Jangan Mencintaiku

Jangan Mencintaiku
Seribu Pertanyaan


__ADS_3

Duduk dibangku taman sekolah, memandang Latus dengan berbagai pertanyaan dibenaknya. Gres akan angkat bicara, lalu gadis yang disebelahnya mulai menatapnya tajam. Membuat ia merasa takut untuk bertanya, menundukkan kepalanya kembali.


"Sikap lo aneh hari ini, gak biasanya lo kaya gini," ucap Latus memulai pembicaraan.


"Nggak kok, mungkin perasaan kamu aja," kata Gres memutar bola matanya sedikit menjauhkan pandangannya dari tatapan Latus.


"Apalagi, saat Tino sama Teri. Membicarakan tentang pertunangan, MB dan Cery," terlintas dibenaknya. "Jangan bilang ... lo suka sama MB?" Dia bertanya lalu menatap Gres serius.


Gres terperanjat ketika mendengar pertanyaan dari temannya.


"Jawab, Gres," lanjutnya kembali bertanya.


Gres hanya bisa menundukkan kepalanya. Latus berdiri didepannya dan memegang pundaknya dengan kedua telapak tangannya.


"Tatap gue, kenapa lo diem aja, jawab!" Lanjut Latus sedikit berteriak menggoyang-goyangkan pundaknya. "Gres!"


"Aku bingung dengan perasaanku sendiri!" Gres angkat bicara. Ia tak berani menatap Latus, menunduk menahan tangis.


Latus membulatkan kedua matanya, melepaskan pundak Gres sedikit kesal, dan membalikkan badannya membelakangi gadis itu.


"Tus ... aku tahu apa yang akan kamu katakan, tapi aku benar-benar nggak paham sama perasaanku sendiri," Gres menatap pundak Latus. "Kamu kecewa ya? Apa kamu marah?"


Sahabatnya menengok ke arahnya dengan tatapan sedih, duduk disebelahnya, memegang tangannya. Membuat Gres menatapnya, akhirnya Latus meredamkan amarahnya.


"Maafin gue, karena gak paham sama perasaan lo?"


Gres ingin menjawab, tapi Latus melanjutkan perkataanya.


"Tapi dengerin gue baik-baik, MB adalah salah satu pemilik sekolahan ini dan berbagai perusahaan ternama di Jakarta. Sebagai penerus tunggal. Hidupnya dipenuhi dengan kemewahan," menggenggam tangan Gres sedikit erat. "Cery adalah pemilik saham dan berbagai cabang perusahaan juga, hidupnya gak beda jauh dengan MB- "


"Sedangkan aku nggak memiliki apa pun, nggak pantas berada disamping MB, itukan maksud kamu," potong Gres menekuk kedua alisnya.


"Hmmm," Latus mengangguk. "Peluang lo sangat kecil, cobalah tepis perasaan itu. Jika memang lo menyukainya, lupakan dia ya?"


"Akan aku coba, tapi ... jangan beri tahu siapa pun termasuk sahabat kita. Apalagi Tino dan Teri, mati aku kalau ketahuan mereka," Gres tersenyum kecil sambil bergurau.


Tanpa menjawab pertanyaannya, Latus memeluk gadis itu. "Rahasia lo aman ditangan gue," dia melepaskan pelukannya, menyodorkan kartu undangan. "Lo gak usah hadir dipertunangan mereka," Latus ingin menyobek kartu itu, Gres menahannya.


"Kenapa?"


"Aku mengerti maksud kamu, tapi ... bagaimana pun juga Haki pernah menganggap, aku ini sebagai temannya,"


"Tapi Gres- "


"Aku juga ingin memastikan, tentang perasaanku terhadapnya, aku janji gak akan bikin keributan," Gres mengambil kartu undangan, "aku bisa tersenyum di depan semua orang,"


"Baiklah, gue percaya sama lo. Yaudah ayo balik ke kelas, entar si Tino sama Teri wawancarain kita panjang kali lebar," mencoba sedikit menghiburnya.


"Iya."


Saat berjalan kembali ke kelas Gres tanpa sengaja melihat MB berdiri di lantai atas sekolah sendirian.


Tanpa Latus sadari gadis yang berada dibelakangnya menghilang. Saat menyadarinya menghela napas sekeras mungkin karena ditinggal sendirian.


Akhirnya sampai di lantai atas, MB hampir menatapnya tapi Gres bersembunyi di balik tembok. Ingin sekali mendekati cowok yang terlihat galau itu, takut jika dia sampai menatapnya tidak kuat baginya menahan tangis. Tiga menit berada di sana, ia mulai menengok sekeliling tempat itu. Dia menghilang, tiba-tiba seseorang menariknya dari samping.


Menutup mata terpental hingga menabrak dada datar seseorang, mendongak ke atas. Menatap dagu cowok itu, tersontak kaget saat dia menatapnya dan menempelkan telunjuk jarinya ke bibir gadis itu.


"Hussst." Desis MB menandakan jangan berisik.

__ADS_1


Seorang gadis menaiki tangga.


"MB!" Teriak Cery. "MB! Di mana si," teriaknya kembali terdengar. "Iiiih MB ngilang mulu, MB!"


Melangkah lebih jauh hampir menengok ke pojok samping tembok tempat persembunyian MB dan Gres, Hana dan Andre menaiki tangga.


"Cery!" Teriak Andre.


"Ayo cepet turun, katanya foto-foto gaun lo udah dateng," seru Hana.


"Serius?! Yaudah turun." Cery kesal karena tidak menemukan MB.


Setelah mereka pergi, telunjuk MB masih menempel di bibir gadis itu. Sampai membuat detak jantungnya kembali berdetak cepat, secepat mungkin melangkah mundur.


"Kenapa menghindar dari calon tunangan, kamu?" tiba-tiba pertanyaan itu keluar dari mulut Gres.


Membalikan badannya dari pandangan cowok yang sedang menatapnya, Gres benar-benar tidak memiliki keberanian untuk menatapnya. Melangkah maju mendekati Gres, cowok itu kini satu langkah semakin dekat dengannya.


"Sejak kapan lo peduli, gue udah bilang sama lo ... Jangan peduli sama urusan gue," ucap MB sedikit kesal.


"Apa?!" ucap Gres terkesiap kaget. Ia begitu kesal sampai lupa jika pipinya memerah, mendekati MB selangkah lebih dekat.


"Gak! GR nya gak pernah ilang, jangan pernah berpikir aku peduli. Apalagi cowok kaya kamu, gak punya perasaan." Wajahnya berkerut dan memerah.


Menatap kedua pipi gadis yang berada dihadapannya memerah, MB sedikit tersenyum.


Deg, deg, deg.


'Aduuuh! Dia kok malah senyum sih. Apalagi natap aku sedekat ini, mati, mati.'


"Bukan urusan lo," ucap MB mengernyit dan ingin melangkah meninggalkannya.


"Apa itu, cinta?" mendengar ucapan Gres membuat MB penasaran pada pertanyannya.


"Lo jatuh cinta? Sama siapa? Satu sekolah? Apa dia lebih tampan dari, gue?"


"Banyak bener pertanyannya, harus jawab yang mana dulu?"


"Lupakan." MB memutar bola matanya malas.


"Dia satu sekolah dengan kita, dia juga temanku, bahkan dia selalu menolongku ketika aku membutuhkan seseorang, cuek, dingin, kasar tapi ... baik hati,"


"Cinta pertama?" tanya MB.


Gres mengangguk, lalu menggelengkan kepalanya memandangnya.


"Entahlah, tapi setahu gue. Cinta itu, lo tersenyum saat memikirkan dia ... lo merindukkan dia saat dia gak bersama lo,"


"Begitu ya, aku mengerti,"


"Udah mengungkapkan tentang perasaan, lo?"


Gres menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku gak tahu suka sama dia atau nggak, masih bingung,"


"Jika demikian, lo harus memberanikan diri mengungkapkan apa yang ada di dalam hati lo. Daripada bimbang, gak jelas,"


"Dia ... akan segera bertunangan," ungkap Gres ekspresi sedih.


"Apa! Apa dia gak pernah cerita sama lo?"

__ADS_1


Gres kembali menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Apa, lo pernah kasih kode?"


"Udah, malah aku curhat tentang apa itu cinta. Tapi, dia ... "


"Ya ampun. Bodohnya cowok itu, cowok aneh! Gak pengertian! Gak peka! Cowok id*ot," ungkap MB menatapnya tanpa ekspresi. "Lo harus berusaha, pakai gaun yang indah, percantik wajah lo sehingga dia akan menatap lo. Hanya lo yang dia tatap, mengerti?" mengangkat kedua jarinya kematanya.


Gres tersenyum menatapnya, ia berpikir MB sangat berubah, jika menasihati seseorang dia terlihat lucu.


"Kenapa lo tersenyum? Ada yang lucu?" tanya MB kebingungan.


"Nggak ada, cuma aneh aja. Kamu sangat suka mendengarkan curhatanku, aku merasa ketika melihat kamu yang seperti ini ... "


"Udahlah jangan dibahas," MB mengernyit membuang wajahnya dari tatapannya.


"Baiklah, baiklah, aku akan mendengar nasihat kamu. Aku baru tahu, kamu sebenarnya banyak bicara mengenai cinta," kata Gres menahan tawa sebentar.


Saat MB menatapnya sambil membuang muka dengan bibir sedikit maju ke depan, lalu ia benar-benar tertawa.


"Hihihihi." Tawanya memekik mirip tertawa kuntilanak tapi lebih lembut dari aslinya.


MB yang tadinya dibuat hampir marah, tiba-tiba ikut tertawa karena tawa gadis itu begitu lucu. Baru pertama kalinya, ia mendengar wanita tertawa hampir mirip kuntilanak.


Mereka berdua tertawa terbahak-bahak bersama, Gres mulai terbiasa menatapnya. 'Ini ... pertama kalinya, aku melihatmu tertawa karenaku. Aku akan lakukan apa pun, agar tetap membuatmu tersenyum, meski aku mengorbankan perasaanku.'


***


Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, pulang sekolah Esa dan Latus berencana membeli gaun. Gres diajak mereka ke sebuah mall terbesar di Jakarta, pemiliknya dari keluarga MB. Mereka sedang asyik memilih gaun, melupakan Gres sesaat.


Saat itu MB sedang berjalan-jalan di sana, disuruh menemani Cery memakai gaun pertunangan mereka. Melihat gadis yang sedang melamun sendiri, membuat cowok itu penasaran.


"Gres yang ini cantik, kan?" kata Esa memakai gaun yang berwarna kuning keemasan.


"Waah! Sangat cocok denganmu," kata Gres tersenyum menyembunyikan kesedihannya.


"Gue gimana?" ucap Latus membeberkan selendang gaunnya yang berwarna merah merona.


"Kalian sangat cantik," Gres tersenyum kembali.


"Punya lo, mana?" tanya Esa.


Gres menatap gaun yang indah berwarna biru muda, terpajang paling atas di antara gaun-gaun yang lain kembali menatap Esa.


"Jangan bilang lo suka yang itu?" tanya Latus.


Gres tersenyum, Esa menatapnya serius.


"Kalian pasti tidak sanggup membelinya, jadi lupakan saja." Gres tersenyum menahan sedih.


Karena Latus mengerti maksud Gres, jadi mencoba membuat Esa mengerti akan maksudnya. MB masih memperhatikan Gres, merasa kasihan padanya tidak lama kemudian ia menyuruh pelayannya melakukan sesuatu.


Author :


Ketemu lagi, apa kabar? Duh makin cakep aja kamu ...


Rayuan, hehehe ... Nah sekarang tinggal tunggu. Apakah Gres menyadari perasaannya terhadap MB?


See you, next part ➡

__ADS_1


__ADS_2