
Kondisi kesehatan Rohan Firmaji sudah lebih baik daripada beberapa saat yang lalu. Setelah observasi dari tim dokter khusus jantung, Ia pun sudah bisa dipindahkan ke kamar perawatan.
Semua keluarga merasa lega karena pria paruh baya itu sudah menunjukkan kemajuan yang berarti. Rasa syukur dan bahagia tampak dari wajah semua anggota keluarga karena sang pasien pun bisa berkomunikasi dengan baik seperti sedia kala.
Hanya yang jadi masalahnya adalah pria itu tidak ingin berjauhan dengan Kamila. Ia ingin mendapatkan perhatian dan perawatan khusus dari mantan menantunya selain dari istrinya sendiri.
"Papa, Kamila kan butuh istirahat, jadi biarkan ia pulang dulu ya," bujuk Sugiarti pada suaminya itu.
"Mila adalah putriku. Jadi tidak kubiarkan ia pulang. Biarkan ia menginap disini bersamamu." Rohan Firmaji menunjukkan kepemilikannya sesuai dengan yang dikatakan oleh istrinya sebelum ia jatuh terkena serangan jantung.
"Baiklah Papa, terserah padamu saja. Yang penting Kamila tidak keberatan saja."
"Mama gimana sih, Aku kan memang putri kalian jadi akan tetap seperti itu. Dan aku bahkan ingin menggeser kedudukan seseorang dari dalam hati kalian mulai saat ini," ujar Kamila tersenyum.
Ia melempar tatapan tajam kepada mantan suaminya yang entah kenapa semakin menarik sejak kepulangannya dari Luar Negeri itu. Luky sendiri hanya tersenyum tipis dengan tangan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Hahaha, kamu betul Mil. Kamu lebih tepat jadi anak kami. Dan kalau kamu tidak keberatan kami akan mencarikan jodoh untukmu nak," ujar Rohan Firmaji dengan wajah senangnya.
Pria itu juga sengaja menyindir putranya yang duduk dengan santai di sebuah sofa di dalam kamar perawatan itu. Sedangkan Cahaya dan Untung hanya saling berpandangan dengan senyum samar.
Bagi mereka lelucon yang mantan besannya katakan adalah hal yang sangat bagus untuk mencairkan suasana yang tidak nyaman diantara mereka karena seorang Lucky Firmaji.
"Aku serahkan semuanya pada Papa. Aku kan putrimu. Iyyakan Ibu?" Kamila menjawab seraya meminta pertimbangan ibunya.
"Iya sayang. Yang penting kamu bahagia. Dua tahun yang lalu kamu sudah menjadi milik keluarga ini dan sampai sekarang pun masih seperti itu." Cahaya berkata dengan senyum diwajahnya. Tangannya menggenggam tangan suaminya berharap ia juga mendapatkan dukungan.
Untung pun tersenyum. Semuanya ia terima. Selama ini keluarga Firmaji sudah lama membantu ekonomi keluarga mereka. Jadi tidak masalah kalau Kamila dicarikan jodoh yang terbaik selama sang putri merasa senang.
Tak lama kemudian mereka pun pamit. Mereka datang dengan harapan mendapatkan kabar akan memperoleh seorang cucu tapi ternyata kabar yang tidak menyenangkan yang mereka dapatkan.
__ADS_1
Akan tetapi mereka tetap berprasangka baik pada Tuhan bahwa hubungan keluarga yang tidak putus adalah sebuah hikmah yang patut menjadi pelajaran yang harus disyukuri. Selebihnya mengenai jodoh itu diserahkan pada Tuhan saja.
"Saya antar bapak sama Ibu ke Bandara," ujar Luky Firmaji saat kedua orang mantan mertuanya itu keluar dari ruangan perawatan Papanya.
Sejak tadi Pria itu sengaja diam saja mendapatkan sindiran-sindiran dari semua orang karena ia mengakui semua yang terjadi adalah kesalahannya. Dan sekarang ia ingin mempunyai waktu berdua dengan Untung dan Cahaya untuk meminta maaf.
"Ah iya baiklah. Terimakasih banyak." Untung menjawab kemudian memeluk tubuh putrinya. Ia sebenarnya belum rela untuk berpisah akan tetapi keadaan saat ini juga sedang tidak baik-baik saja.
"Baik-baik di sini ya Mil. Kamu harus jaga diri. Tanpa suami kadang-kadang mendapatkan gangguan dari orang yang tidak bertanggung jawab sayang."
"Iya Ayah."
"Kamu bisa tinggal di rumah Pak Rohan kalau kamu kesepian di rumah mu nak. Lagipula Luky sudah jadi saudaramu kan?"
"Ah iya Ayah. Aku akan mendengarkan nasehatmu. Hati-hati dijalan ya." Kamila mencium pipi ayah dan ibunya bergantian kemudian melepaskan mereka untuk pulang kembali ke kampung halamannya.
πΊ
"Saya merasa bahwa Kamila justru benar-benar menjadi putriku seutuhnya sekarang. Apakah ini hikmah dari semua kejadian ini ya Ma?" tanyanya pada Istrinya saat ia sudah sampai di rumahnya.
"Mungkin saja Pa. Dulu kita sedikit menjaga jarak padanya dan bahkan segan karena ia adalah menantu tetapi sekarang kita merasa bahwa ia adalah anak kita sendiri." Sugiarti menjawab dan menyetujui pendapat suaminya.
"Sedangkan Luky sendiri menarik dirinya dan berubah menjadi seperti seorang menantu hihihi," lanjut Sugiarti dengan tawa cekikikan. Ia merasa lucu sendiri dengan putranya itu. Ia sekarang lebih dingin dan juga sangat aneh sifatnya.
"Apa menurutmu Luky itu baik-baik saja Pa?" tanya sang istri pada suaminya yang nampak tersenyum samar. Rohan hanya mengangkat bahunya kemudian meraih handphonenya. Ia yakin bahwa ada yang terjadi pada putranya yang sudah sejak lama ia nanti-nantikan.
Pria itu menghubungi seseorang yang selama ini ia percaya untuk mengawasi perusahaan dan juga keluarganya dari jauh. Sugiarti hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Ia benar-benar berharap ada keajaiban lain yang akan membahagiakan keluarganya.
Kamila sendiri berpamitan akan kembali ke Rumahnya sendiri untuk menginap di sana karena selama mantan mertuanya sakit ia selalu menemaninya di Rumah Sakit. Ia ingin tidur dengan nyenyak di kasurnya yang empuk.
__ADS_1
Di depan pintu perempuan itu bertemu dengan Luky Firmaji sang mantan suami. Sebuah rasa canggung pun terjadi diantara kedua orang yang pernah terikat pernikahan itu. Mereka berusaha santai dan tidak saling menyapa.
Akan tetapi Kamila baru sadar kalau mobilnya tidak ikut bersamanya saat ini. Jadi ia berdiri di depan rumah itu sembari memesan sebuah taksi online untuk membawanya pulang ke rumahnya sendiri.
"Aku akan mengantarmu Mil," ujar Luky seraya melangkahkan kakinya mendahului perempuan cantik itu. Ia membukakan pintu mobilnya dan mempersilahkan mantan istrinya itu untuk masuk.
"Aku sudah memesan Taksi Kak."
"Tak apa. Cancel saja. Aku juga ingin melihat rumahmu Mil. Bolehkan?"
"Hum baiklah. Aku lupa kalau itu juga Rumahmu." Kamila menjawab kemudian ikut naik ke dalam kendaraan roda empat itu. Selama dalam perjalanan mereka berdua tidak ada yang berbicara. Mereka diam dengan pikiran masing-masing.
Karena jalanan cukup sepi. Mereka pun sampai dengan cepat. Luky memandang Rumah mewah yang memiliki banyak kenangan itu dengan perasaan campur aduk.
Ia meraup wajahnya kasar karena mengingat begitu banyak kenangan buruk yang ia torehkan pada Kamila daripada kenangan yang membahagiakan.di Rumah itu.
"Tidak mau turun dulu Kak?" tanya Kamila yang langsung membuatnya tersentak kaget.
"Ah iya. Aku ingin memeriksa kebun belakang Rumah." Pria itu pun turun dari mobil setelah Kamila turun terlebih dahulu.
"Ya Allah, Tuan Luky. Sudah lama sekali baru datang ke rumah ini." Mak Siti menjemput pria itu dengan perasaan yang sangat bahagia dihatinya.
"Itu karena Aku memaksa pada pemilik Rumah ini Mak, hehehe," jawab Luky seraya terkekeh. Mak Siti memandang wajah Kamila dan Luky secara bergantian dengan senyum samar dibibirnya.
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading π