
Di dalam hutan, dekat dengan desa.
"AAAA!" Teriak gadis kecil.
"Siapa itu?" tanya Si Kakek.
Dia memutuskan mencari tahu, "Astagfirullah al'adzim."
Kakek Darman menemukan gadis kecil tergeletak di dalam got, untung saja air di dalam got itu hanya setinggi pergelangan kaki Si Kakek.
Dengan nekat Kakek turun menyelamatkan gadis kecil yang entah masih bernyawa atau sudah tiada, menggunakan tali yang di bawanya dari tempat kerja mengikat tali ke pohon dengan erat, begitu pun perutnya, perlahan turun ke bawah.
Sampainya dia berusaha mengevakuasi gadis kecil itu. Mencoba menaikkannya di atas punggung, terikat dengan tali perlahan naik ke atas permukaan.
Kakek melepas tali menurunkannya dengan perlahan mengecek suhu tubuhnya, pernapasan, penampilan acak-acakan dan banyak bekas luka disekujur tubuhnya. Diamatilah gadis kecil cantik berambut hitam panjang, mata hitam kecoklatan, berkulit kuning langsat.
"Syukurlah!" Kakek menghembuskan napas lega. "Gadis kecil ini masih bernapas."
Kakek Darman berusia setengah abad atau 50 tahun, pekerja bangunan hidup sebatang kara di desa terpencil dekat dengan hutan. Rata-rata penduduk di sana ramah tamah, udara sangat sejuk karena jarang sekali terkena polusi.
Saat Kakek bertanya namanya siapa, gadis kecil itu hanya terdiam gemetaran dihantui rasa takut akan kegelapan, ternyata gadis cantik ini tidak dapat mengingat apa pun. Kakek berusaha mencari nama yang indah untuknya 'Gresnalia Putri' itulah namanya.
Terpaksa Kakek Darman menyembunyikannya, jika tidak mungkin akan terjadi sesuatu yang lebih menakutkan menimpanya mungkin diluaran sana masih ada yang mengincarnya.
Karena tak dapat mengingat apapun, dirinya yang tanpa memiliki keluarga. Jadi apa salahnya? Jika gadis kecil ini tinggal bersama, setidaknya sampai dia mengingat siapa dirinya.
Setelah kejadian itu banyak hal yang mereka lalui, terlebih pada saat usia Gres menginjak 16 tahun. Kakek sakit-sakitan dan sekarang terbaring lemah di salah satu ruang rumah sakit.
Gres menatap Kakeknya sembari memegang erat telapak tangan dan memandang dengan raut muka sedih. "Kek,"
"Nak, to..lo..ng ik..ut ber..sa..ma bi..bi Ali..sya ting..gal..ah dan.. sek..olah di sa..na." memegang dadanya terasa sesak, "Ja..ng..an ja..di ga..dis lem..ah, ku..at..lah nak."
NIIIIIT!
Kakek menghembuskan napas terakhirnya, Gres syok, terkejut, dan air mata mengalir deras.
"KAKEEEK!"
***
Diluar gerbang SMA BUBIN, Gres dan Bibi Alisya datang tidak menghiraukan betapa mewah sekolah yang dia datangi.
"Gres di sinilah kamu akan bersekolah besok datanglah kemari," ucap Bibi Alisya, "Semua biaya sudah ditanggung Alm. Kakek Darman, tidak perlu khawatir dia bekerja keras tanpa henti, demi kamu,"
Tanpa ada jawaban dari Gres, dia hanya murung pandangan tanpa arah.
"Kamu bekerja paruh waktu di lestoran Happy, Bibi sudah mengatur segalanya," kata Bibi Alisya menatap ke arahnya.
Tetap diam.
"Rumah yang akan kamu tinggali kecil dan memiliki banyak kekurangan, tetapi masih layak di tempati," lanjutnya.
Bibi Alisya merasa kasihan padanya. "Gres ... Bibi tidak bisa tinggal bersamamu, maa- "
"Tidak apa apa Bibi, aku akan selalu mengingat pesan terakhir kakek. Gak perlu mencemaskanku, aku baik baik saja." Gres tersenyum menahan tangis.
Gres memasuki rumah yang ia tinggali sempit, air keran rusak kadang kala menyala sendiri, hanya ada satu kamar, dapur dan kamar mandi berdampingan. Hanya satu petak saja, Satu kata darinya 'Sempit' apakah cukup baginya untuk tinggal? Cukup kan dia hanya sebatang kara.
Masuk ke dalam kamar merebahkan tubuhnya di atas kasur yang terasa keras, berhenti memikirkan yang mengganggu pikirannya besok harus bangun pagi.
***
"Wow!" Jerit Gres terkejut memandang sekolah baru sembari membawa air minum ditangannya.
Padahal kemarin ia datangi sekolah ini, mungkin pikirannya masih kacau balau karena ditinggal sang kakek, barulah menyadari betapa mewah sekolah yang ia datangi.
Gerbang terbuka. Gres melangkah tanpa ragu senyum-senyum sendiri kaya orang gila, melentangkan kedua tangan, menutup matanya, merasakan angin yang bertiup kecil menghampiri menerbangkan rambut panjangnya yang terurai.
Saat itulah sosok cowok tampan berada di sana memasukkan kedua tangannya ke dalam saku, mendongak ke atas sembari menutup mata.
__ADS_1
Menutup mata, Gres tidak menyadari sejak dari tadi seseorang berdiri tepat didepannya, dia menghela napas lega membuka mata, membulatkan kedua bola matanya, menggigit bibirnya, hanya satu kata 'Tengsin' betapa terkejutnya dia saat melihat cowok cool berada di sana.
Tiba-tiba berada dihadapannya menatap ke arah Gres tatapan tajam.
MB singkatan nama dari Muhammad Baehaki. Memandang ke depan gerbang sekolah yang bertuliskan SMA BUBIN 'Bulan & Bintang', termasuk sekolah termahal dan termewah di Jakarta.
Selain itu cukup sulit memasuki sekolah elite. Hanya siswa-siswi tertentu dan dari keluarga kaya atau bangsawan yang diperbolehkan masuk, bukan hanya itu saja jika mendapatkan ijazahnya. Mudah masuk keperguruan tinggi, dan bukan siswa yang mencari kerja tetapi kebalikannya.
Sekali lagi dijelaskan MB memiliki sifat dingin, cuek, kasar, kejam, sensitif saat disentuh cewek dan benci kata cinta. Meski demikian ia disukai seluruh cewek di sekolah miliknya itu.
Mengapa? Kulitnya yang putih, rambut hitam lebat, mata hitam kecoklatan, bibir tipis sexy dan tinggi.
Hanya satu langkah MB melewati gerbang masuk sekolah cewek-cewek berhamburan ke satu arah. Hanya untuk mendekati MB sang pemilik wajah tertampan di sekolah, pandangannya lurus ke depan, tatapan matanya terlihat tajam sama sekali tidak memedulikan sekelilingnya.
"Allah hu'akbar."
"Parah, ganteng banget."
"Waktu berhenti juga tak apa."
"Subhanallah, maha suci Allah."
"Meleleh."
Mereka bergumam tanpa sebab, melirik tanpa berkedip, memandang MB dengan kata lain 'TERPUKAU.'
'Dia pasti berpikir aku ini nora.' Pikir Gres.
Masih baru dan belum tahu kelasnya di mana? Gres memberanikan diri bertanya pada cowok super tampan itu berjalan mendekatinya, menelan ludahnya susah payah. "Anu ... "
Segerombolan 'zombie' pecinta cowok super tampan membanjiri tempat cowok itu. Mereka bertabrakan dengan Gres, tak menghiraukannya. Tanpa disengaja air minum yang di bawanya dari genggamannya, terbang mendarat tepat pada dada depan MB.
Menutup mulut, Gres syok begitu pun yang lainnya menatap sinis ke arahnya, tubuhnya gemetar, matanya terbelalak, pipinya berubah jadi merah muda.
MB mengusap-usap seragamnya yang basah. Banyak cewek menawarkan saputangan, Gres juga ikut mengambil saputangan miliknya. Ia akan menyentuh MB, dengan kasar cowok itu menepis tangan Gres sampai tangannya merah.
Mengibas-ngibaskan tangannya perih, MB mengambil saputangan dari kantung sakunya. Membersihkan sendiri, dibuanglah saputangan itu. Sebelum jatuh ke tanah, para gadis yang berada di sana berebutan bekas serbetannya itu.
Cery mendekati Gres mengawasinya yang sedari tadi memanyunkan mulutnya, setelah jauh MB pergi meninggalkan mereka. Cery menarik tasnya pergi ke kelas khusus, mendorongnya secara kasar sampai terkapar di tanah.
"Awww!" Teriak Gres telapak tangannya berdarah bersentuhan dengan tanah yang kasar.
"Jangan cengeng! Disinilah kelas lo, ngerti!" Jerit Cery kesal meninggalkannya.
Cery Sintiabela salah satu cewek kejam yang menyukai MB, dia cukup dekat dengannya memiliki kekuasaan pada sekolah MB ini.
Meringis kesakitan mencoba berdiri membuka pintu kelas.
"Selamat datang." Sambutan dari dalam kelas.
"Masalah apa yang lo perbuat sehingga masuk ke kelas, ini?" tanya Esa.
"Pasti masalah yang gak biasa," ucap Latus.
"Karena tadi kita liat lo, diperlakukan kasar," tambah Tino.
Pertanyaan menggema ditelinga Gres. "Bisakah, kalian diaaam!"
Sedangkan yang lainnya diam sibuk memainkan 'handphone' masing masing, duduk sikap terbaik saat ini.
Kembali menghela napas, mereka menunggu jawaban Gres dengan penuh harap.
Gres menceritakan awal masuk gerbang sekolah, sampai ditarik ke kelas mereka.
"Bla, bla ..." ucap Gres mencoba menjelaskan kepada mereka.
"Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun," Tino mendengus sedih.
"Lo kira dia meninggal," kata Latus.
__ADS_1
"Udahlah, perkenalkan nama gue Esa Anugrah Kuswanda, ini Lailatus Sukriah," Esa menunjuk ke arah Latus.
Tinggalah Tino tersenyum sombong akan diperkenalkan.
Esa berdecih. "Dan si bodoh Tino,"
Ekspresi Tino menjadi murung.
"Yang sabar ya, bosss," Latus tersenyum.
"Iya sopo." Jawab Tino tertawa.
Gantian, Latus memanyunkan mulutnya.
"Aku Gresnalia Putri, panggil Gres."
Mereka mulai menjadi teman akrab. Kelas ini ternyata khusus kelas yang di cap buruk.
**Peraturan MB**
**1. Saat MB datang semua siswa-siswi harus berkumpul menyambut kedatangannya.
**2. Wanita dilarang keras menyentuhnya.
**3. Tidak boleh membuat MB bosan apa lagi marah.
**4. Kelas yang sudah ditentukan tidak bisa diganggu gugat.
**5. Jadilah anak Sholeh.
Siapa pun yang membuat kesalahan atau melanggar peraturan akan mendapat hukuman berat, sekaligus menyeret tersangka ke 'Kelas Khusus Cap Buruk.'
"Peraturan macam apa itu, konyol," Gres memanyunkan mulutnya. "Dasar payah, mengapa kalian diam saja! Bukankah ini nggak adil ... Kelas lain belajar kita duduk diam, kalau kelas mereka istirahat kita baru belajar, padahal aku harus bekerja,"
"Masalahnya gak ada yang berani melawan, apalagi sama gengnya Cery yang tadi bawa lo ke sini," ucap Latus sedikit bergemetar.
"Cery memiliki teman, mereka semua kejam. Sempat melawan tetapi, bagi kami yang melawan akan dipermalukan di depan semua orang, dia ... " ucap Esa terdiam terlihat murung.
Tino memegang pundak Esa. "Dia ditelanjangi di depan kami semua,"
Mata Gres membulat, wajahnya dipenuhi amarah, kesal beraduk jadi satu. "Kejam, benar-benar nggak punya hati,"
"Dia sahabat kami namanya Ratih, karena malu dia naik ke atas gedung sekolah lalu ... " ucapan Latus terhenti menahan tangis.
"Jatuh ... meninggal di tempat," Esa yang melanjutkan perkataannya, langsung memeluk Latus.
Gres merasakan kesedihan mereka tubuhnya mulai gemetar, kepalanya semakin memanas menahan amarah. "Keterlaluan! Mereka bukan manusia! Nggak bisa dibiarkan!"
Hendak melangkah pergi menemui MB, tapi Latus menarik tangannya Gres terdiam memandangnya yang mulai meneteskan air mata.
"Cukup sudah! Lo anak baru yang akan jadi sahabat kami, banyak menentangnya tetapi apa? Mereka selalu mati mengenaskan," Latus terus menangis.
"Yang dikatakan Latus benar Gres," tambah Esa.
"Aku mengerti." Gres mengkerutkan keningnya memeluk Latus.
Author :
Gimana ceritanya?
Tambah ancur apa tambah kisut gak jelas?
Hehehe, komennya dan like nya ya?
Ditunggu.
Kalau ada salah kata, atau kekurangan lainnya saya minta maaf.
__ADS_1
Jika ada yang berminat klik favorit mu, bersyukur sekali. hehehe.
Pepatah : Bacalah! Sebelum menilai!