Janda Tak Bolong

Janda Tak Bolong
Bab 34 Cinta Luky


__ADS_3

Kamila berusaha mendorong tubuh Luky Firmaji agar tautan bibir mereka berdua terlepas. Sungguh ia dibuat tak berdaya lagi oleh permainan lidah suaminya itu. Nafasnya terputus-putus karena kehabisan oksigen.


"Kak, kamu ya, bikin Aku malu aja," ucap Kamila dengan wajah menunduk malu. Luky hanya tersenyum kemudian memperbaiki riasan istrinya. Bibir yang sudah kehilangan pewarna itu ia sapu dengan ibu jarinya.


"Gak apa-apa. Biar mulut mereka bungkam dan tidak lagi membicarakan kita berdua." Luky melepaskan rengkuhannya pada pinggang istrinya kemudian menata rambutnya istrinya yang sedikit kacau karena perbuatannya.


"Aku pikir mereka akan lebih banyak bicara lagi Kak."


"Kalau begitu kita biarkan saja. Toh mereka punya mata dan mulut." Kamila hanya menarik nafas. Seharusnya memang ia tidak terpengaruh.


Tring


Pintu lift pun terbuka. Mereka berdua keluar dari sana. Luky berjalan ke arah ruangannya begitu pun dengan Kamila. Keduanya kembali bekerja sesuai dengan tugas mereka masing-masing.


Vony Dona menyambut kedatangan Luky Firmaji didepan pintu ruangan dengan senyum cerah diwajahnya.


"Selamat pagi Pak Presdir!" sapanya dengan suara tegas dan mantap seperti biasa.


"Selamat pagi Von, apa ada yang membuatmu kesulitan selama tiga hari ini?" tanya Luky seraya memasuki ruangannya dengan langkah tegapnya.


"Siap ada Pak!" Luky langsung menghentikan langkahnya sebelum sampai di Mejanya. Ia berbalik dan memandang Vony dengan alis terangkat.


"Apakah ada aroma seorang prajurit TNI ada di sini Von?" Vony Dona menarik ujung bibirnya untuk tersenyum.


"Siap sepertinya ada Pak!" Vony Dona menjawab dengan sikap siap layaknya seorang prajurit sedang menunggu instruksi dari pimpinannya.


"Aku curiga sama kamu Von. Selama tiga hari ini kamu bukannya mengawasi Perusahaan tetapi malah mengawasi seorang Prada di Markasnya."


"Bapak Kok tahu?" Vony Dona kini merubah sikapnya jadi lebih santai. Wajahnya ia rasakan menghangat karena ketahuan.


"Karena kamu tidak seperti ini sebelumnya Von. Tapi sudahlah, cinta memang bisa membuat kita jadi lupa segalanya." Luky Firmaji melanjut langkahnya ke arah mejanya. Ia harus menandatangani banyak berkas yang sudah tersusun di atas mejanya bagaikan gunung.

__ADS_1


"Selamat Pak. Bapak juga tampak berbeda saat ini," ujar Vony Dona kemudian meninggalkan ruangan kerja pimpinannya itu.


Luky Firmaji tersenyum. Ia memang merasakan sebuah perbedaan yang sangat signifikan dalam dirinya sejak tiga hari yang lalu.


Semua beban pikiran yang selama ini menggangu pikirannya kini sudah hancur lebur dan menguap ke udara.


Hidupnya terasa sudah sangat lengkap saat ini. Kamila menerimanya kembali dan tidak mempermasalahkan masa lalunya membuatnya merasa menjadi orang yang paling bahagia di dunia.


Ia pun mulai membuka berkas-berkas dihadapannya, membacanya dengan sangat teliti kemudian memberikan coretan-coretan yang terasa menggangu poin penting dalam setiap laporan dari semua divisi di dalam Perusahaannya itu.


Kamila sendiri merasakan hal yang sama. Ia juga merasa sangat bahagia sampai semua pekerjaan yang ia tinggalkan selama beberapa hari ini ia lahap dengan semangat baru.


"Maaf Bu, minum susu dulu ya," ujar Vony Dona yang tiba-tiba muncul di dalam ruangannya dengan membawa segelas susu putih hangat.


"Eh? Kok?" Kamila menatap asisten pribadi suamimya itu dengan tatapan bingung. Selama bekerja di sini tak pernah sekalipun ia dibawakan susu putih seperti ini.


"Ini susu penambah tenaga Bu. Kata Pak Presdir ibu harus minum ini sebelum makan siang."


"Silahkan lanjutkan kerjanya Bu. Pak Presdir akan mengunjungi sebuah acara siang ini. Jadi ibu makan siang sendiri saja katanya." Asisten itu menjelaskan sebelum keluar dari ruangan itu.


Kamila hanya tersenyum. Ia sebenarnya sangat ingin makan siang bersama dengan suaminya tapi kalau memang ada pekerjaan yang sangat penting ia akan mengalah toh, mereka akan bertemu lagi saat makan malam tiba.


Vony Dona kembali ke Ruangan pimpinannya untuk melaporkan apa yang sudah ditugaskan oleh Pria yang sedang dimabuk cinta itu.


"Sudah saya lakukan semua Pak."


"Bagus. Apa istriku tidak mengatakan sesuatu?" tanya Luky dengan senyum diwajahnya.


"Tidak Pak. Bu Kamila cuma nampak bingung saja tapi ia habiskan susunya."


"Ah iya. Baiklah. Kalau begitu kita berangkat sekarang." Luky berdiri dari duduknya kemudian segera keluar dari ruangannya. Sang asisten mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


"Tunggu Aku disini ya. Aku ingin berpamitan pada istriku terlebih dahulu." Vony hanya bisa menarik nafasnya panjang. Apakah begini akhirnya kalau pria sudah sangat bucin? Katanya, saya yang disuruh berpamitan tetapi ini malah tidak kuat kalau tidak bertemu.


"Eh kak. Kirain kamu udah berangkat ke acara itu." Kamila langsung berdiri dari kursinya dan menghampiri suaminya yang berdiri di hadapannya dengan tatapan penuh cinta padanya.


"Gak bisa pergi kalau gak kamu kasih bekal."


"Ih, ini di tempat kerja Kak. Gak enak banget tahu gak," ujar Kamila dengan pipi menghangat. Ia tahu apa yang sedang dinginkan oleh suaminya saat ini." Ia pun melangkah menghampiri sang suami dengan tatapan lurus ke mata elang Luky.


"Bekal ringan atau yang berat sayangku?" tanya Kamila seraya mengalungkan tangannya pada leher suaminya.


"Yang ringan saja Mil. Aku sangat ingin bibirmu sayang," jawab Luky dan langsung meraih bibir Istrinya itu dan mengulummnya sangat lembut. Perasaan Kamila membuncah bahagia. Ia merasa cinta suaminya padanya semakin bertambah saja.


"Hati-hati Kak, jangan melirik perempuan lain ataupun pria lain. Hanya Aku yang seharusnya ada di dalam hati dan pikiranmu saja, Okey?" ujar Kamila seraya menghapus sisa lipstiknya yang tersisa dibibir pria yang sangat dicintainya itu.


"Iya sayangku. Cuma kamu. Aku berangkat ya," ujar Luky dengan wajah tak rela. Ia kembali mengecup bibir Istrinya singkat sebelum benar-benar pergi dari sana.


"Tempatnya di hotel mana tadi?" tanya Luky setelah mobil yang dikendarai oleh Vony keluar dari area Perusahaan.


"Di Hotel X Pak."


"Ah Iya. Semoga acaranya tidak lama Vony. Aku tidak bisa jauh-jauh dengan Kamila."


"Iya Pak. Saya sangat mengerti."


"Kenapa acaranya jadi seperti ini sih Von, kamu tidak baca betul apa isi undangannya ya?!" Luky tampak mulai kesal karena yang ia saksikan di hadapannya adalah sebuah hal yang sudah tak ingin ia temui lagi dalam hidupnya.


🌺🌺🌺


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2