
"Maafkan saya Bu. Tapi beneran saya penasaran apa yang terjadi di dalam kamar ibu sampai kulitku merinding." Vony tersenyum samar dan benar-benar ingin menggoda istri tercinta dari Presiden Direkturnya itu.
Ia pernah membaca sebuah bab novel yang berisi adegan ninu-ninu dan deskripsinya itu sama dengan yang ia dengarkan tadi. Ia bukan gadis ingusan yang tidak mengerti apa yang terjadi hanya saja entah kenapa ia sangat penasaran.
"Vony? Kamu beneran mau tahu?" Kali ini rasa malu yang dirasakan oleh Kamila menguap entah kemana. Gadis dihadapannya itu mengangguk kemudian tersenyum seraya menutup wajahnya.
"Ayo kita sarapan dulu supaya Aku kuat menjelaskannya.
"Apa sampai harus pakai tenaga begitu Buk kalau mau menjawab pertanyaan saya?" Vony Dona yang sudah bersiap mendengarkan langsung merasa kecewa.
"Iya, karena ini harus dijelaskan dengan perut kenyang dan perasaan yang sangat baik. Nah ayo kita makan dulu." Kamila langsung menarik tangan gadis itu dan membawanya keluar dari kamar. Mereka kembali ke dapur karena ternyata sarapan memang sudah siap.
"Aku panggilkan Kak Luky ya, dan kamu Von, panggil Kak Andri di Kamarnya."
"Ah iya Bu." Vony segera menuju kamar depan sedangkan Kamila menuju kamarnya sendiri.
"Mas Andri," panggil Vony di depan kamar kekasihnya itu. Tak ada jawaban meskipun ia sudah mengetuk pintunya berkali-kali. Akhirnya ia mencoba mendorong pintu kamar itu dan masuk.
"Mas Andri?" Ia memanggil lagi seraya terus berjalan ke dalam kamar. Mencari sosok penghuni ruangan itu tapi ternyata ia tidak menemukannya di ranjang. Akhirnya ia berpikir untuk meninggalkan kamar itu karena mungkin saja pria itu berada di depan rumah bersama dengan Untung, Ayah Kamila.
"Vony?" Langkah gadis itu terhenti karena namanya dipanggil oleh orang yang sedang dicarinya. Ia pun berbalik. Dan melihat Andri baru saja keluar dari kamar mandi.
Pria itu hanya menggunakan handuk yang dililitkan di pinggangnya yang kuat. Rambutnya yang masih basah sehabis mandi membuat otak Vony yang sejak tadi sudah traveling ke dunia antah berantah kini semakin menjadi-jadi. Apalagi perut kotak-kotak dan juga bahu lebar dan sangat kuat itu. Aaaa Vony rasanya ingin menyentuhnya dengan tangannya secara langsung.
__ADS_1
"Von?!" Andri memanggil nama gadis itu dengan suara yang agak keras karena mendapatinya sedang menatapnya tak berkedip.
"Ah iya Mas," ucap gadis itu tersentak. Ia langsung menutup wajahnya yang terasa memanas karena sudah membayangkan yang tidak-tidak.
"Ada apa Hem? Apa ada yang ingin kamu katakan?" tanya Andri seraya melangkahkan kakinya mendekat kearah gadis cantik yang sudah berhasil menggeser nama Kamila di dalam hatinya.
"Eh, tidak. Aku hanya ingin memanggil Mas Andri untuk sarapan bersama. Makanan sudah siap." Vony menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Rasanya ia benar-benar merasa tak bisa bergerak karena jarak mereka berdua saat ini sangat terkikis.
"Oh gitu? kirain mau melihat sesuatu di dalam kamar ini," ujar Andri dengan senyum samar diwajahnya.
"Ah tidak Mas. Aku keluar sekarang ya, cepetan berpakaian." Vony takut akan terjadi apa-apa diantara mereka berdua. Ia langsung ingin kabur tapi tangannya langsung diraih oleh Andri dan diarahkannya ke perutnya.
"Kamu sangat ingin menyentuhnya 'kan?" bisik Andri dengan suara rendah. Vony Dona tersentak. Ia tak menyangka kalau ia tangannya benar-benar berada pada perut kotak-kotak bak roti sobek itu.
Huffft
Gadis itu membuang nafasnya. Ia tak menyangka kalau seorang Andri Husain yang sangat kaku seperti itu ternyata bisa juga membuat dirinya tak berkutik seperti tadi. Gadis itu segera meninggalkan kamar itu dengan dada berdebar tak karuan.
Tak lama kemudian, para pria pun datang dan bergabung di Meja makan. Mereka pun menikmati makanan mereka dengan sangat nikmat. Menu sarapan dengan makanan ala kampung begitu menggugah selera.
Kamila begitu lahap makannya. Sedangkan Vony Dona gugup dan tidak bisa menikmati makanan dihadapannya. Ia merasa kalau Andri selalu saja memperhatikannya.
"Setelah ini, saya mengundang semuanya untuk datang ke rumah. Kata ibu, jambu kristalnya lagi berbuah dan siap untuk dipanen." ujar Andri saat mereka semua selesai makan.
__ADS_1
"Alhamdulillah, akhirnya dapat jambu." Wajah Kamila tampak sangat bahagia. Keinginannya akan jambu kristal benar-benar akan terwujud sebentar lagi. Semua orang ikut senang.
"Tapi boleh request gak?" tanya perempuan cantik itu dengan senyum yang masih setia di wajahnya.
"Katakan saja Mil?" Andri bertanya dengan pandangan ia alihkan pada Luky Firmaji. Ia khawatir kalau pria itu akan salah paham dan cemburu lagi.
"Pak tentara yang manjat pohonnya ya?" Kamila melipat tangannya di depan wajahnya memohon.
"Ah ya, boleh-boleh. Pohonnya juga tidak terlalu tinggi," jawab pria itu dengan tarikan nafas lega. Kalau urusan manjat-memanjat itu adalah hal yang kecil buatnya.
"Kamu lagi ngidam ya sayang?" tanya Cahaya dengan tatapan curiga pada putrinya itu.
"Hah? ngidam? Iya Bu. Ngidam Jambu Kristal sama tentara, hihhi," Kamila menjawab dengan tertawa cekikikan. Tapi kemudian ia terdiam karena mengingat sesuatu.
"Apa mungkin Aku hamil Bu? Aku udah lama gak haid sih," ucapnya dengan wajah yang tampak berpikir.
"Saya yang akan ke apotik Bu, untuk membeli tes packnya." Vony Dona langsung berdiri dari duduknya. Ia adalah Asisten yang patut diacungi jempol. Ia selalu siap siaga jika itu berhubungan dengan pimpinannya.
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading π