
Mendengar hal yang membuat Gres sedih, Cery mencoba membujuknya. Entah tulus atau tidak, tapi keberadaan Cery cukup membuat dirinya sedikit tenang.
"Baiklah, habis ini kita jenguk mereka ya?" kata Cery menawarkan sebuah ajakan padanya.
"Baiklah, makasih ya Cer," kata Gres memeluknya.
MB dan Will kembali dibuat melotot saat melihat tingkah Gres yang berpelukan dengan Cery.
"Iya sama-sama." Ceri menepuk-nepuk pundaknya pelan sambil tersenyum.
Beberapa waktu lalu Cery berbuat jahat pada Gres, hanya dengan beberapa saat saja gadis itu sangat baik padanya. MB merasa khawatir dengan mereka pergi bersama ke rumah sakit, tapi ia juga mau menjenguk siapa di sana?
Setelah dipikir-pikir, ia menemukan alasannya untuk bisa pergi ke rumah sakit. Bukankah Hafis si ketua kelas harus dijenguk di sana, dia masih temannya bagus sekali dengan pemikirannya sendiri.
Sampai di kantor polisi. Pertanyaan pertama diajukan pada MB, yang lainnya menunggu diluar. Ia masuk ke dalam dikawal salah satu petugas di sana.
"Silakan duduk," ucap petugas interogasi.
"Iya Pak," lontar MB santai.
"Baik, kita langsung saja. Apa pun yang saya tanyakan kamu harus menjawab, dengan benar, tanpa paksaan dan jawab dengan sejujurnya. Bagaimana sudah paham?" tanya petugas itu dengan tegasnya.
"Iya Pak, saya paham," jawab MB.
"Baik, apa yang sedang kamu lakukan pada saat kejadian perkara?"
"Saya berada disamping jalan lampu merah." MB menjawabnya dengan tenang.
"Apa yang sedang kamu lakukan di sana?" desak Pak Polisi kembali bertanya.
"Saya sedang makan diluar Pak."
"Dengan siapa kamu, pada saat diluar?"
"Bersama teman saya Pak."
"Siapa dia?"
"Namanya Gresnalia Putri."
"Apa dia ada diluar?" tanya petugas interogasi sedikit menatapnya tajam.
"Iya Pak." Jawab MB sedikit ragu.
"Heh kamu, panggilkan gadis yang bernama Gresnalia Putri," dia menengok ke samping pintu, ada satu petugas lagi di sana.
"Baik Pak," kata salah satu petugas di sana.
Keluar menuju beberapa orang yang masih menunggu untuk diinterogasi.
"Ada gadis yang bernama Gresnalia Putri?" kata salah satu petugas.
"Saya Pak!" Cakap Gres mengangkat tangan.
"Ikut saya,"
Ikut masuk ke dalam ruang interogasi, petugas menyuruhnya duduk di sebelah MB. Sangat gugup sekali, seribu pertanyaan langsung datang dalam benaknya. Jika ini semua berhubungan dengan MB, ia sedikit khawatir.
"Saudari Gres, apakah anda bersama dengan saudara Muhamad Baihaki pada saat kejadian?" tanya petugas kepolisian.
__ADS_1
"Iya Pak." Jawab Gres sedikit gugup.
"Apa yang sedang kamu lakukan saat makan bersamanya?"
"Saya cuma makan bakso, dipinggiran jalan."
"Kenapa kamu keluar bersama dengan Muhamad Baihaki, pada hal makanan di kantin telah tersedia?" bertanya dengan sikap yang tidak biasa, menatap ke arah Gres dengan tatapan tajam.
"Itu karena, saya ini pelayan di rumahnya. Setiap hari minggu dia susah sekali memakan sarapannya, bahkan bukan hanya hari minggu. Hari biasa pun dia tetap susah makan, hari ini pun dia sedang susah makan. Jadi saya mengajaknya makan bakso, mungkin dapat mengembalikan nafsu makannya, supaya dia gak sakit." Ungkap Gres menjelaskan secara terperinci.
"Mengajak? Kau memaksa!" Celetuk MB menambahkan.
Tatapan keduanya saling beradu.
"Oh jadi seperti itu, baiklah kalian boleh keluar. Tunggu, ini pertanyaan terakhir yang saya ajukan. Apa kalian pacaran?" pertanyaan terakhir.
"Gak!" jawab mereka secara kompak lalu membuang muka satu sama lain.
"Sangat disayangkan."
Keluar dari ruangan, keduanya tampak kesal. Teri hanya meringis, berpikir bahwa pertanyaannya sangat mengguncang jiwa dan raga yang telah mereka lalui bersama.
"Gres tunggu!" Panggil Will menghentikan langkahnya. "Bisa tunggu aku, biar aku yang antar kamu ke rumah sakit," tawarnya masih memegang lengannya.
"Kalau itu- " kata Gres.
"Will William, cepat masuk!" Teriak petugas yang di sana memotong pembicaraan Gres dengannya.
"Pergilah, jangan pedulikan aku." Lanjut Gres pergi dari sana menyusul MB.
"Haki tunggu!" Teriak Gres berlari menyusulnya.
Begitu saja MB hilang dari hadapannya. Tidak tahu ke mana lelaki itu pergi, gadis itu takut kehilangan seseorang yang berharga dalam hidupnya. Pamannya masih koma, ia harus menunggu pamannya sadar.
Ia tidak boleh kehilangan siapa pun lagi, terlebih seseorang yang sangat dicintainya. Gres menangis, ia jongkok sambil menundukkan kepalanya.
Ternyata MB bersembunyi dibalik tembok, mengetahui gadis itu menangis. Ia keluar dari tempat persembunyiannya, pada hal masih kesal karena menceritakan kepribadian sehari-harinya pada orang lain. Terlebih polisi, ia berdiri dihadapannya.
"Kenapa lagi?" MB bertanya padanya.
"Ditinggalin," kata Gres masih menundukkan kepalanya.
"Sama siapa?" tanya MB datar.
"Muhamad Baihaki si anak cuek bebek itu!" Beber Gres belum menyadari siapa yang bertanya padanya, karena kesalnya suaranya sampai tak dikenali olehnya.
"Apa kamu bilang, cuek bebek?" Tegur MB sedikit menaikan suaranya. MB ikutan jongkok. "Jawab!?"
"Emang kenyataannya kok," kata Gres sudah menyadari orang yang dihadapannya.
Lelaki itu mendekatkan wajahnya. "Coba katakan lagi,"
"Haki itu anak yang paling cuek beb- " jawab Gres sambil berteriak terpotong, saat ia mengangkat wajahnya.
Wajah mereka berdua begitu dekat, sampai gadis itu merasakan hawa napasnya. Wangi mint, Gres menutup matanya sambil terus menghirup napasnya yang sangat bau segar itu.
Setelah melihat gadis itu, MB ingin sekali merasakan betapa lembutnya bibir merah muda itu. Tanpa sadar ia semakin mendekatkan bibirnya dengan bibir Gres, orang lewat.
"WOEEY! Udah penuh tuh, jangan disitu mulu pindah!" Teriak orang yang sedang lewat melihat mereka.
__ADS_1
Terkejut dengan perkataan orang yang tak dikenal. Mereka berdua membuka mata, lalu berteriak.
"Aaaa!" Teriak secara bersamaan. Sampai keduanya terduduk ke belakang.
Hampir terjatuh. MB menangkap pundaknya, sampai mereka bertatapan kembali. Ia langsung berdiri sambil memegang pundaknya menahan malu, hampir saja ia akan melakukan sesuatu padanya.
Gres hanya terdiam di tempat.
Memutuskan pergi dari sana, Gres langsung berdiri memegang tangannya. Sampai ia menengok, menghentikan langkahnya.
"Aku boleh minta tolong, antarkan aku ke rumah sakit," kata Gres tak sanggup menatapnya hanya mampu membuang wajahnya, menahan malu.
Itu artinya MB tak perlu lagi mencari alasan untuk menemaninya ke rumah sakit, masih khawatir jika Cery yang mengantarnya ke sana.
Menunggu giliran dipanggil. Cery melihat MB dan Gres masih berada diluar, gadis itu meminta izin keluar bicara dengan temannya sebentar. Setelah mendapat izin, Cery pergi menghampiri Gres.
MB melihat Cery mendekat ke arah mereka, langsung menarik tangan Gres meninggalkan tempat itu memanggil taxsi lalu naik ke dalam mobil.
"Ada apa?" tanya Gres bingung.
"Katanya mau pergi bareng ke rumah sakit," celetuk MB sedikit kesal.
"Eh iya, hehe." Gres hanya bisa tertawa pelan menggaruk-garuk kepalanya.
"Kenapa garuk-garuk, ada kutunya ya?"
"Sembarangan, aku tuh lagi tahan malu," menyadari ucapannya sendiri, Gres membekap mulutnya.
"Haha, emangnya kamu bisa malu?"
"Berisik!" Bentak Gres malas menatapnya.
Semakin mengenal Gres, MB semakin sadar. Sifat Gres dan Kris hampir sama, tapi apa daya. Ia tak bisa menyimpulkan begitu saja, Bahwa Gres adalah Kris. Belum memiliki bukti apapun, sebelum itu terjadi jangan sampai ia menyukainya.
Cukup menghentikan pikirannya tentang siapa gadis yang disampingnya saat ini, MB tak perduli yang ada. Ia hanya merasa sangat nyaman berada disampingnya, sangat nyaman sampai membuatnya melupakan rasa sakit sejenak.
Rasanya cukup hangat, MB tersenyum menatapnya.
"Mau ke mana?" tanya sopir taxsi.
"Ke rumah sakit terdekat, Pak." Kata Gres secepatnya menjawab, terdiam menatapnya.
Tatapan itu, sudah lama sekali tatapan hangat seperti itu hilang dari ingatannya. Kini tatapannya kembali lagi, apakah ini bertanda bahwa MB sudah menyadari perasaannya padanya.
"Ada apa, menatapku seperti itu?" tanya Gres padanya.
Seketika menghancurkan lamunannya. "Gak ada." MB memalingkan wajahnya ke kiri menatap jendela mobil.
Tetapi sifat angkuhnya belum sepenuhnya hilang, walau pun demikian. Ia tetap suka, ia cukup bahagia hari ini bisa pergi ke rumah sakit bersama. Ia anggap kencan, meski tahu sangat jauh dari kata kencan.
Gres hanya tersenyum menatapnya.
Author :
Ciye, ciye MB masih gengsi aja. Kapan ya kira-kira dia sadar? Tunggu kelanjutannya ya ...
Beri penulis semangat, Like, kritik, saran dan vote nya. Agar cerita ini bisa terus berlanjut ... Terima kasih.
See you, next part ➡
__ADS_1