
Pelayan yang bernama Elsa menyimpan kebencian di dalam hatinya, dia menangis karena MB. Tetapi dia yang membuat MB penasaran pada Gres. Saat dia mengetahui jika gadis itu melewati pintu perpustakaan khusus tuan muda yang ada di dalam rumah, terlihat terdiam menatap memandang pintu itu dengan ekspresi memelas.
Mengetahui hal itu Elsa menyiapkan rencana yang matang, memikirkan segala cara agar mengeluarkan Gres dari rumah itu dan dari kehidupan tuannya. Dia menyiapkan mangkuk berisi buah-buahan segar dan satu botol air dingin, karena gilirannya memegang kunci perpustakaan semakin memudahkan rencananya untuk berhasil.
Tuan muda mereka memiliki kunci sendiri, yap! Yang dipegang pelayan hanyalah kunci cadangan bila hendak dibersihkan saja. Dokter masih rutin mengunjungi rumah MB, seharusnya tuan muda itu dirawat. Tetapi dia tetap keras kepala, berulang kali bicara pada ibunya bahwa dia baik-baik saja.
Kepala MB sebenarnya bocor, dan harus ditangani. Apa boleh buat akhirnya dokter setuju, membiarkan MB pulang.
Dokter selesai memeriksa MB dikamarnya.
"Dok, gimana keadaannya?" tanya Ibu MB khawatir.
"Dia butuh istirahat lebih, dan pastikan dia tidak terlambat meminum obat. Akibatnya, dia akan merasa sakit," ucap dokter mencoba menjelaskan keadaan pasiennya.
"Terima kasih dok," ucap Ibu MB bernapas lega.
"Sama-sama, baik saya permisi dulu." Dokter langsung pergi dari sana.
Mendengar ucapan dokter tadi membuat Ibu MB sangat berhati-hati mengurusnya, Gres berada di sana mendengar semua yang dokter katakan. Sekali lagi dia merasa bersalah, menyebabkan cowok itu jadi seperti ini.
Menuju ke dapur, seperti biasanya Gres memandangi pintu perpustakaan pribadi MB itu.
"Gres," sapa pelayan Elsa. Dia memegang kunci, membuka pintu perpustakaan. "Masuk," pintanya memutar bola matanya menyuruh Gres masuk ke dalam.
Gres cengo. "Kenapa harus masuk?"
Elsa memberinya semangkuk buah dan satu botol air dingin terisi penuh, mendorong gadis itu masuk.
"Elsa, sehentar! Kalau ketahuan gimana?" lanjutnya kembali bertanya.
"Udah, gak bakal ada yang tahu. Lo ketuk-ketuk aja tiga kali, ntar gue nongol! Gue tahu besok lo ada ulangan, kan?"
Gadis yang sudah setengah masuk ke dalam pintu perpustakaan mengangguk, dia masuk ke dalam.
Gres cengo melihat banyak buku yang dia cari, ada di mana-mana. Dia berjalan masuk sampai ke dalam, tak lama kemudian langkahnya terhenti melihat MB duduk di meja belajar tengah perpustakaan. Duduk membelakangi Gres tepat di depannya. Matanya membulat, mulutnya terbuka lebar hanya satu kata yang keluar dari mulutnya.
'Mampus, deh aku.' Gres bicara di dalam hati. Dia melangkah mundur, secara perlahan agar tak terdengar suara napas dan langkahnya.
__ADS_1
MB semakin jauh dari pandangannya, Gres mengetuk pintu tiga kali namun tak ada jawaban. Keringat panas dingin mulai menetes dari dahinya, buah yang dia bawa terjatuh menggelinding ke arah MB. Tanpa sadar ia lari mengejar buah itu, tak lama kemudian.
BRUGH!
Terkejut mendengar suara sesuatu terjatuh, betapa syoknya Gres saat melihat sesuatu yang jatuh itu.
"Haki!" Teriaknya lari mendekat.
MB pingsan tengkurap di lantai, dia memegang kedua pundak MB menggoyang-goyangkannya. Tanpa disengaja menyentuh dahinya, terasa begitu panas.
"Masya Allah! Panas banget, dia demam," Gres lari menggedor-gedor pintu. Namun sia-sia saja, dari luar tidak akan ada yang mendengarkan karena sudah larut malam terlebih ruangan itu kedap suara.
"Sial." Gres lari kembali menuju ke MB.
Akhirnya Gres pun berpikir harus bagaimana cara menolong MB, mangkuk berisi buah-buahan tadi dia jatuhkan ke lantai semua buahnya, dan botol air yang dia bawa menuangkannya dimangkuk. Lalu mengambil saputangan warna biru yang sengaja diikat di pinggangnya, dia tak pernah lupa dengan saputangan warna favoritnya itu.
Duduk beselanjar di lantai, Gres mengangkat kepala MB perlahan dipindahkan dipangkuannya. Dia mencelupkan saputangan, diperas dan menempelkannya didahi cowok yang sedang menahan sakit.
"Maaf, sudah membuatmu begini," kata Gres teringat ucapan dokter. Bahwa MB tidak boleh telat meminum obat, dia hampir meneteskan air mata.
"Kris, jangan tinggalkan aku. Kembalilah, jangan pergi. Kris ... Kris ..." gumam MB mendesah, membuat Gres sangat terkejut dan sedih.
Pagi-pagi sekali pelayan yang mengunci Gres di dalam perpustakaan membuka pintu, betapa terkejutnya dia melihat MB tertidur dipangkuan Gres, secepat mungkin membangunkan gadis yang sangat dia benci. Membuka matanya memindahkan kepala MB, Gres lari keluar meminta bantuan pada yang lainnya.
Sedangkan Elsa berpura-pura memangku kepala MB, sembari menangis. Kepala MB terasa berat, namun karena suara tangisan membangunkannya. Duduk memandang Elsa, secara tiba-tiba memeluk MB menangis terisak-isak.
"Cepat, ke sini, bantu Tuan Muda!" Seru Gres bibirnya bergetar hebat tak sanggup bicara. Dia berdiri mematung, wajahnya menyuram dan kedua alisnya ditekuk sembari menatap mereka.
Saat MB menatap balik ke arah Gres, hanya terdiam beberapa saat. Gres menundukkan kepalanya, melangkah pergi dari sana. Orang yang dipanggilnya membantu tuan muda berdiri, membawanya ke kamar. Ingin bertanya mengapa sikap Gres terlihat aneh dimatanya, apakah ada yang salah dengannya?
Ibu MB dan Fajar mendekatinya, MB memaksa pergi ke sekolah bersama Gres. Kedua bola mata Fajar dan Ibunya hampir copot, mendengar perkataannya. Dia tidak pernah mau berangkat bersama dengan seorang gadis apalagi naik mobil bersama, anti banget deh buat MB karena sifatnya paling tersulit adalah keras kepala, apa boleh buat? Mereka mengizinkannya pergi bersama wanita yang dimaksudkan.
Tanpa mengetahui hal itu, Gres berjalan sendirian memikirkan perasaan aneh saat Elsa memeluk MB. Terus-terusan diganggu pikiran aneh itu, dia berhenti sejenak loncat-loncat dipinggir jalan. Menutup kedua telinganya, berteriak.
"AAAA!" Teriak Gres kakinya tak sengaja menginjak tali sepatunya sendiri.
BRUGH!
__ADS_1
"Aduh, sakit!" Berteriak kembali memegang lututnya yang berdarah. Dia bangun namun terjatuh lagi, mencoba lagi dan lagi tetap sulit baginya berdiri.
Orang-orang yang melihat tingkahnya dari awal sampai akhir telah menyimpulkan bahwa dia orang gila baru, jadi takut mendekatinya apalagi membantunya. Gres meringis kesakitan, menundukkan kepalanya sampai rambutnya menutupi wajah.
Sebuah mobil berwarna merah berhenti disamping jalan, terlihat sangat mewah dan flat mobilnya tidak asing bagi Gres. Seseorang turun dari sana memakai kacamata hitam, melepas kacamatanya suara langkah sepatu mendekatinya perlahan Gres mengangkat kepalanya. Matanya membulat, secepat mungkin menunduk kembali.
"Berdiri, ikutin gue," ucap MB sedikit bernada tinggi.
Gres mencoba berdiri tetap saja terjatuh, akhirnya dia pasrah. "Pergilah, aku bisa naik angkot,"
Tanpa berbasa-basi MB menggendongnya.
"Apa yang kamu laku ... "
MB menatapnya serius, membuat Gres diam seribu bahasa.
Memasukkan Gres ke dalam mobil duduk di sebelahnya yang sangat dekat dengannya.
"Berangkat," kata MB menyuruh Pak Sopir menyalakan mobilnya.
Deg, Deg, Deg.
'Ya tuhan, kini aku bersebelahan dengannya. Deket banget, semoga aja dia gak denger suara detak jantungku berdetak sangat cepat.' Batin Gres mencoba mengatur pernapasannya.
"Terima kasih," ungkap MB menatap Gres.
Gres tersenyum menahan malu, dan memberanikan diri untuk bertanya. "Untuk apa?"
"Tadi malam, gue tahu lo yang udah nemenin dan nolongin gue." Jawabnya dengan santai tetap menatapnya.
Merasa senang apa yang dikatannya. Gres hanya bisa mengangguk, menghembuskan napas lega tak henti-hentinya senyuman terukir di wajahnya.
MB beberapa kali melihat keluar pintu kaca jendela mobil, dibuat sedikit tertekan saat melihat wajahnya tampak jelas betapa bodohnya gadis itu.
Author :
Jika serius dalam menolong seseorang, pastinya orang yang kita tolong akan membalasnya meski dengan hal kecil.
__ADS_1
Beri penulis semangat! favorit, Hadiah dan Komentar. Agar cerita ini bisa terus berlanjut ... Terima kasih.
See you, next part ➡