Jangan Mencintaiku

Jangan Mencintaiku
Kau Layak Di Tampar


__ADS_3

Bujukan Gres berhasil membuat Latus menyadari sesuatu yang dilakukannya adalah tindakan yang salah, mereka turun dari lantai 3, sampai di bawah. Esa, Tino memeluk mereka sembari menangis.


"Esa, Tino! Jaga Latus!" Teriak Gres dengan tatapan yang tajam.


"Lo mau keman- " ucapan Esa terpotong saat melihat MB baru datang melangkah ke arah kelasnya.


PLAK!


Sebuah tamparan keras melesat ke pipi kiri MB, semua orang yang berada di sana terkejut sampai ada yang syok. MB hanya menatapnya sembari memegang pipinya dan bertanya-tanya di dalam hati. 'Apa salah gue, coba?'


"Apa aku membuat, kesalahan? Oh astaga! Aku menampar seorang MB pemilik sekolah ini ... " Gres bergemetaran tetapi ia tahan, "tidak ada yang dapat menyentuhmu bukan? Bukan hanya menyentuh tetapi aku menamparmu. Di depan semua orang, lalu hukuman apa yang akan aku dapat, kan?!" ia mengajukan pertanyaan padanya.


Mengangkat telunjuk jarinya sembari menghitung. "Ditelanjangi, kah? atau di suruh bunuh diri? Katakan padaku apa hukumanku?!" Jerit Gres amarahnya meluap keluar.


"Apa yang lo, lakukan?" tanya MB serius menatapnya.


Susah payah Gres menjelaskan, akhirnya menelan ludahnya. "Jadi, kamu gak tahu apa-apa? Baiklah aku akan jelaskan," Gres melangkah ke arah Latus lalu menariknya dihadapan MB.


"Tataplah dia, apa kesalahannya? sehingga kau tega membuatnya telanjang?" lanjutnya dengan bibir bergetar, napasnya sedikit terengah-engah terus berkata dengan nada tinggi.


MB menatapnya tanpa ekspresi.


"Kejamnya dirimu, merekam video cabul itu ... "


Latus menatap Gres memberi isyarat untuk memperingatkan sahabatnya, tindakannya terlalu gegabah. Namun dia enggan mendengarkan dan tetap melanjutkan perkataannya.


Gres memalingkan tatapannya pada MB enggan menghiraukan ucapan Latus.


"Lalu dia hampir mati karena itu, kejam, benar-benar kejam ... aku berpikir, apakah kau layak disebut manusia? Semut saja menghargai temannya, saling membantu satu sama lain. Dan aku sadar kau lebih buruk daripada hewan, pasti hewan akan malu bila mendengarnya."


Merasa dipermalukan oleh perkataan dan hinaannya, MB akan menarik kerahnya tetapi tatapan tajamnya melunak seketika saat menatap Gres serius menatapnya.


'Tatapan gadis ini, mengingatkanku padanya.' Batin MB mengurungkan niatnya.


Tatapan sengit di antara mereka, teralihkan saat terdengar deringan dari telepon genggam Cery. Gres memalingkan pandangannya pada gadis itu, diikuti MB.


Mendekati Cery merebut handphonenya secara kasar.


CRANG!


Hp Cery dilemparkan ke bawah, Gres menginjak-injak sampai terlihat seperti rongsokan. Cery ingin membalas perlakuan gadis itu, namun MB menatapnya menggelengkan kepala dia mengerti.


Benar-benar syok apa yang dilakukan Gres pada Cery, membuat semua orang yang di depan kelas itu terdiam menatap mereka.


Karena masalah inilah awal di mana Gres membenci MB termasuk tangan kanannya, begitu pun sebaliknya. Bel masuk berbunyi, menghancurkan suasana yang semakin memanas ini.


Gres menatap MB meski ia tahu bahwa dirinya gemetar saat ini, MB membalas tatapannya dengan sangat tajam sambil melangkah masuk ke dalam kelas. Diikuti yang lainnya, termasuk Cery.


Masuk ke dalam kelas.


"Gres tadi tuh, benar-benar gila. Sumpah gila, lo menampar MB di depan semuanya," ujar Esa keheranan.


"Biarain aja! Biar dia sadar apa kesalahannya," ucap Gres menghela napas berat, "sekali-kali harus dikasih pelajaran."


"Tapi, lo siap menerima resikonya?" tanya Tino.


Gres tersenyum sambil mengangguk, "tentu!"


"Di mana Latus?" Esa menatap kedua sahabatnya.


Ternyata Lailatus berdiri disamping jendela meratapi apa yang sedang terjadi menimpa dirinya, sentuhan tangan halus Gres membuatnya sedikit terkejut berbalik arah lalu memeluknya.


"Demi gue ... Lo- " ucapan Latus terpotong.


"Aku tidak apa-apa, jangan menangis lagi, dan jangan lakukan hal tadi," pinta Gres dengan suara yang begitu lembut.


Latus mengangguk.

__ADS_1


Masuk ke dalam kelasnya dengan tergesa-gesa, Cery melempar tasnya ke bangku. "Sialan! Gue gak bisa tinggal diam!"


"Berani banget, tuh anak!" Cetus Andre dengan wajah sewot.


"Nampar MB di depan kita semua, tanpa keraguan lagi!" Gumam Hana.


"Kita harus bikin rencana, targetnya gadis sialan itu!" Cery menaikan sebelah alisnya.


"Bila perlu kita buat dia, ingin mengakhiri hidupnya seperti korban kita yang sebelumnya," kata Andre bersemangat.


Cery langsung membekap mulutnya, "huusst, jika ada yang dengar bagaimana? Kita harus tetap merahasiakan hal ini dari MB. Jika ketahuan, bisa gawat nantinya,"


"Baik." Jawab Andre dan Hana.


***


Gres keluar rumah membeli cemilan untuk teman-temannya yang sedang bertamu. Namun saat dia kembali, Tino dengan sigap mengusirnya keluar.


Esa mengunci pintu rumahnya dari dalam, cengo. Gres hanya berwajah bodoh, pergi dari sana tanpa bertanya.


"Kenapa ya? Mereka mengusirku keluar, dari rumahku sendiri ... " gumam Gres berjalan disamping trotoar jalan.


Dari kejauhan Gres melihat pemandangan yang mengejutkan seseorang sedang berlarian dikejar-kejar preman, orang itu menabrak Gres betapa terkejutnya ia mengetahui siapa yang menabraknya.


MB memakai jam tangan, sedangkan Gres memakai gelang tanpa sengaja pergelangan tangan mereka terikat, tanpa adanya banyak waktu bagi MB membebaskan diri dari pergelangan tangan Gres, karena preman semakin dekat.


Tanpa bertanya MB lari sehingga menarik tangan Gres terseret ikut lari bersamanya.


"Kenapa mereka, mengejarmu?" tanya Gres secara baik-baik mencoba sedikit melupakan kejadian tadi siang di sekolah.


Tak ada jawaban.


'Sudahlah, bertanya padanya bagaikan tembok yang angkuh,' kata Gres membatin di dalam hati.


Mereka terus berlari berhenti sejenak melihat gang rumah yang sempit, Gres tersandung lalu badannya terdorong, tubuhnya memutar, tanpa sengaja tangan kanannya memegang pundak MB.


Satu kecupan manis menempel pada pipi kanan MB, mata Gres membulat, keringat panas dingin mulai berjatuhan. Mereka saling bertatapan, preman yang mengejar mereka sudah tak terlihat.


"CUEEH, UEEH, IIIIH!" Teriak Gres bergumam di telinga MB.


"BERISIK!" Jerit MB yang tetap tanpa ekspresi.


Gadis ini merasa canggung dan kikuk, memasang wajah tablonya. "Siapa suruh dikejar-kejar, pasti habis maling ayam,"


Tetap tak ada jawaban.


Saat Gres mengoceh tanpa henti menceramahinya, MB melepaskan pergelangan tangannya yang terjerat.


Tanpa memedulikan Gres yang sedari tadi mengoceh bagaikan burung pipit, MB pergi darinya, lebih tepatnya melepaskan diri.


"Astaga naga, ditinggalin. Tadi aku ... Ziih!" Jika teringat kejadian tadi, dia ingin secepatnya meminum satu gelas air.


Tiba di rumah Gres syok berat melihat keadaan rumahnya, berubah secara drastis membuatnya terkagum-kagum.


"Selamat datang, di rumah renovasi kami." Serempak, Esa, Latus dan Tino mengatakannya.


Warna cat biru langit yang sangat indah, tembok yang mengelupas sudah tertutupi kertas tembok yang menawan. Keran yang suka menyala sendiri, kini sudah diperbaiki.


Keadaan mereka sekarang, di wajah serta bajunya terdapat banyak sekali cat. Terlebih Tino seperti menceburkan diri di dalam kolam cat, hampir seluruh wajahnya biru.


"Jadi, kalian ngusir aku ... " Gres mendekati temannya terharu tanpa sadar memeluk mereka, "makasih!"


Mereka pun membalas pelukannya. "Sama-sama."


Beberapa menit mereka pulang dari rumahnya, Gres mendapatkan pesan masuk.


Cery mengirim sebuah pesan pada Gres. Malam ini Cery ingin menjelaskan apa yang sedang terjadi, meminta maaf padanya dan juga Latus.

__ADS_1


"Tapi Latuskan baru saja pulang. Biarlah aku sendiri yang datang."


Tiba di kelas yang dimaksudkan, Gres sedikit merasa takut, bulu kuduknya mulai berdiri, kelas itu tampak menyeramkan pada saat malam hari.


Tiba-tiba dari dalam kelas dua orang pria muncul secepat kilat membekap Gres, terlambat baginya untuk berteriak. Mereka akan memperkosa Gres, seseorang berbadan tinggi, dari kejauhan menendang dan menonjok kedua pria belang itu.


Sampai tersungkur ke lantai, mereka mencoba melawan namun gagal karena orang ini jago dalam masalah tonjok-menonjok. Mereka kabur, sedangkan Gres masih syok dengan apa yang menimpanya hanya terus menagis tanpa bicara.


"Lo gak apa-apa?" tanya lelaki itu yang baru saja menyelamatkannya.


Gres memeluknya dengan wajah takut, air mata mengalir deras.


"Sudahlah, lo aman mari kita keluar," ajaknya membantu Gres berdiri.


"I-iya,"


"Sekarang tenangkan diri lo," lanjutnya.


Mereka berdua duduk di bangku taman sekolah.


"Hafis Santak Taram, panggil gue Kokoh," ucap Hafis mengawali obrolan agar tak terlalu tegang, karena kejadian yang baru saja menimpa gadis itu.


"Gresnalia Putri, panggil saja Gres," kata Gres sedikit kikuk bicara padanya.


"Gue yakin ini bukan perbuatan MB, ada seseorang yang ingin kalian saling membenci satu sama lain,"


"Seyakin itu?" Gres mengerucutkan mulutnya sembari menatap Hafis malas.


"Lo tadi lari bersama dia, dikejar preman?"


"Ko tahu!" Terkejut mengingat sesuatu. 'Jangan-jangan dia liat aku cium pipi orang semplak itu lagi, gawat!'


"Gue gak bakal bahas yang aneh-aneh, dia dikejar-kejar karena berusaha mencari bukti bahwa dia gak bersalah,"


Mata Gres membulat, meratapi perkataan Hafis. "Bukannya dia gak akan peduli, dia, kan selalu benar, saya selalu salah,"


"Itu yang mengganggu pikiran gue, sebelumnya dia gak pernah peduli. Tetapi, saat menatap lo serius, ada sesuatu yang dia tahan dan sembunyikan. Gue minta bantuan, lo!" Pinta Hafis secara tiba-tiba.


"Bantuan, gak usah minta aku pasti bantu, tadi kalau gak ada kamu udah- "


"Tenang aja, gue ingin lo pindah ke kelasnya dia,"


Terkejut bukan main, Gres menatapnya dengan penuh harap agar tak sampai masuk ke dalam kelas. Yang ia anggap sekumpulan monster, berbentuk manusia.


"Gak ada yang lain, pasti ada ya, ya, ya?" Gres mengkedip-kedipkan matanya lucu beberapa kali menawar dan terus menawar.


"Hanya itu, gak ada yang lain. Muka lucu atau memelas lo, gak akan memengaruhi gue," timpal Hafis dengan sedikit arogannya.


"Tapi apa kata yang lain, mereka pasti iri, terus benci, terus ... "


"Kalau lo bisa bujuk MB, gue yakin peraturan konyolnya akan berakhir,"


"Dari mana kamu tahu semuanya?"


Gres bertanya bukan tanpa sebab, dia hanya sedikit mencurigai siapa pun yang dekat dengan MB. Takut ini hanyalah rencana mereka semata.


"Gue punya banyak mata-mata, besok gue bakal bawa lo masuk ke kelasnya,"


"Ngomong apalagi, kehabisan kata-kata nih. Yaudah tapi kenapa kamu, percaya sama aku. Bahwa aku bisa melakukannya, bukankah aku yang menampar MB?"


"Lo mengingatkan dia pada seseorang pada masa lalu."


Terdiam seribu bahasa Gres memandangnya memikirkan sesuatu. Teringat seseorang pada masa lalu? Siapa? Dirinya? Yang benar saja. Pasti Hafis hanya bergurau, selama ini ia dibesarkan disebuah desa. Mana mungkin.


Author :


Seseorang memperlakukanmu tidak adil, tapi percayalah akan ada yang mampu membuatmu bahagia.

__ADS_1


See you, next part ➡


__ADS_2