
Rohan Firmaji mencengkeram handphonenya dengan sangat keras. Emosinya sampai ke ubun-ubun. Baru saja ia membuka benda pipih elektronik itu dan mendapati beberapa media online memberitakan tentang putranya dengan sangat menyudutkan.
Dengan cepat ia menghubungi koneksi dan orang-orang kepercayaannya untuk mengusut tuntas siapa yang berani membuat berita seperti ini. Putranya benar adalah seorang gay, tapi itu dulu dan sekarang ia sudah berubah. Dan ia takut sekali kalau hal ini akan mempengaruhi psikologisnya dan juga hubungannya dengan Kamila.
"Hapus semua berita itu sekarang juga!" Teriaknya dengan suara lantang.
"Tapi Tuan, kami tidak bertanggung jawab dengan berita yang sudah tersebar. Tidak mungkin kami bisa menarik semuanya." Seseorang menjawabnya dengan nada khawatir.
"Saya tidak mau tahu. Saya hanya ingin tidak ada lagi yang membicarakan ini!"
"Baik Tuan."
Rohan Firmaji menutup panggilan itu sepihak dengan rahang mengeras. Setelah itu ia berdiri dari tempatnya dan segera mengambil kunci mobilnya.
"Mau kemana Pa?" tanya Sugiarti dengan wajah khawatir. Ia juga sudah sempat melihat berita itu. Dan ia tahu bagaimana suaminya kalau menyangkut hal-hal seperti ini.
"Saya hanya ingin lihat siapa orang yang berani melakukan hal seperti ini pada putraku." Rohan menjawab dengan wajah yang masih tampak marah.
"Pa, ingat penyakitmu. Kita tunggu saja penjelasan dan konfirmasi dari Luky." Sugiarti berusaha menahan suaminya untuk melakukan sesuatu yang sangat ia takutkan.
__ADS_1
"Tidak perlu Ma. Saya tidak perlu penjelasan anak itu. Luky hanya perlu menjelaskan semua ini pada Kamila. Putriku itu pasti sangat kecewa sekali." Rohan pun berlalu dari hadapan isterinya setelah mencium kening perempuan itu.
Sugiarti menarik nafas panjang. Perempuan itu hanya bisa berharap semua baik-baik saja. Ia pun memasuki kamarnya untuk mencari kitab sucinya.
Ia ingin membaca Ayat-ayat Alquran untuk menenangkan hatinya. Rasanya baru saja mereka semua mendapatkan kebahagiaan tetapi sekarang begitu cepat Tuhan menegur mereka lagi.
Sementara itu Perusahaan yang dipimpin oleh Luky Firmaji langsung heboh. Berita yang baru mereka lihat dan sempat mereka simpan di dalam memori internal otak mereka dalam waktu lima menit saja ternyata sudah hilang di peredaran.
"Sungguh kekuatan keluarga Firmaji benar-benar tidak bisa dianggap enteng," ujar Tamara si biang gosip yang telah membaca berita viral itu tapi belum sempat ia sebarluaskan.
"Kenapa Tam? ada apa?" tanya yang lain dengan wajah kepo nya. Rupanya beberapa dari mereka karena sibuk bekerja, belum sempat membuka handphone dan melihat ada perkembangan apa di jagad maya itu.
"Wah, aku kok ketinggalan berita sih?' Yang lain semakin heboh. Sepertinya Kecurigaan mereka selama ini sudah jadi nyata.
"Buktinya mana? Bukankah kita sudah lihat bagaimana aksi romantisnya pada Bu manager tadi pagi?" Suci tampak mulai kesal. Karena Tamara dan gengnya itu selalu saja membicarakan hal ini hampir setiap saat.
"Eh, Suci. Beritanya itu ada tadi. Tapi sekarang udah dihapus. Aku yakin kekuasaannya sedang diperlihatkannya saat ini. Dan adegan mesra itu hanyalah alibi saja menurut Aku sih." Tamara kembali berkicau dengan wajah yang sangat senang.
"Tak semua yang kita lihat itu benar lho.Jadi hati-hati dengan berita yang beredar." Suci kembali mengingatkan karena sudah tidak tahan dengan mulut mereka yang selalu saja membahas tentang keluarga pimpinan mereka.
__ADS_1
"Makanya itu kita juga gak begitu percaya dengan apa yang kita lihat di lift tadi," balas Tamara tak mau kalah. Dan perkataannya justru semakin menggiring opini lagi dari semua orang yang ada di ruangan itu.
Rekan kerja yang lain hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya dengan wajah bingung. Rasanya mereka tidak tahu yang mana yang harus mereka percaya sekarang ini.
Suci tidak ingin lagi ikut-ikutan mencampuri urusan mereka. Ia langsung keluar dari ruangan itu untuk mencari tempat yang lebih segar. Akan tetapi ternyata di luar ruangan juga sedang terjadi kasak-kusuk yang sama. Ia jadi bingung sendiri dengan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya ia melangkahkan kakinya ke arah lift. Ia rasanya sangat ingin menuju ke arah Roof top Gedung Perusahaan itu. Ia heran dengan rekan-rekan kerjanya yang sama sekali tidak punya rasa loyalitas yang bagus sama pimpinannya sendiri.
Di depan lift ternyata masih ia saksikan beberapa yang masih membicarakan berita itu. Ia hanya bisa menarik nafasnya berat. Tangannya baru saja ingin menekan tombol Lantai yang ingin kunjungi, lift khusus pimpinan dan petinggi Perusahaan di bagian sampingnya terbuka. Luky Firmaji keluar dari sana diikuti oleh Vony Dona.
Menit berikutnya keadaan langsung hening. Orang yang mereka bicarakan sedang berjalan dengan langkah tegap melewati mereka semua.
Mulut mereka langsung bungkam karena satu kalimat peringatan dari Vony Dona yang sedang berjalan dibelakang Luky Firmaji.
"Bersihkan pikiran dan mulut kalian atau ambil Surat pengunduran diri!"
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading π