Jangan Mencintaiku

Jangan Mencintaiku
Minta Maaf


__ADS_3

Gak percaya seorang MB membuktikan dirinya gak bersalah.


Memikirkan tawaran Hafis yang membuat kepalanya pusing tujuh keliling, membuatnya hampir meledak, Gres tak akan pernah memberi tahu sahabatnya tentang masalah yang baru saja menimpanya.


Video CCTV telah di pindahkan ke handphonenya, penasaran apa yang sedang terjadi Gres mengatur pernapasannya. Mengklik pemutar video dari awal Latus datang di depan pintu makam itu.


Sampai pada akhirnya Cery terlihat berpura-pura terjatuh lalu menangis sendiri, mata Gres membulat hampir keluar dari tempatnya, mulutnya ternganga-nganga tidak percaya apa yang barusan ia lihat.


"Udah aku izin cuti kerja, ternyata hasilnya gak nihil. Tapi sepertinya apa yang dikatakan Kokoh ada benernya juga ... " Gres berdecih, "ngapain sih, mikirin tuh orang! Mau bener mau gak. Sifatnya sama saja, tanpa ekspresi sama sekali!"


Tertidur di atas tempat tidur. Masalah terus berdatangan semenjak Gres menampar MB, tetapi tanpa ada penyesalan di wajahnya katanya 'demi sahabat apa pun akan kulakukan, selama tindakanku benar.'


Semenjak kejadian tadi siang MB memikirkan cinta pertamanya untuk yang kesekian kalinya, akhir-akhir ini ia terus memikirkannya naik ke lantai atap menatap bintang-bintang dan bulan berharap cinta pertamanya bisa melihatnya dari sana.


"Kamu apa kabar? Sehari saja gak bisa lupa sama kamu. Lucu ya, aku ditampar tapi diam saja! Kenapa tatapannya mirip denganmu?" ucap MB bicara sendiri tanpa sadar Adiknya mendekat tepat disampingnya.


"Dor!" Teriak Fajar. Namun MB hanya menatapnya diam, tanpa terkejut sama sekali.


"Sedang apa, di sini?" tanya MB menghela napas berat.


"Aku tadi bermaksud bikin Kaka terkejut, tapi gagal terus. Seharusnya aku yang bertanya ngapain Kaka di sini? Dan jawabannya harus jelas, padat, panjang lebar ... "


"Cari angin." Jawabnya singkat. Dia langsung turun.


Sekali lagi Adiknya yang kepo mengganggu jiwa dan ketenangan pikirannya.


"Kaka emang gak pernah bisa melupakannya, pada hal sudah 8 tahun berlalu semenjak kecelakaan itu. Cinta yang mematikan, untung saja dia Kakaku! Kalau bukan udah aku ceramahin biar cepet move on." Fajar mendengus kesal.


Baru saja MB ingin masuk ke dalam kamar.


"MB!" Panggil Bunda.


Seketika kakinya berhenti melangkah. "Ada apa ya, Bun?"


"Akhir-akhir ini Bunda perhatikan, kamu jarang makan. Kalau sakit gimana? Bunda gak mau ambil resiko, nah! Nah sekarang kamu harus makan," ucap Bunda memegang piring dan sendok berisi makanan sembari menyodorkannya ke MB.


Melihat tingkah laku Ibunya yang mungkin saja menganggapnya belum dewasa, hanya bisa mendengus kesal.


"Aku bukan anak kecil, Bun," menghela napas berat, "udah malem, aku mau tidur,"


MB masuk ke dalam kamarnya tanpa memedulikan Bundanya.


"Susah banget kalau disuruh makan." Menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


***


Baru saja Cery sampai di rumahnya melewati pintu melempar tasnya di atas sofa sembari menjatuhkan bokongnya, terlihat jelas dia marah dan kesal. Rencananya tidak ada satu pun yang berhasil. Untuk menghancurkan gadis yang sangat dia benci.


Tidak lain adalah Gres. Sampai kapan pun Cery tak akan pernah bisa memaafkannya, seorang wanita tinggi, berambut rintik, memakai rok sexsy mendekatinya. Namanya Wulan Sintia Bela, dia Ibu Cery.


"Kenapa dengan, wajahmu?" tanya Ibunya.


"Kesel banget, banget! Gadis yang menampar MB di depan semua orang dan menghancurkan handphone baruku. Aku gagal membuat hidupnya hancur, aku kesel banget Mah!" Murka Cery membanting hpnya yang dipungut temannya tadi.


Ibunya memegang pundak Cery, "tenang dong sayang, kamu lupa ya? Mama ini siapa, Mama punya ide buat bikin hidupnya benar-benar hancur dan menderita se-la-ma-nya!" Dia mulai membisiki Cery dengan seribu satu rencananya.


Raut wajah Cery yang tadi ditekuk kini tersenyum menatap Ibunya. "Mama serius!"


"Iya dong, sekarang jangan sedih lagi," mencoba mengusap pipi Putrinya dengan manja.


"Aku sayang, Mama!" Cery memeluk Ibunya erat.


Pagi-pagi buta Gres datang ke sekolah diam di kelas sendirian duduk sambil melamun, teman sekelasnya mulai berdatangan Esa beberapa kali menyapanya namun dia enggan untuk menjawab.


Datang lagi sahabat Gres, Latus berdiri tepat di hadapannya tetapi tetap saja lamunannya tak dapat diganggu gugat. Tino beberapa kali memanggilnya tetapi, tetap tanpa adanya jawaban.


BRAGH!


Tino menggebrak meja.


Setelah menyadari hal itu. Ia sangat terkejut sembari menutup wajahnya dengan kedua tangan, karena malu terlihat pipi berubah jadi merah merona.


"Lo ada-ada aja deh, dari tadi melamun terus," ucap Esa.


"Udah persis patung pancuran, gak gerak sama sekali," Latus memegang pundak Gres.


"Pasti ke kelas MB, kan? Lagian siapa yang berani masukin lo, ke situ! Hahaha." Tino tertawa tanpa henti.


Seorang pria datang dari balik pintu. Esa, Latus, berhenti tertawa menatapnya Sedangkan Tino masih tertawa.


Hafis keturunan asli dari China blasteran dari Padang, matanya sipit, kulitnya asli orang Indonesia, hidungnya sedikit mancung, tingginya hampir sama persis dengan MB tetapi lebih pendek.


'Pandangan pertama aja bikin hati gue terasa ingin keluar, tampan bangeeet membelah tujuh benua!' Teriak Esa di dalam hati. Membayangkan love, love berjatuhan dari matanya.


"Hahaha." Tawa Tino masih berlanjut.


PLAK!

__ADS_1


Latus menepis kepala Tino dengan tangan kanannya barulah dia sadar, teman-temannya berhenti tertawa.


Tanpa bertanya Hafis memegang dan menarik lengan Gres, sehingga membuat kedua kakinya ikut terseret mengikuti cowok itu.


Gres melepaskan pegangannya sekuat tenaga. "JANGAN PAKSA AKU, MENGERTI!"


Hafis menatapnya tajam, tetapi lebih tajam MB pikirnya. "Lo udah janji, kan? Tanpa minta bantuan pun lo bakal nolongin gue, sekarang lo jadi cewek yang suka melanggar janji lo, sendiri!"


"Bukannya gitu, tapi aku belum siap! Mungkin gak akan pernah siap," ucap Gres apa adanya.


"Gue gak bakal paksa lo, tapi dalam waktu dekat. Gue pastiin lo! Bakal mohon sama gue, biar masuk ke kelas MB secara suka rela." Hafis pergi dari sana dengan penuh percaya diri, bahwa perkataannya akan secepatnya terbukti.


Gres harus menenangkan pikirannya, ia berada di taman sekolah. Tak sengaja melihat MB, tanpa berpikir panjang ia memanggilnya.


"Haki!" Sapa Gres.


MB terhenti melangkah, ingin secepatnya mengetahui siapa yang memanggilnya dengan panggilan yang berbeda dari semua orang.


Menengok sebentar tanpa ekspresi sama sekali MB membalikan wajahnya lagi, malas menghadapinya.


Gres berada dibelakangnya sembari menunduk. "Aku minta maaf, udah salah paham ... dan udah nampar kam- "


"Hmmm." MB hanya mengangguk.


Kemudian sebelum Gres mengangkat wajahnya, dia sudah pergi dari sana.


"Ke-bia-saan! Belum selesai ngomong, udah main tinggal aja." Seru Gres wajahnya mengernyit.


Latus, Tino dan Esa memandang Gres yang terlihat murung. Mereka mendekatinya kecuali Esa, tanpa sadar Tino dan Latus melangkah tanpanya.


Tanpa berbasa-basi Tino langsung bertanya. "Ciyeee, siapa tuh?"


"Gila! Bertemu pangeran di mana, lo?" tambah Latus penasaran.


"Cukup! Dia itu temennya MB si orang semplak itu dan aku gak ada hubungan apa-apa sama dia. Cukup di sini penjelasannya! Males bahas orang kaya mereka," Gres pergi meninggalkan mereka.


"Sa, dia ngambek," ucap Latus tanpa suara jeritan dan jawaban dari Esa.


Barulah mereka sadar, Esa tidak mengikuti mereka. Sejak dari tadi dan sebelumnya tak ada di samping mereka, ke mana, kah hilangnya pentolan di kelas mereka? Hanya ada satu jawaban, WC.


WC adalah tempat yang paling disegani olehnya, mereka semua saling tatap kecuali Gres. Ia belum sepenuhnya mengetahui detail sahabatnya itu, hanya sedikit tersenyum.


Author :

__ADS_1


Lebih baik mencari tahu terlebih dahulu, daripada asal menyimpulkan. Kalau salah, malu sendiri.


See you, next part ➡


__ADS_2