
Bunyi mobil dari kejauhan sudah sangat terdengar di telinga Belinda dini hari itu. Ia memasuki rumahnya dengan langkah cepat. Kegelisahannya sejak tadi terjawab sudah. Ia yakin yang datang itu adalah rombongan dari Rohan Firmaji.
Semua penjaga di luar rumahnya ia bangunkan supaya bersiap menyambut kedatangan mereka. Ia pun memanggil Aqram di dalam kamarnya yang ternyata juga tidak bisa tidur karena sibuk mengkhayalkan Kamila menjadi miliknya.
"Ibu, ada apa?" tanya Aqram dengan wajah yang nampak terganggu. Belinda langsung duduk di sampingnya dengan perasaan khawatir.
"Mereka sudah datang Aqram."
"Siapa yang ibu maksud?"
"Rohan Firmaji dan putranya."
"Ibu tidak sedang bermimpi kan, ayo kita tidur ibu. Ini sudah pukul 2 dini hari. Mungkin karena ibu kelelahan makanya memikirkan yang tidak-tidak." Aqram berusaha menolak perkataan ibunya dengan memintanya untuk tidur.
"Aqram. Ibu berkata yang sebenarnya nak. Ayo kita selamatkan diri kita."
"Astaga ibu. Kamu membuatku jadi ingin tertawa. Kenapa kamu tiba-tiba merasa takut?"
"Aqram dengarkan ibu. Kita harus pergi dari sini. Ayo bersiaplah." Belinda merasakan tubuhnya gemetar membayangkan ia akan bertemu dengan Rohan Firmaji. Entah kenapa ia merasa hatinya jadi ciut. Padahal di hari-hari sebelumnya ia merasa sangat kuat dan mampu membuat keluarga mereka hancur.
"Kalau ibu mau pergi, pergilah. Aku akan tetap disini bersama dengan Kamila."
Brakk
Mereka berdua tersentak kaget dengan bunyi pintu yang dibuka secara paksa dari luar. Belinda langsung merasakan tubuhnya jadi lemas.
Sedangkan Aqram langsung mencari senjata api yang ia simpan di dalam sela-sela lipatan pakaiannya.
"Ibu duduk di sini dengan tenang. Aku akan memeriksa keadaan di luar." Aqram menyentuh lengan ibunya untuk menenangkan.
Belinda menurut. Mungkin karena ia tidak tidur selama seharian ini hingga tubuhnya berubah lemas. Ia pun naik ke atas ranjang putranya kemudian menutup matanya.
Dengan hati-hati, ia membuka pintu dan mengintip. Tak ada orang yang bisa ia lihat di luar sana. Hingga ia membuka lebar-lebar pintu kamarnya bersiap untuk keluar. Tangannya masih dalam posisi siaga mengarahkan pistolnya ke depan.
Bugh
Satu tendangan keras tiba-tiba mendarat dengan sangat cepat pada tangannya hingga membuat pistolnya jatuh ke lantai.
"Brengsek kamu!" Ia mengumpat seraya membalas serangan dari seorang Luky Firmaji.
__ADS_1
Bugh
Bugh
Mereka berdua akhirnya saling menyerang dengan rasa benci di hati mereka masing-masing. Sedangkan yang lain yang sudah berhasil melumpuhkan beberapa penjaga di depan rumah langsung ikut masuk ke dalam rumah itu.
Bugh
Rohan Firmaji ternyata merasakan tangannya sangat gatal jika tidak memberikan pelajaran berharga pada putra dari Pratama itu.
"Katakan dimana Ibumu menyembunyikan menantuku?!" Aqram meringis dengan darah yang sudah mengalir dari ujung bibirnya yang pecah.
"Kamila adalah istriku dan bukan lagi menantumu tua Bangka!"
Bugh
Bugh
Luky tak tanggung-tanggung langsung menyerang kembali pria tidak tahu malu itu karena mengakui istri orang lain sebagai istrinya.
Aqram Pratama jatuh tersungkur ke lantai dan berhasil mendapatkan pistolnya yang sempat terjatuh tadi.
"Aaaargh!"
Andri Husain berhasil memuntahkan satu peluru dan mendarat pas di tangan pria itu sebelum ia berhasil menarik pelatuknya. Pistolnya terlempar kembali ke lantai sedangkan tubuhnya langsung roboh dan jatuh ambruk di lantai.
Beberapa polisi yang ikut bersama dengan mereka langsung meringkus Aqram Pratama yang sudah tidak berdaya itu beserta barang bukti senjata api ilegal yang tidak mempunyai Izin.
"Hey! Apa yang kalian lakukan pada putraku?!" Belinda yang sejak tadi mengintip dari balik pintu kini berlari keluar saat melihat putra satu-satunya sudah dibawa oleh beberapa anggota kepolisian.
Rohan Firmaji langsung menarik tangan Belinda agar tidak meninggalkan tempat itu. Perempuan tua yang menjadi pelaku utama kejadian yang sangat merepotkan semua orang ini.
"Apa maksud kamu Belinda?!"
"Kamu tidak perlu bertanya Rohan. Semua ini kulakukan karena saya ingin membalas perbuatanmu yang begitu jahat pada suamiku!" Belinda berteriak dengan nyaring. Emosinya pada pria itu memberinya lagi kekuatan untuk marah dan membenci.
Luky dan beberapa orang lainnya hanya bisa terlongo tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Terutama Luky, ia tak menyangka kalau perempuan yang kebetulan merupakan ibu dari Aqram ternyata mempunyai hubungan yang buruk dengan Papanya dimasa lalu.
"Suamimu jahat pada dirinya sendiri. Ia curang sejak dulu. Pratama menipuku dan akhirnya usaha kami berdua hancur. Butuh waktu lama hingga saya bisa bangkit dan bisa sukses seperti ini."
__ADS_1
"Saya tidak percaya! Kamu jahat Rohan!" Belinda berteriak histeris. Ia tidak percaya pada perkataan pria itu pada suaminya.
"Terserah padamu Belinda. Saya cuma datang kesini untuk menyelamatkan menantu saya. Luky cari istrimu!" Rohan tidak mau lagi mendengarkan perkataan perempuan tua yang telah memelihara kebencian yang tidak beralasan itu.
"Iya Pa," jawab Luky seraya mencari Kamila di semua kamar di dalam rumah yang sangat luas itu. Andri Husain ikut membantunya mencari.
"Mila," ujar Luky dengan suara pelan saat membuka pintu kamar itu dan mendapati istrinya sedang tertidur pulas di atas sebuah ranjang.
Dengan hati yang sangat gembira, ia menghampiri istrinya dan duduk di sampingnya. Ia membangunkan perempuan cantik itu dengan hati-hati agar Kamila tidak kaget.
"Mila sayangku. Bangun." bisik Luky di kuping sang istri. Ia pun meniup wajah istrinya itu dengan pelan. Menit berikutnya Kamila membuka matanya dengan pelan dan berusaha mengumpulkan nyawanya.
"Kak, kamu? Aqram dimana?"
"Jangan sebut pria itu di bibirmu sayang. Ayo bangunlah kita akan pulang." Luky langsung mengecup bibir Istrinya itu untuk menyadarkannya karena sepertinya ia belum sadar penuh.
Setelah merasakan rasa bibir suaminya, Kamila baru sadar sepenuhnya kalau pria yang dicintainya benar-benar ada didepan matanya dan bukan mimpi.
Ia pun bangun dengan hati-hati.
"Bagaimana kondisi perutmu sayang? Kamu baik-baik saja 'kan?" Luky meraba perut istrinya dan merasakan sebuah gerakan yang sangat keras bagaikan sebuah tendangan pinalti.
"Wow, dia tahu kalau Papanya datang menjemputnya pulang." Luky tampak sangat bahagia. Untuk pertama kalinya ia merasakan gerakan janin miliknya yang ada di dalam perut isterinya.
"Kak, ia gembira sekali kamu datang." Kamila ikut merasakan gembira seperti yang dirasakan oleh suaminya.
"Ayo sayang, kita harus segera meninggalkan tempat ini sebelum terang. Pelaku itu sudah pulang terlebih dahulu bersama dengan polisi."
"Syukur Alhamdulillah Kak. Tuhan masih memberikan kita kesempatan untuk bertemu. Aqram itu benar-benar pria tak tahu malu dan sangat menjijikkan."
"Apa yang dilakukannya padamu sayang? Apakah ia menyentuhmu? Biar ku hancurkan tangannya jika itu terjadi."
Kamila tersenyum dan menggeleng. Ia takut kalau suaminya melakukan hal yang berbahaya padahal ia sedang hamil. Meskipun ia sangat marah tetapi ia tetap berharap untuk memaafkan Belinda dan putranya itu.
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading π