
Selama ini di setiap hari Gres di dalam hatinya hanya ada MB. Ia hanya mencintainya, namun kali ini perasaanya berubah. Ia semakin tak mengerti perasaannya, saat dipeluk Kevin. Ia tak mampu menolak.
"Siapa kamu sebenarnya, Kevin?" ucap Gres bergumam sendiri.
Hanya bisa terdiam di atap. Bel pulang sekolah telah berbunyi, berhenti di depan gerbang sekolah. Apa ia harus menunggu MB? Kali ini ia menepis semuanya. Pergi dari sana tanpa menunggu MB.
Pada hal MB sedang memperhatikannya dari samping kelas. Ia pura-pura tak peduli, masuk ke dalam ruangan kepala sekolah.
"Permisi Pak," ucap MB dengan sangat sopan.
"Iya, masuk dan duduklah," sambut Pak kepala sekolah. Mempersilahkan MB duduk.
Duduk sambil menatap Pak kepala sekolah yang ternyata Pamannya sendiri.
"Ini ada apa? Ko bisa anak pintar seperti dirimu, tidak memiliki riwayat nakal. Ini sebenarnya ada apa?" tanya Pamannya yang ternyata kepala sekolah.
"Tidak perlu dipikirkan Paman, ini hanya masalah sepele," anggap MB dengan sangat entengnya.
"Sepele? Sepele matamu. Coba lihat foto Kevin yang babak belur, ini bisa jadi masalah. Bukan, bukan masalah lagi. Tapi kamu bisa terkena kasus, bagaimana jika orang tuanya melaporkan hal ini? Masa depanmu akan terancam," kata Pak kepala sekolah menjelaskan dan khawatir pada keponakannya.
"Aku mengerti Paman, lain kali aku tidak akan bertindak ceroboh. Jika Paman sudah selesai, aku butuh waktu untuk sendiri,"
Tanpa menunggu jawaban dari pamannya, MB melangkah pergi dari sana.
"Anak zaman sekarang memang gila karena cinta." Pamannya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
Entah ke mana arah yang ingin ia tuju, kakinya hanya ingin terus berjalan tanpa henti. Sampai matahari ditelan malam, ia tetap berjalan.
Didepan rumah Gres. Ingin sekali mendekat, namun terasa jauh. MB hanya menyenderkan tubuhnya di depan gerbang kecil kontrakan Gres, mengangkat sebelah kaki kirinya, mendongak ke atas.
Menghembuskan napas keras.
Beberapa menit kemudian, Gres keluar dari balik pintu. Melangkah keluar, memandang bintang dan bulan yang terlihat terang benderang.
Berbalik badan. Ingin rasanya MB menyapa gadis itu. Namun kedua kakinya terasa kaku, akhirnya ia hanya diam di tempat. Memandangi gadis yang sangat ia cintai. Dan ia belum mengetahui siapa saja yang tinggal bersamanya di sana.
Entah mengapa, air matanya jatuh tanpa meminta izin dari pemiliknya.
'Kenapa aku cuma bisa nangis? Kenapa, kenapa?' batin Gres. Menjatuhkan dirinya, terduduk diam sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya.
"Gres, apa lo gak bahagia sama gue? Padahal gue ingin menentukan perasaan gue," mengatakannya di dalam hati.
Betapa terkejutnya Ibu Gres melihatnya duduk di tanah. Segera menghampiri putrinya, memeluk putrinya lalu bertanya.
"Sayang kamu kenapa?"
__ADS_1
Gres menatap wajah Ibunya, dadanya terasa sesak dan sakit. Hanya bisa terdiam memeluk Ibunya, kejadian seperti pertama kali bertemu dengan seseorang yang tak dikenalinya. Bukan hal yang biasa saja, bisa jadi seseorang itu pernah ada dalam hidupnya.
Sangat ketakutan, bergemetaran, memegang dadanya sesak dan hanya bisa terus menangis. Gres takut, sangat takut. Bila Kevin pernah memiliki hubungan dengannya.
Bila Kevin bisa saja dulunya adalah seseorang yang ia cintai. Karena pada saat dipeluknya pun ia tak bisa menolak, hanya merasakan bahwa ia merasakan kesedihan orang itu.
Lalu jika itu benar? Bagaimana dengan MB. Apa dia bisa memilih antara seseorang yang ia cintai saat ini, atau seseorang pada masa lalu? Itulah yang membebani pikirannya saat ini.
"Sayang kamu bisa cerita, apa saja?" ucap Ibu Gres menghapus air matanya.
Mencoba membangunkan putrinya. Setelah berdiri Gres mulai berbicara, meski berat ia harus mengatakannya.
"Tadi, ada cowok baru dikelasku. Dia sepertinya mengenalku, tapi aku tidak kenal dia. Pada saat dia memelukku aku merasa ... "
Ibunya mencoba mengerti dan mendengarkan apa yang sedang menjadi beban putrinya.
"Aku merasa, pelukannya begitu hangat. Ibu aku takut, dia seseorang yang pernah ada dalam hidupku, aku takut dia, seseorang yang aku lupakan dalam ingatanku,"
Setelah mengatakan hal yang selama ini ia pendam, sedikit lega rasanya. Apapun yang Ibunya sampaikan, ia akan mencoba menerimanya dengan ikhlas.
"Nak, jika dia memang pernah ada untukmu. Bukankah itu berarti dia seseorang yang kamu cari, mungkin dia telah kembali padamu, dalam hidupmu."
"Tapi ... "
Gres ingin mencoba menjelaskan tentang keberadaan MB. Kalau ia sudah menemukan seseorang yang selama ini dicarinya. Namun perkataannya terpotong.
'Jadi, lo memang memiliki hubungan dengannya? Tapi bagaimana bisa Ibunya Kris tinggal bersamamu?' ucap MB membatin di dalam pikirannya.
SREEK!
Tak sengaja kancing tas MB tersangkut, reselting tasnya sedikit terbuka.
Mendengar suara itu Gres menyuruh Ibunya pergi duluan. Ibunya masuk terlebih dahulu, takut jika ada teman putrinya. Mereka tinggal bersama secara sembunyi-sembunyi, karena jika ketahuan takut akan ada orang yang mencurigai keberadaan mereka.
Gres terkejut mendengar ada suara dari luar gerbang, ia mulai mendekat ke arah gerbang dengan sangat hati-hati. Belum sampai di depan gerbang, seseorang lari dari sana.
"Tunggu!" Teriak Gres berlari membuka pintu gerbang mengejarnya.
Gres mengejar lelaki yang sangat mencurigakan itu. Gadis itu tak sengaja menabrak seseorang yang sedang berjalan melewati gang rumahnya, lalu meminta maaf.
"Maaf saya gak sengaja."
"Kalau jalan pake mata dong, eh kaki apa mata ya? Bodolah yang penting saya marah." Teriak orang yang bertabrakan dengannya, lalu kesandung. Bangkit, ngedumel sendiri memarahi batu yang menyebabkannya terjatuh.
Namun orang itu berhasil kabur dari pandangannya, Gres sangat penasaran. Kenapa dia menguping pembicaraan bersama Ibunya. Siapa dia? Apa tujuannya?
__ADS_1
Sampai di depan rumah. MB menekan bel, gerbang terbuka. Ia langsung masuk tanpa memberi salam, padahal ada kedua orang tuanya di sana dan juga adiknya.
"MB!" Panggil Ayahnya yang sedang duduk diruang tamu.
Tidak mempedulikan panggilan Ayahnya. Ia hanya terus berjalan masuk ke dalam kamar.
"Sudahlah Yah, sepertinya MB kecapean. Maklumin aja," ucap Ibu MB berusaha menjelaskan.
"Jam segini baru pulang, anak itu akhir-akhir ini sedikit berubah. Dingin seperti dulu, apa terjadi masalah?"
"Nanti aku akan cari tahu Ayah, Bunda," kata Fajar membujuk kedua orang tuanya. Untuk mempercayakan urusan kakanya padanya.
Tok, tok, tok.
Fajar mencoba memanggil, hasilnya nihil. Dia semakin mendobrak pintu, tenaganya layu.
Ayah dan Ibunya saling bertatapan, sedikit melotot mendengarkan suara berisik itu.
Tapi bukannya MB membukakan pintu, Kakanya malah memasang headset ditelinganya. Dengan alasan 'bodo amat' Fajar balik lagi ke ruang tamu.
Baru sampai sampai tangga bawah. Ibu dan Ayahnya menatap Fajar, dia mengangkat kedua tangannya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ditambah wajah cemberutnya yang lucu, kedua orang tuanya tertawa.
***
Berdiri di depan gerbang, Kevin menunggu seseorang di sana. Tino, Latus, Esa menghampirinya. Mereka ikut berdiri menunggu di depan gerbang.
Saat Gres berjalan pelan ke arah Kevin, Tino mencoba menyapa dihentikan oleh Latus. Kini mereka saling berhadapan.
Tino, Esa, Latus serempak memperhatikan mereka. Saat Kevin ingin angkat bicara, mata mereka bertiga serempak melirik kearahnya.
"Gue mau terus bareng sama lo, bercengkrama, mengerjakan pr bersama, mulai besok gue bakal jemput lo. Bukan, pulang sekolah gue anter. Mulai sekarang, gue udah memutuskan antar jemput lo. Sekarang dan nanti," ungkap Kevin menjelaskan kepadanya.
Esa, Tino dan Latus melirik ke arah Gres. Mereka menunggu jawaban apa yang keluar dari mulutnya, terus menatap dan mendengarkan.
"Kamu yakin mau melakukan hal itu? Bagaimana jika aku menolak?" kata Gres menatapnya tajam.
Maju mendekatkan diri dengan wajah Gres, wajah mereka benar-benar dekat, mendekatkan mulutnya ketelinganya. "Kalau gue kasih penawaran yang sangat menguntungkan bagi lo dan MB. Gue yakin lo gak bakal bisa nolak, itu pun kalau lo masih mempedulikan perasaan MB dan diri lo sendiri?" bisik Kevin mengancam.
Saat mata Kevin menatap kebelakang, MB berada di sana. Dengan sigap dia memeluk Gres. Tatapan membunuh, menatap Gres yang sedang diam saja dalam dekapan Kevin.
Latus, Tino, Esa. Matanya melotot, alisnya terangkat, mulutnya terbuka lebar. Menatap MB yang sedang diam di sana.
Author :
Apa maunya Kevin ya? Sengaja gitu, bikin MB menjauh dari Gres.
__ADS_1
Beri penulis semangat! Subscribe, Hadiah dan Komentar. Agar cerita ini bisa terus berlanjut ... Terima kasih.
See you, next part ➡