
Rambut Gres menutupi wajahnya, membuat MB tidak bisa melihat wajahnya. Ia mendekat, meraih rambutnya dengan jari-jemarinya. Ia menselipkan rambut yang menghalangi pandangannya ketelinganya, terlihat dengan jelas wajah cantiknya.
Sedangkan Gres hanya bisa melotot, dengan alis terangkat. Ia sangat terkejut dengan sikap dadakannya itu, tidak mudah untuk menebaknya.
Pipinya kini mungkin sudah berubah warna seperti biasanya. Ingin berpaling, namun sangat jarang sekali ia melihat MB tersenyum dengan tulus seperti itu kepadanya. Meski ia tahu senyumannya karena ulah Tino dan Esa. Tapi ia berpikir senyuman lelaki itu tertuju padanya.
"Lucu banget ya mereka?" kata MB.
Menghancurkan lamunannya sesaat. "I-iya,"
'Sudah kuputuskan, jika aku tak bisa memilikinya sebagai Kris. Maka, aku harus memilikinya sebagai Gres. Apa pun yang terjadi, akan kupastikan kamu pasti jatuh hati padaku.' Pikir Gres tersenyum manis menutup matanya.
Saat memandangnya kembali, Gres terlihat sangat cantik dan imut. Apalagi bibirnya merah muda yang sangat indah. MB memajukan wajahnya mendekati Gres, menatap bibirnya sangat dekat sekali.
Biasanya angin berhembus sampai ke wajahnya, tapi Gres merasa anginnya hilang. Betapa terkejutnya ia, saat ditatapnya wajah MB begitu sangat dekatnya.
Seperti mendengar detak jantung Gres, mendadak MB tersadar. Ia pun langsung menjauh dari wajahnya.
"Ma- maaf," kata MB meminta maaf mengangkat tangan kanannya mengusap pundaknya, sampai kedua telinganya memerah.
Gres menelan ludahnya dengan berat. "Gak apa-apa,"
Lelaki itu mencoba menatapnya kembali, kedua pipi gadis itu tampak jelas sangat memerah.
"Aku cabut dulu, masih ada urusan," kata Gres ingin secepatnya pergi dari sana.
"Tunggu!" Pinta MB memegang lengannya.
Mendadak gadis itu terdiam sejenak, karena tangannya tertahan. "Ada apa?"
"Apa kamu udah ingat siapa aku?" ucap MB mengatakannya sedikit malu untuk bertanya padanya.
"Oh, hmmm." Gres mengangguk beberapa kali.
Namun ia juga tersenyum, MB mengubah kata 'Lo' jadi 'Aku' apa itu berarti MB mulai menganggapnya ada?
"Apa kamu mengingat kenapa kamu jadi hilang ingatan? Itu semua karenaku, kamu jadi seperti ini. Sungguh aku ingin meminta maaf dan berterima kasih kepadamu dengan tulus." Mengatakannya dengan nada sedikit direndahkan.
"Aku mohon maafkan aku, dan terima kasih telah menolongku. Kalau gak ada kamu- " lanjut MB merasa bersalah.
"Kenapa? Sudahlah lupakan semuanya, lagian semua itu sudah berlalu kan?" kata Gres tersenyum padanya.
"Tapi, pasti sangat berat bagimu," suara MB terdengar serak.
"Dengar, jika mengingatnya membuat hatimu sakit. Lupakanlah, karena hanya akan berakhir penderitaan yang mendasar," hanya bisa kembali tersenyum menatapnya.
__ADS_1
"Aku harus menolong Tino dan Esa," lanjutnya pergi dari sana.
"Boleh aku ikut?" MB kembali meminta padanya.
Kembali menghentikan langkah kakinya. "Boleh."
Mereka berdua berjalan menuruni tangga bersama. Disambut keras dengan Teri, orang itu secepatnya mengambil kamera terbaiknya di Dunia. Tangan kanannya menekuk kebelakang sambil tergenggam, diangkat sikutnya, tangan kirinya memegang tangan kanannya seperti sandaran di sana. kurang lebih seperti gambar di bawah ini.
Gambar hanyalah ilustrasi. Kena tipu ya? hahaha, jarang-jarang lho di PRANK sama penulis.
Pak Selamat sudah kelelahan mengejar, maklum faktor umur. Dia berhenti sejenak, sedangkan Esa dan Tino masih kejar-kejaran. Akhirnya mereka berdua duduk disamping Pak Selamat.
Keringat di tubuh mereka berhamburan keluar. Teri secepatnya mewawancarai mereka, mengajak Latus bekerja sama. Latus disuruh mengikuti posisinya, dia akan mewancari Narasumber.
"Baik kembali lagi, bersama berita yang paling terjujur. Oke pertanyaan pertama ditunjukan kepada Mba Esa, kenapa anda bisa mengejar Tino?" kata Teri mengambil pulpennya sebagai mik.
Esa hanya memalingkan wajahnya. Teri mencari cara. "Bagaimana anda bisa mengejar Tino Si bodoh, Tino Si bego?" kata Teri mencoba memancingnya.
'Tino Si bodoh, Si bego Tino itu.' Kata-kata itu terngiang-ngiang ditelinga Esa.
Langsung merebut miknya. "Saya adalah Esa kuswuanda, alasan saya mengejar Tino. Dia maling pulpen saya, yang sangat mahal, itu aja,"
"Jadi begitu ya? Baik bagaimana dengan anda sendiri saudara Tino, menanggapi perilaku Mba Esa ini?" kata Teri mencoba menanyakan kebenarannya.
"Kameramen, cepet ambil gambar. Orang ganteng sedunia," lanjut Teri mencoba memancing Tino.
"Jadi si toa Esa ini, ngilangin isi pulpen gue yang mahal. Semahal harga kiloan kacang, di Tanah Abang," terang Tino bergaya sombong.
"Amit-amit, mahal dari mana coba. Cuma 2 ribu perak, itu juga isi pulpen tinggal setengah. Perhitungan banget si!" Hardik Esa cemberut.
"Eeeh, lo gak kira-kira maksa. Pinjem pas ujian, terus gue diliatin sama pengawas yang suka dijuluki Uchiha Si Penggaris Botak," tersenyum dengan sombongnya.
Teri sudah tahu apa yang akan terjadi pada mereka selanjutnya. "Sepertinya wawancara kami ini telah usai, kami mohon pamit. Ayo Tus, jangan kasih kendur lari!" Teriak Teri menarik lengan Latus.
"Ehem!" Pak Selamat mendeham.
Esa dan Tino menelan ludahnya berat. Mereka melupakan sesuatu, gegara si Teri. Melupakan keberadaan Pak Selamet, sang guru menarik telinga Tino karena telah menghinanya.
"Sakit Pak! Ampun! Esa juga dong!" Jerit Tino menahan sakit, tapi tidak akan melupakan Esa.
Esa sudah menutup kedua matanya, ikhlas bila Pak Selamat menjewer telinganya. Namun yang terjadi adalah, dia mengambil penggaris panjang dari tangannya.
Gadis itu pun bernapas lega.
"Wuahaha, mampus lo!" Jerit Esa berlari dari sana, dia mengejeknya sangat puas.
__ADS_1
"Apes banget dah." Tino ngedumel sendiri mengelus telinganya yang memerah.
Pulang sekolah, Esa dan Tino, Teri sudah duluan pulang. Latus dan Gres berencana tinggal sementara waktu di dalam kelas. Terus apa yang akan mereka bicarakan?
"Jadi, apa lo gak akan kasih tahu MB. Tentang identitas yang sesungguhnya?" papar Latus bertanya padanya.
"Entahlah Tus, aku bermimpi jika MB mengetahui siapa aku yang sebenarnya. Maka, dia hanya akan dalam masalah. Jujur, aku gak mau melihat dia sedih, apalagi sampai dalam bahaya," Gres mengatakan dari seluruh isi hatinya yang terpendam, mengkhawatirkan seseorang yang berarti dalam hidupnya.
"Gue ngerti kok perasaan lo, gue juga gak bisa paksa, setelah gue tahu masalah yang sebenarnya. Ternyata sulit ya? Jadi lo, kehidupan orang kaya memanglah serba salah. Gue bersyukur, meski cuma terlahir dari keluarga pas-pasan tapi tetap bahagia memiliki keluarga utuh."
Melirik ke arah Gres yang sedari tadi terdiam. Latus melupakan satu hal, bahwasannya sahabatnya ini sedang dalam masa-masa yang sulit. Dengan seenaknya dia malah bercerita tentang keluarganya yang harmonis, secepatnya mencari topik yang lain.
"Bagaimana dengan perasaanmu pada MB?" lanjutnya bertanya.
Mengejutkan Gres yang sedang melamun. Membayangkan keluarga yang mungkin tak utuh, merasa hanya sebagai beban keluarga.
"Bagaimana aku menjelaskannya ya? Tetap sama, aku sungguh menyukai Haki," kata Gres tersenyum. "Tapi, aku juga harus menyimpan perasaanku yang sebenarnya padanya," lanjutnya menundukkan kepalanya.
Latus menepuk pundaknya pelan beberapa kali. "Gue yakin, suatu saat dia akan bisa menyukai lo. Sebagai Gres yang sekarang, tapi gue mengkhawatirkan satu hal,"
Menengok ke arahnya.
"Cepat atau lambat, MB pasti akan menyadari siapa lo yang sebenarnya. Gue yakin identitas lo akan diketahui olehnya suatu hari nanti," lanjut Latus sedikit sedih menatapnya.
Tak ingin sahabatnya terlalu mengkhawatirkan dirinya, Gres memeluk sahabatnya.
"Jangan seperti ini, aku yakin kebahagiaan itu akan datang. Di saat kita telah mengikhlaskan segala hal, yang terjadi pada masa lalu,"
Gres merasa menjadi gadis yang sangat beruntung, bisa memiliki seorang sahabat yang benar-benar mengerti akan dirinya.
"Aku harap juga begitu, terus gimana hubungan Esa sama Hafis?"
Latus menyangga tubuhnya ke tembok dengan tangan tangannya. "Biasalah, mungkin Hafis sudah menyatakan perasaannya. Soalnya mereka lumayan dekat, sampai waktu itu pernah Hafis mau ke toilet, Si Esa malah ikut. Diketawainlah, hahaha."
"Masa sih, sampe segitunya, hahah."
"Mau gimana lagi, tetap sahabat kita kan dia?" bertanya sambil bergurau.
"Masih kok, masih."
Mereka berdua tertawa. Seperti biasa suara Gres tertawa mirip kuntilanak, suara tawa Latus lebih mirip ikan Dugong
Author :
Ngomong-ngomong ketawa mereka gak ada yang bener ya? Haha.
__ADS_1
Beri penulis semangat, Like, kritik, saran dan vote nya. Agar cerita ini bisa terus berlanjut ... Terima kasih.
See you, next part ➡