
Tingkah laku mereka semakin menjadi saja, sampai Latus benar-benar diabaikan begitu saja.
"Udah belum pegangan tangannya, kalau belum gue tinggal," kata Latus menggoda mereka berdua terutama sahabatnya.
"Eeeh, beneran ditinggal dong," celetuk Gres menyedihkan.
Latus lari dari sana setelah memberikan kotak p3knya.
"Eeh, anu. Anu, yaudah ini kotak p3knya," kata Gres memberikannya ke tangan Will.
"Makasih ya, tapi, aduh! Gimana cara pakainya?" tanya Will memikirkan cara.
Telinga Gres melebar, ia merasa terpanggil untuk melakukan sesuatu. Kembali lagi, menggenggam tangan Will mencari tempat duduk di taman.
Mereka berdua duduk di sana, tangannya sedang dibersihkan menggunakan alkohol dengan sangat teliti. Pada hal rasa ditangannya perih, sakit sekali. Entah kenapa rasa sakit itu hilang, saat menatap wajah Gres.
"Tahan ya akan sedikit perih," Gres terus saja mengulangi perkataan itu, saat memasangkan perban ketangannya.
"Gak sakit kok," ucap Will masih dalam keadaan menatap wajah gadis yang memegang tangannya.
"Bag- " Gres mendadak terdiam cukup lama.
Mereka berdua kini saling tatap, tanpa sadar Gres masih memegang tangannya.
'Kalau dilihat dari dekat, wajahnya cukup imut. Apa aku mulai menyukainya lagi?' kata Will di dalam hatinya menggelengkan kepalanya.
Memandang sikapnya yang seperti itu membuat Gres salah paham, ia langsung membuang muka darinya.
"Maaf, aku gak sengaja," kata Gres sedikit menelan ludah berat.
"Kamu gak salah, aku cuma sedikit bingung. Melihat wajahmu saja, luka di tanganku langsung menghilang," ucap Will tersenyum padanya.
'Hah? aku pasti cuma salah dengar, gak mungkin dia bilang kata aku kan?' pikir Gres di dalam hatinya.
"Baiklah, aku kembali ke kelas dahulu,"
"Silakan, dan terima kasih."
"Hmmm."
Pulang sekolah. Masih di dalam kelas, Esa mengambil tas Tino lalu melemparnya ke atas genteng.
"Yah tas berlian gue. Esa kau jahat!" Pekik Tino berlari mencari tangga.
"Fitnah aja terus tasnya, palingan juga beli pasar loak, haha," kata Esa memegang perutnya sambil tertawa.
"Ini harus direkam." Timpal Teri yang secara tiba-tiba datang.
"Ayam, ayam. Kaget gue!" Esa mengelus dada karena terkejut parah.
"Keren juga lo Sa, sekali kali emang harus dikasih pelajaran tuh anak," timpal Teri menggenggam kamera, membicarakan tersangka eh bukan, korban yang mungkin jadi tersangka nantinya.
"Sok akrab lo ya?!" Jawab Esa memekik ditelinganya.
__ADS_1
"Eh lupa, lo kan tuyul. Wah hebat, gue udah gak bisa liat lo Yul," Teri membalasnya dengan halus.
"Eh kalau tuyul kan sukanya maling duit, kalau gue beda," Esa memikirkan pikiran licik.
"Apa?" kata Teri penasaran.
"Coba taro tas lo," perintah Esa menyuruhnya.
"Oke!" kata Teri meletakan tasnya begitu saja, tanpa mencurigainya. "Oh gue tahu lo mau maling pulpen kan?" lanjutnya bertanya sambil ngotot.
"Liat baik-baik, nah Tino jatuh!" Teriak Esa.
Kesempatan mumpung Teri sedang memandang ke arah Tino, dia mengambil tasnya lalu dilempar kegenteng yang sama dengan Tino.
"Mana? Gak jatoh dia, cuma hampir kecengklak doang tuh lehernya," ucap Teri santai.
Beberapa detik kemudian.
"Tapi tunggu dulu, itu kaya ada tas lagi. Kaya pernah liat tuh tas, tas siapa ya?" ia menengok ke kiri. "Ampun dah! Tas gue!" Lanjutnya berteriak sambil lari menaiki tangga.
"Haha, rasain kalian berdua. Gimana rasanya? Enakkan dijailin temen sendiri," jerit Esa tertawa terbahak-bahak sampai batuk.
Will menunggu seseorang di depan kelas. Dia melihat Gres sedang berjalan keluar, mengikutinya dari belakang.
Saat itu bertepatan dengan MB yang ingin mengajak Gres pulang bersama, melambaikan tangan kanannya ke arah gadis itu. Melirik Will sedang mengikutinya dari belakang bahkan menarik tangan Gres, mereka berdua tatapan. Ia menurunkan tangannya kembali, menatap mereka dari kejauhan.
"Eeh, kirain Si Tino atau Teri. Ada apa Will?" ucap Gres bertanya padanya dengan gugup, masih tidak percaya kalau Will mengatakan aku, kamu saat bicara dengannya.
"Aku mau mengajakmu makan malam, tapi aku gak tahu kamu sedang sibuk atau gaknya. Ada banyak hal yang ingin kuceritakan padamu, bisakah kau menemaniku makan malam?" Will kembali bertanya padanya.
"Sepertinya gak bisa, soalnya ada tugas banyak. Maaf, lain kali saja ya?!" Gres hanya bisa mengatakan hal itu padanya, pergi dari sana tanpa menunggu jawaban darinya.
Mengikuti arahnya pergi, barulah Will mampu menyimpulkan Gres menolak permintaannya karena MB sedang mengawasi mereka berdua.
"Gak peduli apa pun yang terjadi, gue harus bisa dapetin hati lo, Gres. Karena cuma lo yang bisa membuat gue terus bisa tersenyum." Kedua tangan Will terkepal menahan amarahnya.
Bergegas menyusul MB. Kini Gres mencoba meraih tangannya, dapat diraihnya. MB malah bingung dan bertanya-tanya, karena gadis itu hanya menggenggam tangannya diam seribu bahasa.
Gres hanya tersenyum.
'Dia gila, apa gimana?' tanya MB di dalam hatinya.
"Kenapa pegang tangan? Mau ikut nyebrang?" kata MB bertanya padanya.
"Eeh, maaf ya? Tunggu dulu. Tadi kamu bilang nyebrang? Kamu mau jalan kaki?" ucap Gres bertanya kebingungan.
"Hmmm." MB menganggukkan kepalanya berjalan.
Bingung memikirkannya, biasanya MB selalu dijemput mobil pribadi yang super mewahnya. Kenapa tiba-tiba ingin berjalan, bukankah akan ada masalah? Yaitu cewek-cewek sekitar kompleks rumah pasti mengajaknya berfoto, karena dianggap artis.
Lampu hijau menyala, Gres menerobos ke jalan zebra cross. Pada hal kondisi jalan mobil dan motor sedang melaju dengan cepatnya. Mobil dari arah sampingnya membunyikan klakson.
Seketika menghancurkan lamunan gadis itu, lalu berteriak.
__ADS_1
"Aaaa!" Teriak Gres menutup matanya.
Secepatnya MB menarik lengannya, hingga Gres berputar berhenti didadanya. Didekapannya, wajahnya dipenuhi kekhawatirannya.
Gadis itu tak merasakan rasa sakit sama sekali, tapi ia malah merasakan detak jantung seseorang. Apa itu detak jantungnya sendiri yang akan berhenti, aneh dengan hal itu. Akhirnya Gres membuka matanya.
Tanpa bicara, Gres hanya melotot dengan seribu pertanyaan dibenaknya. Entah mengapa ia merasa, lelaki itu semakin erat memeluknya. Jujur saja, ia sangat merasa nyaman berada didekapannya. Jika waktu bisa terhentikan, jika bisa terus seperti itu.
'Jadi, itu adalah detak jantungmu ya?' tanya Gres di dalam hatinya
Kedua tangan MB memegang pundaknya, gadis itu terkejut langsung disuguhkan beberapa pertanyaan.
"Kamu gak apa-apa, kan? Ada yang sakit, atau yang luka?" tanya MB menatapnya.
'Apa dia sedang mengkhawatirkan ku sekarang?' pikir Gres di dalam hati.
"Gres, kenapa diam saja?" tanyanya kembali terdengar ditelinga gadis itu.
"Gak ada yang luka kok, ayo lanjutkan berjalan pulang," kata Gres memalingkan wajahnya tersenyum memegang dadanya.
"Tunggu!"
"Ada apa, lag- "
MB memegang tangan kanannya. "Ayo jalan," MB tersenyum hangat padanya.
"Iya," ucap Gres dengan semangat.
Bukannya apa-apa? MB hanya takut kejadian tadi terulang, ia juga merasa aneh akhir-akhir ini sangat sensitif pada gadis itu. Apa saja yang dilakukannya, ia ingin mengetahuinya. Meski mereka tinggal serumah, tetap saja ia sangat mengkhawatirkannya.
"Kenapa nggak di jemput?" tiba-tiba saja pertanyaan itu keluar dari mulutnya.
"Hanya ingin jalan kaki aja,"
Padahal alasan yang sebenarnya, MB ingin menenangkan dirinya. Karena sudah cukup lama mencari keberadaan Kris, namun belum memiliki petunjuk apapun atas itu.
Ia juga bingung, seharusnya Kris lebih utama dipikirkannya. Tetapi, kenapa gadis yang disebelahnya saat ini selalu ada di dalam pikirannya.
Setelah menyebrangi jalan bersama, MB menurunkan tangannya. Gres terus saja memandangi tangannya, pada hal Gres masih belum puas.
"Lo sendiri kenapa ikutan jalan?"
"Kalau aku cuma iseng aja, nemenin orang yang lagi- "
Baru saja mereka berada disipersimpangan jalan komplek, ibu-ibu, terlebih lagi yang paling ganas, dan sedikit ditakuti para remaja cewek. Kini sedang menatap ke arah mereka, Gres dan MB saling tatap.
"Ikuti aku!" Teriak Gres menggenggam tangan MB berlari menjauh dari sana.
MB hanya sedikit membulatkan matanya.
Author :
Ada emak-emak gais, kabuuur!
__ADS_1
Beri penulis semangat, Like, kritik, saran dan vote nya. Agar cerita ini bisa terus berlanjut ... Terima kasih.
See you, next part ➡