Janda Tak Bolong

Janda Tak Bolong
Bab 33 Ciuman Tiba-tiba


__ADS_3

Setelah sarapan bersama, Luky dan Kamila berpamitan pada kedua orang tua mereka. Tiga hari menghabiskan waktu berdua di kamar rupanya membuat mereka juga buruh melihat matahari.


Kedua orang yang sedang kasmaran dan dimabuk cinta itu harus beraktivitas kembali. Menjadi seorang Presiden Direktur dan juga seorang manager.


"Hati-hati dijalan. Jangan berpandangan terus," goda Sugiarti saat mengantar kedua pasangan itu sampai ke depan pintu. Luky hanya tersenyum. Ia tahu betul kalau Mamanya sedang menggodanya.


"Ih Mama, mana bisa kita berpandangan terus. Gak lihat jalan dong hihihihi," ujar Kamila cekikikan.


"Gak ngerasa ya, sampai sarapan tadi gak habis-habis gara-gara berpandangan aja."


"Iya Ma. Aku ngaku. Habisnya Kamila lebih lezat daripada sarapan buatan Bibik," timpal Luky dengan senyum samar diwajahnya. Ia meraih pinggang istrinya dan membawanya ke mobilnya.


"Assalamualaikum Ma!" Mereka berdua mengucapkan salam dan akhirnya menghilang dari pandangan Sugiarti.


Perempuan paruh baya itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian masuk kembali ke rumahnya.


Laras, Asisten baru yang bekerja di Rumah itu tersenyum miring.


Enak saja bilang nasi goreng buatanku kalah lezat dari pada istrinya. Lihat saja nanti kalau kamu merasakan servis ku Tuan Luky. Kamu akan tahu kalau Aku lebih lezat berkali-kali lipat.


"Laras!"


"Laras, kemari deh. Kamu bawa tanaman yang baru saya beli ke Taman depan ya." Laras tersentak dari lamunannya saat mendengar namanya dipanggil oleh Sugiarti.


"Duh, maaf Nyonya. Bisa sebentar dulu gak? saya mau bersihkan kamar Tuan muda dulu ya," ujar ART baru itu bermaksud menolak perintah sang Nyonya rumah.


"Laras! Kamar Luky tidak pernah mau dibersihkan oleh orang lain. Jadi jangan pernah masuk ke sana." Langkah Laras terhenti. Ia berbalik dan tersenyum meringis.


"Oh begitu ya Nya? Maafkan saya karena tidak tahu hal Itu. Baiklah. Saya akan temani Nyonya berkebun." Laras menjawab dan langsung berlari ke arah tempat yang dimaksud oleh Sugiarti.


"Begini nih kalau ada pekerja diterima tanpa ikut tes terlebih dahulu. Seenaknya saja dan kurang sopan santun," gerutu perempuan pemilik Rumah itu dengan wajah kesal. Ia pun mengikuti langkah Laras ke Taman.


🌺


Sejak tadi kendaraan mewah itu sudah berhenti didepan Pintu utama Perusahaan. Akan tetapi penumpangnya belum juga mau turun dan masih saling melempar tatapan penuh cinta.

__ADS_1


Sungguh mereka merasa bahwa dunia ini adalah milik mereka berdua. Luky meremas jari-jemari sang istri dengan penuh perasaan seakan-akan tidak ada lagi waktu lain untuk bersama.


Hari ini adalah hari pertama kalinya Kamila datang bekerja bersama dengan Luky dalam satu kendaraan yang sama. Selama ini mereka selalu datang terpisah dengan alasan mempunyai kendaraan dan urusan masing-masing.


"Kak, Aku kok risih ya kalau jalan sama kamu ke Perusahaan," ucap Kamila saat suaminya membukakan pintu untuknya. Ia tidak juga turun dari mobil itu.


"Kenapa sayang?" tanya pria itu seraya meraih tangan istrinya untuk membantunya turun.


"Malu. Mereka nanti bilang apa."


"Mereka siapa?"


"Semua karyawan."


"Ya biarkan saja. Aku yang punya perusahaan ini. Dan Aku bebas melakukan apa saja semauku. Kamu juga istriku dan Aku suamimu. Lalu apa masalahnya?"


Bugh


Luky menutup pintu mobil itu dan memberikan kunci mobilnya pada Security-nya untuk diparkir di Basemen.


"Pegang tanganku sayang," ucap Luky sebelum mereka berdua memasuki Pintu utama. Kamila menolak. Ia benar-benar belum percaya diri tampil mesra di depan semua karyawan.


"Iya Kak. Maafkan Aku ya," ucap Kamila dengan senyum tak nyamannya. Luky hanya mengangguk maklum. Kamila pun berjalan ke arah lobby dan menunggu di depan lift.


"Ya ampun Pak Presdir semakin tampan saja sih?"


"Aku hitung-hitung nih ya, tiga hari tidak muncul ke Perusahaan kok semakin macho aja yah?"


"Dikasih makan apa sih sama Bu Manager itu sampai bikin Aku merem melek kayak gini sih?"


Kamila kembali mendengar kasak-kusuk dibelakangnya. Entah kenapa ia semakin heran dengan para karyawan perempuan di Perusahaan ini. Pekerjaannya hanya sibuk memuji ketampanan suaminya.


"Servis Bu manager pasti oke punya tuh. Sampai aura pak Presdir semakin bersinar gitu."


Kamila menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Ia tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini. Bahagia atau kesal kah?

__ADS_1


Dan apa tubuhnya yang sebesar ini tidak kelihatan sampai ia tak tampak di depan mata para karyawan itu? Mereka selalu saja kedapatan menggibahkan dirinya dan juga suaminya.


Tring


Pintu lift terbuka. Akan tetapi bukan lift untuk karyawan. Lift itu khusus untuk para petinggi perusahaan. Luky Firmaji masuk ke sana seraya menarik tangan Kamila di depan semua karyawan yang menunggu.


"Wooow!" Mulut mereka semua menganga tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Rasa penasaran yang selama ini ada di dalam benak mereka terjawab sudah.


Dan satu hal yang membuat mereka lupa untuk berkedip dan bernafas adalah Luky mencium bibir Kamila sebelum pintu lift itu tertutup di depan mata mereka semua. Catat! Di depan mata mereka semua.


"Bantu Aku pernafasan. Aku kekurangan oksigen," ujar Tamara yang selama ini paling sering menggibah hubungan kedua pasangan suami-istri itu. Ia menepuk-nepuk dadanya karena merasa sangat sesak.


"Emangnya kamu saja yang butuh bantuan pernafasan? Aku juga tahu!" Sari ikut menimpali dengan memukul-mukul dadanya juga.


Tring


Pintu lift khusus karyawan juga terbuka. Mereka segera menghambur ke dalam dengan cepat. Sesampainya di dalam mereka masih melanjutkan ekspresi kaget mereka.


"Gak nyangka gue, kalau Pak Luky ternyata memang normal. Ia benar-benar telah membuktikan ke kita-kita semua kalau ia itu gak belok seperti gosip yang selama ini beredar" ucap Tamara yang selama ini dikenal sebagai penyebar gosip paling terkenal di Perusahaan itu.


"Lah kan kamu sendiri Tam, yang sering ngomong gitu ke kita-kita. Makanya kita ikut-ikutan memanas-manasi suasana," timpal yang lain tak mau merasa bersalah sendiri.


"Oh jadi gini sebenarnya maksud kalian ya?" Suci, salah satu karyawan yang juga ada di dalam lift itu ikut menimpali. Ia jadi tahu sekarang maksud mereka terang-terangan memuji-muji fisik Presiden Direktur itu karena memang penasaran dengan kehidupan keluarganya yang tampak sangat dingin.


"Eh Iya. Tapi maksud kami baik kok. Kami benar-benar mengagumi Pak Presdir tapi sekaligus penasaran dengan hubungan mereka. Masak udah 3 tahun menikah belum juga punya momongan."


"Eh sudah sudah! Mulai sekarang jangan lagi terlalu kepo dengan urusan orang lain!" Suci menatap mereka semua dengan tatapan tajam.


Tring


Pintu lift terbuka pada lantai tujuan mereka masing-masing. Mereka pun keluar dengan kepala diisi oleh bayangan aksi yang sangat romantis dari pimpinan tertinggi Perusahaan itu dengan istrinya.


🌺🌺🌺


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2