Jangan Mencintaiku

Jangan Mencintaiku
Rasa Cinta Yang Mulai Tumbuh


__ADS_3

Terbangun dari tidurnya, Gres begitu semangat. Ia bangun jam 4 subuh, cuci muka langsung pergi ke dapur. Membuka kulkas menyiapkan bahan-bahan makanan, ia memasak dengan sepenuh hati. Membuat tiga bekal, MB, Fajar dan juga dirinya.


Setelah sampai ke tahap ke-3 makanan itu telah dipersiapkan. Gres tersenyum sambil mencium bau masakan dari kotak bekal itu, seseorang pelayan yang menyuruhnya memasak tadi malam. Mendorong tubuhnya, sampai terjatuh tetapi tidak melepaskan kotak makanan itu.


Gres mempertahankannya, ia menatap ke arah pelayan itu. Wajah pelayan itu sangat menyeramkan, sampai membuatnya hanya terduduk diam di lantai.


"Siapa yang suruh lo, cium makanannya?" kata pelayan judes itu.


"Tapi apa perlu kamu sampai mendorongku? Kamu bisa menegurku, kan? Aku paham ko," kata Gres bangkit mencoba menegur yang dia lakukan terlalu berlebih-lebihan, menutup bekalnya menaruhnya di meja makan.


"Halah banyak cencong lo! Udah sana pergi!" Usir Pelayan itu mendorong kembali tubuhnya.


Saat pelayan itu sibuk merapihkan bekal untuk MB, inilah kesempatannya membawa pergi bekalnya sendiri. Gres bersiap-siap pergi ke sekolah, Ibu MB sedang duduk di meja makan. Pelayan itu sedang berdiri disampingnya, belum lama Fajar turun ke bawah.


"Tuan Fajar, ini ada bekal. Saya telah membuatkan bekal khusus untuk tuan, tolong di bawa," kata pelayan itu tersenyum ramah padanya.


"Oh, yaudah. Bun aku pergi sekolah dulu," kata Fajar meraih dan mencium tangan Ibunya.


"Tunggu Kakamu, kalian harus berangkat bersama," pinta Ibunya menghentikan Putranya yang ingin secepatnya pergi ke sekolah.


"Biar aja Bun, lagi pula aku juga gak mau berangkat bareng Adik tukang kepo," ucap MB berjalan menuruni tangga rumahnya.


"Huh, emang Kaka gak ada akhlak," celetuk Fajar ngedumel sendiri.


"Apa!?" Jerit MB mendekatinya.


"Sudah-sudah, kalian ini pagi-pagi bukannya bersemangat mau berangkat kesekolah, malah ribut." Tandas Ibunya menggelengkan kepalanya.


Pelayan judes itu maju selangkah sambil membawa bekal yang dia anggap buatannya. "Tuan MB, ini saya sudah buatkan bekal. Tolong dibawa ya?" kata pelayan itu sambil bertanya.


MB hanya membuang muka menatap Gres yang berdiri dihadapannya. Ibunya menarik tas putranya itu, langsung memasukan bekal makanan.


"Bun!" Teriak MB menatapnya.


"Apa?!" Tanya Ibunya dengan wajah yang cukup menyeramkan.


"Nggak, yaudah aku berangkat dulu," desah MB meraih tangan Ibunya dan menciumnya.


"Iya, Gres kamu bareng aja ya berangkatnya sama MB? Kalian kan satu sekolah," lanjut Ibu MB dan Fajar menawarkan tumpangan.


"Iya Bunda, kalau gitu Gres berangkat dulu," kata Gres meraih dan mencium tangannya.

__ADS_1


"Baiklah, hati-hati ya? MB gak keberatan kan berangkat sama Gres?" tanya Ibunya karena kebiasaan Putranya adalah menurunkan seseorang yang tidak ia sukai ditengah jalan.


Suasana hati Ibu MB sedang tidak baik-baik saja, jadi biarkan sajalah.


"Terserah," jawab MB masuk ke dalam mobil.


Fajar dan Ibunya saling bertatapan cengo. Tentu saja, ini kali pertamanya MB mau berangkat bersama orang lain. Selain keluarganya, mereka berdua tersenyum bahagia kemajuan yang sangat bagus.


Gadis itu hanya tersenyum melangkah mengikuti MB, sedangkan pelayan itu sangat kesal ketika Gres memanggil nyonya rumah dengan sebutan yang tidak asing didengar olehnya, yaitu Bunda. Sebenarnya siapa gadis itu? Sepertinya dia bukan cuma pelayan biasa di rumah ini.


Fajar duduk ditengah, atas dasar saran sendiri. Fajar ingin sekali mengobrol dengan Gres. Tetapi MB menatapnya dengan sangat tajam, dia tetap dengan tujuannya mengajak bicara. "Gres udah punya pacar belum?" kata Fajar bertanya padanya.


JLEB! Pertanyaan itu seakan-akan menusuk jantungnya, Gres ingin sekali mengatakan kalau ia masih jomblo dan mungkin akan mengakhiri masa jomblonya secepat mungkin.


"Belum." Jawab Gres sedikit kikuk menundukkan kepalanya karena malu.


"Kesempatan nih, boleh dong minta no wa nya?" kata Fajar bertanya kembali.


"Hah, boleh ko. 0813xxxxxxx," kata Gres langsung memberikan nomornya.


"Gue save, tenang aja temen arisan Bunda anaknya cakep-cakep ko, terus kaya raya. Rata-rata pengusaha muda semua. Siapa tahu ada yang mau sama cewek seimut lo, itung-itung memperbaiki keturunan. Hehe," kata Fajar menjelaskan tujuannya meminta nomornya, sambil tertawa sedikit bergurau.


Diam seribu bahasa, kini Fajar menatap Kakanya. Saat itu sedang memegang handphonenya, senyuman dan pertanyaan licik dia siapkan.


"Hah! Mana ada, Kaka cuma liat pesan dari Bunda." Bentak MB menegaskan.


"Ah baiklah, up to you Kak," kata Fajar sambil ingin merebut handphone Kakanya.


Terlambat MB sudah menyadari hal itu. Fajar kini memanyunkan bibirnya ke depan, malas menatap Kakanya.


Gres tersenyum dengan manisnya, melihat tingkah Adik Kaka ini yang jarang sekali terlihat olehnya. Hampir tiba di depan gerbang sekolah, Gres menyuruh Pak Sopir menghentikan mobilnya.


Fajar bengong, MB bertanya padanya. "Kenapa mau turun? Sebentar lagi kita kan sampai?"


"Gak apa, nanti nyusahin kamu dan Fajar. Raja gosipkan masih hidup, ada di sekolah kita lagi," jawab Gres mengangkat tas gendongnya.


"Jalan Pak." Pangkas MB tegas.


"Tapi- " kata Gres.


"Sudah, kalau Kaka gak masalah. Gue pun gak masalah, jangan dipikirkan Gres." Sanggah Fajar tersenyum padanya.

__ADS_1


Awalnya Fajar beda sekolah dengan Kakanya, namun akibat paksaan Ibunya. Terpaksa harus ikut satu sekolah dengan Kakanya, percuma melawan perintah yang dia anggap sang ratu rumah.


Mereka bertiga keluar dari mobil, semua siswa tertuju pada mereka yang saat ini berjalan bersama ke arah gerbang. Fajar menggandeng tangan Gres, sedangkan MB merasa risih dengan sikap Adiknya yang sedikit berlebihan.


Entah kenapa? MB ingin memisahkan Adiknya dengan Gres. Tapi, sekali lagi ia berpikir, untuk apa? Lagi pula tak ada sangkut pautnya dengannya.


"Baiklah, gue antar lo sampai di depan kelas," ajak Fajar bersemangat sambil menggandeng tangannya, tanpa berpikir suatu apa pun.


"Iya, tapi bisakah kamu lepaskan tanganku? Gak enak dilihat yang lain," jelas Gres takut yang lain salah paham juga merasa risih.


"Gak apa, bagus dong. Nanti kita digosipkan gini, Adik kelas sang anak baru, nan tampan rupawan. Berpacaran dengan Kaka kelasnya yang super imut, nan baik," terang Fajar tersenyum padanya.


"Haha, lucu sekali kata-katamu itu," imbuh Gres tertawa sambil membekap mulutnya.


Didepan kelas Gres mereka pun berpisah. Fajar membentuk sebuah love dengan kedua tangannya, berlari menuju kelasnya, Tino dan Teri datang tepat waktu untuk mewawancarai tersangka Gres.


Mereka berdua memulai perilaku tiada akhlak. Tino menjadi kamera, sedangkan Teri menjadi pewawancara. Mereka berdua memulai pertanyaannya dengan sangat perlahan, sampai terbongkar semua informasi yang mereka inginkan.


"Para pemirsa sekalian, kami sedang berada dikediaman nona Gres. Telah digegerkan bahwa anak baru tidak lain adik kelasnya sendiri, menggandeng tangannya. Apakah mereka berpacaran? Baik kita langsung tanyakan kepada Narasumber." kata Teri mengarahkan tangannya yang sedang memegang pulpen sebagai mikrofon.


"Apakah anda berpacaran dengan anak baru itu?" lanjutnya bertanya padanya.


"Kita berdua gak pacaran ko, udah ya. Aku mau baca buku, bentar lagi kan ada ujian susulan." kata Gres duduk santuy dikursinya.


"Jawaban macam got apa ini? Baiklah kita tanyakan kepada tuan dari seluruh tuan. MB, apakah dia ada hubungannya dengan anak baru itu?" tanya Teri mencoba menatap kearah MB.


JLEGAR! Tatapan MB begitu tajam dan menakutkan. Sampai seperti ada kilatan petir yang keluar dari matanya, lalu menyambar ke arah Teri dan Tino.


Sebelum tatapan MB menjadi, Tino dan Teri saling tatap, menelan ludah susah payah. Susah sekali turun ketonggorokan. Mereka berdua langsung duduk anteng dikursi masing-masing.


"Haha." Yang lain hanya tertawa melihat tingkah laku mereka yang tiada akhlak.


Kasus kemarin masih diselidiki, masih dalam pengawasan polisi. Jadi mereka terkadang belajar suka tak tenang, apalagi mengenai Tino dan Teri yang berniat mengerjai polisi, yang sedang berdiri tegap disetiap pintu sekolah yang hanya digarisi polisi.


Mereka berdua menganggap polisi itu patung, yang seharusnya dipajang dibutik-butik di dalam mall.


Author :


Tino sama Teri, pemikirannya kejam yah?


Beri penulis semangat, Like, kritik, saran dan vote nya. Agar cerita ini bisa terus berlanjut ... Terima kasih.

__ADS_1


See you, next part ➡


__ADS_2