
William mengajak kedua orang, Wiwin, Adit, Ibnu,dan Ucok. kerumah lama William dua puluh tahun yang lalu. rumah yang selalu dirawat sama William walaupun enggak ditempatin sama sekali, selama ini William memilih tinggal di apartemen enggak berani menempati rumah lamanya, rumah yang menjadi kenangan terakhir bareng Adit kecil.
" Ini rumah kita? " Tanya Adit dengan menahan sesak
" Iyah sayang, rumah yang terakhir kita tempati dua puluh tahun yang lalu, masih dipakai buat tempat tinggal karyawan kantornya William." Ucap mamahnya William nahan tangisnya.
" Rumahnya mewah sekali" Puji Ucok melihat rumah lama keluarga nya William
" Andaikan ini rumah kita, bener bener bagus." Puji Ibnu, mata Ibnu melihat sekeliling halaman rumah yang luas.
" Yuk masuk, jam segini karyawan masih pada kerja. jadi tinggal ART saja. yang ngurus rumah ini juga dari muda sampai sekarang sudah punya cucu." Ucap ayahnya William, ayahnya William masuk kedalam rumah diikuti istrinya, Adit, Ibnu, Ucok, William dan Wiwin.
__ADS_1
" Selamat datang semuanya, akhirnya tuan muda Adit ketemu. saya sudah mendengar dari Bodyguard yang biasa kerja sama tuan muda William." Ucap bik Sum, wanita paruh bayah, yang setia bekerja dirumahnya William. anak, suami,dan cucunya. enggak keberatan tetep tinggal di rumah William, mengurusi rumah walaupun dengan status ngekost.
" Iyah bik, subhanallah sekali kita bahagia, bisa ketemu Adit dengan keadaan sehat tanpa kekurangan apapun." Ucap Ayahnya William
Bik Sum mengajak keluarga majikannya untuk melihat isi rumahnya, rumah yang awalnya berlantai satu dengan kamar lima. kini menjadi tiga lantai, kamar utama dibawah dikosongkan tiga kamar yaitu kamar utama, kamar William, dan kamar Adit bayi. Bik Sum mengajak ke kamar utama yaitu kamar orang tuanya William, isinya masih utuh engga ada yang dibuang sama sekali, dilanjutkan ke kamarnya William, Wiwin melihat koleksi foto foto William kecil dan kasur yang masih sama seperti dua puluh tahun yang lalu, dan terakhir kamarnya Adit bayi. kamar yang menjadi kenangan paling pahit dan kenangan termanis selama setahun bersama Adit.
" Kamarnya masih sama, semuanya masih dirawat dengan baik, tuan muda William yang ingin ketiga kamar yang kita kunjungi di rawat dengan baik. enggak boleh ada yang menempati ketiga kamar ini, makannya dibangun dua lantai buat karyawan yang mau ngekos disini tujuannya supaya rumah ini masih terpakai." Penjelasan Bik Sum, bik Sum sangat bahagia melihat Adit tumbuh menjadi remaja yang ganteng dan tinggi seperti William.
" Kita istirahat sebentar yah disini, sebelum kita ke rumah kakek Bowo. Adit, Ibnu,dan Ucok engga masalah kan tidur bertiga dikamar ini.?" Tanya mamahnya William
" Enggak masalah mami, selamat istirahat." Ucap Adit pelan, Adit menahan haru melihat kamar Masa kecilnya.
__ADS_1
" yah sudah kita duluan." Ucap Wiwin, Wiwin nepuk pelan bahunya Adit.
William, Wiwin,dan kedua orang tuanya jalan ke kamar masing-masing, begitu juga dengan bik Sum yang kembali ke kamar nya.
William melihat kamar masa kecilnya dengan haru, Wiwin duduk dikasur karena merasa lelah dan perutnya sedikit sakit. Wiwin melihat koleksi penghargaan yang diterima William dan foto foto keluarga nya William.
" Sayang, kamar kamu bagus juga yah, kamar kecil aku enggak seluas ini." Ucap Wiwin, Wiwin merasa iri sama kehidupannya William walaupun enggak merasa bahagia semenjak hilangnya Adit.
" Jangan bicara seperti itu sayang, oh yah kita jenguk anak kita yuk dikamar masa kecil aku." Ucap William, William melepaskan kaosnya sambil menatap calon istrinya.
" Baiklah sayang, tapi pelan pelan yah." Lanjut Wiwin, Wiwin enggak pernah menolak keinginan William, dan William pun selalu siaga kalo dirinya merasa sakit akibat olahraga panasnya, William selalu siapkan kotak medisnya kalo Wiwin merasa sakit tiba tiba.
__ADS_1