Jangan Mencintaiku

Jangan Mencintaiku
Hati Yang Sekeras Batu


__ADS_3

Ibu Gres membawanya ke rumah sakit terdekat rumahnya. Tubuhnya sangat panas, Ibunya sangat khawatir. Dokter selesai memeriksanya, keluar dari sana.


Ibu Gres secepatnya berdiri, bertanya tentang keadaan putrinya. "Dok bagaimana keadaan putri saya?" tanya Ibu Gres sangat panik.


"Nyonya tenang saja, ini hanyalah demam biasa. Tapi panasnya masih belum turun, jadi kami harus merawatnya selama beberapa hari," ucap dokter menjelaskan.


"Baiklah dok, mohon bantuannya,"


"Iya nyonya, saya permisi dulu," kata dokter pergi dari sana.


Ibunya duduk disebelah Gres, menatap putrinya. Memegang tangan kanannya yang terbalut perban dan infusan, hanya menatap putrinya lekat-lekat.


"Sebenarnya, apa yang kamu sembunyikan dari Ibu nak?" ungkap Ibunya bertanya padanya sambil menangis.


Will berlari menuju ruang inap Gres. Hampir berpapasan dengan Ibu Gres, namun dia secepatnya bersembunyi.


Dengan sangat kikuk duduk disebelah Gres, ia memegang tangannya. "Gres, maaf aku gak bisa menemani kamu. Aku harus pergi ke Singapura untuk mengurus pemakaman nenek, sekarang aku benar-benar hidup sebatang kara,"


"Saat aku kembali nanti, aku harap kamu bisa memandangku sebagai seorang pria yang kamu anggap kekasih. Kamu harus sembuh Gres, karena kedua orang yang sangat aku sayangi semuanya berakhir di rumah sakit," Will mencoba menahan tangis.


Will berdiri. "Aku pamit Gres." Akhirnya dia pergi dari sana.


Ibu Gres terdiam menatap lelaki itu, dengan tatapan sendu. "Lelaki yang sangat baik, Kris apakah lelaki itu yang kamu ceritakan pada Ibu?" menatap ke arah putrinya yang belum sadar.


***


Kabar sakitnya Gres langsung terdengar di sekolah lalu keesokan harinya. Tino posting dimedia sosial, masih belum puas. Ia berencana menjenguk Gres sambil membawa kamera, ingin mengetahui keadaannya sekalian cari perhatian di sosial media bukan ke sahabatnya.


Mendengar hal itu, Latus dan Esa terkejut. Mereka sudah merencanakannya, pulang sekolah jenguk Gres di rumah sakit. Latus menyarankan untuk memberi tahu MB, untuk ikut bergabung. Namun dia mengurungkan niatnya, takut MB menolak ajakannya.


"Tus ko balik lagi, gak jadi ngajakin MB?" tanya Tino secara lantang dan setengah sopan.


"Gak bisa, mereka kan lagi marahan. Takutnya ... " jawab Latus menunduk.


"Gue ngerti perasaan lo ko, emang si Tino mah bodoh. Udah jadi pacar masih aja kek begitu, gak ada perubahan," ucap Esa mengejek Tino.


"Jangan gitu dong, Tino pasti bisa berubah ko," bela Hafis.


"Yang, jangan dibelain napa. Nanti dia besar kepala, kesel nih batin ku," keluh kesah Esa.


"Yah elah, lebay dah udah," kata Tino wajahnya terlihat mengejek.


Satu pukulan mengenai pipi kanan Tino.


"Mampus lo!" Teriak Esa tertawa kecil.


"Kurang dihajar lo!" Teriak balik Tino padanya.


"Oh, jadi mau gue hajar lagi?!" pekik Esa.


Dihadang Hafis. "Udah sabar Sa, jangan dilanjutin,"

__ADS_1


"Eh gue salah ngomong, kurang ajar lo. Itu yang bener!" timpal Tino mencoba membalas pukulan Esa.


"Tega banget lo. Gue itu cewek, masih aja pukul gue,"


Keadaan semakin memanas, Tino kabur dikejar Esa. Sedangkan Hafis dan Latus ikut mengejar dari belakang. Tiba di depan kelas kosong, Tino menahan dengan meja. Sehingga sulit bagi Latus dan Hafis untuk masuk.


Mereka berdua menyelesaikan pertengkaran yang belum usai. Tonjok menonjok dikedua belah pihak, sudah tak tertahankan.


BRUKH!


Hafis mencoba mendobrak. Karena tidak tahan melihat Esa yang babak belur, Hafis loncat dari jendela. Memisahkan mereka berdua, dengan tatapan membunuh. Apalagi, saat menatap ke arah Tino.


"Jika kalian terus bersikap seperti ini terus, lalu siapa yang akan menjenguk Gres yang sedang terbaring lemah di sana. Ingat jangan pakai otot, tapi otak," kata Hafis menjelaskan.


Memindahkan meja dari pintu langsung membuka pintu, Hafis menarik lengan Esa sedikit kasar. Latus terkejut bukan kepalang, saat melihat Esa babak belur. Lebih terkejutnya lagi melihat Tino sang pacar, tidak kalah lebih babak belurnya dengan Esa.


"Tino ikut gue," ajak Latus memegang lengan Tino. Mereka pergi dari sana, dia mendengus kesal.


Di taman sekolah.


"Kalau ada masalah ya diselesaikan, kamu tahu kita bentar lagi lulus. Daripada kamu kaya anak kecil, mending belajar dan harus memutuskan kuliah ke mana," kata Latus mencoba memberi masukan.


"Iya deh, iya. Pokoknya kita harus satu jurusan, satu kuliahan, dan satu tujuan," Tino bersemangat.


'Kamu gak tahu, kalau aku bakal ninggalin kamu.' Batin Latus meneteskan air matanya. Tapi secepatnya diusap, takut Tino melihatnya dan mengkhawatirkannya.


Pulang sekolah, Tino, Esa, Latus dan Hafis pergi ke rumah sakit.


Si bodoh Tino membawa buah-buahan segar. "Semuanya jangan sedih, si penyelamat Tino telah hadir!"


Suara teriakannya langsung membangunkan Gres yang sedang tertidur. Latus dan Esa mencoba menutupi mulut Tino. Hafis memasukan apel merah kemulutnya.


"Mmmm, sialan banget lo!" Jerit Tino sedikit tidak terima diperlakukan seperti itu.


"Berisik!" Hafis memelototinya.


"Enak juga nih apel, telanjur masuk ke mulut, makan aja deh. Wah Gres bangun!" Tino kembali menjerit.


Ditarik oleh Hafis keluar dari ruangan Gres. Pintunya dikunci, Tino meringis tak dianggap.


"Lo gak apa?" ucap Esa terlihat khawatir.


"Masih sakit kah?" tanya Latus hampir menagis melihat keadaannya.


"Aku gak apa, kalian gak usah khawatir," ucap Gres mencoba tersenyum.


"Gak ada lo, sekolahan kita terasa hampa," ucap Esa sedikit lebay.


"Kali ini gue setuju dengan kelebayan Esa ... " Esa melirik ke arah Latus tatapan membunuh.


"Maksud gue ucapannya," lanjut Latus.

__ADS_1


Esa dan Gres saling bertatapan. Lalu menatap Latus bersamaan, Latus ikut menatap kedua sahabatnya. Mereka langsung tertawa bersama.


"Hahaa." Saling menertawakan.


Hafis datang, setelah mencoba mengusir kutu air anggapannya. Gres bertanya, biasanya Tino akan ikut bersama mereka. Akan tetapi batang hidungnya tak terlihat, bukannya tadi dia ada. Bahkan sempat mendengar suaranya.


"Fis, Tino ke mana?" Gres bertanya sambil mencoba menengok ke pintu.


"Jangan tanya, dia berisik banget. Gue tendang aja keluar, bisanya bikin onar mulu kapan dewasanya tuh bocah!" Umpat Hafis mencoba mengeluarkan unek-unek di dalam hatinya.


"Oh, tapi bagaimana pun dia. Tino tetap teman kita, aku akui. Meski sikapnya kekanakan. Dia tetap jadi penghibur, dikala kita sedih. Ingat! Gak ada dia gak seru lho," ungkap Gres membela Tino.


"Iya yang, bener kata Gres. Kali ini aja biarin dia gila, suruh masuk aja." Pinta Esa mengkedipkan matanya.


"Mulai dah ngebucinnya," dengus Latus melirik ke arahnya.


Mereka tersenyum.


"Iya deh, gue jemput tuh kutu air." Jawab Hafis apa adanya. Kembali ke tempat pembuangan sampah, maksudnya kembali ke tempat di mana dia meninggalkan Tino.


Membuka pintu. Tidak ada tanda-tanda kutu air, Hafis akan masuk lagi. Terlihat seseorang diujung ruangan, orang itu tak asing baginya. Ia mendekat kesana.


Memegang pundak orang itu. Saat menoleh Hafis terdiam menatapnya, mereka mencari tempat dan duduk bersebelahan.


"Lo gak ikut gabung aja tadi, ngapaian nunggu diluar?" tanya Hafis mengawali pembicaraan.


"Yah, gue gak bisa. Dia udah bukan milik gue lagi," kata MB menghembuskan napas beratnya.


"Maksud lo?" Hafis kembali bertanya. Karena kurang paham tentang maksudnya.


"Dia mengakhiri perasaannya dan menyukai orang lain."


Seketika kedua mata Hafis membulat. Hampir tidak mempercayai ucapan MB, tetapi setelah melihat. Wajah MB sangat murung, terlihat sedikit kurus, itu sudah cukup. Membuktikan bahwa hubungan di antara keduanya, benar-benar telah berakhir.


Sebenarnya Hafis penasaran. Kenapa hubungan mereka berakhir, bukankah perjuangan di antara keduanya bisa dikatakan. Bukan hal yang biasa, banyak sekali kejadian dan ujian yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


MB berdiri. "Gue harap lo bisa merahasiakannya dari Gres, tentang kedatangan gue. Tolong jaga Gres, jaga kebahagiaannya juga ... "


Ucapannya seperti menandakan, ia ingin berpisah dengannya.


"Lo ngomong apaan sih? Udah kaya mau pisahan aja," kata Hafis sedikit bergurau dan khawatir akan jawaban MB.


"Gue mau pergi jauh darinya, sangat jauh. Sehingga dia gak akan bisa mengingat gue lagi ... "


Author :


Jangan pergi! Setuju gak?


Beri penulis semangat, Like, kritik, saran dan vote nya. Agar cerita ini bisa terus berlanjut ... Terima kasih.


See you, next part ➡

__ADS_1


__ADS_2