
Aqram Pratama mengamuk. Ia melempar semua benda yang ada dihadapannya. Ia nampak sangat marah saat ini. Perlakuan Luky yang semena-mena padanya tak bisa ia terima.
"Brengsek kamu Luky! kamu akan aku buat menderita!" geram Aqram dengan rahang mengeras. Pria itu terduduk dengan tangan menutup wajahnya menggunakan telapak tangannya.
"Aaaargh!" Ia meringis sakit karena luka-luka akibat pukulan dari mantan temannya itu ternyata masih sangat terasa.
"Sial!"
"Aqram, ada apa?" tanya seorang perempuan yang berusia lebih dari setengah abad yang baru masuk ke kamar itu. Rupanya ia cukup terganggu dengan bunyi barang-barang yang jatuh dari dalam kamar putranya. Aqram tidak menjawab. Ia hanya menunduk. Ia tidak ingin ibunya itu melihat luka-luka memar di bagian wajahnya.
"Katakan ada apa? Lihat! Kamarmu jadi nampak seperti kapal pecah." Perempuan itu sepertinya masih sangat mencurigai kalau putranya sedang tidak baik-baik saja saat ini. Ia pun menghampiri putranya itu dan duduk di sampingnya.
"Apakah ini masih tentang Kamila?" tanya sang ibu dengan tangan berusaha mengangkat wajah sang putra. Aqram Pratama mengangguk.
"Lalu wajah mu? Siapa yang melakukan ini Aqram?" Perempuan tua itu tampak mulai panik. Wajah tampan putranya sudah tidak tampan lagi bahkan lebih parah dari itu, yaitu hancur.
"Apakah ini perbuatan putra Rohan Firmaji?!" Sekali lagi Aqram mengangguk.
"Brengsek! Kenapa kamu tidak membalasnya hah? Bukankah kamu mempunyai dua tangan dan dua kaki?" Perempuan tua yang ternyata adalah Ibunya itu semakin marah dengan kejadian yang terjadi pada putranya.
"Pria gay mana punya tenaga untuk melakukan ini padamu Aqram! Dasar kamu saja yang bodoh!"' Perempuan tua itu pun berdiri dari duduknya dan ingin mencari kotak obat untuk mengobati luka-luka lebam yang terdapat pada wajah sang putra.
"Aaawwwww! Sakit Bu." Aqram meringis sakit. Tangan ibunya yang mengoleskan salep pada bagian-bagian yang nampak membengkak itu ia tekan dengan keras karena emosi.
"Itu untuk kebodohanmu. Harusnya kamu bunuh saja si pria gay itu. Sampai sekarang apa saja yang kamu lakukan?!" Kamila pun tak berhasil kamu rebut." Perempuan yang bernama Belinda itu terus mengomel tak jelas. Sejak dulu ia sangat membenci keluarga Rohan Firmaji.
"Ibu, mereka mengeroyok Aku!" Pria itu membela dirinya karena sang ibu malah menyalahkannya terus.
"Halah! Kamu membela diri karena tidak becus juga membuat keluarga mereka menderita. Kamu hanya berjanji terus pada ibumu ini tapi semuanya tak pernah bisa kamu tepati!"
"Ibu?! Kamu selalu menyalahkan Aku padahal Aku sudah berusaha keras. Sekarang giliran kamu ibu," ujar Aqram dengan perasaan bertambah kesal. Ia sudah sakit hati karena tidak bisa mengalahkan Luky Firmaji kini malah mendapatkan omelan yang tidak ada habisnya.
"Oh jadi kamu meminta ibu untuk turun tangan? Baiklah. Akan ibu tunjukkan bagaimana caranya membuat Rohan Firmaji menderita." Belinda menyeringai dengan sangat kejam.
__ADS_1
Aqram hanya bisa berharap niat ibunya itu berhasil sehingga ia bisa mendapatkan Kamila. Ia tak perduli siapapun. Kamila cinta pertamanya haruslah ia dapatkan.
πΊ
Pagi ini Kamila bangun dengan sangat bersemangat. Ia jadi lupa kalau ia sedang hamil karena rasa bahagia yang ia rasakan sejak semalam. Luky benar-benar membuatnya selalu senang. Pria itu tanpa pernah mengeluh dengan apapun yang ia inginkan padahal masa ngidamnya pun sudah lewat.
"Kak, bangun dong," panggilnya seraya menggoyang-goyangkan tangan suaminya agar mau bangun.
"Mil, Aku masih ngantuk sayang, ayo sini tidur lagi. Aku peluk," balas Luky dengan mata yang masih tertutup. Ia benar-benar merasa matanya seperti kena lem. Semalaman mengikuti kemauan sang istri membuatnya membutuhkan tidur yang lebih banyak.
"Gak mau Kak, Aku pengen banget joging pagi-pagi sama kamu di area komplek. Ayolah Kak." Kamila terus membujuk seraya menciumi seluruh wajah sang suami dan terakhir ia mampir pada bibir tebal yang selalu bisa membuatnya lupa daratan.
Luky langsung meremas bagian belakang istrinya saat Kamila mempermainkan bibirnya.
"Mil, kamu kok pintar sekali sih menggodaku sayang?" tanya Luky setelah berhasil membalas lumattan dari istrinya itu.
"Habisnya kamu gak mau bangun kalau gak dikasih DePe dulu," jawab Kamila dengan senyum manja. Luky pun langsung tersenyum.
"Tapi Aku beneran lelah banget sayangku. Semalaman kamu buat apa diriku Hem?" Luky menatap wajah istrinya yang tiba-tiba nampak sangat malu.
Pria itu kelelahan dan ingin tidur untuk mengumpulkan energinya kembali.
"Iya deh, Kak. Aku pergi sendiri saja ya, kamu tiduran aja." Kamila pun berdiri dari duduknya.
"Mil, maafkan aku ya sayang. Aku gak bisa nemenin kamu."
"Gak apa-apa kak. Semoga Mak Siti mau nemenin. Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam." Luky tersenyum kemudian menutup matanya. Ia akan melanjutkan tidurnya pagi ini setelah ia melaksanakan sholat subuh tadi.
Ia hanya heran dengan tenaga istrinya yang sedang hamil seperti itu. Tenaganya begitu luar biasa, padahal semalaman ia menggempurnya sampai berjam-jam. Kamila hanya menjawab bahwa ini adalah usaha yang menyenangkan agar gampang nanti lahirannya.
Tak lama kemudian, ia pun jatuh tertidur. Sedangkan Kamila masih menunggu Mak Siti berganti pakaian. Perempuan tua itu bersedia menemaninya untuk jalan santai berkeliling komplek.
__ADS_1
"Mari Nya, saya sudah siap," ujar Mak Siti dengan tampilannya yang sangat berbeda dari biasanya. Kamila sampai tidak percaya dengan apa yang ia lihat di depan matanya.
"MasyaAllah, ini beneran Mak Siti? Lho kok jadi kayak anak gadis 17 tahun sih?" goda Kamila dengan senyum diwajahnya.
"Ah, Nyonya bisa aja, Saya ini Mak Siti yang sudah berusia 60 tahun. Mana ada ceritanya saya berubah jadi gadis 17 tahun, hihihihi." Mak Siti cekikikan bahagia.
"Habisnya Aku pangling Mak. Cantik banget pakai kostum olahraga kayak gitu," ujar Kamila seraya melangkahkan kakinya keluar dari rumahnya. Mak Siti mengikutinya dari belakang.
"Ah iya sih Nya, kan baru kali ini saya memakai pakaian seperti ini."
"Tapi ternyata cantik lho Mak. Kayak tampil lebih muda gitu." Kamila menjawab dengan meraih tangan perempuan tua itu agar berjalan bersisian dengannya.
"Setelah ini kita makan bubur ayam yang di depan gerbang komplek ini ya Mak. Aku sudah lapar." Mak Siti tersenyum samar. Baru juga jalan 5 menit, tapi perempuan hamil ini sudah merasakan lapar.
"Jangan menatapku begitu dong Mak. Aku lapar karena ada bayi di dalam sini yang meminta makan lebih," ujar Kamila seraya melangkahkan kakinya dengan bersemangat.
"Eh, saya maklum Nya, untuk ibu hamil itu gampang sekali lapar. Kalau Nyonya mau, kita tidak perlu mengelilingi kompleks. Kita cukup jalan ke tukang bubur ayamnya."
"Itu ide yang bagus Mak. Kan capek tuh kalau harus jalan berkeliling, hehehehe," kekeh Kamila merasa lucu. Niatnya ingin jalan tapi nyatanya, ia lebih ingin makan.
Hanya berjalan sekitar 500 meter, mereka pun sampai di warung bubur ayam yang sangat ramai pengunjung itu. Kamila dan Mak Siti sampai bingung mau duduk dimana. Warung itu terlalu penuh di pagi buta seperti ini.
"Mak, sepertinya bukan cuma Aku yang kelaparan seperti ini, " ujar Kamila meringis.
"Duduk sini Mbak," panggil seorang perempuan tua yang sedang duduk sendirian.. Kamila tersenyum senang. Itu artinya ada yang mau berbaik hati memberinya tempat.
Perempuan tua yang bernama Belinda itu langsung menyeringai senang. Rencananya sepertinya sedang direstui oleh alam semesta.
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading π