepekan lamanya. Sebuah waktu yang cukup lama yang ia lakukan selama hidupnya yang terbilang sangat aktif.


Rupanya Ia sangat betah tinggal di dalam istananya itu karena tiba-tiba ingin jadi penulis. Ia ingin menulis banyak hal tentang kehidupan rumah tangganya yang sudah 3 tahun ini ia jalani bersama dengan Luky Firmaji.


Tiga tahun yang terasa hambar yang kemudian ditambah tiga hari dalam gelombang cinta yang sangat dahsyat. Tapi pada akhirnya terhempas kembali menjadi keping yang begitu susah untuk disatukan kembali untuk yang kedua kalinya.


Sakit hati dan cemburu yang membuatnya kuat dan punya tekad untuk melakukan banyak hal yang positif. Ia menulis tentang keinginannya untuk berpisah dengan Luky Firmaji dan juga keinginannya untuk tinggal di kampung saja. Berpuluh ribu kata ia torehkan sudah berhasil ia coret kan dalam bab-bab curahan hatinya.


Tak ada yang menggangunya selama ia dalam proses mengasingkan diri dari dunia luar. Handphonenya pun ia nonaktifkan.


Intinya adalah ia ingin menenangkan dirinya. Hanya Mak Siti yang dengan rutin membawakannya makanan dan kebutuhan yang lainnya. Sedangkan keluarga Firmaji membiarkannya seperti itu untuk memberinya ruang pribadi.


Akan tetapi tidak bagi Luky secara pribadi. Ia sudah seperti orang gila. Menanti isterinya keluar kamar adalah hal yang lakukan setiap saat. Dan hanya laporan dari Mak Siti saja yang ia dapatkan untuk memberinya rasa tenang.


"Mak, Aku pengen masak," ujarnya pada Mak Siti yang sedang sibuk memotong kentang untuk dijadikan sup. Perempuan tua itu tersentak kaget dengan kedatangan pemilik rumah itu.


"Eh, Nyonya. Alhamdulillah udah mau keluar kamar rupanya," ujar perempuan tua itu dengan wajah gembira.


"Mau masak apa Nya?" lanjutnya dengan sebuah pertanyaan.


"Mau bikin steak ayam pedas Mak," jawab Kamila seraya memasang celemek pada tubuhnya. Ya, hari ini ia akan memulai hidup barunya. Ia ingin memasak dan makan yang ia mau untuk lebih menikmati hidup.


"Wah, sepertinya lezat tuh rasanya Nya," ujar Mak Siti dengan ekspresi yang nampak sangat tertarik.


Ia memperhatikan majikannya itu mengambil beberapa bahan dan juga bumbu dapur seperti, daging ayam, tepung panir, telur ayam, kecap inggris, merica hitam bubuk, arak beras, minyak zaitun, keju cheddar, cabai merah, bawang putih, kemiri, dan garam.


"Saya belum pernah membuat makanan seperti ini Nyonya. Selama ini cuma buat ayam goreng saja, hehehe," kekeh Mak Siti dengan wajah lucu.


"Nah mulai sekarang Mak harus belajar. Karena saya rasanya selalu ngebayangin makanan enak," jelas Kamila dengan tangan mulai mencampur bumbu halus, merica bubuk, kecap inggris, arak beras, dan minyak zaitun. Ia mengaduknya dengan rata.


"Wah ternyata Nyonya berbakat jadi master kayak di tivi-tivi itu Nya," puji Mak Siti dengan senyum diwajahnya. Selama ini Kamila jarang sekali menginjak dapur karena kesibukannya dengan karir dan pekerjaannya di Perusahaan. Jadi sangat wajar kalau Mak Siti tampak takjub.


"Mak, Aku itu anak penjual tahu berontak dan gado-gado di kampung. Jadi sebenarnya udah sering masak. Tapi kan di sini ada Mak Siti jadi Aku tidak mungkin mengambil pekerjaan Mak, hehehe." Mak Siti tersenyum dan mengangguk-angguk setuju. Kamila pun mengangkat daging ayam yang sudah direndam dalam bumbu selama 20 menit hingga bumbu meresap.

__ADS_1


Setelah itu ia belah daging ayamnya kemudian ia lapisi dengan selembar keju dan ia celupkan dalam telur kocok. Ia gulingkan dalam tepung panir.


"Mak, minta tolong minyaknya dipanaskan dulu ya," pinta Kamila pada perempuan tua itu.


"Iya Nya, udah panas kok."


"Goreng ayamnya hingga matang dan kering ya Mak."


"Sipp beres."


"Kalo gitu Aku siapkan saus dan sayurannya. Aku percayakan ayamnya sama Mak."


"Sipp beres Nya." Mak Siti tampak bersemangat. karena baru kali ini ada yang menemaninya memasak di dapur. Setelah melihat kalau ayamnya sudah masak dan kering. Ia pun meniriskan nya.


Kamila juga telah selesai memasak sayuran dan juga membuat saus pedasnya.


"Minta tolong piring sajinya Mak."


"Nah sekarang kita taruh ayam dalam piring saji ini bersama sayuran rebus. Saus pedasnya juga bisa ditaruh disini ya Mak."



"Wow, cantik dan lezat. Pasti enak nih Nya," ujar Mak Siti dengan wajah senangnya.


"Makasih ya Mil, ini pasti lezat mengalahkan masakan Restoran." Luky Firmaji yang sudah lama memperhatikan mereka berdua memasak langsung meraih piring saji itu dan membawanya ke hadapannya. Ia menarik kursi dan duduk.


Tak peduli tatapan bengong dua orang perempuan yang sudah memasak makanan itu. Ia pun memakannya dengan sangat lahap.


"Sumpah Mil, ini sangat lezat. Kamu memang hebat sayangku." Kamila mencibir. Ia langsung meraih piring itu dengan kesal.


"Heh, kalau mau ambil makanan orang itu harusnya minta dulu dong. Main ambil-ambil saja."


"Lah, gak boleh ya? gimana dong kalau Aku sudah makan ini. Jika kamu gak ikhlas Aku ganti dengan nyuci piring deh," ujar Luky dengan senyum samar diwajahnya.

__ADS_1


Kamila dan Mak Siti saling berpandangan dengan seringai diwajah mereka berdua.


"Itu adalah ide yang bagus. Silahkan bersihkan dapur ya, Aku sama Mak mau menikmati masakan kami berdua." Kamila berucap seraya melepaskan celemek nya dan menyimpannya di tempatnya. Ia pun membawa dua piring berisi steak ayam pedasnya. Ia meninggalkan Luky yang sudah siap mencuci piring.


"Tuan, biar saya saja ya," ujar Mak Siti tak enak hati. Ia berusaha menggantikan majikannya itu untuk mencuci piring.


"Mak! Tolong kemari deh, kita makan kreasi kita," panggil Kamila karena ia tahu kalau perempuan tua itu pasti ingin membantu pria itu mencuci piring.


"Gak apa-apa Mak. Biar Aku yang cuci piringnya. Yang penting Kamila udah mau bicara sama Aku itu sudah luar biasa," ujar Luky dengan suara rendah bagaikan bisikan.


"Ah iya Tuan. Tapi hati-hati ya? Awas piringnya pecah."


"Mak, jangan menghinaku ya, begini-begini aku juga pintar cuci piring."


"Mak! mumpung masih anget nih. Ayo cepetan dimakan. Enak banget lho steaknya." Kamila kembali memanggil karena ia curiga dengan bisik-bisik kedua orang itu.


"Baiklah Tuan, hati-hati nyuci piringnya." Sekali lagi Mak Siti memperingati dengan wajah serius. Ia takut kalau majikannya itu tidak berkonsentrasi mencuci piring malah akan membuat kekacauan.


"Iya Mak. Emangnya Aku ini anak Mami yang nyuci piring aja tidak bisa?"


Prang


"Aaaaargh!" Luky berteriak keras karena piring yang ia cuci itu benar-benar jatuh dan pecah. Tangannya terkena pecahannya dan berdarah. Teriakannya terlalu lebay untuk menarik perhatian Istrinya.


Kamila langsung melompat ke sana dengan wajah khawatir.


🌺🌺🌺


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍

__ADS_1


__ADS_2